
Setelah hampir satu Minggu Zion tidak mendengar tentang keberadaan musuh nya, namun justru itu membuat Zion semakin waspada terlebih sekarang dia juga harus membuat zakira selalu dalam keadaan aman.
Sementara Zakira masih mengalami mual mual terus sampai membuat dia tidak nafsu makan, karena ketika dia makan perut nya akan langsung mual lagi.
Hari ini adalah jadwal operasi pengangkatan janin nya, zakira terlihat ragu untuk melakukan nya.
" Kalau kamu tidak mau, jangan melakukan nya," ujar Zion melihat zakira gelisah.
" Tidak, aku hanya takut harus berbaring lagi di rumah sakit," jawab zakira mencoba menyembunyikan perasaan nya.
Sebenarnya Zion ingin melarang zakira untuk menggugurkan bayinya, tapi dia tidak mau memaksakan lagi kehendak nya kepada zakira.
terlebih sekarang zakira nampak sudah sangat menderita harus terus terusan mual bahkan saat dia minum air putih pun dia merasa mual.
Zakira sengaja memilih Minggu itu untuk menentukan jadwal operasinya supaya Zidan tidak berada di rumah sakit, karena Minggu sekarang Zidan kebagian sip malam.
Namun nyatanya Zion tetap datang ke rumah sakit karena dia sudah tahu jadwal operasi zakira, dia datang berniat untuk menyuruh zakira mengurungkan niat nya.
Sesaat setelah sampai di rumah sakit, Zidan segera berlari menuju ke ruang operasi dimana zakira sudah bersiap untuk menjalani operasi pengangkatan janin nya.
" Apa yang kau lakukan ! Kenapa kau membiarkan dia melakukan ini !" Bentak Zidan sambil mencengkram baju Zion yang sedang berdiri di depan ruang operasi.
" Kau bilang aku harus menghormati keputusan nya, sekarang aku sedang melakukan nya !" Balas Zion membentak Zidan.
" Ini berbeda bodoh !" Zidan bergegas menyerobot masuk ke ruang operasi sebelum semuanya terlambat.
" Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya seorang dokter.
" Dimana dia ?" Tanya Zion dengan wajah panik nya.
" Dia ? Dia sedang ke kamar mandi dulu, "
Zidan kembali berlari menyusul zakira ke kamar mandi dan mereka pun bertemu di lorong.
" Zakira aku mohon jangan lakukan itu " Zidan langsung meraih kedua tangan zakira.
" Apa yang kau lakukan ? Kau membuat orang orang memperhatikan kita," ujar zakira seraya melihat kesekitar nya.
" Jangan pedulikan mereka, ayo kita besar kan bayi nya, yah kita urus dia sama sama," Zidan berusaha untuk membujuk Zakira.
" Hentikan Zidan, ini mungkin bukan anak mu ," ujar zakira ragu ragu.
" Apa maksud mu ?"
" Kau sudah tahu kan -" ucapan zakira terpotong karena Zion datang menghampiri mereka.
" Ayo kita bicarakan ini di tempat lain," ajak Zion.
Mereka bertiga pun pergi ke roof top rumah sakit yang nampak sepi untuk membicarakan perihal janin yang di kandung zakira.
" Janin yang kandung zakira pasti anak ku," ujar Zidan yakin.
" Tidak, itu pasti anak ku , aku yang terakhir melakukan nya ,"
" Hentikan ! Kalian membuat ku semakin terlihat rendahan, aku akan menggugurkan nya jadi tidak ada yang akan menjadi ayah, itu sudah keputusan ku !" Ujar zakira memotong perdebatan Zidan dan Zion.
" Sudah ku bilang jangan lakukan itu zakira, kau mau jadi wanita yang jahat, hah ?" Zidan masih belum menyerah untuk melarang keinginan zakira.
" Aku akan menuruti semua mau mu tapi untuk yang satu ini, aku melarang nya aku mohon jangan lakukan itu, yah " Zidan terus memohon sementara Zion tidak bisa berkata apa apa karena dia sudah berjanji tidak akan melarang kemauan zakira walaupun hati kecilnya tidak ingin zakira melakukan aborsi.
" Tapi aku tidak mau punya anak, hidup ku sudah cukup berat hanya dengan adikku kalau di tambah satu nyawa lagi aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku akan semakin berat," ujar zakira mulai terisak.
" Kamu tidak akan sendiri, ada aku ! Aku akan pastikan semuanya akan baik baik saja," Zidan menyeka air mata zakira yang mulai jatuh.
Tapi zakira menepis tangan Zidan itu.
" Aku akan membujuk ibu ku, supaya dia bisa menerima mu, aku juga akan bicara pada ayah ku ,"
" Sudah hentikan ! Jangan memaksanya ," ujar zion
" Kau akan membiarkan dia bertaruh nyawa lagi !?" Bentak Zidan.
" Derajat mu terlalu tinggi, dia akan sulit menyesuaikan diri dengan keluargamu yang nyaris sempurna itu !" Bentak Zion.
" Maksud mu kau lebih pantas untuk nya ? "
" Iyah, aku menerima dia seapa adanya dia ! Baik buruk nya dia aku sudah tahu, jadi jangan sok paling bisa membuat dia nyaman dan bahagia ,"
Zakira menghela nafas berat menyaksikan Zion dan Zidan memperebut kan dirinya lagi.
" Sudah hentikan ! Aku tidak akan hidup bersama kalian berdua, aku akan hidup sendiri !" Teriak zakira lalu dia melangkah pergi, tapi Zidan dan Zion bersamaan menghadang nya.
" Hentikan !! Kalian membuat kepalaku sakit," zakira menjatuh kan badan nya, dia merasa jengkel menghadapi dua pria di hadapan nya itu.
Mendapati dirinya hamil saja sudah sangat membuat nya stres sekarang dia harus di hadapkan lagi dengan pria pria keras kepala itu.
Sebenar nya Zion adalah pria yang bertanggung jawab dan juga sangat mencintai zakira bahkan dia rela melakukan apapun untuk Zakira tapi dunia kriminal yang tidak bisa di pisahkan darinya membuat zakira tidak akan bisa hidup tenang jika menikah dengan Zion.
Sedang Zidan adalah pria baik nyaris sempurna, di balik wajah nya yang tampan dia juga kaya dan pria yang lembut, namun keluarga nya yang terhormat tidak akan bisa menerima zakira yang notabene seorang wanita hina, sudah pasti zakira tidak akan bisa hidup bersama Zidan karena banyak tembok penghalang di hadapan mereka yang menjulang tinggi.
" Maaf kan aku zakira, tapi sekarang aku harus egois demi kebaikan kamu, aku tidak mau kamu mengambil resiko tinggi untuk menggugurkan janin mu, " Zidan berjongkok di hadapan zakira yang tengah duduk bersimpuh.
" Tapi aku tidak mau punya bayi, " ucap zakira tersamarkan oleh tangisan nya.
" Maaf kan aku, tapi semua di luar kendali kita, tuhan telah menitipkan sesuatu yang berharga ini kepada kita, kita harus menjaganya zakira,"
" Ini bukan anugrah ini hukuman, tuhan membenci ku dia terus memberiku ujian berat, aku membencinya !" Teriak zakira sambil memukul keras perut nya.
Zidan langsung menahan tangan nya agar zakira menghentikan nya.
" Tidak, tuhan tidak membencimu tuhan menyayangi mu, lihat kau sekarang bersama orang orang yang sangat menyayangimu, tuhan sedang memproses kebahagian mu, sabar lah sebentar lagi, yah ! Kita lewati semua nya bersama sama, "
Lalu Zion ikut berjongkok lalu mengelus rambut zakira.
" Kita disini sangat menyayangi mu zakira, kita tidak akan membiarkan mu menderita sendirian, semuanya akan berlalu, satu hal yang perlu kamu lakukan jangan dengarkan kata kata orang, toh mereka tidak memberi mu makan," zakira menatap kedua pria di hadapan nya itu dengan mata sembab.
Perlahan perasan nya mulai tenang, Tapi dia masih tidak bisa menghentikan tangisnya karena di dalam benak nya dia harus kembali memilih dia antara mereka berdua, tidak mungkin untuk nya memiliki kedua nya.
****
Hati zakira telah luluh sekarang Zakira telah mengambil keputusan lain, dia telah mengurungkan niat nya untuk menggugurkan kandungan nya.
Sementara zakira tengah istirahat, Zion dan Zidan kembali membicarakan hal yang serius mengenai siapa yang berhak untuk menikahi zakira.
Tentu saja dari keduanya masih tidak ada yang mau mengalah juga.
" Kalau kau setuju kita biarkan zakira memilih, tapi kita harus siap dengan keputusan nya, mungkin salah satu dari kita akan patah hati ," ujar Zidan.
" Bisakah kita lakukan itu nanti saja, setelah keadaan mental nya benar benar siap,"
" Apa kau takut ?" Tanya Zidan, Zion langsung tertegun.
" Iyah, sebenarnya aku takut dia tidak memilih ku, aku akan mempersiapkan mental ku juga ," ujar Zion.
" Sebenar nya aku juga takut, aku takut dia lebih memilih mu, aku belum siap melepaskannya," ujar Zidan.
Zion dan Zidan pun saling menatap, bisa bisa nya mereka curhat kebucinan pada satu wanita yang sama.