V E

V E
37. Janji Hiroshi



Sementara itu, di kediaman rumah utama Takahiro. Ada beberapa asisten dan juga bodyguard masuk ke dalam ruang kerja Takahiro untuk membicarakan tentang Ryu yang ada di Indonesia.


"Jadi Ryu ada di sana selama tiga hari?" tanya tuan Takahiro pada anak buahnya.


"Iya tuan, dia menemui istri dari tuan Hiroshi di sana." kata asistennya Heiji.


"Emm, jadi dia sudah menemukan perempuan itu?" tanya tuan Takahiro lagi.


"Iya tuan."


"Pantau dia terus, jangan sampai dia membawa perempuan itu dan anaknya ke negara ini." kata tuan Takahiro lagi.


"Baik tuan, tapi sepertinya tuan Ryu pasti akan membawa gadis itu ke sini tuan." kata Heiji.


"Kalau begitu, lakukan sesuai perintahku saja. Jangan sampai Ryu membawanya, kalau sampai itu terjadi ancam saja perempuan itu agar tidak mengizinkan Ryu membawa anaknya kemari."


"Baik tuan, tapi tuan Ryu tidak membawa bodyguard ke sana."


"Bagus kalau begitu, lebih mudah untuk menyuruh perempuan itu mundur."


Pembicaraan itu lama sekali di bahas, kini asisten tuan Takahiro keluar bersama dengan anak buahnya.


Sementara itu, tuan Hiroshi memperhatikan ruang kerja ayahnya. Dia juga sedang mencari tahu sedang apa Ryu ada di Indonesia.


Dia tanya pada asistennya, Tamada. Jawabannya hanya mengunjungi sahabatnya saja. Tapi dia juga punya orang yang bisa di percaya di sana, ternyata Ryu memang tinggal di rumah sahabatnya. Anak dari tuan Ronald Jefferson.


Dia lega sebenarnya, tapi rupanya tuan Hiroshi masih belum tahu jika ayahnya juga sudah mengetahui istrinya di mana.


Ingin rasanya dia kesana, tapi dia ingat janjinya pada ayahnya dulu. Jika dia tidak akan pernah menemui istri yang di cintainya, maka ayahnya tidak akan mengganggu anak dan istrinya.


Tapi pikiran Hiroshi salah, sekarang malah tuan Takahiro ayahnya ingin mencelakakan istrinya yang ada di Indonesia.


Hiroshi masuk ke dalam kamarnya, dia mengganti bajunya. Karena sudah malam, dia ingin langsung tidur.


Naomi melihat suaminya sedang mengganti bajunya.


"Suamiku, kamu tahu Ryu kemana?" tanya Naomi mendekati Hiroshi.


"Dia ada di mana?" tanya Hiroshi.


"Ada di Indonesia, menemui adiknya " jawab Naomi.


Hiroshi diam, dia lalu memakai baju piamanya. Pikirannya melayang pada istri yang di cintainya hingga sekarang.


Naomi pun diam, melihat ekspresi wajah suaminya yang hanya datar saja. Tapi dia tahu, pikirannya lari ke Harumi.


"Apa kamu tidak mau menemui anakmu?" tanya Naomi.


Dia sudah pasrah, untuk tidak memaksa Hiroshi mencintainya. Setidaknya dia sudah punya anak dengan Hiroshi, meski hatinya sakit. Tapi dia juga tidak mau suaminya terus saja bersedih jika menjelang tidur, dan akhirnya dia hanya bisa tidur di waktu menjelang pagi.


Kadang suaminya itu duduk di balkon, meski di cuaca dingin. Hanya untuk memikirkan istrinya di sana, bertahun-tahun di lakukan Hiroshi hanya melamun di waktu malam menjelang tidur.


Dia merasa kasihan pada suaminya, karena janjinya pada sang mertua, dia jadi tersiksa bertahun-tahun menahan kerinduan pada anak dan istrinya.


Dia lebih baik berpisah dengan suaminya jika suaminya itu setiap malam harus memikirkan dan bersedih dengan kedua orang yang di cintainya itu tidak bisa dia temui.


Hiroshi berbaring di ranjangnya, kepalanya di topang kedua tangannya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.


Naomi melihat suaminya itu dengan perasaan sedih, meski dia merasa sedih karena Hiroshi jarang menanggapi ucapannya jika mengenai istri dan anaknya di Indonesia.


Kemudian Naomi juga berganti baju, dia memakai baju piama dan hendak tidur.


Ranjang utama itu sangat besar, untuk dua orang saja jika tidur bisa berguling bebas. Namun Naomi meski pun tidur satu ranjang, tapi Hiroshi tidak pernah memeluknya atau pun sekedar tidur menghadapnya.


Dia yakin setelah tidur seperti itu, suaminya akan bangkit dari tidurnya dan akan berpindah di ruang kerjanya yang langsung menghubung dari kamarnya.


Dia hafal betul apa yang di lakukan Hiroshi, dia ingin tahu dan berbagi cerita. Namun rupanya Hiroshi tidak mau melakukan itu padanya.


Rasa kantuk Naomi kini menyerang, dia lalu tertidur lelap. Berpikir dan memikirkan suaminya tidak akan pernah selesai, jadi dia lebih baik tidur dengan nyaman dan damai.


Dan Hiroshi bangun dari baringnya, duduk sebentar lalu menuju ruang kerjanya. Tak lupa dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang di negara sana.


Dia ternyata kalah cepat dengan ayahnya dan anaknya. Dia tahu sebenarnya Ryu berencana mengunjungi adiknya, dan sudah pasti mengunjungi ibunya juga.


Lalu apa yang mereka bicarakan? Apakah istrinya itu menceritakan bagaimana dia dan hidupnya dulu?


Tuuut


"Halo tuan Hiroshi?"


"Apa kamu masih di negara itu?"


"Tolong kamu kerahkan orang-orangmu untuk menjauhkan istri dan anakku dari orang-orang ayah Takahiro."


"Ya tuan. Apa anda sudah dengar bahwa tuan Ryu juga menemui istri dan adiknya?"


"Ya, saya dengar dari Naomi. Saya harap dia tidak berniat mencelakai adiknya."


"Jangan khawatir tuan, tuan Ryu itu penyayang. Jadi dia sayang pada adiknya, apa lagi adiknya perempuan. Dia senang sekali."


"Oh ya? Apa kamu pernah melihat mereka berdua?"


"Tidak saya sengaja melihat mereka bertiga ada di restoran. Rupanya tuan Ryu di beritahu temannya bahwa gadis yang bersamanya itu adiknya. Entah dari mana temannya itu bisa tahu kalau gadis itu adalah adiknya tuan Ryu."


"Mungkin Ryu yang meminta, atau Harumi bercerita pada teman Ryu itu. Entahlah."


Hiroshi diam, dia lalu memutus pembicaraan di telepon setelah semua sudah dia dapatkan informasi tentang anak dan istrinya.


Tinggal satu tahun lagi dia menunaikan janjinya pada ayahnya, tidak menemui anak dan istrinya itu. Dan akhir tahun ini dia berencana ingin berkunjung ke Indonesia, menemui istrinya dan anaknya.


Flash back


Hiroshi tidak menemukan istrinya di rumahnya yang terpisah dari rumah utama. Sengaja dia tidak di tempatkan Harumi dan Eiko tinggal di rumah utama, karena dia berpikir istri pertamanya akan merasa tersisih karena nantinya dia akan selalu mengunjungi Harumi.


Dan itu juga yang membuat Hiroshi sering tinggal di rumah Harumi. Hingga ayahnya tuna Takahiro marah dan menyuruhnya pergi keluar dinas ke Tokyo.


Dia tidak tahu itu di lakukan agar Harumi bisa di usir oleh mertuanya. Dan di berikan sejumlah uang untuk hidup di negaranya sendiri bersama dengan anaknya saat itu.


Dan begitu satu minggu berlalu, Hiroahi kembali pulang ke rumah Harumi tapi dia tidak mendapati istri dan anaknya.


Kemudian dia pergi ke rumah utama dan bertanya pada ayahnya kemana Harumi. Dan ternyata ayahnya berterus terang dia yang mengusirnya agar Hiroshi hanya fokus pada Naomi dan Ryu.


Hiroshi tidak terima, lalu tuan Takahiro memberikan ancaman padanya asal Hiroshi berjanji satu hal pada ayahnya itu.


"Ayah, apa yang ayah inginkan?" tanya Hiroshi jengkel pada ayahnya.


Dia merasa sudah melakukan apa saja yang ayahnya inginkan.


"Ayah mau kamu berjanji pada ayah." jawab tuan Takahiro.


"Janji apa?"


"Berjanjilah kamu tidak akan menemui istri dan anakmu selama dua puluh tahun ke depan. Jika kamu melanggar janji itu, maka anak dan istrimu akan ayah habisi tanpa ampun." kata tuna Takahiro.


"Apa salah mereka ayah?"


"Salah kamu mencintai perempuan tidak dari kalangan kita, tapi kamu memaksa. Heh, ayah salah telah mengizinkan kamu menikah dengan perempuan itu, kamu lebih memilih hidup dengannya di bandingkan dengan Naomi." ucap tuan Takahiro.


"Selama itu ayah menyuruhku berjanji?"


"Ya, jika kamu mengingkarinya kedua orang yang kamu sayangi itu hanya akan tinggal nama saja dalam hatimu. Kamu tahu ayah bisa berbuat apa saja." kata tuan Takahiro lagi dengan tajam.


Hiroshi tidak bisa berbuat banyak, saat ini dia masih bergantung segalanya dari kekayaan ayahnya. Namun dalam hati, selama dia berjanji akan berusaha sendiri untuk mendapatkan kekayaan agar istri dan anaknya bisa hidup tenang.


"Kamu mau berjanji?"


"Apa aku harus lakukan itu?"


"Terserah kamu, keputusan ada di tanganmu. Jika kamu ingin keduanya selamat, maka kamu berjanji padaku." kata tuan Takahiro.


"Baiklah, aku menuruti apa yang ayah mau. Dua puluh tahun tidak akan aku temui anak dan istriku, tapi ayah harus menjamin keduanya hidup dengan tenang di sana." kata Hiroshi.


"Kamu jangan khawatir, ayah akan menepati janji. Asal kamu juga menepati janjimu."


"Iya, aku berjanji tidak akan menemui anak dan istriku itu."


"Satu lagi, berbuat baiklah pada Naomi. Dia juga istrimu, dan yang paling penting istri sahmu di mata semua para bangsawan. Ayah sangat malu jika kamu mempunyai istri lebih dari satu, apa lagi dari kalangan rakyat rendahan."


"Ayah! Jangan hina Harumi!"


"Sudahlah, kamu bisa pergi dari ruanganku." kata tuan Takahiro.


Hiroshi diam, lalu dia pergi keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan sedih dan marah, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊