
Zidan membawa zakira ke rumah nya, dia tidak mau tersiksa lagi karena terlalu mengkhawatirkan keadaan nya dan karena Zidan merindukan nya juga.
" Istirahat lah, kamu pasti sangat lelah " ucap zidan mengantar kan zakira ke kamar nya, tapi zakira mulai merasakan mual lagi.
Zakira langsung berlari ke toilet dan mulai muntah muntah lagi, zidan langsung mengikutinya dan membantu menepuk nepuk pelan punggung zakira.
" Kamu sabar yah, ini hanya sementara ," ucap zidan
" Tapi ini sangat menyiksa, bahkan untuk minum saja aku selalu mual ," keluh zakira.
Zidan pun membantu zakira berdiri, namun karena zakira makan sangat sedikit akhir akhir ini, badan nya jadi lemas terlebih sejak kemarin dia belum makan.
Zidan pun menggendong nya lalu membaringkan zakira di atas sofa.
" Sebentar aku akan mengambil air hangat," zida pergi ke dapur lalu memberi kan segelas air kepada zakira.
" Kamu harus makan dulu, dari kemarin pasti kamu belum makan, kan? ,"
" Nggak mau, aku tidak nafsu makan sekarang ,"
" Nanti kamu sakit,"
" Percuma, kalau aku makan semua makanan nya akan keluar lagi,"
Zidan bingung harus membujuk Zakira gimana lagi, untung nya dia seorang dokter jadi dia bisa memberi solusi lain yang aman bagi zakira dan janin yang di kandung nya.
Zidan memberi zakira cairan infus dan suntikan vitamin yang bisa membuat kondisi Zakira kembali fit, hingga perlahan keadaan Zakira mulai membaik.
Zakira terus menatap Zidan yang sedang memantau keadaan nya.
" Kamu tidak jijik ?" Tanya zakira tiba tiba.
" Apa maksudmu ?" Tanya Zidan balik, merasa perkataan itu tidak pantas untuk di ucap kan.
" Aku hanya merasa sangat hina di hadapan mu sekarang, bagaimana bisa kamu masih menerima aku yang hanya seorang pelacur ini," Zidan terdiam cukup lama seraya memandang zakira yang terlihat merasa bersalah.
" Jangan bahas lagi tentang itu, anggap saja aku tidak mendengarnya nya, istirahatlah ," ujar Zidan terlihat kecewa lalu dia pergi keluar dari kamar.
Zidan berdiri di depan jendela seraya memandang kosong ke luar sana, sebenarnya jika di ingat lagi ada rasa marah dan juga sakit di hatinya setelah dia mengetahui zakira telah bersetubuh lagi dengan Zion.
Namun dia tidak bisa menghakimi mereka karena dia pun sama saja dengan mereka, sama sama tidak bisa mengendalikan nafsu birahi nya.
Setelah suasana hatinya kembali membaik, Zidan kembali masuk ke dalam kamar dan mendapati zakira sudah tertidur pulas.
Zidan pun ikut berbaring di samping Zakira seraya mengelus lembut kepala zakira hingga dia pun ikut tertidur setelah semalaman tadi dia tidak sempat tidur sekarang dia merasa sangat mengantuk.
****
Tanpa Zidan ketahui bahwa di rumah sakit gosip tentang nya telah menyebar ke seluruh rumah sakit, banyak orang yang tidak percaya bahwa Zidan bisa melakukan hal seperti itu.
Di tambah drama yang terjadi kemarin semakin memperkuat spekulasi orang orang bahwa desas desus yang beredar memang benar adanya.
Zee sudah muak mendengar orang orang yang terus bergosip tentang Zidan, hingga membuat nya emosi.
" Apa kalian tidak punya kerjaan lain selain menggosipkan orang lain ?" Tanya Zee dengan nada tinggi kepada beberapa orang perawat yang sedang berkumpul.
Orang orang itu langsung membubarkan diri setelah melihat Zee berada di hadapan mereka dengan wajah judes nya.
" sudah aku bilang dia hanya akan membuat mu malu zidan, kenapa kau masih bersama nya dan sekarang dia hamil ? apa apaan itu! " gerutu Zee.
Zee pun berusaha menelpon Zidan untuk meminta penjelasan nya namun beberapa kali panggilan nya tidak di jawab karena Zidan tengah tertidur lelap bersama Zakira.
Zee pun memutus kan untuk menemuinya secara langsung, untuk bisa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Jika Zee sudah terlibat sudah pasti hal buruk akan mendatangi Zakira, dia masih menyimpan dendam kepadanya karena telah merebut Zidan dari nya.
Zee sudah sampai di rumah Zidan, lalu membunyikan bel rumah beberapa kali tapi Zidan masih belum muncul juga, Zee pun mencoba membuka sandi rumah nya tapi ternyata kata sandinya telah di ubah, alhasil Zee kembali menggerutu kesal.
Zee pun terus membunyikan bel hingga zakira terbangun.
" Zidan, ada seseorang datang ," ucap zakira membangunkan Zidan.
" Hemm ? Benarkah ? Maaf aku tidak mendengar nya aku akan memeriksanya, kamu tidur lagi aja," Zidan beranjak dari tempat tidur nya lalu berjalan menuju pintu depan dengan nyawa yang belum full.
" Kau baru bangun tengah siang begini ?" Ucap Zee lantang sesaat setelah Zidan membuka pintu.
" Mmm Iyah, ada apa ?" Zidan nampak masih linglung.
" Aku punya banyak pertanyaan buat mu, sebaik nya kita bicara di dalam ," Zee mendorong Zidan lalu nyelonong masuk ke dalam rumah.
" Ada apa lagi ?" Tanya Zidan terlihat sedang tidak ingin di ganggu, tapi Zee sudah duduk di kursi sambil menyilang kan kaki nya seraya menatap Zidan dengan tatapan tajam.
" Kau belum tahu kalau orang orang di rumah sakit sedang menggunjingkan mu ?"
" Tantang apa ?" tanya zidan datar dan polos.
" Tentang kau yang sudah menghamili si zakira !" ucap Zee cukup lantang, Zidan pun membuang nafas kasar.
" Kau masih bisa bersikap tenang setelah mendengar nama baik mu tercoreng seperti itu,"
" Lalu aku harus gimana ? toh semua nya benar ," ungkap Zidan.
" Apa ? " Zee langsung berdiri dengan kagetnya mendengar ucapan Zidan itu.
" Kau benar benar sudah melakukan nya dengan ****** itu," mata Zee terbelalak, dia tidak bisa mempercayai pengakuan Zidan itu.
" Bisakah kau pelan kan suara mu ," suruh Zidan sambil bertolak pinggang.
" Kenapa !? Jangan katakan kalau sekarang dia ada disini !"
" Sebaik nya kamu pergi, nanti aku akan jelaskan semuanya," Zidan menarik tangan Zee menuju ke depan pintu.
Masih tidak percaya Zee melepaskan genggaman Zidan dengan kasar, lalu dia pergi ke arah kamar Zidan lalu Zee membuka pintu dengan keras hingga membuat zakira terperanjat.
Zee langsung masuk dan hendak melabrak zakira, untung saja Zidan dengan cepat datang dan menarik Zee kembali keluar.
" Apa yang kau lakukan, dia sedang sakit," omel Zidan.
" Plakk" Zee langsung menampar keras pipi Zidan.
" Dasar brengsek, aku tidak menyangka kau melakukan hal memalukan seperti itu, aku berusaha menjaga nama baik mu tapi kau malah menodai nya sendiri !" Zee balik mengomeli Zidan.
" Aku tahu aku salah, tapi jangan membuat keadaan semakin rumit, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatannya ,"
" Tanggung jawab ? Maksud mu kau akan menikahinya ?" Zidan mengangguk tanpa ragu.
Zee mengusap rambut nya kasar dia tidak habis pikir kepada Zidan sekarang.
" Apa kau gila ! Kau yang membuat semuanya menjadi rumit, menikahinya kau pikir orang tua mu akan mengijinkan nya, hah ,"
" Jangan ikut campur, aku akan meminta restu mereka setuju tidak setuju aku akan tetap menikahi zakira," Zee menatap Zidan dengan wajah yang mulai frustasi.
" Kau benar benar gila Zidan, wanita itu benar benar telah merubah mu, wanita itu memberi pengaruh buruk kepada mu,"
" Diam lah ! kalau kau tidak tahu apa apa tentang dia, jangan menghakiminya seperti itu !" Bentak Zidan.
" Baiklah kalau itu keputusan mu, aku mau lihat bagaimana kelanjutan nya, aku yakin hidup mu akan mulai berantakan karena memilih hidup dengan wanita seperti dia," Zee pun pergi seraya membanting pintu dengan keras.
Zidan memejamkan matanya sekejap, lalu memijat keningnya yang terasa sangat pusing.
****
Dalam perjalanan Zee masih terus menggerutu kesal atas apa yang dia dengar dari mulut Zidan tadi, dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zidan akan menikahi zakira.
" Aku harus mencegah nya," Zee membanting setir mobilnya menuju ke rumah orang tua Zidan. Zee tidak terima kalau Zidan benar benar menikahi zakira, dia masih terobsesi untuk bisa memiliki Zidan.
Sekarang dia akan membuat ibu Zidan semakin membenci zakira dan tentu saja ibu Zidan akan sangat menentang pernikahan putra satu satunya itu yang ingin menikahi zakira seorang wanita rendahan yang tentu saja jauh dari kriteria yang di inginkan nya.
****
Sementara zakira masih tertegun mendengar perdebatan Zidan dan Zee tadi, dia merasa tersinggung atas semua ucapan yang Zee lontarkan tadi, tapi zakira mencoba untuk tegar.
Zidan masuk ke dalam kamar, mendapati zakira telah terbangun Zidan pun menghampirinya.
" Maaf kamu harus mendengar keributan tadi," Zidan duduk di sisi kasur tepat di hadapan zakira.
" Kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu ? ,"
" Kau mendengarnya ?" Zakira mengangguk.
" Aku sudah sangat yakin , aku tidak pernah main main dengan janji ku zakira ," Zidan meraih jemari zakira.
" Bagaimana kalau kamu nanti menyesal ?" Tanya zakira seraya menundukan kepalanya.
" Apa yang kamu katakan, kamu masih meragukan ku ?" Zidan mengangkat pelan kepala zakira.
" Dengar, meskipun kamu tidak sedang hamil, aku sudah berniat untuk menikahi mu, aku sudah memikirkan nya jauh jauh hari dengan sangat yakin dan tulus dari dalam hati ku ,"
Zakira menatap Zidan dengan tatapan sayup.
" sekarang aku mau kamu percaya diri, kamu tidak seperti yang mereka pikirkan kamu jauh lebih baik dari mereka, aku mau kamu menunjukan nya kepada mereka," tutur Zidan.
Mata Zakira mulai berkaca kaca mendengar motivasi yang di berikan Zidan yang selalu memberi kekuatan untuk mental serta hati nya, Zidan tidak pernah gagal membuat zakira kembali menemukan semangat hidup nya.
" Mungkin tidak akan mudah, tapi ayo kita hadapi bersama sama, kita berjuang bersama sama, yah," Zidan mengeratkan genggaman jemarinya ke jemari tangan zakira.
" Iyah, baiklah ayo kita lakukan," zakira pun merangkul Zidan.
" Aku tidak tahu bagaimana jadi nya aku kalau aku tidak bertemu dengan mu," ucap zakira pelan.
" Aku akan terus berada di samping mu sampai kapan pun," tutur Zidan mengeratkan pelukannya.