The Rose

The Rose
harkat, derajat , martabat



Suasana terasa mulai panas karena Zee terus mengompori zakira dan Zidan di hadapan sang ayah.


Ayah Zidan mulai turun tangan menengahi perdebatan yang baru di mulai.


" Apa maksud mu ?" Tanya ayah Zidan kepada Zee,mendapat jalan Zee dengan senang hati langsung mejelaskan apa yang dia tahu tentang zakira.


Zakira memejamkan matanya seraya tertunduk mendengar Zee mulai membuka aib nya, mata nya mulai memerah, tangan dan kakinya bergetar karena menahan emosi.


" Hentikan Zee ! Kamu datang kesini hanya untuk mengatakan semua itu!" Bentak Zidan tidak terima Zee menjelekan zakira kepada sang ayah.


Ayah Zidan masih bersikap tenang, lalu dia menatap zakira dengan sorot mata yang tajam.


" Apa yang dia katakan benar ?" Tanya nya ,zakira terdiam dan tidak berani menatap langsung mata ayah zidan.


" Biar aku yang menjelaskan semua nya papah," ucap Zidan.


" Diam ! Aku bertanya pada dia," bentak ayah Zidan, Zidan langsung terdiam, lalu Zakira meraih tangan Zidan dan menggenggamnya dengan kuat.


" Lihat lah, dia tidak menyanggah nya, berarti itu benar kamu akan membiarkan anak mu menikahi wanita hina itu ?" Ucap ibu Zidan dengan lantangnya.


" Dia bahkan punya pacar lain selain Zidan, mungkin dia hamil anak pacar nya yang lain, om ," Zee masih belum puas membuat zakira malu dan terpojok.


Zakira pun tak kuasa menahan air matanya mendengar semua perkataan sarkas dari kedua wanita itu namun dia berusaha untuk tetap tegar.


" Aku mohon hentikan," ujar Zidan suaranya terdengar bergetar lalu dia merangkul zakira.


" Kalian sesama wanita pantaskah kalian merendahkan dan menghina nya seperti itu ? Apa kalian tidak punya hati ?" Ucap Zidan penuh emosi dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Kalau kalian semua hanya ingin menghina nya, aku akan membawa nya pergi sekarang," Zidan membantu zakira berdiri dan mengajak nya pergi.


Ayah Zidan masih tidak bereaksi apapun dia malah terlihat cuek melihat keributan yang terjadi di hadapan nya.


Setelah minum ayah Zidan beranjak dari tempat duduk lalu berjalan mendahului Zidan dan zakira.


" Ikut ke ruangan papah !" Suruh nya sambil berlalu.


Zee dan ibu Zidan saling berbisik mengatakan bahwa zakira akan segera di singkirkan oleh ayah Zidan, lalu mereka berdua tertawa puas.


****


Di dalam ruangan kerja sang ayah suasana terdengar sunyi sepi, zidan terus menggenggam tangan zakira seraya duduk saling bersebelahan di hadapan ayah Zidan.


" Sudah berapa usia kehamilan mu ?" Tanya ayah Zidan kepada zakira membuat zakira sedikit terkejut.


" Sa - satu bulan, om," jawab zakira terbata.


" Kau benar benar mencintai anak ku ?" Zakira mengangguk dengan yakin nya.


" maaf kan aku kalau aku lancang dan tidak tahu diri, tapi aku tidak bisa membohongi hati ku," ucap zakira memberanikan diri.


Ayah Zidan kembali terdiam seraya menatap zakira dan juga Zidan.


" Aku mohon ijinkan aku mempertanggung jawab kan perbuatan ku ayah, dia hamil anak ku jangan percaya omongan Zee tadi," ucap Zidan.


" Kau yakin akan menikahi seorang pelacur ?"


" Dia tidak seperti apa yang ayah pikirkan, dia tidak bermain dengan banyak pria ," Zidan terus membela zakira untuk meyakinkan ayah nya itu.


" Lalu ? Bagaimana dengan pikiran orang lain kau akan mengatakan hal yang sama kepada semua orang ?" Tanya ayah Zidan pelan tapi cukup menusuk.


Zakira kembali tertunduk sementara Zidan masih tegar dan terus membela zakira di hadapan sang ayah.


" Kalau kalian semua bisa tutup mulut dan memperlakukan zakira seperti wanita terhormat maka tidak akan ada yang tahu !" Ujar Zidan tegas.


" Lalu bagaimana dengan orang orang di luar sana yang sudah mengetahui nya ?"


" Mau bagaimana lagi, tidak mungkin kita menyuruh mereka semua untuk tutup mulut,kan "


" Dasar anak tidak tahu malu, gak tahu diri kamu !" Ayah Zidan mulai menaikan nada bicaranya sampai membuat zakira tersentak.


" Aku tahu perbuatan ku salah, tapi semua nya sudah terjadi kita tidak bisa memperbaikinya dan aku harus bertanggung jawab pah, aku mau menjadi ayah dari anak yang di kandung zakira ," ucap Zidan terus membujuk sang ayah.


" Bagaimana kalau itu bukan anak mu ?!"


" Dia anak ku ! aku yakin dia darah daging ku aku bisa menjamin nya pah," ayah Zidan sudah tidak bisa menentang keinginan Zidan itu.


Ayah Zidan menatap mata Zidan dengan serius, dia melihat ketulusan dari sorot kedua matanya, sejenak dia terdiam menimbang keputusan apa yang akan dia buat.


" Aku mencintainya pah, aku sangat mencintai nya sampai aku tidak mempedulikan status sosial nya karena itu tidak penting bagi ku pah, " ayah Zidan hanya membuang nafas kasar melihat anak nya sedang di mabuk cinta.


" Baiklah kalau itu pilihan mu , papah akan ijinkan kamu untuk menikahinya, tapi ayah mau kamu merahasiakan dia dari orang orang, ayah mau kalian menggelar pernikahan secara tertutup dan jangan biarkan dia bergaul dengan keluarga dan teman teman mu ," ucap ayah Zidan seraya membelakangi mereka berdua.


Zidan tertegun mendengar persyaratan dari ayah nya, karena itu berarti zakira belum di terima seutuhnya untuk masuk ke dalam keluarganya.


Namun Zidan melihat masih ada harapan bahwa suatu hari zakira akan di terima di keluarganya, Zidan meraih tangan zakira lalu menyetujui persyaratan yang di berikan ayah nya dengan yakin.


" Satu lagi ayah mau kalian menikah besok lusa," Zidan dan zakira langsung tercengang.


" Bagaimana bisa kita mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu dua hari ?" Protes Zidan


" Kalian hanya butuh mempersiapkan beberapa dokumen dan memanggil penghulu, sudah cukup tidak perlu ada acara perayaan karena kalian hanya akan membuat ku malu di hadapan semua orang ,"


" Tapi -" ucapan Zidan terpotong oleh ayah nya yang belum selesai bicara.


" Lalu, aku mau nanti saat bayinya lahir dia langsung tes DNA, aku tidak mau di bohongi wanita seperti dia ,"


" bukan soal dia hamil di luar nikah yang membuat aib besar tapi status nya sebagai wanita penghibur yang telah mencoreng nama baik mu, Zidan !" Sarkas ayah Zidan.


Zakira langsung tertunduk lagi mencoba kuat karena lagi lagi harus mendengar hinaan yang di tujukan kepadanya.


" Baiklah, ayo lakukan semua yang papah mau , aku anggap semua nya sudah selesai aku sekarang pamit pergi ," ujar Zidan kesal sambil menarik zakira keluar bersama nya dari ruang kerja ayah nya.


Di depan ruangan itu, ibu Zidan sedang menunggu mereka keluar dari ruangan itu.


" Bagaimana keputusan nya ?" Tanya ibu Zidan sesaat setelah Zidan dan zakira keluar masih dengan gaya angkuh dan judes nya.


" Kita akan segera menikah," singkat Zidan seraya berlalu tanpa melepas genggaman tangannya kepada zakira.


" Apa ? Kenapa bisa begitu ?" Tanya ibu Zidan dengan suara lantang, dia tidak bisa terima keputusan itu.


Ibu Zidan segera masuk kedalam ruangan kerja suaminya dan langsung menghampiri ayah Zidan yang masih berdiri tertegun.


" Kenapa ku malah membiarkan anak mu menikahi gadis rendahan itu ? Apa kau kehilangan akal mu ?" Tanya ibu Zidan dengan kesal.


" Biarkan saja mereka, dia harus belajar menghadapi masalah nya sendiri, dia akan belajar kalau semuanya tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan nya ," jawab ayah Zidan datar.


" Tapi masalah nya ini berbeda ini menyangkut masa depan anak kita," protes ibu Zidan masih tidak terima dengan keputusan yang ayah Zidan berikan kepada Zidan.


" Berhentilah mengeluh ! Kau selalu mendesak anak mu untuk segera menikah dan punya cucu, sekarang dia sudah melakukan nya tapi kau masih saja berisik !"


" Aku tahu ! Tapi bukan begini caranya ini sama saja membiarkan wanita itu mencoreng nama baik keluarga kita !"


" Keputusan ku sudah jelas tidak bisa di ubah lagi, mereka akan segera menikah lusa, lebih baik kau bersiap untuk menjadi seorang nenek !" Ujar ayah zidan lalu dia pergi meninggal kan ibu Zidan yang masih kesal dengan keputusan suaminya itu.


" Kenapa kau mengambil keputusan sendiri, dia juga anak ku harus nya kau bertanya dulu padaku !" Teriak ibu Zidan.


Ayah Zidan tidak mempedulikan nya, dia terus berjalan menjauh dari ruang kerjanya.


****


Dalam perjalanan pulang, Zidan terlihat masih kesal atas perlakuan keluarganya yang tidak sedikit pun menghargai zakira.


Zakira sesekali meliriknya namun tidak berani bertanya atau mengajak nya bicara karena takut malah semakin memperkeruh suasana.


Mereka pun sampai di rumah Zidan, namun Zidan tidak beranjak sedikitpun dari kursi mengemudinya.


" Kamu tidak keluar ?" Tanya zakira pelan


" Kamu duluan saja, aku ingin menenangkan diri ku dulu," jawab Zidan, zakira pun membiarkannya sendirian lalu zakira masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Hampir satu jam Zidan belum juga turun dari dalam mobil nya membuat zakira khawatir seraya melihat keadaan nya dari balik jendela.


" Aki pasti sudah membuatnya terbebani ," Benak zakira, tiba tiba terbersit di pikirannya bahwa dia telah membuat Zidan kesusahan.


Tak berapa lama Zidan pun keluar dari mobil nya dan segera masuk ke dalam rumah, saat masuk dia melihat zakira berdiri tak jauh dari pintu masuk memandang nya dengan tatapan nanar.


" Kamu belum tidur ?" Tanya Zidan terdengar lunglai.


" Apa ini terlalu berat bagi mu ?" Tanya zakira, Zidan langsung tertegun.


" Apa maksud mu ?"


" Kalau semua ini terlalu berat kamu boleh menyerah, aku tidak akan memaksamu dan kamu tidak perlu memaksakan diri, aku tidak mau membebani mu ," ujar zakira memberanikan diri untuk bicara terus terang kepada Zidan.


Zidan langsung terlihat kembali kesal mendengar ucapan zakira itu.


" Apa yang kau lakukan ? Kau memintaku untuk menyerah, hah ?" Zidan mulai menaikan nada bicaranya.


" Maaf, tapi aku tidak mau menjadi beban untuk kamu semua nya masih belum terlambat, aku tidak apa apa kalau harus menggugurkan janin ini ,"


Zidan menghela nafas berat sambil bertolak pinggang, matanya terlihat sudah memerah menahan air matanya.


" Setelah semua yang aku lakukan kenapa kamu dengan mudah nya menyuruh ku menyerah, apa kau meremehkan ku sekarang ? Kau menganggap ku ini apa ?" Ujar Zidan merasa tersinggung oleh perkataan zakira tadi.


" Bukan begitu maksud ku Zidan, tapi -"


" Sudah lah, diam saja kamu ! Kepalaku pusing ," Zidan berlalu pergi masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu keras membuat Zakira tersentak.


Zakira masih berdiri tertegun di tempat nya tadi, sekarang dia bingung harus bagaimana, semua nya menjadi semakin rumit sekarang.


****


Zakira mencoba menghubungi adik nya, namun Zahir masih marah kepadanya karena beberapa kali panggilan nya dia tolak dan pesan yang di kirimkan zakira tidak di balasnya.


Zakira mengusap rambut nya kasar, dia merasa sangat frustasi dengan masalah yang di hadap kan kepadanya sekarang.


Sudah hampir tengah malam namun zakira masih terjaga di ruang depan menatap kosong ke setiap sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu.


sadar atas kesalahan nya, zakira sekarang merasa bersalah atas ucapan nya tadi kepada Zidan, tak mau menambah beban pikiran nya zakira berniat untuk meminta maaf kepada Zidan.


Zakira masuk ke dalam kamar namun ternyata Zidan sudah tidur, zakira berjalan perlahan menghampiri nya, lalu duduk di ujung kasur seraya menatap wajah Zidan yang terlihat sangat lelap.


" Maafkan aku, harusnya aku tidak mengucapkan kata kata itu, padahal kamu melakukan semua itu demi aku ," ucap zakira pelan seraya menggenggam jemari Zidan.


Lalu kemudian zakira merangkak naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh nya di samping Zidan sambil memandang wajah Zidan dari posisi sangat dekat.


" Kenapa ada pria berhati mulia yang setampan kamu Zidan, aku merasa beruntung di cintai oleh sosok pria seperti mu," ucap zakira pelan sambil mengelus lembut pipi Zidan hingga tak berapa lama dia ikut tertidur.


dan pada saat itu Zidan malah terbangun, dia mendengar semua ucapan zakira tadi membuatnya tersenyum, lalu Zidan menarik badan zakira ke dalam dekapan nya seraya mengecup kening nya cukup lama setelah itu dia kembali tertidur.