
Pengadilan telah memutus kan bahwa zakira dan Zidan resmi bercerai meski hanya di hadiri oleh Zidan saja.
Setelah palu di ketuk, Zidan tak kuasa menahan tangisnya, dia tak menyangka pernikahan yang belum genap setahun harus berakhir seperti ini.
" Sekarang kalian puas sudah menghancurkan hidup ku !" Ujar Zidan dengan mata yang memerah kepada kedua orang tuanya yang juga ikut hadir.
" Sudah seharusnya pernikahan ini tidak pernah terjadi ! Cari lah wanita yang berkelas jangan hanya karena dia cantik saja !" Ujar ayah Zidan datar lalu dia berlalu pergi begitu saja.
Tentu saja Zidan tidak bisa menerima sikap ayah nya itu, sampai membuat dia bertekad untuk memutus hubungan dengan keluarga nya sebagai bentuk kekecewaannya atas sikap kedua orang tuanya itu.
Setelah perpisahan nya dengan zakira, zidan tak pernah sedetikpun tidak memikirkan zakira, karena kemanapun dia pergi bayangan zakira selalu mengikutinya.
" Gimana kabar kalian ? Apa kalian baik baik saja ?" Ucap Zidan seraya memandangi beberapa foto zakira di ponsel nya.
Sementara itu keadaan zakira sudah hampir depresi, mengurus anak seorang diri tentu saja bukan perkara mudah.
Butuh kesabaran ekstra dan juga mental yang kuat untuk menjadi seorang ibu, terlebih usia zakira yang masih belum dewasa di tambah tekanan batin yang sekarang zakira alami, sehingga membuat mental nya mudah sekali terguncang setiap kali dia stres atau pun frustasi.
Seperti yang terjadi sekarang, anak nya tengah rewel membuat zakira stres di tambah keuangan nya yang mulai menipis semakin membuat nya setengah gila.
Semua hal itu membuat nya hampir kehilangan akal sehat nya.
" Gyandra ! Apa sebaik nya kita pergi saja dari dunia ini ?" Ucap nya seraya memandangi anak nya yang masih menangis dengan mata yang sudah sembab.
" Dunia ini terlalu kejam buat kita," lalu tiba tiba zakira ikut menangis.
" Aku cape , semua ini tidak adil kenapa harus selalu aku yang menderita ," keluh nya.
Lalu zakira memeluk sang anak seraya terus menangis meratapi nasibnya yang malang itu.
Sempat berpikir untuk mengakhiri hidup nya bersama sang anak, tapi zakira kembali menyadarkan dirinya dia tidak akan menyeret anak nya ke dalam semua penderitaan nya, dia ingin anak nya tumbuh bahagia dan hidup layak.
Namun dia tidak bisa menjamin semua itu, hingga satu hal terbersit di pikirannya,
" Bagaimana kalau aku menitipkan kamu ke panti asuhan ," benak zakira.
" Iyah, benar aku tidak akan bisa merawat dia sendirian, mungkin di sana dia bisa bertemu dengan orang tua yang mampu memberi kebahagiaan buat dia ," lanjut nya meyakinkan diri atas niat nya itu.
****
Di sisi lain, Zion telah sampai kembali di kota dan segera mencari keberadaan zakira, berharap dia bisa bertemu dengan zakira secara kebetulan seperti waktu itu.
Namun selama berjam jam Zion bolak balik di sekitaran rumah zakira dulu, dia masih tidak mendapati keberadaan zakira.
" Kenapa rumah nya terlihat sepi ," benak Zion seraya memperhatikan keadaan rumah Zidan dari kejauhan.
" Mungkin mereka sedang pergi liburan ," benak nya lagi berpositif thinking, Zion pun hendak pergi dari sana tapi sesaat setelah Zion memakai helm nya lagi mobil Zidan datang.
Zion langsung terperanjat untuk bersembunyi takut Zidan menyadari kehadiran nya lagi, namun apa yang dia lihat sekarang membuat nya terheran-heran.
" Kenapa dia datang sendirian ?" Benak nya bertanya tanya melihat Zidan keluar dari mobil sendirian dengan wajah yang murung.
Lalu ada seseorang yang menghampiri Zidan, Zion tidak mendengar percakapan mereka berdua tapi dilihat dari ekspresi mereka seperti sedang bersedih.
Zion langsung khawatir tentang hal itu, setelah Zidan masuk ke dalam rumah, Zion langsung menghampiri pria yang tadi berbicara dengan Zidan untuk menanyakan beberapa hal yang membuat dia penasaran.
Dan akhirnya Zion mendapatkan informasi yang membuat dia tercengang, dia di beritahu soal perceraian Zidan dan zakira, entah harus bahagia atau gimana tapi yang jelas Zion sekarang malah ingin memanfaatkan situasi itu untuk kembali mendekati zakira.
Namun dia tidak tahu dimana kiranya zakira sekarang, tapi dengan hanya menggunakan insting dan keyakinan nya Zion langsung menuju ke rumah zakira yang dulu pernah dia kunjungi di sebuah desa pinggiran kota.
****
Dan benar saja disana lah zakira berada, dia melihat zakira tengah melamun di depan jendela dengan mata yang sembab.
Walau dia tahu kehadiran nya tidak akan di terima dengan mudah tapi Zion tetap melangkah maju hingga zakira bisa melihat keberadaan nya.
Zakira langsung terkejut saat melihat keberadaan seseorang di depan rumah nya dan itu adalah Zion.
Zakira sempat tidak mau menggubrisnya tapi Zion malah terus maju ke depan pintu dan mengetuknya seraya meminta supaya zakira membiarkan nya masuk.
Karena zakira tidak juga membukakan pintu, Zion pun duduk di lantai di depan pintu seraya menyenderkan kepalanya ke tihang pintu.
" Aku sudah tahu semua nya zakira, itu pasti berat buat kamu ," ucap Zion, dia tahu zakira sedang berada di depan pintu sekarang.
Zakira tercengang mendengar hal itu, tapi zakira semakin kesal kepada Zion karena masih saja mencampuri kehidupan nya.
" Boleh aku masuk ? Aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja ," ujar Zion pelan.
Tapi zakira jadi berpikir bahwa penyebab semua kemalangan di hidup nya adalah karena Zion, zakira pun membuka pintu dengan kasar lalu berdiri di hadapan Zion.
Zion langsung berdiri melihat zakira membukakan pintu, tapi wajah nya terlihat tidak ramah sekarang.
Dan " plak " zakira menampar pipi Zion sampai membuat Zion tertegun.
" Kau masih berani menampakan wajah mu di depan ku !" Ucap zakira lantang seraya menahan air matanya yang mulai keluar lagi.
" Sebesar itu kah kebencian mu kepada ku zakira ?" Tanya Zion.
" Iyah, aku sangat membencimu, kamu telah membuat hidup ku hancur dan terus membawaku ke dasar jurang, kalau saja aku tidak bertemu dengan mu semua ini tidak akan pernah terjadi !!" Ujar zakira penuh emosi.
" Kenapa kamu menyalah kan ku terus ,"
" Kau tidak merasa bersalah ,hah ? Aku hamil karena kamu !" Bentak zakira
Zion kembali terkejut karena secara tidak langsung zakira memberitahu nya bahwa anak yang di lahirkan nya adalah anak nya.
" Di ... Dia anak ku ?" Tanya Zion terbata.
" Iyah, dia anak mu ! Kau puas sekarang ! Hidup ku hancur karena itu, kalau saja aku tidak hamil aku tidak akan menikah dengan dia dan aku tidak perlu mengalami semua ini !"
Zion langsung terdiam tidak tahu harus berkata apa lagi karena setelah di pikir lagi memang dialah yang selalu membuat hidup zakira menderita.
" Aku akan memperbaiki semua nya ," ucap Zion, zakira menatap nya dingin dengan nafas yang terengah karena sangat marah.
" Apa serendah itu aku di mata mu ? Apa aku memang terlihat seperti wanita gampangan ? Kalian berdua senang mempermainkan ku, hah ?" Ujar zakira dengan suara bergetar dan mulai berderai air mata.
" Bukan begitu zakira, aku tidak bermaksud -,"
" Diam ! Aku tidak mau mendengar omong kosong mu itu ! Aku sudah muak dengan ucapan ucapan manis pria, semua nya akan tetap sama tetap aku yang akan terluka !;"
Zakira pergi kembali ke dalam rumah seraya membanting pintu dan membiarkan Zion berada di luar rumah nya.
Zion mengusap kasar rambut nya, kini dia merasa sangat frustasi, dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.
Jika Zion masih pria brengsek dia akan pergi saja tanpa mempedulikan zakira atau pun anak nya, namun kali ini dia tidak bisa membiarkan zakira mengurus anak nya sendirian.
Terlebih setelah perpisahan nya dengan Zidan, kondisi mental dan hati nya pasti sedang berantakan, karena Zion tahu meski zakira terlihat kuat dari luar namun dia tetap seorang perempuan yang membutuhkan tempat untuk bersandar.