
Setelah berpelukan dengan ibu Siti, Ve masuk ke dalam mobil. Semua tetangga yang sempat melihat pemandangan itu ada yang berbisik dan juga mencibir bagi mereka yang sinis dan tidak suka pada ibu Tika.
Mobil melaju dengan pelan, Andre dan ibu Siti melambaikan tangannya. Dan tetangga yang tadi bergunjing mendekat pada ibu Siti dan Andre.
"Memang mereka mau kemana bu Siti?" tanya tetangga yang suka nyinyiri ibu Tika.
"Jalan-jalan, liburan ke negeri sakura." jawab ibu Siti.
Andre tersenyum, dia berlalu meninggalkan ibunya yang masih di kerumuni tetangga yang penasaran.
"Liburan kemana?"
"Ke negeri matahari." masih menjawab dengan teka teki.
"Ya itu di mana? Jangan bikin penasaran dong." kata tetangga satunya.
"Kalian kenapa pengen tahu aja sih? Saya juga mana tahu." kata ibu Siti dengan kesal.
Ibu Siti lalu pergi meninggalkan tetangga-tetangga yang sibuk dengan pikiran masing-masing dan membicarakannya.
Sementara itu, Ve dan ibu Tika serta kedua laki-laki yang duduk di depan mereka masih pada diam dengan pikiran masing-masing.
Ibu Tika merasa sedih karena akan di tinggal satu minggu oleh anak satu-satunya, sedangkan Ve juga sedih akan meninggalkan ibunya sendiri meski hanya satu minggu.
Dia berjanji, setelah bertemu dengan ayahnya. Dia akan tetap menemani ibunya sampai dia menikah nanti. Biarlah papanya Hiroshi tinggal di Jepang dengan istrinya dan kakaknya Ryu.
Baginya hanya satu kali bertemu dengan papanya sudah cukup, tidak meminta lebih. Hanya ingin melihat dan bertemu dengan ayahnya saja.
Dan kini mereka sampai di bandara internasional, Ve keluar dari mobilnya. Juga Ryu, Erick dan ibu Tika.
Erick mengambil koper Ve dan tasnya, mereka mengantar sampai di dalan bandara dan harus berpisah sampai di depan terminal bandara.
Mereka masuk ke dalam bandara, lalu melihat jadwal keberangkata ke Jepang.
"Masih setengah jam untuk take off. Kita tunggu saja di terminal ini." kata Erick pada Ve dan ibu Tika.
Ve mengangguk dan dia melihat bandara yang sangat ramai dengan segala kegiatan masing-masing.
Ini pertama kalinya bagi Ve naik pesawat terbang, dia sangat gugup sebenarnya. Apakah nanti di pesawat dia akan merasa tegang karena takut? Atau merasa nyaman, entahlah.
"Aku akan membeli minuman dulu." kata Ryu pada Erick dan Ve.
"Jangan lama-lama, nanti keburu pemanggilan dari petugas." kata Erick.
"Siap."
Kemudian Ryu meninggalkan Ve, Erick dan ibu Tika. Mereka bertiga masih diam, Erick menatap Ve lebih dalam. Ada rasa sedih dia harus berpisah dengan kekasihnya itu di negara lain.
Sedangkan ibu Tika masih diam karena dia tidak tahu harus berucap apa. Semua sudah dia sampaikan, jika pun titip salam untuk suaminya. Rasanya terlalu kekanak-kanakan dan kesannya dia berharap Hiroshi mengingatnya.
Bagi ibu Tika, Hiroshi ingat anaknya dan menerimanya saja sudah cukup. Dia tidak akan berharap lebih.
"Bu, jaga diri ya. Jangan lupa makan dan minta antar Andre kalau mau ke pasar." kata Ve yang tiba-tiba saja mengagetkannya ketika dia melamun.
Ibu Tika tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dia memeluk anaknya, memberinya kekuatan dan ketenangan agar dia selalu baik-baik saja.
"Ibu selalu makan kok, kamu jangan khawatir. Ada Andre dan mak Siti yang akan membantu ibu." kata ibu Tika.
"Aku juga akan sering menengok ibu kok sebelum jemput kamu." kata Erick menyambungi obrolan mereka.
"Iya, terima kasih ya kak. Aku tenang harus meninggalkan ibu sendiri di rumah." kata Ve.
Dan tak lama Ryu datang dengan membawa beberapa minuman soft drink juga jus instan.
"Ayo kita bersiap ke tempat tiket." kata Ryu.
"Baik oniichan."
"Iya, hati-hati ya."
Sebentar berpelukan, kini Ve beralih pada Erick dan menatapnya penuh cinta.
Erick menarik tubuh Ve dan memeluknya erat, menyalurkan energi cinta dan kerinduan sebelum Ve pergi.
"Kamu baik-baik ya di sana, ingat minta bantuan sama kakakmu saja." pesan Erick.
"Iya kak, terima kasih ya."
Ve melepaskan pelukan Erick, dan Erick mencium kepala Ve sebelum dia melepaskan Ve dari dekapannya.
Acara perpisahan itu pun berakhir, setelah Ryu berpelukan dengan Erick dan juga ibu Tika. Kemudian keduanya masuk ke dalam terminal untuk memeriksa tiket dan paspor. Setelah selesai pemeriksaan, mereka langsung menuju lift yang akan menuju kabin pesawat.
_
Pukul sepuluh malam waktu Tokyo Ve dan Ryu sampai di apartemen Ryu di tengah kota. Dia merasa takjub dengan apartemen kakaknya itu yang begitu bersih dan mewah.
Sekelas anak bangsawan memang mempunyai apartemen lumayan mewah dan mahal, tapi Ryu jarang menempati apartemennya itu, hanya sesekali saja sewaktu dia ada di Tokyo.
Ryu sudah menyuruh Tamada untuk mencari mahasiswa Indonesia yang menyambi kerja di Tokyo dan sudah di dapatkan.
Katanya besok pagi dia datang ke apartemen Ryu.
"Kamu istirahat saja dulu, besok ada mahasiswa Indonesia yang akan memandumu di sini dan bisa di ajak ngobrol." kata Ryu dengan bahasa isyarat juga bahasa Inggris.
Ve sedikit mengerti, dia hanya mengangguk saja. Ryu menunjuk sebuah kamar bersebelahan. Apartemen itu ada dua kamar tidur, dapur, ruang tamu dan juga kamar mandi di sambung dengan ruang cuci baju.
Ve lalu mengikuti Ryu yang menunjukkan kamarnya untuk tidur.
"Aku usahakan papa datang tiga hari setelah kamu di sini, lebih cepat lebih baik. Bersabarlah." kata Ryu.
"Yes oniichan." kata Ve dengan senyum manisnya.
Ryu terpesona dengan senyum Ve yang manis itu, jantungnya berdetak sesaat. Dia memgalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak terjerumus ke hal yang di larang.
Erick sangat beruntung, dia bisa mendapatkan adiknya. Jika di perhatikan lebih lama, Ve memang sangat cantik dan juga manis. Dan lihatlah, Ryu bahkan terpesona dengan senyum Ve yang alami.
"Oniichan pulang dulu ke rumah utama, sekalian menyampaikan sama papa kalau kamu ada di sini." kata Ryu.
"Baik oniichan, and thank you so much." jawav Ve.
Ryu mendekat dan memeluk adiknya dengan erat, setelah di rasa cukup dia lalu pergi keluar dari apartemennya untuk pulang ke rumahnya.
Dia bisa saja menginap di sana karena masih ada satu kamar lagi, tapi dia tidak mau. Saat ini entah kenapa jantungnya masih berdetak kencang, dia sendiri mengumpat dengan detak jantung itu. Dia harus menetralkan dirinya agar tidak terlibat cinta terlarang.
Dia belum berani jatuh cinta pada seorang gadis, tapi kenapa saat ini dia malah terpesona oleh adiknya?
Waktu di Indonesia dia tidak merasakan seperti itu, tapi kenapa tiba-tiba sampai di Tokyo jadi lain?
"Oh, shiitt!" kata Ryu mengumpat.
Dia langsung naik kereta cepat menuju rumah utama. Dia akan menenangkan dan menghilangkan perasaan sesaat itu. Menemui papanya dan mengatakan bahwa adiknya sudah dia temukan dan ada di Tokyo.
Pukul sebelas Ryu sampai di rumah utama, dia langsung masuk ke kamarnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari segala kotoran yang menempel.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊