
Pagi menjelang, kini ibu Tika sudah bangun setelah mereka melakukan malam pertama dengan suaminya. Hiroshi sendiri juga sudah bangun, namun dia meneruskan tidur lagi.
Tidak mengapa bagi ibu Tika, karena tadi suaminya meminta di bangunkan lagi setelah waktu matahari memasuki waktunya terbit.
Ve terlambat bangun karena dia juga begadang melakukan panggilan telepon sampai jam satu malam dengan Erick.
Ternyata pembicaraan mengenai menikah berlanjut di telepon. Dan Ve meminta waktu pada Erick. Dan kini dia terbangun setelah jam menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Dia keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi yang ada dekat dengan dapur. Dia melihat ibunya sudah bersiap di dapur, dia heran kenapa ibunya masih saja sibuk menerima pesanan kue bronisnya.
"Bu, ada pesanan lagi?" tanya Ve pada ibu Tika.
"Kemarin ibu lupa kasih tahu kalau ibu tidak bisa menerima pesanan, tapi ibu terima. Lagi pula tadi malam kan mendadak, jadi ibu tidak bisa membatalkan pesanan bronisnya. Lagi pula hanya sedikit dan itu cuma satu orang kok." ucap ibu Tika.
Meski dia lelah, tapi dia tidak mau mengecewakan langganannya. Hiroshi masuk ke dapur, dia mendekat pada istrinya dan mencium pipinya.
Ve melihat papanya mencium ibunya tanpa ragu dan malu di lihat olehnya hanya tersenyum saja, dia lalu menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap sholat subuh.
"Kamu bikin apa sayang?" tanya Hiroshi pada ibu Tika.
"Ada pesanan kue bronis, aku lupa kemarin. Jadi ngga enak kalau di batalkan." jawab ibu Tika.
"Emm, kegiatan kamu selama ini membuat pesanan kue?" tanya Hiroshi.
"Ya, untuk menyambung hidupku dan Eiko." jawab ibu Tika.
Hiroshi diam, dia merasa bersalah kenapa tidak mengiriminya uang untuk hidup istri dan anaknya dulu.
"Maaf, kamu sampai harus berjuang sendiri membesarkan Eiko dan untuk kebutuhan hidup kalian." ucap Hiroshi lirih.
Ibu Tika menatap suaminya, dia tersenyum tipis.
"Kamu tahu, ayahmu memberiku sejumlah uang yang banyak sehingga aku bisa punya rumah ini dan juga Eiko bisa sekolah lebih tinggi sampai kuliah. Pesanan kueku hanya untuk kesibukanku saja." ucap ibu Tika untuk menenangkan suaminya.
Hiroshi pun tersenyum, dia lalu kembali memcium istrinya.
"Nanti kita buka toko kue untukmu. Kita akan cari tempat untuk membuka toko kue." ucap Hiroshi.
"Benarkah? Aku juga ingin punya toko kue sendiri, jadi bisa leluasa bekerja dan juga ada yang membantunya nanti." ucap ibu Tika.
"Ya, apa siang ini bisa mencari tempat?"
"Bisa, nanti aku cari yang strategis tempatnya."
"Ya, sekalian nanti kita beli mobil untuk kebutuhan kita."
"Kamu butuh mobil?"
"Tergantung kamu, kalau kamu maunya naik motor juga ngga apa-apa."
"Ah, bolehlah beli mobil." ucap ibu Tika.
"Apa perlu kita cari rumah lagi? Aku ingin memberimu tempat yang nyaman dan layak."
"Tempat ini kurang layak?"
"Tidak, tapi kurang besar. Lagi pula ini rumahmu, aku ingin memberimu rumah yang layak sayang. Sejak menikah aku belum memberimu sesuatu yang berharga dan belum memberikan rumah untukmu." kata Hiroshi lagi.
Ibu Tika diam, dia menatap suaminya itu. Lalu mengangguk, dia menghargai keinginan suaminya. Jika dia menolak keinginan suaminya, maka akan merasa tidak di butuhkan.
"Baiklah, aku terserah kamu saja suamiku." kata ibu Tika.
Meski Hiroshi tidak bekerja, namun dia mempunyai pasar saham di negaranya. Jadi dia tidak akan kekurangan uang, dan penjualan saham itu hasilnya masuk ke dalam rekeningnya. Namun begitu, di sana ada yang mengurusnya. Sinjo sudah tahu kalau dia sebenarnya hanya pindah ke negara istrinya.
Hanya keluarga besar bangsawan dan para wartawan yang mengenalnya saja, mengetahui kecelakaan itu dan dia di kabarkan meninggal. Jadi untuk beberapa tahun, dia tidak akan kembali ke negaranya dan bertemu dengan ayah dan anaknya Ryu.
Ryu sendiri sekarang sedang menjalankan perusahaan yang dulu di pegang Hiroshi di samping dia juga memegang perusahaannya sendiri dengan Tamada.
Maka dari itu, hasil keuntungan perusahaan Hiroshi tetap masuk ke rekeningnya.
_
Mereka berpisah di parkiran seperti biasa, dan kini Ve sudah duduk di bangkunya. Sepuluh hari Ve tidak masuk kampus, membuat temab satu kelasnya ramai ketika Ve kembali masuk kampus lagi.
"Wuiiih, ada Ve yang baru datang dari Jepang nih." ucap Ayu yang kebetulan Ayu datang lebih dulu.
Sita juga ikut menghampiri Ve dengan Ayu. Mereka penasaran kenapa Ve bisa pergi ke Jepang dan dosennya juga ikut ke sana.
"Eh, gimana lo di Jepang? Ketemu denganMiyabi ngga? Hahah." tanya Ayu dengan candaannya.
"Ish, apa sih lo. Gue kesana itu cuma ketemu orang doang." jawab Ve yang bingung harus menjawab apa.
"Ketemu siapa Ve?" tanya Sita ikut penasaran.
"Emm, kakak gue." jawab Ve.
"Kakak lo?" tanya Ayu dan Sita kaget.
"Iya." jawab Ve lagi.
Dia semakin bingung harus jawab apa pada teman-temannya itu.
"Jadi lo punya kakak juga?"
"Iya, gue punya kakak di sana."
"Siapa kakak lo itu Ve?" ini pertanyaan Gilang yang baru datang dan langsung duduk di samping Ve.
"Adalah pokoknya, gue ngga bisa jawab. Maaf ya, gue ngga bisa cerita tentang kakak gue di sana." kata Ve yang mulai bingung dengan pertanyaan semua teman-temannya itu.
"Emm, lo kok pelit banget sih sama cerita lo itu." kata Sita.
"Iya, kita juga pengen tahu cerita lo tentang lo di Jepang. Tapi, lo kemana aja di Jepang?"
"Ya ketemu sama kakak gue lah. Gimana sih?"
"Haish, maksud gue lo jalan-jalan kemana lagi?"
Belum sempat Ve menjawab pertanyaan Ayu, Erick masuk dan memberi salam pada mahasiswanya yang mulai berdatangan.
Pagi semua?" sapa Erick.
"Pagi pak." jawab serentak semua mahasiswa di kelas itu.
Ve pun tersenyum, dia merasa terselamatkan oleh Erick karena pertanyaan dari Ayu dan Sita serta Gilang.
"Lo, harus cerita sama gue Ve. Lo pergi ke Jepang sama pak Erick kan?" bisik Gilang pada Ve.
"Apa sih lo, jangan berasumsi yang ngga jelas dong." kilah Ve.
"Yee, terus lo sama siapa lagi kalau bukan sama pak Erick ke Jepangnya? Pak Erick kan juga pernah di Jepang selama lima tahun, jadi ngga aneh. Lagi pula lo kan pacar pak Erick, jadi ngga mungkin kan lo ngga ketemu di sana dengan pak Erick." ucap Gilang lagi.
"Ck, udah dong jangan tanya gue terus. Gue bingung harus jawab apa." kata Ve pada Gilang masih berbisik.
"Ve, Gilang? Kalian sedang apa?" tanya Erick yang melihat Ve dan Gilang masih saja berbisik.
Membuat Erick terbakar cemburu, dia menatap Ve tajam dan beralih pada Gilang. Gilang sendiri merasa tidak enak di tatap tajam oleh dosennya itu. Dia tahu Erick cemburu padanya.
Dan Ve terdiam dan menunduk, dia melirik pada Gilang yang juga merasa tidak enak pada Erick.
Kini Erick kembali menjelaskan materi sebentar dan memberi tugas pada mahasiswa yang bagian menulis di papan tulis.
Saat ini pikirannya kacau karena melihat Ve dan Erick berbisik begitu lama. Dia memang cemburu, namun tidak kentara sekali. Karena dia tahu saat ini adalah jam mata kuliahnya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊