V E

V E
72. Menjemput Cinta Sejati



Ryu mendapat informasi dari Tamada kalau Hana sudah pulang ke Indonesia. Dia kecewa, namun dia tetap akan menemui Hana. Pertama ingin minta maaf soal ciuman waktu itu dan juga melamarnya langsung. Meski pun itu terlalu mendadak mungkin bagi Hana, tapi dia akan melamar Hana secepatnya. Karena kakeknya menyuruhnya membawa gadis pilihannya di hadapannya.


Dan pilihan Ryu adalah Hana, dia mencintai Hana dan ingin menikahinya.


"Tuan, apa anda akan menunggu nona Hana datang dua bulan lagi atau anda datang ke negaranya dan menemuinya?" tanya Tamada pada Ryu.


"Dua bulan lagi? Kenapa selama itu?" tanya Ryu yang tidak sabar ingin bertemu Hana.


"Kalau begitu, anda harus menemuinya di negaranya di sana." jawab Tamada.


"Kamu tahu di mana dia tinggal?" tanya Ryu lagi.


"Kita cari alamat rumahnya di media sosial. Pasti nona Hana mempunyai media sosial." ucap Tamada.


"Ya, kamu benar. Kamu cari alamat lengkapnya, minggu depan aku akan ke Indonesia menemui Hana." kata Ryu.


"Baik tuan."


Lalu Tamada keluar dari ruangan Ryu. Kali ini Ryu lebih bersemangat bekerja, dia akan menemui Hana satu minggu lagi. Dia tidak mau menunggu terlalu lama Hana datang lagi ke Tokyo.


Ryu mengambil ponselnya untuk memberitahu ayahnya Hiroshi kalau dia akan datang berkunjung ke Indonesia minggu depan.


Tuuut


Sambungan telepon terhubung, Ryu menunggu Hiroshi mengangkat teleponnya. Dua kali bekum di angkat dan ketiga kalinya Hiroshi mengangjatnya.


"Halo sayang, ada apa?" tanya Hiroshi pada Ryu dengan panggilan sayang.


Ryu tertegun sejenak, dia baru mendengar lagi papanya memanggil sayang padanya.


"Ryu?"


"Ah, ya pa. Papa sehat?" tanya Ryu karena gugup tadi.


"Papa baik juga sehat. Sekarang papa sering makan, ibumu selalu membuatkan makanan untuk papa. Oh ya, kamu membutuhkan papa saat ini?" tanya Hiroshi.


"Ngga pa, aku baik-baik saja. Papa tenang aja, semuanya sudah aku tangani. Aku hanya mau memberitahu papa, minggu depan aku datang berkunjung ke Indonesia. Boleh kan pa?"


"Tentu saja sayang, papa menunggumu sejak dulu. Dan ada kabar baik untukmu, Eiko sudah di lamar oleh Erick. Kamu senang?" tanya Hiroshi.


"Waah, benarkah? Aku senang pa. Lalu kapan mereka menikah?"


"Tunggu Eiko masuk semester akhir. Berarti setengah tahun lagi, atau bisa di sini katanya menikah dulu. Resepsinya nanti setelah Eiko lulus, papa ngga mengerti. Tapi papa setuju saja, bagaimana denganmu? Apa ada gadis yang membuatmu tertarik?" tanya Hiroshi.


Insting orang tua terkadang sangat tajam, Hiroshi memahami anaknya ketika dia menghubunginya. Pasti anaknya sedang punya masalah, walaupun Ryu tidak mengatakan apa pun.


"Aku menyukai seseorang pa, dia seperti Eiko. Tinggal di sana. Dan aku ingin mencarinya." jawab Ryu dengan bersemangat.


"Benarkah? Papa senang mendengarnya, emm kemarin papa di beritahu dari Sinjo. Kalau kamu sempat bertunangan dengan anaknya tuan Takagi Daichi yang model itu? " kata Hiroshi.


"Bukan sempat pa, memang akan melakukan pertunangan. Tapi gadis itu kabur pergi ke Korea, sebelumnya kakek memberi sponsor pada gadis itu untuk iklannya, ternyata itu memang di sengaja. Mungkin kakek tahu jika tuan Takagi itu ingin mengincar kekayaanku melalui anaknya."


"Emm, kakekmu sebenarnya baik, Ryu. Tapi mungkin caranya yang tidak biasa. Papa merasa bersalah sama kakekmu."


"Sudahlah pa, lain kali aku bawa kakek untuk ke Indonesia. Untuk saat ini papa tidak mungkin datang ke Jepang kan?"


"Ya, kamu benar. Kapan kamu datang kemari?"


"Minggu depan, aku akan mencari gadis itu pa. Dan membawanya ke hadapan papa juga nanti mama."


"Syukurlah, papa selalu mendoakanmu yang terbaik. Tapi apakah gadis itu menyukaimu juga?"


"Ryu?"


"Aku belum tahu pa, terakhir bertemu aku membuat kesalahan padanya. Mungkin aku akan di tolak olehnya." ucap Ryu lirih.


"Jangan patah semangat, Ryu. Kamu laki-laki, harus kuat dan kejar cintamu. Dapatkan dia jika memang dia yang terbaik untukmu. Papa rasa kakekmu juga setuju."


"Ya, kakek mengatakan aku harus membawa gadis itu di hadapan kakek."


"Berjuanglah sayang, papa selalu mendoakanmu dari jauh. Dan kamu juga harus datang nanti di pernikahan adikmu."


"Iya pa, aku harus berjuang mendapatkan cintanya. Terima kasih atas dukungannya pa, aku sayang papa."


"Iya nak, jangan putus asa ya. Dan jangan lupa bawa gadis itu di hadapan papa juga."


"Iya pa, pasti."


Dan sambungan telepon pun terputus antara Ryu dan Hiroshi. Dia senang mendengar sahabatnya akan menikahi adiknya.


Senyumnya mengembang tulus, kembali dia mengingat Hana.


_


Satu minggu yang di tunggu Ryu, dia kinj bersiap untuk menemui Hana di daerah pulau Jawa. Tamada mengatakan kalau Hana tidak tinggal di tempat keraton yang biasa di lakukan oleh para bangsawan Jawa di sana.


Keluarga Hana memilih hidup sederhana, namun jika ada anaknya yang menikah maka harus di lakukan secara adat Jawa dan di kesultanan atau keraton. Agar menantu baru tahu jika keluarga Hana itu masih keturunan bangsawan di sana dan tidak melupakan adat dan aturan di sana juga.


Dan kedua orang Hana tidak keberatan, yang terpenting mereka hidup sederhana dan tidak di atur dalam keseharian di keraton.


Mungkin seminggu sekali mereka akan berkunjung ke keraton agar tidak memutus suatu kekerabatan.


Kini Ryu sudah berada di bandara, dia sudah bersiap untuk take off di penerbangan sore ini. Tamada mengantar Ryu sampai bandara dan Ryu cuti selama setengah bulan.


"Tamada, apakah alamat yang kamu berikan itu sangat akurat? Aku tidak mau nanti salah alamat." kata Ryu memastikan informasi yang dia dapatkan dari Tamada.


"Benar tuan, anda jangan khawatir. Jika anda ingin tinggal di sana, carilah hotel terdekat di sana." jawab Tamada.


"Emm, baiklah. Jika salah alamat, kamu akan aku potong gaji selama tiga bulan." ancam Ryu.


Tamada tersenyum, dia lalu mengangguk pelan. Dan suara dari operator untuk memberitahu kalau penerbangan menuju Indonseia setengah jam lagi akan take off pesawatnya.


"Pesawat sebentar lagi take off tuan, anda segera bersiap."


"Iya, kamu jaga perusahaanku ya. Dan laporkan setiap harinya, bisa melalui emailku atau telepon langsung." ucao Ryu bersiap mengambil kopernya yang sejak tadi dia bawa.


"Baik tuan, semoga anda sukses menemukan nona Hana." Tamada memberikan semnagat pada bosnya.


Ryu pun melangkah menuju terminal bagian masuk ke dalam line detektor untuk memastikan dia tidak membawa sajam atau senjata tajam. Dan setelah semua beres, Ryu naik lift untuk masuk ke dalam kabin pesawat yang sudah terbuka dan pramugari memeriksa pasport yang di bawa setiap penumpang.


Hati Ryu kini mulai berdebar sejak memasuki kabin pesawat, dia merasa gugup. Entah kenapa sejak pagi dia merasa gugup sekali, karena akan bertemu dengan Hana. Gadis yang selalu ada di pikirannya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊