
Zion dengan percaya diri nya datang ketempat perkumpulan geng ayah nya yang sudah sangat ingin menghabisi nya, Zion seperti sedang masuk ke dalam kandang yang penuh dengan singa lapar.
Namun seperti seorang pawang, dia dengan taktik nya mampu mengendalikan mereka.
" Bos kalian sudah mati ! Aku yang sudah membunuh nya .!" Teriak Zion di tengah tengah para preman itu.
Seketika semua mata tertuju padanya
" Sekarang giliran mu .!" Ucap seorang ketua gang sambil berjalan menghampiri Zion.
Zion tersenyum smirk seraya bersikap santai menghadapi para pria sangar itu.
" Aku telah mengalah kan pemimpin kalian, itu berarti aku yang berhak naik tahta, bukan kah itu sistem kita.?" Ujar Zion santai, semua orang disana langsung terdiam.
" Aku telah membunuh pimpinan yang selama ini kalian segani, itu berarti aku lebih hebat darinya jadi ... Dengan segala kehormatan ku, aku akan mengambil alih semua yang menjadi milik ayah ku termasuk menjadi pemimpin geng ini ," lanjut Zion dengan suara lantang.
Semua orang disana mendadak riuh, semua orang disana rata rata tidak menyetujui jika Zion menjadi pemimpin mereka.
" Dasar lancang ! Kau pikir kau siapa .? " Teriak si ketua geng sambil mencengkram kerah baju zion.
Lagi lagi Zion malah tersenyum smirk dan tidak ada takutnya.
" Aku sudah mempunyai semua hak milik dan hak waris dari ayah ku, lihat ini .!" Zion menunjukan sebuah surat wasiat yang sudah di tandatangani oleh ayah nya yang menyatakan semua aset di berikan kepada Zion termasuk pengambil alihan menjadi pemimpin geng mengerikan itu.
Ketua geng itu mendadak tidak berkutik karena surat wasiat itu terlihat asli, semua orang disana saling berbisik menimbang dan berpendapat tentang Zion yang kini akan menjadi pemimpin baru mereka.
" Aku akan tetap melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan kepada bos ku ," bisik ketua geng yang terlihat kesal sambil berlalu pergi, dia masih ingin membalas dendam nya kepada Zion karena dia sudah berjanji kepada bos nya.
Zion tidak menanggapinya serius karena sekarang dia mempunyai kekuatan lebih besar dari nya, saat dia menjadi pemimpin geng maka dia bisa memerintahkan para preman itu untuk menuruti semua perintahnya.
hal itu membuat nya semakin percaya diri bahwa tidak akan ada yang bisa mengalah kan dan mengusik nya mulai sekarang.
****
Sementara di rumah sakit kondisi zakira sudah semakin membaik.
" Zakira ! Ada seseorang yang ingin menemui mu," ujar Zidan
" Siapa .?" Tanya zakira dengan suara pelan.
" Aku .! " Ahir tiba tiba muncul dari balik pintu untuk memberi kejutan kepada kakak nya.
" Zahir. !" Teriak zakira, langsung menghampiri nya dan memeluknya.
Sudah hampir seminggu Zahir tidak menjenguk kakak nya karena sibuk menyelesaikan kerja lapangan sekolah nya.
" Kakak merindukan ku .? " Tanya Zahir, tapi zakira malah menggelengkan kepalanya.
" Aku kecewa sekali ," Keluh Zahir
" Tapi aku merindukan kakak, kakak sudah sehat.?" Zahir kembali memeluk zakira.
" Kenapa kamu semakin tinggi dan berotot ," zakira memperhatikan Zahir dengan seksama.
" Aku sengaja olahraga biar bisa melawan orang yang berniat jahatin kakak ," jawab Zahir membuat zakira tertawa.
" Aku yang akan menjaga nya, kamu tenang saja," ujar Zidan sambil menepuk pundak Zahir.
Zakira langsung menatap Zidan dengan serius.
" Kenapa ?" Tanya Zidan balik menatap zakira.
Tiba tiba zakira memeluk Zidan, perasaan nya kepada Zidan kini semakin jelas bahwa zakira menyukainya dan dia tidak bisa lagi menahan nya .
Terlebih sikap Zidan yang tulus dan selalu menjaganya membuat nya merasa nyaman dan merasa berharga.
Zidan membalas pelukan zakira dengan hangat, dia pun merasakan hal yang sama tapi dia tidak mau terburu buru mengungkap kan nya kepada zakira, karena mungkin zakira masih belum siap untuk hal itu.
Setelah apa yang dia alami selama bersama Zion, itu pasti memberi luka pada hatinya yang mungkin akan membuat nya trauma.
Zidan mau menjalani nya secara perlahan saja, untuk sekarang biar saja begini biar waktu yang bisa membuat semua nya jadi terbiasa.
" Aku sebaik nya pergi, suasana nya menjadi tidak baik bagi pria jomblo, " Zahir pergi untuk memberi ruang untuk mereka berdua.
Zakira melepaskan pelukannya perlahan, kemudian dia meraih tangan Zidan.
" Maaf, karena aku telah melewati batas," ucap zakira pelan, Zidan tersenyum seraya membelai lembut rambut zakira.
" Tidak, kau tidak melewati batas. Mulai sekarang aku mau tidak ada batasan di antara kita ," zidan terdiam sejenak sambil menatap wajah zakira dengan seksama.
" Zakira , aku tidak mau menjaga jarak dengan mu, aku mau selalu menjaga mu boleh, kan .?" Ujar Zidan, zakira tersenyum lalu mengangguk pelan.
Zidan pun kembali memeluk zakira yang terlihat sudah bisa berkomunikasi dengan baik lagi sekarang.
****
Keesokan siang zakira sudah bisa pulang, di temani Zahir dan Zidan zakira nampak bahagia karena masih di beri kesempatan untuk berkumpul dengan orang orang yang dia sayangi.
Sekarang zakira tidak mau mengingat soal Zion lagi, sudah cukup baginya memberi kesempatan kepada pria itu.
Rasa sakit dan kecewa yang dia berikan cukup membuat zakira percaya bahwa Zion tidak akan pernah bisa menjadi pria baik sekalipun untuk dirinya.
" Aku pun berharap begitu " ujar zakira
Sementara itu di pihak lain ada yang kepanasan karena merasa cemburu.
" Kau terlihat senang setelah memutuskan ku begitu saja .?" gumam Zee seraya melihat kepada zidan yang sedang bersiap pergi mengantar zakira pulang.
" Kita lihat siapa yang menangis pada akhirnya." Zee memalingkan wajah nya dan berlalu pergi.
" Orang tua mu tidak akan pernah menyukai pilihan mu itu Zidan," benak nya.
Semakin di pikirkan semakin menyakitkan bagi zee saat Zidan memutuskannya sambil tersenyum.
" Dasar bodoh, bisa bisa aku ikut bahagia saat dia bilang benar benar jatuh cinta!" gerutunya.
" dia anggap aku apa ? apa dia pikir dengan cara begitu dia tidak menyakitiku.?"
" Aaaah, bisa bisanya dia bilang menyukai orang lain saat dia memutuskan ku." teriak Zee frustasi sambil melempar beberapa kertas di atas meja.
" Aku benci kalian berdua " ucap nya pada diri sendiri dengan kesal.
" aku akan membalas kalian !"
****
Setelah menangani kemarahan para anak buah ayah nya, zion sekarang sedang menuju ke rumah sakit untuk memeriksa luka tembak nya.
Sesaat setelah mobil Zidan pergi, mobil Zion datang dan segera memarkirkan mobilnya.
Saat di ruang perawatan Zee tidak sengaja melihat Zion, dia pun menghampirinya.
" Sayang sekali, pacarmu baru saja pulang," ujar nya
" Bagaimana keadaan nya ?" Tanya Zion
" Dia baik baik saja, tapi dia merebut pacar ku, bisa kau mengurus nya .!" Jawab Zee ketus sambil menyilang kan kedua tangan nya.
" Maksud mu si Zidan.?"
" Siapa lagi, aku kesal melihat dia terus menempel sama wanita rendahan itu." gerutu Zee
" jaga bicara mu !" Tegur Zion tidak terima zakira di Katai seperti itu. Tapi Zee terlihat tidak peduli dia langsung menanyakan penyebab zakira harus di rawat lagi di rumah sakit.
" Aku heran kenapa dia sering masuk rumah sakit dalam keadaan memprihatinkan dan sekarang kau punya luka tembak, sebenarnya kalian ini siapa ?" Tanya Zee serius
Tapi Zion enggan memberitahu apa yang terjadi sebenarnya kepada Zee, setelah selesai Zion langsung beranjak dari tempat duduk nya dan hendak pergi.
Tapi Zee menghadang nya untuk meminta jawaban dari Zion
" Kau belum menjawab ku,"
" Aku yakin penjelasan ku tidak akan menarik bagimu," jawab Zion datar lalu dia berlalu pergi.
Entah apa yang di inginkan Zee dari Zion, dia kembali menyusul Zion.
" Baiklah identitas mu memang tidak penting, tapi tolong bawa si zakira pergi jauh, itu hal penting bagi ku ."
Zion langsung menghentikan langkahnya
" Kenapa itu hal penting bagi mu.?" Zion mulai kesal kepada Zee yang terus mengganggu nya.
" Karena dia merebut pacar ku, jika kau tidak mau melakukan nya aku yang akan melakukan nya, aku akan membuat dia pergi dengan sendirinya tapi mungkin kalau aku yang melakukan nya dia akan menangis ," Ujar Zee kemudian dia pergi.
" Jangan sentuh dia, aku akan menangani nya dengan cara ku sendiri.!" ujar Zion agak berteriak
" Sial.! " umpat Zion kesal karena harus mendengar hal yang membuat nya cemburu sekarang.
" Siapa dia berani mengatur ku, aku hanya akan kembali merebut milik ku apa pun caranya." gumam Zee dengan langkah tergesa.
****
" Selamat datang kembali di rumah " ucap Zahir
" Aku sangat merindukan suasana rumah ini " ujar zakira
" Istirahat lah, aku akan kembali ke rumah sakit "
" Baiklah, terimakasih banyak"
" Sama sama " jawab Zidan sambil tersenyum
" Aku pamit dulu, jaga dia ok! " ucap Zidan kepada Zahir
" Aku akan menjaga nya dengan segenap jiwa dan raga ku," jawab Zahir lebay.
" Itu berlebihan ! " ujar zakira sambil memukul pelan lengan Zahir .
dua pria itu selalu memberi dorongan yang positif kepada zakira sehingga hati dan pikiran zakira pun ikut berpikiran positif sehingga trauma nya tidak terlalu parah.