
Zakira pulang dengan perasaan kesal dan juga sedih, bisa bisa nya dia bertemu dengan tiga orang yang membuat hatinya sakit dalam waktu bersamaan.
Zakira mengambil ponsel nya, dia mengirimkan pesan menyuruh Zidan untuk tidak lagi menginap di rumah nya karena Zahir akan segera pulang sebagai alasan padahal zakira hanya ingin menyendiri dulu.
Sementara Zion dengan wajah sangar nya berjalan masuk ke dalam kasino, karena masih siang jadi suasan masih sepi hanya ada beberapa orang yang sedang bekerja membersihkan area kasino.
" Woy brengsek !" Terdengar seseorang berteriak keras, Zion menoleh ke arah suara itu, ternyata itu adalah si pemimpin preman bersama beberapa teman nya.
" Kenapa kau berteriak goblok " Ucap Zion datar.
" Songong banget lu, padahal lu cuma anjing ayah lu tapi tingkah lu udah sok banget !" Si pemimpin preman itu menunjuk nunjuk dada Zion berniat untuk memprovokasi nya.
Zion yang pemarah dan tengah kesal tentu saja langsung tersulut amarah.
" Kau menantang ku ? Kebetulan aku sedang kesal biar aku menyalurkan amarah ku !"
" Brakk ... " Zion memukul orang itu, tentu saja teman teman dia langsung membantu nya melawan Zion.
Zion yang sendirian tidak gentar melawan lima orang preman berbadan kekar itu, walaupun beberapa kali kena pukulan tapi Zion masih mampu melawan dan membalas pukulan mereka.
Keadaan di dalam sana menjadi riuh karena pertarungan terlihat semakin sengit, beberapa barang menjadi rusak karena di pakai mereka untuk saling menghajar.
Tak ada yang berani melerai mereka hingga asisten Zion datang memberanikan diri untuk menghentikan pergulatan, hingga akhirnya mereka berhenti.
Zion mendapat beberapa memar di badan dan di wajah nya, namun dia masih belum puas menghajar mereka yang mencari gara gara kepadanya.
Namun Dion membawanya ke tempat lain untuk mencegah kembali terjadinya pergulatan.
" Urusan kita belum selesai, aku akan benar benar membunuh mu !" Ancam si pemimpin preman sambil mengajak teman teman nya pergi.
Sedang Zion menatap tajam ke arah mereka dengan nafas yang terengah-engah.
Zion di tarik paksa oleh Dion untuk berhenti, namun Zion menghempaskan genggaman nya dengan kasar.
" Aaaah ! Kalian semua sialan !" Umpat nya seraya menendang dan melempar kursi yang ada di dekat nya.
Setelah beberapa saat emosinya mulai reda, Zion menjatuh kan badan nya di lantai, dia duduk sambil bersandar pada dinding dengan sebotol minuman keras di tangan nya.
Dion menatap nya bingung, kenapa bos nya jadi serapuh dan secengeng itu sekarang.
" Kau seperti ini lagi karena wanita itu ?" Ucap Dion, Zion tidak menggubrisnya.
" Dia hanya pelacur, kenapa kau jadi seperti orang gila hanya karena dia " Zion langsung manatap Dion yang sedang berdiri di hadapan nya.
" Kau benar dia pelacur, aku menyewa dia untuk melayani ku dan kontrak nya masih berlaku aku bisa menuntut nya.!" Zion segera bangkit, namun dia langsung oleng karena sudah banyak minum.
" Dia harus menuntaskan kontrak nya dulu, baru dia bisa bebas !" Gumam nya, Dion hanya bisa menghela nafas pasrah dengan kelakuan Zion yang keras kepala itu.
****
Jam menunjukan pukul 7 malam, tapi Zahir belum juga pulang membuat zakira jadi takut karena sendirian di rumah.
Zakira mencoba menelpon nya untuk segera pulang tapi tidak di jawab jawab, membuat zakira kesal.
Beberapa saat kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu, zakira langsung terperanjat dan berlari menuju ke arah pintu.
Namun saat dia membuka pintu yang datang bukan lah Zahir tapi Zion, zakira langsung menutup kembali pintunya namun kalah cepat karena Zion langsung menghalangi pintu dengan kaki nya.
Alhasil zakira jadi panik karena Zion sekarang sedang memaksa masuk.
" Kenapa kamu kesini lagi !" Bentak zakira seraya mencoba menahan pintu.
" Ada hal yang mau aku bahas dengan mu sekarang " Zion berhasil menerobos masuk ke dalam rumah, zakira langsung menjaga jarak dari Zion.
Dengan wajah tegang zakira mencoba untuk tetap tenang menghadapi Zion yang tengah tersenyum smirk dengan beberapa lebam di wajah nya.
" kita sudah tidak ada urusan lagi ," Ucap zakira gelagapan.
" Kau lupa kontrak kita belum berakhir ," Zion perlahan berjalan menuju ke arah zakira.
" Jangan mendekati ku !" Teriak zakira, Zion langsung menghentikan langkah nya, sementara zakira terlihat terus bergeser perlahan hendak kabur ke dalam kamar.
Namun Zion sudah bisa membaca niat nya, Zion langsung menarik zakira dan memojokkannya ke dinding.
" Lihat aku !" Suruh Zion karena zakira terus menghindari bertatapan mata dengan nya.
" Tatap mataku !" Titah Zion lagi seraya memegang dagu zakira untuk memaksanya menatap wajah nya.
Hingga membuat zakira marah.
" Lepas kan aku ! Jangan menyentuh ku !" Zakira mencoba kabur, namun lengan Zion dengan kuat menahan nya ke dinding.
" Apa mau mu ..." Zakira mulai frustasi dengan sikap Zion itu.
" Kalau aku sebutkan kau akan menuruti nya ?"
" Zion ! Sudah cukup aku tidak mau berurusan lagi dengan mu !"
" Tapi Urusan kita belum selesai !" Zion semakin mendekatkan diri nya ke arah zakira, membuat zakira gemetaran karena takut Zion menyakitinya lagi.
" Kenapa ? aku tidak akan menyakiti mu !" Ucap Zion
" Tapi situasi ini membuat ku Dejavu, aku seperti pernah berada di posisi ini ," Zion menatap wajah zakira dengan seksama.
" Aku tidak peduli ! Lepas kan aku ...!"
" Oh Iyah, aku ingat waktu itu pertama kali kamu membuat ku kesal, kau masih ingat aku melakukan apa padamu waktu itu ?" Mata zakira seketika berkaca kaca mengingat apa yang Zion lakukan waktu itu.
Zakira takut dia kembali melakukan nya lagi sekarang, mengingat tidak ada orang yang bisa menolong nya sekarang.
" Jangan pukul aku ," ujar zakira lirih, Zion malah tersenyum melihat zakira benar benar takut kepadanya.
" Sekarang kamu jadi takut lagi kepadaku, itu menyedihkan tapi tak apa itu wajar karena aku selalu melakukan hal yang buruk ya, kan ," ujar Zion santai seraya masih terus memandangi wajah zakira yang sudah memerah.
" Tapi aku mau kau bertahan sampai kontrak kita selesai, setelah kontrak selesai aku akan melepaskan mu," ujar Zion
Zakira mencoba menyeka air mata nya yang hampir jatuh mendengar Zion mulai membahas soal kontrak.
" Maksud mu ?" Zakira memberanikan diri memandang mata Zion, Zion tiba tiba mendekatkan mulutnya ke telinga zakira.
" Kamu harus melayani ku dengan benar mulai sekarang, aku tidak akan mentolerir kamu lagi, " bisik nya, zakira refleks menampar pipi Zion dengan cukup keras.
Wajah Zion langsung memerah dan terlihat kesal, zakira sendiri terkejut karena dia melakukan nya tidak sengaja.
Dengan wajah panik Zakira segera pergi menjauh dari Zion, karena takut Zion akan membalas nya, tapi Zion malah tertawa kecil.
" Aku suka kamu yang sekarang, kamu jadi lebih berani " ujar Zion seraya memasukan kedua tangan nya kedalam saku celananya.
" Baiklah jadi besok aku akan menjemputmu setelah makan siang, aku mau bersenang senang dengan mu," Zion mengkerling kan matanya dengan senyuman di bibir nya lalu dia pergi.
Namun zakira menarik lengan nya untuk menahan Zion.
" Aku tidak bisa melakukan nya lagi, " ujar zakira, Zion langsung berbalik menoleh ke arah zakira lagi.
" Terserah kamu, kalau kamu tidak mau melayani ku maka kamu harus mengganti uang ku, tidak usaha berkali lipat tapi aku mau kau memberikan uang ku besok malam, " Zion memberi penawaran lain yang mustahil bisa zakira penuhi.
" Kau gila, kamu pikir aku bank !" Protes zakira.
" Ya sudah, bayar dengan pelayanan mu yang terbaik, kalau aku puas aku akan melupakan semua uang ku itu," zakira jadi bingung tak ada yang bisa dia penuhi dari kedua pilihan itu.
Zion tersenyum smirk melihat zakira terpojok dengan pilihan yang dia berikan,
" Pikirkan lah baik baik, mana yang lebih baik tapi kalau boleh aku kasih saran lebih baik kamu milih yang mudah saja " Zion memandangi badan zakira.
" Apa yang kau lihat !" Bentak zakira merasa tidak terima Zion menatapnya seperti itu, Zion kembali mendekati zakira lalu dia mendekatkan wajah nya ke wajah zakira.
" Jangan sok Jual mahal, aku merindukan ******* mu " bisik Zion lalu dia berlalu pergi sambil melemparkan senyuman kepada zakira.
Namun saat sudah keluar dari rumah senyuman nya langsung hilang dan kembali ke mode wajah datar nya.
Sementara zakira sedang sangat stres sekarang,
" Kenapa hal seperti ini harus menimpa ku, " keluh zakira seraya mengusap rambut nya dengan kasar.
" Mereka benar benar menganggap ku rendah, ingin rasanya aku menghilang saja dari dunia ini!"