V E

V E
50. Selamat Dari Maut



Sementara itu, Erick, Ve dan Hiroshi berusaha keluar dari dalam mobil yang mulai tenggelam itu. Memang sengaja Erick tadi satu jendela kaca todak dia tutup, mengantisipasi kalau terjadi apa-apa mereka bisa keluar dengan cepat.


Dan sekarang mereka sudah keluar, kini mereka sudah ada di permukaan laut. Namun mereka tidak langsung meminta tolong orang-orang yang sedang melihat kejadian itu.


"Tuan, ayo kita pergi dari sini." kata Erick.


Mereka di bawah jembatan, Erick sadar orang-orang yang mengejarnya pasti masih ada di sana untuk melihat apakah ketiganya selamat atau tidak.


"Kita harus kemana?" tanya Ve.


"Sebaiknya kita cari tempat bersembunyi dari orang-orang tadi." jawab Erick.


Kini mereka sudah naik melalui daerah sepi, sempat berenang hampir satu jam. Mereka kini berhenti di pinggir jalan untuk menaiki taksi.


"Tuan, kita mau kemana?" tanya Erick.


Dia memeluk Ve yang sedang kedinginan karena baju basah itu. Untuk tas Ve yang berisi pasport dan dompet berisi uang masih sempat dia selamatkan.


"Kita akan ke tempat yang tidak bisa di cari. Ryu sendiri tidak tahu. Tempat itu adalah tempat ketika aku sangat merindukan Harumi, pasti aku akan kesana." kata Hiroshi menatap anaknya yang kedinginan.


Tak lama, mobil taksi lewat dan mereka masuk ke dalam taksi. Setelah memberitahu ke mana tujuannya, mobil taksi itu melaju menuju tempat di mana tadi Hiroshi sebutkan.


Erick sendiri kenapa Ryu tidak bisa di hubungi saat itu, dia kesal sekali pada Ryu. Dia yang membuat rencana tapi kenapa rencana itu gagal, tapi justru peristiwa lain terjadi. Semua ponsel hilang di dasar laut tadi jatuh, dia tidak sempat menyelamatkan ponselnya karena harus berjuang keluar dari mobil yang tenggelam itu.


Dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju.


"Sayang, papa pinjam uangnya untuk membayar taksi. Nanti papa ganti ya." kata Hiroshi.


"Iya pa."


Ve mengambil dompet di tasnya yang memang semua basah. Tapi uang basah itu masih bisa di gunakan. Untungnya supir taksi tidak rewel.


"Ayo kita masuk ke dalam, kita mandi dan ganti baju kalian." kata Hiroshi mengajak kedua orang itu.


Mereka masuk ke dalam bangunan jaman dulu, pelayan di sana juga masih mengguanakan baju kimono, baju tradisional Jepang.


Satu pembantu kaget dengan kedatangan Hiroshi dan dua orang yang tampak basah kuyup.


"Tuan, ada apa? Kenapa anda basah seperti ini? Dan dia siapa?" tanya pembantu itu.


"Yang cantik itu anakku, satunya adalah kekasihnya. Kami tercebur di laut. Panjang ceritanya, nanti saya ceritakan pada kamu, dan siapkan tiga kamar untuk kita. Siapkan juga air hangat ya." kata Hiroshi.


"Baik tuan."


Pelayan di rumah itu laki-laki dan perempuan suami iistri yang sudah tua. Mereka menjaga rumah Hiroshi, dan Hiroshi memang sering datang setiap bulan, namun hanya beberapa jam saja.


Dan kemungkinan kali ini akan lebih lama, meski pembantu itu penasaran, tapi dia menjalankan perintah majikannya terlebih dahulu.


Suaminya menyiapkan kamar dan air panas, sedangkan istrinya menyiapkan makanan agar mereka tidak sakit setelah lama memakai baju basah selama beberapa jam.


_


Sementara itu, Ryu masih di dalam kamarnya, dia geram sekali pada kakeknya itu. Rencana semula ternyata tidak sesuai dengan kenyataan sekarang. Berita di televisi menyiarkan bahwa ada mobil di duga berisi tiga orang jatuh ke dalam laut du bawah jembatan.


Belum di ketahui tiga orang itu selamat atau tidak, karena mobil terjatuh memang di kedalaman seratus meter.


Takahiro sendiri menyabotase siaran televisi itu agar tidak menyiarkan bahwa anaknya ada di sana. Dia sebenarnya khawatir, namun entah bagaimana Hiroshi selamat atau tidak.


Dia tahu Hiroshi ada di dalam mobil itu bersama dengan anaknya Eiko.


Sedangkan Naomi di kamarnya menangsi terus sepanjang di beritakan ada sebuah mobil jatuh ke dalam laut, dia tahu dari pelayan itu bahwa di dalam mobil itu ada suaminya Hiroshi.


"Aaaaah!!! Kakek tua tidak tahu perasaan!!" ujar Ryu dengan keras.


Dia tidak tahu harus berbuat apa, dan bagaimana nasib ayah, adik serta sahabatnya di mobil itu. Ternyata kakeknya lebih cepat bergerak, ponsel Ryu di sadap dan bahkan dia di ikuti. Tak terkecuali Tamada yang menemui Sinjo, asisten Hiroshi.


Perusahaan Ryu dan Hiroshi sementara di pegang oleh Heiji. Kedua perusahaan besar itu untuk sementara di kendalikan oleh tuan Takahiro.


Rasa marah Ryu tidak bisa dia redam, beberapa perabot dalam kamarnya sebagian pecah dan rusak.


Suara kaki melangkah menuju kamarnya, nafas Ryu memburu ketika suara kaki semakin mendekat dan membuka pintu kamarnya. Dia melihat kakeknya berjalan santai dengan memakai baju kimono berwarna abu-abu mendekat padanya.


Tuan Takahiro berhenti di hadapan Ryu, dia menatap cucunya datar. Ryu sendiri masih murka dengan sikap kakeknya yang susah di tebak.


"Apa mau kakek?!" teriak Ryu pada kakeknya.


"Hanya ingin gadis itu pergi, dan entah dengan cara apapun dia harus pergi." jawab Takahiro sinis.


"Di mana rasa belas kasihmu, kakek?"


"Tidak perlu mempunyai rasa kasihan pada siapapun."


"Kakek! Papa ada di mobil itu dan beliau juga pasti ikut tenggelam di sana. Apa papa tidak kasihan sama papa?"


"Itu pilihannya, mengikuti gadis miskin itu!"


"Kakek benar-benar tidak berperasaan."


"Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana, tetaplah di kamar ini sampai kabar papamu di temukan. Tapi kakek tidak akan peduli papamu hidup atau mati, dia sudah memilih gadis itu." ucap tuan Takahiro.


Dia lalu pergi meninggalkan Ryu yang masih marah padanya. Dia tidak habis pikir, kenapa kakeknya itu begitu keras kepala.


Sementara itu, Naomi memaksa masuk ke dalam kamar anaknya, dia berteriak pada penjaga agar bisa masuk ke dalam kamar Ryu.


Setelah berdebat sebentar, akhirnya Naomi bisa masuk ke dalam kamar Ryu, dia mendorong keras daun pintu lalu berjalan cepat mendekat pada anaknya.


"Ryu, hik hik hik." ucap Naomi sambil memeluk anaknya.


"Sudah ma, jangan menangis terus. Kita akan cari tahu bagaimana keadaan papa dan Eiko serta Erick." kata Ryu menenangkan ibunya.


"Di mana mereka Ryu? Mama khawatir dengan papa kamu, hik hik hik." kata Naomi masih dengan isak tangisnya.


"Aku akan cari tahu ma. Apa mama bawa ponsel?" tanya Ryu.


Naomi merogoh saku bajunya, dia mengambil ponselnya yang memang selalu dia bawa dan tadi tidak di periksa karena penjaga ketakutan dengan teriakan Naomi.


"Ini, ambillah ponsel mama. Kamu secepatnya cari tahu mereka di mana, tapi kamu harus hati-hati karena penjaga di depan sore ini akan berganti." kata Naomi.


"Ya ma, terima kasih. Mama harus tenang ya, aku akan cari tahu bahaimana mereka sekarang." kata Ryu menenangkan ibunya.


Setelah lama berbicara, Naomi pun keluar dari kamar anaknya, dia menghapus air matanya ketika pas du depan penjaga di pintu kamar Ryu. Dia menatap tajam kedua penjaga itu secara bergantian, lalu melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan penjaga itu hanya menunduk, merasa takut pada menantu majikannya yang terlihat marah itu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊