V E

V E
58. Pemikiran Ryu



Ryu Shin Hiroshi, kini dia hidup seperti dulu lagi. Bekerja di perusahaannya dengan Tamada asistennya. Dia kini lebih santai meski ada dua perusahaan yang harus dia jalankan.


Milik Hiroshi dan juga miliknya, tapi kedua perusahaan itu sudah ada asistennya masing-masing, Sinjo dan Tamada. Dan kini Ryu sedang berada di perusahaan ayahnya, Hiroshi.


Memang dia di tugaskan oleh kakeknya, Takahiro untuk menjalankan perusahaan papanya. Tanpa mengambil apa pun dan merubah apa pun di perusahaan itu. Dia sengaja menjalankannya saja, agar saham papanya, Hiroshi tetap ada dan keuntungannya bisa dia kirim ke rekening papanya.


Dia sudah berkoordinasi dengan pihak bank yang menaungi rekening papanya agar merahasiakan uang yang masuk dan keluar, dia hanya memberitahu kalau rekening itu yang memeiliki adalah dirinya, tapi tidak mau merubah nama rekeningnya.


"Tuan Ryu, besok tuan Takahiro akan berkunjung ke perusahaan ini. Bagaimana menurut anda?" tanya Sinjo pada Ryu.


"Ya, biarkan saja. Mungkin kakek ingin melihat perkembangan perusahaan papa selama aku yang menjalankannya." ucap Ryu santai.


Saat ini Sinjo belum tahu kalau majikannya tidak benar-benar meninggal. Ryu dan Tamada belum memberitahu pada Sinjo. Dan itu yang membuat Sinjo heran, kenapa nama Hiroshi masih tercantum di perusahaan, dan rekeningnya pun tidak berubah. Bahkan Ryu sering mengirim uang hasil dari penjualan saham dan keuntungan perusahaan.


"Tuan Ryu, ada beberapa hal yang membuat saya penasaran. Bulan lalu tuan Hiroshi meninggal di dasar lau karena tenggelam, tapi anda masih menggunakan nama beliau di setiap transaksi bank. Apakah ada sesuatu yang tidak saya tahu, tuan?" tanya Sinjo.


Jika memang Ryu menyembunyikan sesuatu tentang majikannya dulu, dia kecewa. Tapi dia mengerti jika tujuannya baik untuk tuan Hiroshi, pikir Sinjo.


Ryu menghela nafas panjang, tidak seharusnya dia menyembunyikan rahasia tentang Hiroshi yang masih hidup pada Sinjo. Sinjo menemani Hiroshi itu sudah sangat lama, bahkam ketika Ryu masih berumur dua belas tahun.


Dan sekarang dia merasa Hiroshi adalah majikan yang selalu ingin dia jaga. Ketika rasa terpuruk dari istrinya, Tika Harumi pergi. Sebenarnya Sinjo tidak tahu banyak saat itu, namun seiring berjalannya wakti dia semakin mengerti kenapa Hiroshi sangat gila bekerja dan kadang dia sering melihat Hiroshi melamun, bahkan menangis.


Itu karena dia sangat kehilangan orang yang dia cintai. Dia merasa kasihan pada majikannya, sehingga apa pun dia lakukan agar majikannya itu tidak merasa sedih.


Dan sekarang, ada yang di sembunyikan oleh anak majikannya itu. Dia ingin tahu, apa yang terjadi sebenarnya.


"Tuan Ryu, bisakah anda memberitahu saya tentang papa anda?" tanya Sinjo lagi.


Ketika di sekap oleh anak buah Takahiro, Sinjo dan Tamada berbeda tempat. Namun setelah mereka di bebaskan pun berbeda hari, Tamada lebih dulu keluar di banding Sinjo.


Jadi dia mendengar kabar bahwa Hiroshi meninggal karena tenggelam di laut, dia sangat terpukul. Yang dia terima informasi dari Tamada bukan seperti itu rencana skenario meninggalnya Hiroshi, tapi mobilnya meledak dan ketiga orang di dalamnya di selamatkan sebelum mobil itu di ledakkan.


"Sinjo, maafkan aku kalau aku memyembunyikan sesuatu tentang papa. Tapi ini di luar rencana kita, namun rencana kakek itu yang berhasil." kata Ryu membuat Sinjo semakin tidak mengerti.


"Tuan Ryu, maksud anda apa? Saya tidak mengerti." kata Sinjo.


"Sinjo, papa sebenarnya masih hidup. Belau ada di negara istrinya, mama dari adikku. Eiko." Kata Ryu menegaskan.


"Apa?! Apa yang anda katakan? Bukankah tuan Hiroshi meninggal karena tenggelam ke laut?" tanyw Sinjo tidak percaya.


"Benar, Sinjo. Papa masih hidup, tapi di rahasiakan. Kakek yang merencanakannya sendiri, aku pikir juga kakek akan berbuat kejam pada papa. Tapi nyatanya kakek sama denganku, dia ingin menyelamatkan kehidupan papa yang terkekang karena adat dan aturan keluarga besar kita. Kakeh sepertinya menepati janjinya, karena papa juga menepati janjinya selama dua puluh tahun berpisah dengan istrinya di sana. Jadi kakek memberinya pilihan itu, agar semua kerabat dan keluarga tidak ada yang merasa di hianati oleh keputusan kakek." ucap Ryu.


Sinjo terkejut dan tidak percaya, dia senang. Namun dia juga tidak percaya dengan tindakan tuan Takahiro yang terlalu mengambil resiko bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan anaknya.


Sekali pun nanti meninggal, dia tidak akan di hadiri dan di sembahyangi oleh Hiroshi karena sudah di anggap meninggal oleh keluarga.


"Tapi, kenapa tuan Takahiro bertindak seperti itu, tuan Ryu?" tanya Sinjo.


"Aku sudah katakan tadi, aku malas menjelaskan lagi tentang alasan kakek bertindak seperti itu. Yang jelas rencana kita berhasil, meski pun kakek yang bertindak." kata Ryu sedikit kesal pada Sinjo.


Sinjo membungkukkan setengah badannya karena merasa bersalah tidak memperhatikan penjepasan Ryu. Tapi dia juga ikut senang, akhirnya Hiroshi bisa hidup bahagia setelah belasan tahun tidak merasakan kebahagiaan lagi.


"Maaf tuan, saya terlalu fokus dengan kalimat anda yang papa anda masih hidup. Saya senang akhirnya tuan Hiroshi hidup bahagia dengan perempuan yang sangat di cintainya." kata Sinjo.


"Emm, ya. Kamu benar, aku juga merasa senang sekali. Meski mama yang sekarang jadi sedih karena kehilangan papa." kata Ryu.


"Tidak, mama tidak tahu. Dan biarkan seperti itu, biar mama juga merasakan bahagia juga seperti papa. Mendapatkan cinta laki-laki lain yang mencintainya. Aku pun setuju, dan kakek membebaskan mama untuk menikah lagi dengan syarat yang sama. Menikah dengan kalangan bangsawan lagi. Sangat merepotkan, tapi tidak buruk juga menikah dengan kalangan bangsawan."


"Ya tuan, tapi sepertinya anda juga harus menikah dengan anak seorang bangsawan juga. Apa anda menerima nasib itu?" tanya Sinjo.


"Tidak masalah, aku akan belajar mencintai perempuan yang akan di jodohkan untukku." kata Ryu.


"Anda sepertinya sangat pasrah sekali, tapi bukankah anda bisa menikah dengan gadis yang anda cintai, misal dari kalangan rakyat biasa?"


"Apa akan terjadi lagi drama seperti papa? Aku tidak mau seperti itu, sangat merepotkan."


"Sepertinya anda belum menemukan cinta sejati yang sesungguhnya. Tapi memang ada baiknya menerima nasib yang sudah di siapkan oleh keluarga anda tuan Ryu." kata Sinjo lagi.


"Ya, kamu benar. Aku hanya menerima takdirku sebagai putra mahkota keluarga besar Takeshi Takahiro. Bagiku tidak mengapa, nanti setelah aku menikah dengan perempuan pilihan keluarga, aku akan menerapkan peraturan baru untuk anak cucuku kelak." ucap Ryu.


"Waah, pemikiran anda sangat jauh ke depan, sangat memperhatikan adat istiadat yang berlaku dan juga ingin memberontak dengan cara berbeda. Saya salut dengan pemikiran anda tuan." kata Sinjo sangat bangga dengan anak majikannya itu.


"Oh ya, kapan kakek akan berkunjung kemari?" tanya Ryu.


"Besok tuan." jawab Sinjo.


"Maksud aku, jam berapa? Coba tanyakan pada Heiji, jam berapa kakek berkunjung? Karena besok jadwalku ada di Tokyo." ucap Ryu.


"Baik tuan, saya akan menghubungi Heiji terlebih dahulu." kata Sinjo.


Dia lalu mengambil ponselnya dari balik jasnya, kemudian menghubungi Heiji.


"Halo, Sinjo. Ada apa?" tanya Heiji pada Sinjo.


"Tuan Ryu bertanya, besok tuan besar Takahiro jam berapa akan berkunjung di perusahaan?" tanya Sinjo.


"Mungkin menjelang makan siang, menurut tuan besar beliau ingin makan siang dengan tuan Ryu di luar " jawab Heiji.


"Oh, baiklah kalau begitu. Saya akan beritahu tuan Ryu nanti.


"Sinjo, kenapa tuan Ryu bertanya seperti itu? Saya takut tuan besar menanyakannnya." kata Heiji.


"Karena jadwal tuan Ryu besok seharusnya ada di Tokyo, jadi jika tuan besar datang siang hari. Besok pagi mungkin tuan Ryu ke Tokyo dulu dan jam sepuluh ke perusahaan menemui tuan besar." kata Sinjo.


"Oh, seperti itu. Baiklah, Sinjo. Terima kasih."


"Ya, terima kasih kembali Heiji."


Lalu Sinjo menutup sambungan telepon dengan Heiji dan memberitahu pada Ryu kalau tuan Takahiro akan berkunjung siang hari waktu makan siang.


_


_.


_


😊😊😊😊😊😊😊