V E

V E
75. Ke Kampung Hana



Ryu tidak sabar ingin bertemu dengan Hana. Saat ini dia sudah berada di hotel di kota di mana Hana tinggal. Dia menetap di hotel selama sepuluh hari dia akan tinggal di hotel.


Sejenak dia berbaring di kamarnya, untuk merehatkan tubuhnya yang kelelahan. Matanya terpejam dan dia tertidur lelap.


Hingga sore hari, Ryu bangun kembali karena ada ketukan pintu dari luar.


Ryu membuka matanya karena terusik oleh ketukan pintu kamarnya sejak tadi. Dia kemudian bangun dan menuju pintu kamarnya, membukanya. Terlihat laki-laki seperti office boy berdiri dengan tersenyum ramah.


"Sorry mister, waktunya room service. Anda bisa keluar dulu atau di dalam kamar saja." kata office boy itu.


"Emm, ya silakan. Saya ingin mandi dan tolong makan siang untuk saya di bawa ke kamar ya." kata Ryu.


"Apa makan siang tidak terlalu sore tuan?" tanya OB itu.


"Tidak apa, yang penting saya bisa makan sore ini di kamar. Tolong katakan pada pelayan atau managernya." ucap Ryu sedikit kesal.


"Baik tuan."


Ryu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi sore, karena tubuhnya terasa lengket sekali.


Satu jam Ryu berada di kamar mandi karena dia sekalian berendam untuk memyegarkan tubuh dan pikirannya. Rasanya dia menikmati apa yang sekarang di rasakan. Hati yang menggebu dan juga pikiran yang melayang pada satu gadis yang akam dia jumpai sebentar lagi.


Setelah di rasa cukup, Ryu menyelesaikan ritual mandinya dan segera memakai baju. Dia melihat di meja ada makanan yang sudah tersaji sejak tadi. Dia mendekat dan menikmati makanan yang sudah tersedia.


Dia makan dengan lahap, karena dia meminta makanan standar saja. Bukan makanan asli Indonesia pada umumnya. Dia melirik jam di tangannya, sudah pukul empat sore, dia akan bergegas mencari alamat rumah Hana, menurut GPS kampung Hana tidak jauh dari hotelnya menginap.


Jadi jika dia tiba malam hari pun tidak masalah, karena hotelnya dekat dengan kampung di mana Hana tinggal.


Di hotel juga menyediakan tourgaid, dia akan menyewa tourgaid hari ini untuk sampai di rumah Hana. Selanjutnya dia akan menyewa mobil di tempat rental mobil.


Ryu bersiap untuk pergi dia sudah menghubungi bagian resepsionis untuk menyiapkan tourgaid dan mobilnya juga.


Dia menunggu di depan pintu hotel, dan tak lama mobil yang akan mengantarnya ke alamat rumah Hana sudah siap di depan.


"Kita ke alamat ini ya." kata Ryu menyodorkan sebuah tulisan di kertas oada tourgaid tersebut.


Tourgaid itu mengambilnya dan melihat alamat yang di tuju, dia kaget dan menatap Ryu heran.


"Anda kenal dengan yang punya alamat itu tuan?" tanya tourgaid tersebut.


"Ya, dia temanku." jawab Ryu untuk memutus rasa penasaran tourgaid tersebut.


"Ouh, ya tuan. Mungkin anda kenal dengan putrinya atau kedua orang tuanya" tanya tourgaid itu lagi.


Ryu diam, dia heran kenapa tourgaid itu tahu orang yang punya alamat itu.


"Putrinya, dia kuliah di Jepang. Kami berkenalan dan saya ingin berkunjung ke rumahnya." jawab Ryu lagi.


"Oh ya ya benar. Kanjeng nyai Hana itu kuliah di Jepang."


"What? Kanjeng nyai?"


"Ya tuan, beliau adalah anaknya bangsawan kota ini. Tapi beliau tinggalnya tidak di lingkungan kesultanan atau keraton. Beliau memilih tinggal di tempat biasa."


"Keraton? kesultanan?"


"Ya, semacam kerajaan kecil tuan. Dulu beliau itu keturunan kesultanan yang berkuasa di kota ini, sampai wilayah hampir seluruhnya. Makanya keluarganya di hormati dan di segani." kata tourgaid itu.


Dia tourgaid, bisa menjelaskan sejarah kenapa dan apa ada.kesultanan di daerah tersebut. Ryu jadi tahu sedikit tentang keluarga Hana, rasa takjub dan kagum Ryu bertambah pada Hana.


Setelah melewati beberapa daerah, seperti kampung yang asri. Akhirnya mobil yang di tumpangi Ryu sampai juga di sebuah rumah lumayan besar namun sederhana dengan gaya bangunan tradisional Jawa.


Ryu menatap rumah sederhana itu, hatinya merasa deg degan. Baru juga melihat rumah Hana, hatinya mulai tidak karuan.


"Apakah anda akan lama di sini tuan?" tanya tourgaid tersebut.


"Tinggalkan saya di sini, nanti saya bisa pesan taksi." jawab Ryu masih menatap rumah Hana.


"Tapi di sini tidak ada taksi tuan, mungkin ada ojek." kata tourgaid lagi.


"Semacam taksi tapi motor tuan."


"Ouh, oke tak masalah."


Ryu pun akhirnya turun dari mobil, dia melangkah pelan. Di lihatnya kertas yang berisi alamat rumah. Namun Ryu tidak mengerti, tapi dia tetap melangkah maju. Membuka gerbang garasi yang terbuat dari kayu.


Ryu terus melangkah sampai di depan pintu rumah, teras rumah yang banyak beberapa pot bunga dan pohon besar.


Dia menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia membayangkan sedang berdiri di depan dosen yang akan mendengarkan presentasinya.


Di ketuknya daun pintu dengan pelan, belum ada jawaban. Sekali lagi Ryu mengetuk pintu. Dan tak berapa lama, suara orang menjawab.


"Tunggu."


Ryu diam, dia akan mengetuk lagi namun pintu terdengar di buka. Tangan Ryu turun, dia menatap pintu yang terbuka perlahan.


Dan terlihat di sana orang yang belum dia lihat. Laki-laki berumur sekitar tiga belas tahun. Dia heran, seseorang berdiri dengan penampilan asing dan tidak pernah terlihat di daerahnya.


"Cari siapa ya?" tanya anak laki-laki itu heran.


"Emm, Hana. Apakah di sini benar alamat rumah Hana?" tanya Ryu dengan bahasa Inggris.


Anak laki-laki itu heran dan tidak mengerti apa yang di katakan Ryu. Namun dia tahu nama Hana di sebut.


"Sebentar." kata anak laki-laki itu dengan tangan yang menahan pada Ryu.


Ryu mengerti dari isyarat tangannya, lalu anak laki-laki itu pergi meninggalkan Ryu dan masuk lebih ke dalam.


Lima menit Ryu menunggu dengan jantung deg-degan. Sudah tiga bulan dia tidak bertemu dengan Hana, dan sekarang akan bertemu lagi.


Ryu duduk di kursi yang terdapat di teras rumah, dia duduk dengan gelisah.


Dan suara langkah kaki mendekat ke depan, dia melangkah keluar dan menengok ke arah kanannya. Terlihat Hana yang kaget melihat Ryu duduk sambil menunduk. Hana terpaku sejenak, bingung dengan adanya Ryu di rumahnya saat ini.


Ryu mendongak dan menoleh ke arah Hana yang sedang terpaku dan kaget ada Ryu di rumahnya. Ryu pun bangun dari duduknya dengan masih menatap Hana tak berkedip.


Dia mendekat pada Hana, ingin dia memeluk gadis itu. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan, hanya berdiri di depan Hana dengan tatapan penuh kerinduan.


Hana." ucap Ryu lirih dan matanya tak pernah lepas menatap Hana.


Hana yang terpaku balik menatap Ryu, namun dia menoleh ke arah lain dan senyumnya mengembang.


"Tuan Ryu ada di sini? Mau apa?" tanya Hana sopan seperti biasanya.


Jantung Hana juga berdetak kencang, entah karena kaget melihat Ryu atau ada perasaan lain pada laki-laki berleturunan Jepang itu.


"Emm, aku ingin menemuimu. Aku... ingin minta maaf, dan.." ucapan Ryu terhenti.


"Tuan Ryu silakan masuk, maaf rumah saya tidak seperti di sana. Terlalu kecil mungkin bagi anda." kata Hana lagi.


"Ah, tidak apa. Aku bukan ingin melihat rumahmu, tapi ingin bertemu denganmu." ujar Ryu lagi dengan hembusan nafas kasar karena jantungnya juga tidak mau berhenti berdetak kencang.


Ryu masuknmemgikuti Hana masuk, dia duduk setelah Hana mempersilakannya duduk. Hana masuk ke dalam mengambil minuman untuknya.


Tak lama Hana pun keluar lagi dengan membawa dua cangkir teh hangat dan juga sedikit cemilan khas daerahnya.


"Silakan di minum tuan Ryu, maaf kalau tidak berkenan makanannya." ucap Hana.


Ryu tersenyum, dia mengambil cangkir berisi teh hangat dan meneguknya. Hangat dia rasakan di tenggorokan, sehangat hatinya ketika bertemu Hana kembali.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊