The Rose

The Rose
Dilema



Zion dan zakira telah sampai di rumah sakit, tapi zakira menyuruh Zion tidak ikut ke ruang pemeriksaan takut nya ketemu Zidan.


Tapi Zion keukeuh mau ikut masuk.


" Dasar keras kepala ," Gerutu zakira kesal karena Zion tidak mau mendengarnya.


Zakira sedang menunggu dokter yang akan memeriksa nya datang di temani Zion.


" Sebaik nya kamu tunggu di ruangan tunggu aja ," Ujar zakira.


" Tidak, aku mau melihat kondisi kamu ,"


" Nanti juga di kasih tahu ,"


" Aku mau melihat nya secara langsung ,"


Zakira harus ekstra sabar menghadapi kekeras kepalaan seorang Zion.


" Kau tak malu ? mungkin aku akan telanjang," Zakira terus berusaha membujuk Zion untuk menunggunya di luar.


" Wah, ternyata dugaan ku benar ini zakira yang ku kenal ! " Zee masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dan langsung ketus saat melihat pasien nya adalah zakira.


Zakira membuang nafas kasar, dia juga merasa malas untuk berhadapan dengan Zee.


" Baiklah, aku harus profesional walaupun terpaksa ," Ujar Zee menghampiri zakira.


" Kau tidak keluar tuan ? Dia harus melepas bajunya !" Ujar Zee ketus kepada zion.


" Tak apa aku akan tetap disini ." Jawab Zion santai, membuat Zee tersenyum smirk


" Dia pasti sudah terbiasa melihat tubuh mu," Ujar Zee pelan.


" Bisa langsung saja ! Aku ingin cepat pergi dari sini ." Ketus zakira.


" Baiklah, periksa dia !" Suruh Zee kepada seorang suster.


" Aku jijik kalau harus menyentuh nya !" Lanjut Zee sarkas membuat si suster kaget mendengar Zee berkata seperti itu di depan pasien.


" Maaf Bu, anda tidak boleh berkata seperti itu ," Tegur si suster.


" Diam lah, kerjakan saja perintah ku ,"


Zakira hanya bisa menahan emosinya mendengar ucapan sarkas dan hinaan dari Zee lagi dan lagi.


" Buka baju mu !" Ujar Zee ketus, zakira menuruti nya langsung dengan wajah kesal zakira perlahan membuka semua pakaiannya hanya menyisakan ****** ***** nya.


" Kau benar benar tidak punya malu, " Ujar Zee lagi


" Tapi kalian cocok wanita ****** dan pria brengsek," Bisik Zee sambil memeriksa bekas luka di badan zakira.


" Aww sakit ! Pelan pelan ," Protes zakira karena Zee menekan bekas lebam dan luka jahitan nya kasar.


" Hei kau ! Bisakah kau bekerja dengan baik !" Tegur Zion melihat Zee seperti sedang mempermainkan zakira.


" Maaf, bisakah anda keluar anda mengganggu konsentrasi ku !" Jawab Zee, Zion hendak melawan perkataan Zee tapi zakira memberi isyarat supaya Zion keluar saja.


Zion pun terpaksa keluar, di dalam ruangan itu zakira melewati beberapa pemeriksaan mulai dari ronsen sampai tes darah bahkan tes HIV, semua hasilnya baik dan zakira negatif HIV.


Pemeriksaan pun selesai, zakira segera memakai pakaian nya lagi, namun Zee nampak terus memandangi badan zakira yang hanya berpakaian dalam.


" Kau menggoda pria dengan badan itu ? " Ujar Zee mulai meroasting zakira lagi, zakira yang hendak memakai kaosnya menanggal kan nya lagi lalu dia berbalik ke arah Zee.


" Tentu saja, para pria menyukai badan ku terutama dadaku ini ," Jawab zakira tidak mau kalah, Zee tersenyum smirk.


" Aku akui badan mu memang bagus, dada mu dan bokong mu juga bagus, tapi sayang semua nya hanya sampah, sudah banyak pria yang menikmati tubuh indah mu itu !"


Dirasa Zee sudah keterlaluan, zakira ingin membalas dengan sesuatu yang bisa membuat nya kesal juga


" Sampah ? Berarti kau takut tersaingi oleh sampah seperti ku ?" Zakira tersenyum smirk sambil perlahan mendekati zee lalu Akira mencengkram jas dokter nya.


" Kau selalu cemburu saat Zidan dekat dengan ku ya kan , kau takut dia tergoda dan ingin tidur dengan ku kan ? Wanita seperti ku tidak akan memikirkan kehormatan yang terpenting pelanggan puas, tapi wanita terhormat seperti mu harus menjaganya baik baik ya kan ," Ujar zakira balik meroasting Zee.


Zee terlihat mulai kesal zakira pun puas dia mendorong badan Zee sampai Zee hampir terjatuh.


Zakira kembali melanjutkan memakai pakaian nya, tapi tiba tiba Zee menghampirinya dan langsung menjambak rambut zakira.


" aaah... apa yang kau lakukan !" teriak zakira.


Tidak mau kalah zakira juga menarik rambut Zee, alhasil mereka saling menjambak.


Terlanjur emosi zakira mendorong Zee sampai jatuh menimpa beberapa alat kedokteran dan secara refleks tangan Zee meraih lengan zakira dan mencakar nya.


Seorang suster yang baru kembali dari lab langsung terkejut melihat Zee dan zakira tengah saling serang.


Si suster memanggil Zion untuk melerai mereka, Zion segera Menarik zakira dan membawanya ke luar, saking paniknya Zion sampai lupa kalau zakira belum memakai celana .


Di ruangan lain zakira tertunduk malu dan menyesal atas tindakan nya, sedang Zion berdiri memandangi zakira dengan perasaan heran.


Sementara di ruang sebelah Zee sedang di tenangkan oleh beberapa perawat, terlihat dia masih belum puas menghajar zakira.


Kejadian memalukan tadi segera tersebar ke seluruh rumah sakit bahkan sampai ke telinga Zidan, Zidan langsung bergegas pergi melihat kondisi Zee, Zidan tidak tahu kalau pasien yang dia serang adalah zakira.


" Apa yang terjadi .?" Tanya Zidan tidak habis pikir Zee bisa melakukan hal memalukan seperti itu, Zee menatap Zidan dengan tatapan sinis.


" Ini semua karena aku membela mu !" Ucap Zee lantang.


" Apa ? Apa hubungan nya dengan ku. ?"


Masih tercengang Zidan mendengar rintihan dari ruangan seberang.


" Apa itu pasien yang dia serang .?" Tanya Zidan kepada salah satu perawat, si perawat itu mengiyakan nya.


" Jangan pergi kesana, kamu di sini saja aku bisa menyelesaikan nya sendiri ." Zee menahan Zidan supaya dia tidak bertemu dengan zakira.


" Aku hanya ingin melihat kondisinya ," Zidan melepaskan genggaman Zee, Zee semakin kesal lalu dia berteriak histeris seperti orang stres, membuat beberapa perawat di sana saling menatap heran.


" Hei berhenti bertingkah memalukan seperti itu, kau harus malu dengan pekerjaan dan pangkat mu .!" Tegur Zidan membuat Zee langsung terdiam dan nampak nya sedang menahan tangis nya.


Zidan segera pergi ke kamar seberang, saat baru di depan pintu Zidan tercengang karena yang bertengkar dengan Zee Adalah zakira, zakira yang melihat Zidan menghampirinya langsung menutupi wajah nya dengan tangan nya.


Malu nya double double lagi karena dia masih belum memakai celana, untuk Zion melepas jas nya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Pas masuk kedalam Zidan lebih terkejut lagi saat melihat Zion berada di sana, Zion hanya bisa menatap Zidan datar.


" Kau masih berani menemuinya .?" Tanya Zidan ketus, Zion menghela nafa kasar lalu berjalan mendekati Zidan .


" Aku sudah menepati janjiku, jadi sekarang aku bebas mau menemui dia kapan saja,"


" Kau yakin bisa menjamin keselamatan nya .?" Ucap Zidan , kini mereka saling berhadapan dan saling menatap dingin di hadapan zakira yang tengah duduk tepat di tengah-tengah mereka.


zakira tidak mengerti apa mereka bicarakan.


" Aku yakin sekali, aku bisa menjaganya jadi mulai sekarang kau tidak perlu menjaganya lagi, kau bisa pergi dengan tenang ," Zion terus menatap tajam Zidan untuk memperingati nya.


" Permisi , Saya mau mengobati luka mbak nya," Seorang perawat datang membawa perban dan obat antiseptik.


" Biar aku saja ," Zidan mengambil peralatan itu dari tangan perawat itu.


" Kau tidak memakai celana .?" Tanya Zidan baru sadar


" Euh anu !" wajah zakira langsung memerah saking malunya sambil menutupi bagian sisi pahanya yang terbuka.


" Tolong ambilkan celananya !" Suruh Zion ke perawat tadi yang belum pergi.


" Baik pak ,"


" Coba ku lihat luka mu ," Ujar Zidan lembut sambil meraih lengan zakira.


" Jangan menyentuh nya !" Zion menarik lengan zakira


" Aww itu sakit !" Erang zakira.


" Maaf kan aku ," Zion segera meniupi luka cakar yang cukup panjang dan dalam di lengan zakira, membuat Zidan tersenyum smirk.


" Aku harus mengobatinya !" Ujar Zidan mulai kesal


" Biar perawat tadi yang melakukan nya ," Zion tidak mau Zidan menyentuh zakira sedikitpun.


" Kau benar benar..!"


" Sudah sudah, aku akan melakukan nya sendiri !" Potong zakira, dia mengambil kapas dan obat antiseptik dari tangan Zidan.


" Biar aku saja !" Zion mengambil nya lagi, zakira hanya bisa pasrah membiarkan Zion melakukan nya.


" Ini celana anda ," Si perawat memberikan celana zakira.


" Terimakasih," Ucap zakira malu malu.


Tidak sampai di situ hal yang membuat zakira bad mood masih terus berlangsung, Zee datang untuk menyusul Zidan .


Dengan wajah yang memerah tiba tiba Zee menangis membuat semua orang merasa heran, melihat keadaan semakin kacau Zidan langsung membawanya pergi.


" Lukanya sudah selesai di obati ,Cepat pakai celana mu kita pulang ," Ujar Zion datar


Zion merangkul zakira dan bergegas pulang, di lorong yang sama zakira dan Zidan berjalan berlawanan arah dengan pasangan mereka masing masing.


Namun ada sesuatu yang tidak bisa di sembunyikan secara bersamaan mereka melirik ke arah belakang alhasil pandangan mereka saling bertemu.


Entah perasaan apa yang mereka rasakan saat itu, mereka pun tidak bisa menjelaskan nya.


Zee terus menangis, Zidan pun memeluknya berharap bisa menenangkan nya tapi pikirannya tertuju pada zakira.


Sementara zakira sekarang menjadi lebih pendiam, hatinya kini benar benar merasa dilema, sebenarnya dia mencintai siapa ?


Saat bersama Zidan dia memikirkan Zion dan saat bersama Zion dia memikirkan Zidan.


" Kau tak apa .?" Tanya Zion membuyarkan lamunan zakira.


" Hah ? Aku tidak apa apa ," Jawab zakira sambil tersenyum .


" Bisa bisa nya pulang dari rumah sakit malah tambah sakit ," Gerutu Zion.


Zakira melihat ke lengan nya yang kembali di perban membuat nya menghela nafas panjang.


" Ini semua di luar kendaliku !" Gumam zakira.