
Ibu Tika berhenti sejenak, dia melihat anaknya masuk ke dalam rumah dan menatap pada Erick yang tersenyum padanya.
Ve pun mendekat pada kedua orang yang sedang mengobrol itu. Ve heran, kenapa keduanya menatapnya secara bersamaan?
"Bu, ada apa?" tanya Ve pada ibunya.
"Emm, kamu sudah selesai melatih anak-anak?" tanya ibu Tika.
"Sudah, tapi kenapa kak Erick ada di sini?" tanya Ve beralih pada dosen sekaligus pacarnya itu.
"Lagi ngobrol aja sama ibu, pengen lebih dekat. Biar nanti di anggap menantu yang baik. Hehehe.." jawab Erick dengan tawa kecilnya.
"Apa sih kak, kok larinya sudah kesana." kata Ve dengan tersipu malu.
"Biar kamu di jaga sama dia, Ve." kata ibu Tika sambil berdiri dan meninggalkan kedua orang yang sedang jatuh cinta.
Ve memajukan bibirnya, dia lalu menatap Erick heran.
"Kakak ngga menjemput Jody?" tanya Ve.
"Nanti sebentar lagi, sini kamu duduknya sama aku." kata Erick.
"Ngga ah, kenapa juga harus duduk dekat kakak?"
"Biar romantis aja, Ve. Kenapa sih ngga mau duduk bareng sama aku?" tanya Erick, dia bangkit dari duduknya dan pindah di samping Ve.
Ve bergeser duduknya agak menjauh dari Erick, tapi Erick malah menarik lengan tangan Ve.
"Udah duduk yang bener, jangan pindah lagi."
"Apa sih kak?!"
"Diam ngga?"
"Ngga mau!"
"Ish, aku mau kasih tahu rahasia tentang kamu. Mau dengar ngga?" tanya Erick.
Ve penasaran, lalu dia menurut dan mendekat lagi pada Erick karena ingin tahu apa yang akan di ucapkan Erick padanya.
Erick mematap Ve dengan dalam, dia memperhatikan lebih dekat wajah Ve. Dan di sana memang dia mendapati wajah mirip Ryu.
"Kak, ada apa sih?" tanya Ve heran kenapa Erick menatapnya begitu dalam.
"Emm, Ve aku itu selalu penasaran dengan nama kamu. Sejak pertama masuk ke kelas kamu aku selalu penasaran dengan nama kamu." kata Erick menggantung membuat Ve semakin bingung.
"Memang apa yang kak Erick penasaran dengan namaku? Kenapa ngga tanya aja sama ibu?" kata Ve dengan santainya.
Erick takjub, kenapa Ve begitu santai dengan menanggapi pertanyaannya. Apakah di hatinya tidak ada rasa penasaran kenapa namanya terlalu pendek?
"Ve, tadi aku udah tanya sama ibu. Beliau bilang nama kamu itu sebenarnya dua nama di ambil huruf depannya saja. Apa kamu tahu itu?"
"Ngga, aku hanya suka dengan nama pendek itu. Ve, pendek dan aku suka nama itu. Kenapa kakak penasaran sekali dengan namaku?" tanya Ve lagi.
"Karena nama kamu itu mempunyai sejarah, Ve." kata Erick.
"Benarkah? Lalu apa yang kak Erick tahu tentang namaku?" tanya Ve semakin penasaran.
"Nah itu dia, tadi ibu cerita belum selesai. Aku belum tahu sejarah nama kamu. Coba nanti kamu tanyakan sama ibu, apa nama kamu?" kata Erick.
"Ibu ngga pernah jawab kalau aku tanya, jadi ya udah buat apa maksa ibu. Lagi pula jika ibu ingin cerita, pasti beliau akan cerita sendiri. Emm, sepertinya tadi ibu cerita banyak ya sama kak Erick?" tanya Ve, seolah tahu kalau Erick ke rumahnya itu untuk meminta ibunya bercerita.
"Sedikit, tadi mau bilang mana kamu ibu berhenti dan kamu datang."
"Berarti ibu ngga mau aku tahu kak."
"Pasti ibu kasih tahu kamu kok. Jangan salahkan ibu jika beliau menyembunyikan statusmu ya, karena beliau berpikir itu demi kebaikanmu. Aku tahu itu." kata Erick agar Ve tidak marah pada ibunya ketika nanti tahu siapa dirinya.
"Ngga kok kak, aku hanya ingin tahu siapa ayahku dan di mana fotonya. Sedari kecil ibu tidak pernah kasih tahu foto ayah." kata Ve.
Tak berapa lama, ibu Tika menghampiri kedua orang itu. Sambil membawa sebuah album kecil di tangannya, ibu Tika duduk di depan Erick dan Ve.
"Ve, kamu boleh lihat kok foto ayah kamu di sini." kata ibu Tika menyodorkan album foto yang sudah usang itu.
Ve menerima album foto yang di sodorkan ibunya, dia kembali menatap ibunya lalu melihat ke arah Erick.
Erick sendiri tersenyum dan mengangguk padanya. Ve lalu memandangi album foto usang itu, ragu dia membuka album tersebut.
Tangannya sedikit gemetar karena gugup. Ya, pertama kali dia akan melihat wajah ayahnya. Dengan perlahan Ve membuka album tersebut dan melihat halaman pertama bertuliskan dua puluh tahun silam kenangan bersama suamiku.
Ve membuka lembar kedua, di sana terlihat dua orang sedang duduk saling memeluk tangannya di pinggang, Satu perempuan Ve tahu bahwa itu adalah ibunya. Sedangkan satu laki-laki di sebelahnya seperti orang Jepang yang bermata sipit tersenyum bahagia.
Ve menatap ibunya dan beralih ke Erick, hatinya semakin berdebar. Ini pertama kalinya dia melihat buk album foto ibunya.
Kembali Ve membuka lembar ketiga, di sana dua orang tadi sedang berlibur di sebuah kota romantis di kota Italia, Venice. Mereka berdiri bergandengan tangan sambil mendengarkan pengayuh gondola bernyanyi.
Lembar berikutnya, Ve melihat sebuah pernikahan sederhana antara ibunya dan orang Jepang itu. Ada sesak di dada Ve ketika melihat kedua orang itu menikah secara sederhana.
Kemudian kembali Ve melihat lembaran berikutnya, ibunya sedang hamil besar. Perutnya di pegang dengan lembut sambil menatap ibunya. Lembar berikutnya, Ve melihat kedua orang itu memegangi bayi mungil.
Dan di bawah foto tersebut ada tulisan dengan huruf kanji atau huruf Jepang yang Ve sendiri tidak tahu arti tulisannya itu apa.
"Itu nama kamu Ve, yang tertulis di bawah dan bayi itu kamu." kata ibu Tika sedikit terisak.
Ibu Tika merasa bersalah telah menutupi semua kebenaran selama sembilan belas tahun tentang suaminya dan ayah Ve.
Ve semakin sesak ketika satu lembar terakhir, di umur sembilan bulan itu Ve terakhir bertemu dengan ayahnya.
Dia menangis, menatap foto ayahnya. Erick merasa kasihan dan terharu, dia lalu menarik Ve ke dalam pelukannya.
Cukup sudah penyelidikannya terhadap Ve dan ibu Tika. Dia ingin sekali memberitahu pada Ryu kalau adiknya sudah dia temukan.
"Jadi ayah Ve itu orang Jepang bu?" tanya Ve di sela isak tangisnya.
"Iya, dia orang Jepang dan bukan orang sembarangan. Makanya ibu menyembunyikan identitasmu agar mereka tidak bisa menemukanmu dan ibu, Ve. Maafkan ibu nak, hik hik hik."
Ve mendekat pada ibunya, kemudian memeluknya erat. Dia tahu kenapa selama ini jika di tanya selalu tidak pernah ada jawaban pasti. Dia sendiri tidak mau ambil pusing, tapi sekarang dia sudah tahu kebenarannya siapa dirinya dan siapa ayahnya.
"Maaf ya Ve, kamu terlambat mengetahui identitasmu. Ibu hanya ingin melindungimu dari mereka yang mengincar ibu, Ve." kata ibu Tika.
"Siapa yang mengincar ibu?" tanya Ve bingung
Setahu dia ibunya tidak pernah punya musuh apalagi mau mencelakakannya. Meski pun ada tetangga yang suka iri pada ibunya, namun tidak mungkin sampai mau mencelakakan ibunya.
"Dia suruhan kakekmu yang dari Jepang, kakekmu yang tidak suka sama ibu. Makanya dia selalu mau mencelakakan ibu, tapi ibu selalu ada yang menolong." kata ibu Tika.
Kini Ve mengerti kenapa ibunya sangat tertutup dengan masa lalunya.
Dan ibu Tika sendiri kenapa dia mau bercerita, dia berpikir ketika nanti suatu saat hidupnya benar-benar tidak bisa terselamatkan. Maka Ve sudah mengetahui siapa dirinya dan ayahnya. Setidaknya agar Ve tahu alasannya kenapa di sembunyikan selama itu.
"Terus apakah ayah tahu kita ada di sini bu?" tanya Ve.
"Ibu yakin ayahmu tahu, hanya saja ibu berpikir kenapa ayahmu tidak pernah mencari, karena ayahmu juga berpikir sama dengan ibu. Untuk menjagamu dan ibu dari jauh juga mengawasi ibu dan kamu dari jauh." kata ibu Tika.
Dan kini Ve semakin tahu siapa dia dan ayahnya orang mana dan di mana.
Erick lega, ternyata ibu Tika percaya padanya dan mau bercerita tentang masa lalunya.
Tapi masih ada yang mengganjal di hatinya, huruf kanji yang di tulis di album foto itu belum terungkap.
"Bu, nama Ve itu siapa?"
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊