
Zahir datang ke rumah Zidan sudah sangat malam karena dia kira zakira ada di rumah nya di desa, mendapati kakak nya tidak ada di rumah Zahir menghubunginya dan mendapati kalau kakak nya telah kembali bersama pria yang pernah membuat nya menangis.
Zahir merasa kesal karena zakira lagi dan lagi kembali bersamanya
" kenapa dia mudah sekali di rayu ," gerutu Zahir.
Zahir datang dengan wajah yang cemberut lalu menggedor pintu rumah cukup keras hingga membuat Zidan yang masih terjaga kaget.
" Kau datang ?" Tanya Zidan basa basi, Zahir mendorong nya kasar seraya nyelonong masuk.
" Mana kakak ku ?" Tanya Zahir ketus.
" Dia sudah tidur, duduk lah aku mau bilang sesuatu yang penting nanti ," Zidan mempersilahkan Zahir untuk duduk, tapi Zahir menolak nya.
" Bicaralah, aku muak melihat mu !" ujar Zahir sambil berdiri dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
" Apa salah ku ?" Tanya Zidan merasa tersinggung dengan sikap Zahir yang tiba tiba dingin kepadanya, Zahir terdiam seraya menatap dingin kepadanya.
" Baiklah, aku minta maaf untuk apapun salah ku kepada mu, tapi bisakah kita ngobrol di luar saja,"
Zahir berdecak kesal seraya pergi kembali keluar dengan langkah yang besar.
" Berhentilah basa basi, ayo cepat mau ngomong apa ?" Ucap Zahir semakin kesal.
" Kakak mu hamil," ucap Zidan singkat.
" Apa ?" Reaksi Zahir masih datar.
" maaf kan aku, aku telah menghamili kakak mu," ucap Zidan memperjelas , Zahir langsung diam tertegun.
" Apa maksudmu, bicara yang jelas !" bentak Zahir.
" kakak mu hamil dan aku ayah dari anak yang di kandung kakak mu !" ujar Zidan mengulang perkataan nya dengan lebih jelas, Zahir nampak langsung terpukul dan tidak bisa mempercayai nya mata nya mulai berkaca kaca.
" Katakan kalau itu hanya candaan, kau sedang bergurau kan," zahir mencengkram kerah baju Zidan.
" Maaf kan aku Zahir, tapi itu benar tapi jangan khawatir aku akan bertanggung jawab ," Zahir mendorong Zidan sampai dia terjatuh.
" mudah sekali kau bicara seperti itu ! Kau anggap kakak ku apa ? Kau benar benar menganggap nya wanita gampangan, hah ?" Zahir mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.
dia terus mengumpat dan mencela Zidan dengan kata kata kasar.
" Zahir dengarkan aku dulu ! Sumpah, aku tidak menganggap nya seperti itu, aku tulus mencintai nya, aku tahu perbuatan ku salah tapi akan aku mempertanggung jawabkan perbuatan ku itu,"
Zahir tidak mau mendengar alasan apapun dari mulut Zidan, Zahir pergi begitu saja tanpa berpamitan dan tanpa bertemu dulu dengan kakak nya.
Zidan membiarkan nya saja, karena dia tahu Zahir pasti merasa sangat kecewa.
sepanjang jalan Zahir terus mengumpat dengan suara lantang, bahkan dia menendang benda apapun yang ada di hadapan nya.
Setelah emosinya mulai reda, Zahir duduk termenung di sebuah halte bus, nampak jalanan sudah mulai sepi hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.
Dia tidak menyangka ketakutan nya selama ini malah terjadi, lagi dan lagi dia harus merasa bersalah atas musibah yang selalu menimpa kakak nya.
" Hamil ? Bisa bisa nya dia menghamili kakak ku, dan berkata ingin bertanggung jawab dengan enteng nya," gumam Zahir dengan kepala yang dia sandarkan ke tiang halte dan mata yang sudah sembab.
Kehamilan sang kakak sangat sulit untuk bisa di terima oleh Zahir karena kondisi mereka yang masih dalam keadaan sulit dalam segala hal.
Yang ada di pikiran Zahir sekarang adalah bagaimana nasib kakak nya nanti jika keluarga Zidan tidak bisa menerima mereka , karena yang akan sangat di rugikan nanti adalah kakak nya.
Membayangkan nya saja sudah membuat hati Zahir terasa ter iris, tak terasa air matanya jatuh lagi dari pelupuk matanya.
" Sial sial sial, aaaah ," teriak Zahir sambil meninju sebuah tiang halte hingga tangan nya berdarah.
****
Selama semalaman Zahir berdiam diri di halte bus tanpa tertidur, hingga sinar matahari mulai menerangi seluruh kota.
Cahaya silau sang mentari menyadarkan Zahir dari lamunan panjang nya, Zahir langsung beranjak pergi dari halte bus untuk kembali ke mendatangi rumah Zidan.
Dengan mata yang memerah Zahir kembali menggedor keras pintu rumah Zidan, hingga membangunkan zakira.
Zakira segera membuka nya dan mendapati Zahir sedang berdiri dengan wajah marah dan mata yang berapi api.
Belum sempat menyapa nya, Zahir langsung menarik zakira keluar rumah.
" Apa yang kamu lakukan !" Protes zakira mencoba menghentikan langkah Zahir.
" kau harus menggugurkan janin nya," ucap Zahir datar sambil terus menyeret kakak.
Mendengar suara Zahir dan zakira, Zidan segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menyusul mereka berdua.
" Zahir, tunggu dulu dengar kan kakak dulu!" Zakira mencoba menahan tarikan tangan Zahir.
" Dengar apa ? Kenapa kau selalu membuat hidup mu semakin sulit !" bentak Zahir.
" Zahir, Zahir tunggu dulu kita bicara kan baik baik, ok ," Zidan datang dan langsung melepaskan genggaman kuat Zahir.
" Diam kau, dasar bajingan," bentak Zahir kepada Zidan, melihat Zahir sangat marah zakira langsung bersimpuh di hadapan Zahir.
" Zahir, kakak tahu kamu pasti kecewa sama kakak, tapi tolong dengarkan dulu penjelasan kakak, yah "
" Sudah cukup kakak ! Kau sudah tahu kalau dia dan pria yang satu nya lagi selalu membuat mu menangis tapi kenapa kau selalu kembali lagi kepada mereka, apa kau bodoh atau kau memang tidak punya harga diri ! " Ucap Zahir berapi api, sampai tidak bisa menjaga ucapan nya.
Hingga membuat Zakira tertegun mendengar adiknya sendiri merendahkan nya, air mata mulai keluar dari pelupuk mata nya.
" Aku memang bodoh dan sudah tidak punya harga diri, lalu kenapa ? Aku berakhir seperti ini hanya karena ingin menghidupi mu !" ucap zakira dengan suara yang mulai bergetar.
" Aku tidak meminta kau melakukan semua ini, tapi kau selalu mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya pendapat ku, dan lihat sekarang ! kau selalu berakhir menyedihkan, sekarang kau hamil Kalau sudah begini aku bisa gila !"
" Sudah sudah cukup, kita bicarakan baik baik di dalam rumah," ajak Zidan mencoba melerai.
" Diam lah, aku makin muak dengan mu, dasar munafik !" bentak Zahir menepis tangan Zidan yang berniat merangkul nya.
" Baiklah aku mengerti kalian melakukan nya atas dasar suka sama suka, kalau begitu jangan libatkan aku, aku tidak Sudi bertemu dengan orang seperti kalian ," ujar Zahir lalu dia berlalu pergi, zakira sempat ingin menyusul nya namun Zidan melarang nya.
" Biarkan saja dulu dia sendirian, mungkin dia masih tidak bisa menerima semua ini, kita harus memakluminya sekarang ,"
Zidan mengajak zakira untuk kembali ke dalam rumah, lalu Zidan memberikan segelas teh hangat untuk menenangkan nya.
Dengan pandangan kosong zakira menatap ke luar jendela.
" Ini baru permulaan, apa kita mampu menghadapi semua nya nanti ?" Ucap zakira.
" Aku sudah siap untuk segala hal yang mungkin akan terjadi nanti," ucap Zidan sangat percaya diri.
" Tapi mental ku belum siap," zakira menoleh ke arah Zidan yang sedang berada di samping nya, Zidan seketika langsung terdiam seraya terus menatap zakira.
" Bagaimana kalau nantinya aku menyerah di tengah jalan ? Atau mungkin hati mu telah berubah ? aku takut pada akhirnya aku akan sendiri lagi ,"
Zidan tidak bisa berkata apapun sekarang karena dia pun tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, dia hanya bisa memperjuangkan cinta yang harus dia lindungi sekarang.
Zidan memeluk erat zakira yang masih menatap nya sendu.
" Aku juga takut kalau suatu hari salah satu dari kita berubah hati, tapi satu hal yang harus kamu ingat aku tidak akan pernah membiarkan kamu sendirian ," seketika suasana menjadi hening.
" Memang tidak akan mudah, tapi kita harus melalui nya bersama, ayo kita berjanji pada diri kita sendiri bahwa kita akan selalu saling menjaga ," ujar Zidan sambil merenggangkan pelukannya lalu menatap zakira dengan tatapan yang berbinar.
Zakira pun menatap nya demikian, terus zakira mengangguk yakin.
" Ayo kita lakukan, semuanya akan berlalu dengan cepat, seiring waktu semuanya akan baik baik saja, kan," ucap nya kembali mendapatkan keyakinan di hatinya untuk sama sama berjuang.
Zidan tersenyum mendengar zakira mulai mendapatkan kepercayaan diri menghadapi masalah nya sekarang.
****
Mentari kini sudah berada di ufuk barat, zakira dan Zidan bersiap pergi untuk menemui ayah dan ibu Zidan.
Selama perjalanan zakira merasa sangat gugup tapi Zidan terus memegang tangan nya untuk membuat zakira lebih rileks.
Perjalanan 1 jam terasa sangat cepat bagi zakira, kini dia harus segera turun dari mobil, Zidan menuntun tangan zakira lalu mengajak nya segera masuk.
" Tunggu dulu ! Aku gugup ," ucap zakira menarik lengan Zidan.
" Jujur, aku juga ," ujar Zidan, mereka saling menatap kemudian bersama sama menarik nafas panjang.
Lalu mereka melangkah masuk bersamaan, namun belum berapa jauh masuk ke dalam rumah, terdengar seseorang mengikuti mereka dari belakang.
" Wah ... Lihat pasangan jomplang ini ," ujar nya sarkas.
Kedatangan nya langsung membuat Zidan dan zakira tercengang.
" Apa yang kamu lakukan disini, Zee ?" Tanya Zidan.
Kedatangan Zee yang tak terduga itu membuat perasaan zakira dan juga Zidan gelisah, takut Zee membuat masalah dan malah mempersulit keadaan.
" Aku di undang sama ibu kamu untuk ikut makan malam bersama kalian," jawab nya santai dengan senyuman yang cukup menyebalkan.
" Lihat dirimu, penampilan mu langsung berubah walau baru jadi calon istri," Zee menatap sinis dari atas sampai ke bawah penampilan zakira sekarang.
" Zee, jangan memancing keributan ," tegur Zidan. Sebelum Zee terus mengompori zakira, ibu Zidan datang menghampiri mereka.
Namun dia hanya menyambut Zee saja sedang zakira tidak di lirik sedikitpun seolah dia tidak terlihat, Zidan merangkul pundak zakira lalu mengajak nya masuk tanpa mempedulikan Zee dan ibunya.
****
Zidan dan zakira datang bersamaan dengan ayah Zidan yang sedang berjalan menuju ke ruang makan.
" Papah, perkenalkan ini zakira ," ujar Zidan langsung memperkenalkan zakira, ayah Zidan melihat zakira dengan seksama sampai membuat zakira canggung.
" Ayo kita makan," singkat ayah Zidan, lalu berlalu begitu saja tanpa menyapa zakira, zakira langsung tertunduk pasrah mendapat sambutan yang kurang baik dari kedua calon mertuanya.
" Maaf yah, ayah ku memang selalu bersikap dingin kepada siapapun," malah Zidan yang merasa bersalah.
" Tidak apa apa kok," ucap zakira menguatkan mental nya.
Mereka pun duduk bersama di meja makan dan bersiap menyantap hidangan makan malam, saat semua orang tengah menikmati makanan yang terhidang.
Zakira malah terdiam tanpa mengambil satu pun makanan mewah di hadapan nya.
" Kenapa kau tak makan ?" Tanya ibu Zidan judes.
" Maaf, tapi aku -" sebenar nya zakira merasa mual hanya dengan melihat semua makan yang ada di hadapan nya, namun karena takut di sebut tidak menghargai zakira pun terpaksa makan satu hidangan.
Zakira merasa sudah tidak kuat menahan mual, dia mencolek paha Zidan untuk memberitahunya.
Dengan penuh perhatian Zidan mengantar zakira untuk pergi ke toilet.
" Maaf, aku akan mengantar zakira ke toilet dulu, kalian lanjutkan lah menikmati makan malam nya," ujar Zidan lalu dia menuntun zakira menuju ke toilet.
Zee dan ibu Zidan menatap sinis kepada mereka berdua sedang ayah Zidan terlihat santai menikmati makanan nya.
Zakira sudah selesai dengan urusan mual nya dan kembali ke meja makan.
" Kau benar benar hamil ?" Celetuk Zee, zakira dan Zidan menatap nya datar tanpa mau menjawab nya.
" Apa benar itu anak nya Zidan ?" Zee mulai mengompori keadaan, Zidan yang hendak melanjutkan makan nya mendadak kehilangan nafsu makan nya karena pertanyaan Zee itu.
" Apa maksud mu ?" Tanya Zidan balik bertanya kepada Zee.
" Aku hanya punya firasat kalau dia bukan anak mu,"
" Diam lah kalau kau tidak tahu apa apa !" Tegas Zidan dengan tatapan mengancam Zee supaya dia berhenti bicara yang tidak tidak mengenai zakira di hadapan ayah nya.
Ibu Zidan malah tersenyum melihat Zee mulai memancing emosi zakira dan Zidan, mereka memang bersekongkol untuk membuka semua aib zakira di hadapan ayah Zidan supaya zakira dan Zidan tidak jadi menikah.