V E

V E
62. Bertemu Lagi



"Hana."


Sapa Ryu ketika dia sudah berdiri di belakang Hana. Hana menoleh dan melihat Ryu ada di depannya, dia kaget. Lalu membungkukkan badan dan tersenyum padanya.


"Selamat malam tuan Ryu, anda ada di sini?" tanya Hana masih terkejut.


"Aah ya, kebetulan aku lagi melintas di daerah ini dan mampir sebentar ke kafe. Dan ku lihat kamu sedang berdiri menunggu taksi." kata Ryu berbohong.


Padahal hatinya sedang ragu, ragu dan entah sekarang dia merasa senang bertemu dengan Hana.


Hana tersenyum kecil pada Ryu, dia lalu menatap kembali ke arah jalan. Berharap mobil taksi lewat di depannya.


"Apakah kamu mau pulang?" tanya Ryu berbasa basi.


"Ya tuan, saya sedang menunggu taksi." jaeab Hana.


"Emm, aku bisa mengantarmu pulang." kata Ryu.


"Tidak usah tuan Ryu, saya bisa naik taksi kok." jawab Hana menolak dengan halus.


Dia hanya merasa tidak enak pada Ryu, masalahnya dia adalah seorang yang sangat berbeda dengan dirinya.


"Tidak apa, sesekali mengantarkan seorang gadis yang sedang menunggu taksi tidak datang-datang." ucap Ryu lagi.


"Hahah, anda baik sekali. Tapi saya menolak tawaran anda tuan Ryu." ucap Hana lagi.


"Oh, kalau begitu aku tunggu beberapa menit. Jika kamu mendapatkan taksi, aku akan pulang juga. Tapi jika tidak juga dapat, kamu harus menerima tawaran dariku." ucap Ryu..


Entah kenapa dia merasa tertantang dengan penolakan Hana itu, harga dirinya sebagai laki-laki baik dan juga gengsinya semakin terkoyak.


Tak lama, mobil taksi datang. Hana tersenyum dan membungkuk pada Ryu.


"Maaf tuan, taksi sudah datang. Berarti tawaran anda saya tolak, maaf." ucap Hana.


Hana menarik pintu belakang mobil perlahan, namun tiba-tiba mengatakan pada supir taksi bahwa Hana membatalkan naik taksinya.


"Maaf, nona ini tidak jadi naik taksi anda." ucap Ryu.


Sontak saja membuat Hana kaget, namun dengan cepat Ryu menarik tangan Hana menuju mobilnya. Lalu dengan cepat pula, Hana di masukkan ke dalam mobilnya duduk di depan dengannya.


Hana heran, kenapa Ryu memaksanya ikut ke dalam mobilnya. Dia mengerutkan dahinya tanda tak mengerti dengan sikap Ryu itu.


"Tuan Ryu?" ucap Hana heran.


"Maaf Hana, aku hanya khawatir jika seorang gadis pulang malam hari sendirian di tengah kota Tokyo." kata Ryu.


"Tapi aku sudah biasa pulang sendiri, tuan Ryu dan tidak ada apa-apa. Aku selamat." ucap Hana.


Ryu diam, dia tidak mempedulikan ucapan Hana. Mobil dia belokkan dan melaju pelan. Hana menghela nafas panjang, baiklah kali ini dia menerima tawaran baik tuan Ryu. Pikir Hana.


Ryu dan Hana masih saling diam, memandang ke depan jalanan yang gelap dan hanya penerangan lampu jalanan dan beberapa toko dan gedung yang menyala.


"Di mana rumahmu?" tanya Ryu mengakhiri kebisuan keduanya.


"Agak jauh dari jalanan ini, nanti kalau sudah dekat aku stop." jawab Hana.


Ryu menoleh, ada raut wajah datar di terlihat. Hana menoleh ke arah Ryu yang masih menatapnya, seketika Ryu menatap kembali ke depan jalanan.


"Tuan Ryu, bagaimana kabar nona Eiko?" tanya Hana menciptakan kehangatan.


"Emm, dia baik. Tapi aku belum menghubunginya lagi." jawab Ryu.


Hana mengerutkan dahinya, dia penasaran. Namun tidak banyak bicara, bertanya tentang Ve habya basa basi saja agar tidak sepi.


"Hana, berapa tahun lagi kamu menyelesaikan kuliahmu?" tanya Ryu.


"Satu tahun lagi, mungkin." jawab Hana.


"Kamu betah tinggal di sini?" tanya Ryu lagi tanpa menatap Hana.


"Saya betahkan, karena saya sedang menempuh pendidikan." jawab Hana.


"Setelahnya? Kamu langsung pulang?" tanya Ryu semakin penasaran.


"Ya, saya akan langsung pulang. Sudah tiga tahun saya tidak pulang, jadi begitu selesai kuliah saya akan langsung pulang." jawab Hana mengambang.


"Setelah pulang, apa yang akan kamu lakukan?" Ryu semakin tertarik dengan Hana.


Hana menatap Ryu sebentar, dia berpikir kenapa anak bangsawan ini begitu tertarik dengan hidupnya?


"Kenapa?"


"Saya melamar kalau perlu." jawab Hana asal.


"Oke, saat ini kamu aku terima jadi pegawaiku di kantor. Besok kamu datang ke tempat ini." kata Ryu dengan semangat sambil menyerahkan kartu nama pada Hana.


Hana kaget, dia tidak percaya Ryu menanggapi ucapannya dengan serius.


"Hahha, maaf tuan Ryu. Saya hanya bercanda saja meminta pekerjaan pada anda. Saya senang bekerja di restoran." kata Hana merasa tidak enak.


"Aku serius, Hana. Besok kamu datang, aku tunggu kamu besok." ucap Ryu dengan serius.


"Eh?"


Ryu diam, dia merasa senang melihat Hana kebingungan.


"Stop tuan Ryu, sudah sampai." kata Hana mendadak.


Ryu memghentikan mobilnya, dia melihat sekeliling ternyata padat sekali dan beberapa ada rumah yang sempit.


"Kamu tinggal di daerah sini?"


"Ya, terima kasih tumpangannya tuan Ryu."


"Hana?"


"Ya tuan Ryu?"


"Emm, aku serius besok aku tunggu kamu di perusahaanku." ujar Ryu menatap dalam Hana.


Ternyata dia manis juga dan wajahnya sedikit imut dengan kulit kecoklatannya. Hana pun tersenyum canggung, dia pun membuka pintu mobilnya dan keluar.


"Hana."


"Ya?"


"Kamu besok mau datang?"


"Emm, saya belum tahu tuan Ryu. Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih atas tumpangannya tuan."


Hana lalu keluar dari mobil Ryu setelah membungkukkan badannya tanda hormat. Dia tidak percaya dengan ucapannya tadi di tanggapi serius oleh bangsawan Ryu. Senyum tipis di bibirnya setelah mobil Ryu melaju meninggalkannya di pinggir jalan.


Setelah hilang dari pandangan, Hana melangkah menuju rumah kontrakannya di paling ujung yang terlihat lampunya belum menyala.


_


Sementara itu, di perjalanan Ryu masih memikirkan ucapan Hana. Dia sendiri tidak tahu kenapa begitu antusias ketika Hana bertanya ada pekerjaan di kantornya, senyum Ryu mengembang.


"Aku kenapa sekarang? Sangat konyol dengan perasaanku." gumam Ryu dengan senyum miringnya.


Mobilnya melaju kencang, dia ingin cepat sampai di apartemennya Ya, malam ini dia akan menginap di apartemennya. Karena besok juga harus datang lebih cepat, akan bertemu dengan suplayer ikan dan udang yang dia pesan melalui Tamada.


Kemarin Tamada hanya membicarakan penjelasan tentang minatnya mmbekerja sama dengan suplayer itu, dan besok bertemu untuk menanda tangani berkas kerja sama. Tadi osre di perjalanan menuju kafe, Tamada memberitahu kalau besok kerja sama sudah bisa di laksanakan dan tinggal tanda tangan saja.


Baiklah, dia akan mengejar semua keinginannya, mencoba hal baru dan sesuatu yang ragu akan dia pastikan.


Dia sangat lelah hari ini, berangkat pagi dan pulang sudah sangat malam. Sampai apartemen pukul sepuluh malam, mungkin jika dari kantor dia langsung pulang ke apartemen bisa lebih cepat istirahat.


Tapi saat ini hatinya penuh kebimbangan, ragu akan keputusan yang dia ambil nanti. Semuanya serba dia coba, mencoba menuruti kemauan kakeknya dan juga menelusuri hatinya bagaimana keinginannya untuk masa depannya nanti kelak dengan gadis pilihannya.


Dia rebahkan badannya di kasur empuknya, sesaat dia memikirkan Hana. Senyumnya mengembang, pikirannya berkelana bagaimana jika dia dengan Hana. Apakah kakeknya akan menerima Hana, sedangkan Hana sendiri sebenarnya dari keturunan keraton di Indonesia. Jika di negaranya sama dengan bangsawan.


Bisakah dia membawa Hana di hadapan kakeknya?


Ah, Ryu jadi melambung tinggi. Tapi tiba-toba dia meredup dan menghela nafas panjang. Dan selintas dia merasa iri dengan papanya, Hiroshi.


Pa, apa yang harus aku lakukan? ucap Ryu dalam hati.


Karena kelelahan, mata Ryu terpejam dan akhirnya terlelap tidur dalam keadaan baju sejak pagi masih melekat di tubuhnya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊