The Rose

The Rose
aku tidak siap untuk menjadi seorang ibu



Zakira perlahan membuka pakaian Zion untuk mengobati lukanya.


" Ya ampun, apa lagi yang dia lakukan Sampai kena tembak begini, jangan jangan ada orang yang sedang mengawasi ku juga sekarang," benak zakira, dia jadi parno lalu dia memeriksa ke sekeliling rumah nya.


Namun dia lega karena nampak tidak ada siapapun di luar sana hanya terdengar suara burung hantu dan pepohonan yang tertiup angin.


Zakira segera kembali untuk segara mengobati luka Zion.


" Zion, kau harus tetap bangun !" Ucap zakira, tapi Zion tidak meresponnya, zakira langsung khawatir dan memukul mukul pelan pipi Zion sampai Zion kembali sadar.


" Aku akan memberimu antibiotik, mungkin akan sakit jadi kamu harus menahan nya,ok " ujar zakira, Zion terus menatapnya seraya mengumpulkan kesadarannya.


Hingga tiba tiba dia memeluk zakira dengan sangat erat.


" Aku merindukan mu, kemana saja kau," ujar Zion lirih, zakira langsung tertegun dengan kapas yang masih di pegang nya.


" Itu nanti saja, luka mu terus mengeluarkan darah, aku harus membalutnya dulu," Zakira melepaskan pelukan Zion perlahan.


Zakira dengan hati hati mengobati luka Zion dan membalut nya.


" Besok kamu harus kerumah sakit, pelurunya harus segera di keluarkan," ucap zakira, Zion tidak merespon lagi.


" Sudah selesai, sekarang kamu boleh istirahat, aku akan memperbolehkan kamu menginap tapi hanya untuk malam-" ucapan nya terpotong karena Zion sekarang sedang mencium bibir nya.


" Apa yang kau lakukan !" Bentak zakira seraya mendorong badan Zion, Zion langsung mengerang kesakitan.


Zakira menatapnya ngilu, tapi zakira langsung menjaga jarak karena takut Zion akan memaksa untuk menciumnya lagi.


" Aww sakit sekali," keluh Zion


" Dasar tidak sopan, aku sudah menolong mu tapi kau malah melakukan itu !" protes zakira.


" Aku mencarimu selama ini,"


" Sudah aku bilang jangan mencariku !"


" Aku merindukan mu, sampai aku hampir gila karena terus mencemaskan keadaan ku," zakira langsung terdiam untuk sesaat.


" Urus lah keadaan mu sekarang," zakira berlalu pergi ke kamarnya meninggal Zion di kursi ruang tamu.


Zion sedikit kecewa tapi lebih besar bahagianya karena dia sudah menemukan zakira dengan cara yang tidak terduga.


Bahkan zakira telah menolong nya dari para gengster itu yang saat ini masih mencari keberadaan Zion, itu berarti zakira masih mempedulikan nya.


Saat tengah malam zakira mendengar Zion terus mengerang kesakitan, karena tidak tega zakira pun menghampirinya untuk memeriksa keadaan nya.


Zion sudah terlihat pucat dan berkeringat dingin, bahkan badan nya terasa panas.


" Ya ampun, kau baik baik saja ?" Zakira segera membangunkan Zion.


" Sini aku lihat luka mu," zakira membuka perban nya lalu menggantinya dengan yang baru.


Zakira memberi kan selimut karena Badan Zion mengigil.


" Kau mau minum ?" Zion mengangguk pelan, zakira segera mengambil segelas air dan membantu Zion untuk minum.


" Dingin," lirih Zion


" Kamu masih kedinginan ?" Zion mengangguk.


" Berbaringlah aku akan memberimu selimut lagi," zakira membantu Zion berbaring dengan perlahan, lalu zakira mengambil selimut dari kamar nya.


Zakira terus berada di dekat Zion hingga Zion tertidur lelap, zakira terus memastikan lukanya tidak mengalami infeksi, seraya sesekali memberinya obat antiseptik.


****


Pagi sudah menjelang, dan zakira tengah mengalami mual karena Pase awal kehamilan nya, zakira terus muntah muntah hingga terdengar sampai ke luar kamar mandi.


Zion yang sedang tidur sampai kebangun mendengar zakira terus muntah muntah, karena khawatir walaupun pundak nya masih sangat sakit Zion memeriksa keadaan zakira di kamar mandi.


" Kamu sakit ?" Tanya Zion seraya membuka pintu kamar mandi, namun Zion malah salah fokus ke beberapa tespek bekas yang berserakan di atas wastafel.


Lalu zion mengambil nya beberapa,


" Kau hamil ?" Tanya Zion tercengang, zakira langsung panik, dia lupa membuang semua itu zakira langsung merebut nya dan membuang semua nya ke tong sampah.


" Kamu benar benar hamil ? " Tanya Zion lagi semakin penasaran, zakira menatap nya dingin.


" Apa itu anak ku ? Bicaralah,"


" Aku akan menggugurkan nya," singkat zakira sambil berlalu pergi dan tak sengaja menyenggol pundak Zion yang terluka membuat nya kembali mengerang kesakitan.


" Aaww, apa ? Kamu mau menggugurkan nya ?"


" Aku tidak mau hamil !" Ucap zakira sedikit menaikan nada bicaranya.


" Kenapa ? Aku akan bertanggung jawab, itu pasti Anak ku," ujar Zion malah terlihat bersemangat, namun tidak dengan zakira.


" Kau gila, lihat dirimu kau selalu berhadapan dengan bahaya, mengurusku saja kau tidak bisa apa lagi dengan seorang bayi, apa jadi nya nanti kau akan terus meminta kita lari dan bersembunyi, hah ?" Omel zakira.


" Aku ... Aku akan meninggal kan semua bisnis haram itu, aku akan mengurus kalian dengan uang yang baik, dan akan aku pastikan kalian aman tidak akan ada seorang pun yang akan menyakiti kalian," ucap Zion dengan yakin.


Zakira memijat kepalanya yang terasa pening, dia tidak tahu lagi bagaimana cara memberitahu Zion bahwa hidup tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan nya.


" Ayo hidup lah dengan ku, aku mau kita memulai lagi semuanya dari awal," Zion meraih tangan zakira.


" Aku tidak mau punya bayi," ujar zakira pelan, lalu zakira merasa mual lagi dia segera berlari lagi ke toilet.


Zion mengikuti zakira ke toilet dan membantunya menepuk nepuk punggung nya pelan.


" Aku belum siap punya bayi Zion " ujar Zakira mulai menangis, Zion membantunya berdiri lalu memeluknya.


" Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaan ku sekarang, ini sangat berat bagi ku," lanjut zakira, Zion langsung terdiam mendengar curhatan zakira, dia pun tersadar dia tidak bisa memaksakan lagi kehendak nya kepada zakira.


" Maaf kan aku, aku benar benar tidak tahu diri, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak akan menghalanginya," Zion membelai lembut rambut zakira yang terurai sedikit berantakan.


" Secepat nya, aku tidak mau perutku semakin membesar " lirih zakira


" Baiklah, tapi aku mau kamu melakukan nya di rumah sakit yang bagus ! Aku yang akan membayar semua biayanya, " zakira menatap dingin wajah Zion.


" Ini semua karena ku, aku terlalu marah waktu itu seharusnya aku bisa mencegah nya, ijinkan aku bertanggung jawab walau pun harus mengorban kan janin nya, " ujar Zion seraya menunduk.


" Sebaiknya kau kerumah sakit sekarang, luka mu nanti infeksi," zakira melepaskan genggaman Zion lalu masuk ke dalam kamarnya lagi.


Zion tidak bisa berbuat banyak, dia juga khawatir kalau keberadaan nya sekarang di ketahui oleh para preman kemarin dan kembali membawa zakira kedalam masalah nya.


Zion mengetuk pintu kamar zakira untuk berpamitan, zakira tidak menjawab nya tapi zakira tetap melihat kepergian Zion dari balik jendela kamar nya, terlihat Zion masih kesakitan dengan luka di pundak nya itu.


****


Zakira sedang mencari beberapa rumah sakit yang bisa melakukan operasi untuk menggugurkan bayinya secara legal, tapi rata rata dari mereka tidak menyarankan nya karena kondisi zakira dan janin baik baik saja.


Zakira sampai putus harapan, dia tidak mau melakukan nya di tempat ilegal karena mungkin resikonya lebih tinggi.


" Ternyata ini tidak mudah seperti yang aku harapkan " gumam zakira, lalu zakira melihat dirinya di cermin.


" Aku akan menjadi orang jahat karena telah membunuh anak ku sendiri tapi aku belum siap untuk menjadi seorang ibu , bagaimana ini " ucap nya kepada dirinya sendiri seraya mengelus perutnya.


" Tidak, aku hanya akan membuat dia malu dia tidak seharusnya lahir dari ibu hina sepertiku ini " ujar nya lagi, dengan keyakinan penuh dia segera membuat janji temu dengan seorang dokter kandungan.


Setelah bertemu dengan sang dokter, beliau menyarankan zakira untuk pergi ke rumah sakit HARAPAN KITA di kota supaya mendapat pelayanan yang baik dan juga peralatan yang lebih bagus, sehingga bisa menekan resiko yang mungkin terjadi.


Zakira merasa ragu karena itu adalah rumah sakit tempat Zidan bekerja, tapi karena dia pun menginginkan pelayanan terbaik dan Zion menyanggupi membantu secara finansial,


Zakira pun memberanikan diri untuk pergi kesana, walaupun sedikit tegang karena mungkin dia akan bertemu dengan Zidan.


" Alasan apa nanti yang harus aku buat kalau ketemu Zidan ," benak zakira.


Namun sejauh ini zakira tidak melihat tanda tanda keberadaan Zidan membuat nya sedikit tenang, namun saat namanya di panggil zidan yang kebetulan baru keluar dari ruangan nya langsung teringat kepada zakira yang di kenal nya.


Namun Zidan menyadarkan dirinya kalau mungkin itu zakira yang lain, namun saat zakira berlalu pergi ke ruangan dokter kandungan Zidan melihat nya sekilas.


Dan bisa langsung mengenalinya bahwa dia zakira yang dia kenal, Saat Zidan hendak memastikannya dia harus segera memeriksa pasien selanjutnya akhirnya Zidan mengurungkan niat nya.


Setelah beberapa saat melakukan konsultasi akhirnya zakira mendapatkan dokter yang mau melakukan nya tapi zakira harus datang bersama walinya besok untuk menandatangi sebuah kesepakatan antara zakira dan rumah sakit yang inti isinya


Adalah pihak pasien tidak akan menuntut apapun resiko yang terjadi pasca operasi dan zakira yakin kalau operasinya akan lancar dan tidak akan terjadi apa apa.


Jadi dia akan meminta Zion untuk menjadi walinya supaya operasi nya bisa segera di laksanakan secepatnya.


****


Saat waktu istirahat Zidan bergegas mencari kembali sosok yang di rasa di kenalnya, namun dia tidak menemukan nya Zidan pun meminta resepsionis untuk mencari pasien bernama zakira di daftar pengunjung.


Dan dia menemukan nama zakira dan dia bisa dipastikan dia adalah zakira yang dia kenal.


Namun Zidan jadi penasaran kenapa dia mengunjungi dokter kandungan, Zidan pun segera berlari untuk menyusul nya berharap dia tidak terlambat dan bisa bertemu dengan zakira.


Tepat sebelum zakira naik bis, Zidan menarik nya membuat zakira berteriak karena terkejut.


" Kemana saja kamu ?" Tanya Zidan sambil ngos-ngosan.


" Kenapa kau tahu aku disini ?" Zakira balik bertanya dengan wajah kaget, Zidan langsung memeluk zakira erat erat.


" Kamu membuat ku ketinggalan bis," zakira mencoba melepaskan pelukan Zidan.


" Aku sangat merindukan mu " ujar Zidan.


" Aku harus pergi,"


" Tunggu dulu ! Kenapa kamu mengunjungi dokter kandungan ?" Tanya Zidan penasaran, zakira langsung gelagapan bingung harus menjawab apa karena dia tidak mau Zidan tahu kalau dia hamil.


" Kau hamil ?" Zakira menggelengkan kepalanya


" Lalu kenapa kau mendatangi dokter kandungan ? Jangan berbohong aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, kau hamil ?" Tanya nya lagi sambil menatap dalam mata zakira.


Zakira pun memejamkan mata nya sejenak pasrah bahwa pada akhirnya orang orang akan tahu juga. dia memang tidak bisa berbohong kepada Zidan karena zidan selalu tahu kalau dia sedang berbohong.


" Apa itu anak ku ?" Tanya Zidan dengan reaksi yang sama persis seperti yang Zion lakukan tadi pagi.


" Bukan ," singkat zakira


" Apa maksud mu bukan, kita memang telah melakukan nya kan, itu pasti anak ku,"


" Kau tak ingat apa yang Zion lakukan padaku juga ? "


" Maksud mu itu anak si Zion ? " Zidan terlihat kecewa.


" Aku tidak tahu, anak siapa ini dan aku tidak peduli karena aku akan menggugurkan nya," ujar zakira keceplosan.


" Apa ? Maksud mu, kamu akan melakukan aborsi ?" Ucap Zidan tercengang, Zakira bingung harus berkata apa lagi akhirnya zakira mencoba pergi dari hadapan Zidan.


" Aku harus pergi, " zakira memanggil taksi.


" Jawab aku dulu, apa kau benar benar akan menggugurkan nya ?" Zakira tidak berniat menjawab dia hanya menatap tajam Zidan lalu melepaskan genggaman tangan nya kemudian zakira segera masuk ke dalam taksi.


Setelah agak jauh zakira kembali menoleh ke belakang dia melihat Zion masih berdiri sambil menatap kepergiannya.


Lalu zakira kembali meluruskan pandangan nya kedepan dengan perasaan tak karuan.


" Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi," benak nya.


Sementara Zidan masih sangat penasaran dengan ucapan zakira tadi, sambil mengusap rambut nya Zidan berteriak frustasi.


" Aaah ! Kenapa semua nya jadi seperti ini !" Keluh nya.


Zakira lagi lagi harus berada di dalam dua pilihan , antara Zidan dan Zion, kedua nya sangat menginginkan zakira, zakira tidak mau munafik karena kalau bisa dia menginginkan mereka berdua.