
Pertemuan singkat Ve dan Hiroshi sangat membekas di hati Ve. Dia senang bisa melihat papanya yang masih terlihat gagah dan tampan. Pantas saja, kakaknya Ryu juga gagah.
Hiroshi bilang dia akan datang lagi ke apartemen Ryu dua hari lagi sebelum Ve pulang ke Indonesia, Hiroshi tahu anaknya hanya satu minggu di Jepang.
"Apa anda mau jalan-jalan nona?" tanya Hana pada Ve.
"Apa aku boleh jalan-jalan?" tanya balik Ve.
"Tentu saja nona, tuan Tamada memberikan izin atas izin tuan Ryu kalau anda boleh jalan-jalan dengan saya kemana anda mau." jawab Hana.
"Emm, boleh kita jalan-jalan yang terdekat saja. Aku di beri tahu kalau pacarku akan datang kemari." kata Ve.
"Oke, anda mau kemana?"
"Aku tidak tahu di sini tempat yang menarik, bisa kamu saja yang pilihkan tempatnya?" tanya Ve lagi.
"Baiklah, kita akan pergi ke Ameyoa Yokocho dan Tokyo skytree Town saja nona. Dua tempat itu sangat menarik untuk para wisatawan luar Tokyo." kata Hana.
"Waah, boleh juga. Terserah kamu, aku belum tahu apa pun mengenai Jepang. Tapi bisakah kita melihat gunung terindah di Jepang, gunung Fuji misalnya?" tanya Ve ragu.
"Kita lihat dari Tokyo skytree Town nona, kebetulan sekarang cuaca sedang bagus. Ayo kita ke sana."
"Baiklah, aku bersiap dulu."
"Baik."
Ve lalu bangun dari duduknya, dia masuk le dalam kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Tak lupa dia membuat catatan kecil untuk di tempelkan di kulkas agar jika nanti Ryu datang bersama Erick bisa tahu kalau dirinya sedang pergi jalan-jalan dengan Hana.
"Ayo kita pergi Hana." kata Ve.
"Ayo nona."
Lalu keduanya keluar dari apartemen Ryu itu untuk pergi jalan-jalan le tempat yang tadi di sebutkan. Ve tidak mau terlalu lama jalan-jalan karena hari ini Erick akan tiba di Tokyo.
_
Lama Ve dan Hana jalan-jalan di dua tempat itu, Ve sangat senang karena dia jarang sekali mendapatkan hiburan seperti jalan-jalan itu. Dia tampak sumringah melihat gunung Fuji dari Tokyo skytree town.
"Di sini tempat wisata sangat bagus dan terawat ya." kata Ve ketika mereka kembali untuk pulang setelah berbelanja beberapa keperluan di dapur di Ameya Yokocho.
Ve ingin memasak seafood makanya dia membeli cumi dan ikan, serta kepiting dan bumbu-bumbu yang di perlukan. Hana memberitahu jika ingin membuat makanan seafood belinya di sana dan juga bumbunya ada di sana.
"Ya, karena memang bertujuan untuk memanjakan para pendatang atau wisatawan dari berbagai negara. Yaa, untuk memberikan kesan baik dan mereka rela kembali lagi kesini." jawab Hana.
Benar juga, sebuah tempat wisata di bangun untuk kenyamanan wisatawan agar mereka suka dan akan kembali lagi suatu hari nanti.
Empat jam dari keluar apartemen, kini Ve sudah kembali lagi di apartemen kakaknya. Dia melihat sepertinya ada orang di dalam apartemen.
"Apa ada orang di dalam ya?" tanya Ve.
"Sepertinya kakak anda nona." jawab Hana.
"Oh iya ya. Heheh.."
Hana tersenyum dengan tingkah Ve, dia lucu sekali. Sejak keluar dari apartemen, Hana sangat suka dengan celoteh Ve tentang kehidupan di Indonesia. Membuat dia jadi rindu tanah kelahirannya.
Kembali pada Ve, dia lalu mendorong pintu yang sedikit terbuka. Mungkin sengaja terbuka agar Ve bisa masuk dengan mudah.
Dan benar, Ve masuk ke dalam apartemen. Di sana dia melihat Erick sedang tersenyum menatapnya. Ve buru-buru berjalan menghampiri Erick dan memeluknya dengan erat tanpa sadar.
"Kakak sudah sampai?" tanya Ve.
"Iya, kamu senang bisa jalan-jalan?" tanya Erick membalas pelukan kekasihnya itu.
Pemandangan itu di lihat oleh Ryu dan Hana,ereka tidak menyadari atau tidak peduli pada kedua orang yang masih jomblo tersebut. Hana membuang pandangannya ke arah lain, sedangkan Ryu berdehem keras.
"Ehm! Apa kamu lupa di sini ada siapa saja?" tanya Ryu dengan nada sindiran.
Ve melepas pelukannya pada Erick, lalu menatap kakaknya dan tersenyum.
"Heheh, sorry." kata Ve masih dengan senyuman lucunya.
Ryu mencibir, dia lalu menatap Hana yang sedang menghadap ke arah lain. Kemudian Ryu mendekat pada Hana dan berdehem padanya.
Hana menoleh dan reflek menatap pada Ryu yang terlalu dekat padanya, dia pun membungkuk dan menunduk dalam karena malu.
"Kamu masih kuliah?" tanya Ryu berbasa basi.
"Ya tuan." jawab Hana.
"Oh ya, Tamada memang memilih seorang mahasiswa untuk menemani adikku." gumam Ryu.
Dia lalu duduk di sofa yang di sana Erick juga sudah duduk di sana. Dia melihat Ve sedang merapikan bahan makanan di kulkas yang dia beli saat pergi dengan Hana.
"Lo mau tinggal di mana?" tanya Ryu pada Erick.
"Apa gue boleh tinggal di apartemen ini?" tanya Erick.
"Hei, lo mau tidur dengan adikku?!" tanya Ryu lantang.
Dia menyelidiki wajah Ryu yang tampak seperti cemburu dengannya. Cemburu yang berbeda, apakah Ryu merasa suka pada adiknya sendiri?
"Ryu?"
"Apa?"
"Lo suka sama adikmu?"
"Jelaslah, dia adik gue?"
"Jika dia bukan adik lo, apakah lo tetap suka sebagai laki-laki?"
"Uhuk! uhuk!, Apa yang lo bicarakan?" tanya Ryu tampak gusar dengan pertanyaan Erick.
"Heh, sikapmu menunjukkan lo suka Eiko bukan sebagai kakak. Gue khawatir rasa suka lo semakin menjerumus ke hal yang tidak baik." kata Erick.
"Hei, gue tahu siapa dia. Lo jangan khawatir, dia anak papa gue dan juga adik gue. Memang sesaat gue sempat ada perasaan lain, tapi gue sadar dia adalah adik gue." kata Ryu meyakinkan Erick.
Erick terdiam, dia menoleh ke arah Ve yang sedang asyik memasak di bantu oleh Hana.
"Gue akan tinggal di sini, jika kamar lo ngga boleh gue tempati. Gue bisa tidur di sofa ini." kata Erick memastikan jika Ryu tidak menolaknya.
"Hei, lo bisa menginap di hotel terdekat. Atau jangan-jangan lo mau apa-apa sama Eiko?!" pertanyaan sinis keluar dari mulut Ryu.
Entah kenapa dia saat ini kesal dengan sahabatnya itu mengenai adiknya, Ve.
"Gue bisa jaga dia."
"Tapi gue juga takut lo berbuat seenaknya sama adik gue!"
"Heh! Jika gue berbuat hal memalukan, setidaknya gue bisa menikahi dia secara resmi dan sah." kata Erick lagi dengan sengit.
Dia kenapa jadi lebih curiga pada sahabatnya mengenai Ve, sejak kapan Ryu suka sebagai laki-laki pada pacarnya itu?
"Erick, gue tahu gue salah. Gue juga udah berusaha tidak akan mencintai adik gue sendiri. Bisa lo bayangkan jika papa tahu, dia akan memarahi gue apa lagi mama. Gue hanya sesaat suka dengan cara laki-laki, tapi gue sadar diri kalau dia adalah adik gue. Percaya sama gue, gue ngga akan melanjutkan rasa suka itu." kata Ryu menjelaskan pada Erick.
Tatapan sinis Erick masih tertuju pada Ryu, memang seharusnya begitu. Mereka kakak adik satu kandung, yaitu satu ayah. Kenapa Ryu merasa suka Ve berbeda. Erick mendengus kasar, diam masih diam.
"Sejak kapan lo suka seperti itu pada Eiko?"
"Sejak baru datang ke sini, itu pun gue ngga tidur di sini. Gue pulang ke rumah utama selama tiga hari dan baru kesini lagi sama papa." jawab Ryu.
"Memang seharusnya lo hapus perasaan konyol lo itu." kata Erick masih sinis pada sahabatnya itu.
Satu jam perseteruan Erick dan Ryu mengenai perasaan Ryu yang salah pada adiknya. Dan kini mereka saling diam, menelusuri pikiran masing-masing.
Ve tiba-tiba duduk di antara kedua sahabat yang sedang berseteru dalam diam. Dia menatap keduanya secara bergantian. Aneh.
Satu kata yang Ve pikirkan mengenai keduanya, karena dia merasa pacar dan kakaknya seperti sedang kesal.
"Kalian kenapa?" tanya Ve kembali menatap keduanya bergantian.
Diam, keduanya tidak memjawab pertanyaan Ve.
"Kak Erick, oniichan apa yang kalian ributkan?" tanya Ve merasa aneh dengan kediaman dua laki-laki di sampingnya.
"Eiko, papa besok kesini lagi menjengukmu. Tapi oniichan ngga ikut. Oniichan pergi dulu, nikmati liburanmu dengan Erick." kata Ryu bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
"Oniichan, kenapa mau pergi?" cegah Ve memegang tangan Ryu.
Erick memandang tangan Ve yang memegang lengan Ryu untuk mencegahnya pergi.
"Biarkan dia pergi, dia masih banyak urusan di kantornya." jawab Erick.
Ryu menatap Erick, lalu tersenyum sinis. Tapi akhirnya dia memegang balik tangan Ve.
"Eiko, oniichan banyak pekerjaan. Nanti aku balik lagi, sudahlah pacarmu itu cemburu sama oniichan." kata Ryu yang kini meledek Erick.
Ve menatap Erick tajam, tapi Erick berdecak kesal dengan ucapan Ryu tadi. Namun diam saja.
"Tapi sebelum pergi, oniichan mencicipi masakanku. Tadi aku sama Hana membeli cumi dan ikan, aku buatkan cumi saus padang dan ikan goreng. Makanlah dulu dengan kami di sini." kata Ve memohon pada kakaknya itu.
Ryu terdiam, dia menatap Erick yang masih diam namun tidak kesal padanya.
"Oke, oniichan pengen mencicipi masakan Eiko. Ayo kita makan." kata Ryu.
Dan Ve menarik tangan Erick, dengan malas Erick pun bangun dari duduknya mengikuti langkah merekan.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊