
Zion sudah mendapatkan penanganan medis atas luka nya, sekarang keadaan nya sudah membaik, dokter menyarankan supaya Zion istirahat yang cukup.
Namun Zion memikirkan keadaan zakira, dia pun memaksakan diri untuk pergi menemui zakira di rumah nya yang baru.
" Kemana dia ?" Ujar Zion mendapati zakira belum kembali, dia pun menunggu zakira di dalam mobil nya.
Beberapa menit kemudian terlihat zakira turun dari sebuah taksi, Zion segera menghampirinya membuat zakira kaget melihat keberadaan Zion di hadapan nya sekarang.
" Kamu dari mana ?" Tanya Zion
" Sejak kapan kamu disini ?" zakira bertanya balik.
" Itu tidak penting kamu dari mana ? Gimana kondisi mu ? Apa perutmu masih mual ?" Zion menunjukan perhatiannya kepada zakira.
" Kepalaku pusing, aku mau istirahat sebaiknya kamu pulang saja," suruh zakira seraya berlalu melewati Zion.
" Tidak, aku masih mau disini," Zion mengikuti zakira.
Zakira langsung menghentikan langkah nya lalu menoleh ke arah Zion dengan tatapan dingin nya.
" Sudah jangan terlalu keras kepala, aku tahu kamu sekarang sedang butuh teman pasti berat menghadapi semua nya sendirian," ujar Zion, zakira langsung terdiam karena kali ini ucapan zion ada benar nya.
Dia tidak mau munafik bahwa sebenarnya dirinya memang membutuhkan seseorang untuk berada disisinya sekarang.
" Sepertinya aku benar, tunggu dulu aku membawakan sesuatu untuk kamu," Zion membawakan sebuah cake dan beberapa makanan bernutrisi tinggi untuk zakira.
zakira pun membiarkan Zion untuk masuk ke rumah nya.
" Kamu sudah kedokter ?" Tanya zakira.
" Sudah, sekarang lukanya sudah tidak terlalu sakit," Zion membukakan kemasan kueh yang tadi dia bawa lalu mempersilahkan zakira untuk memakan nya.
Zakira mencoba beberapa suap tapi tiba tiba perutnya mual lagi, alhasil semua makanan yang baru dia makan keluar lagi semuanya.
" Perutku sakit," keluh zakira, Zion menjadi seperti suami yang siaga, dia segera membantu zakira berjalan keluar dari toilet lalu membalurkan minyak angin ke perut zakira seraya mengelus elus nya lembut.
" Sudah baikan ?" Zakira mengangguk pelan.
" Apa punggung mu sakit juga ?" Zakira mengangguk, lalu Zion dengan lembut nya memijat punggung zakira.
" Aku mau tidur," ujar zakira.
" Tidurlah di pangkuan ku," tanpa banyak protes zakira membaringkan kepalanya di pangkuan Zion, Zion terus mengelus lembut rambut zakira hingga zakira tertidur lelap.
Zion seperti membalas perlakukan zakira kemarin yang mengurusnya dengan penuh perhatian, tapi Zion melakukan nya karena dia memang mau melakukan nya.
Zion tersenyum bahagia melihat zakira kini mau menerima perhatian nya lagi, Zion menyelipkan rambut zakira yang tergerai ketelinganya hingga wajah zakira terlihat jelas dan begitu dekat.
Zion mengelus pipinya dengan lembut seakan ingin memastikan bahwa yang terjadi sekarang adalah kenyataan.
****
Setelah beberapa saat terlelap zakira pun terbangun, namun Zion sudah tidak ada di sana. Entah karena kesepian atau memang zakira menginginkan zion berada disana menemaninya sekarang, zakira tiba tiba merasa sedih karena Zion sudah pulang.
Tapi tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil datang, Zakira segera memeriksanya dan seperti yang di harapkan nya, itu adalah mobil Zion dia tidak pulang dia hanya pergi ke apotek.
" Kamu sudah bangun ? Bagaimana perasaan mu sekarang ?" Tanya Zion seraya menghampiri zakira yang tengah berdiri di depan jendela.
Matanya terlihat berkaca kaca.
" apa Perut mu sakit lagi ?" Tanya Zion lagi, lalu zakira memalingkan mukanya dari Zion.
" Aku tadi membeli beberapa obat, kamu minum yah, " Zion memberikan beberapa obat kepada zakira, tapi zakira masih memalingkan wajah nya seraya menahan air matanya yang hampir keluar.
" Zakira ? Kamu kenapa?" Tanya Zion pelan, tiba tiba zakira menangis membuat Zion kaget dan bingung.
" Kau tak mau aku disini ? Baiklah aku akan pergi tapi kamu jangan menangis, aku akan pergi sekarang, ok" ujar Zion merasa bersalah.
Tapi zakira malah menarik baju Zion seraya menatap nya seakan memohon supaya Zion tidak pergi, Zion menatapnya dengan tatapan sayup lalu segera memeluk zakira.
" Kamu mau aku tetap disini ?" Tanya Zion, zakira pun mengangguk, seketika hati zion langsung merasa senang, karena dia menganggap zakira sedang memberi nya kesempatan lagi.
" baiklah, aku akan menemanimu ," ucap Zion sambil terus memeluk hangat badan zakira yang masih terisak.
****
Sedangkan Zidan masih gelisah soal tadi siang, dia pun memberanikan diri mendatangi dokter yang telah memeriksa zakira tadi.
Tanpa ragu Zidan langsung menanyakan perihal zakira, dokter itu tidak bisa memberitahu nya karena itu informasi pribadi pasien.
" Aku pacarnya, dia hamil anak ku, " ujar Zidan tanpa ragu, tentu saja hal itu langsung membuat si dokter tercengang.
" Kau bercanda ," ujar si dokter kandungan tidak percaya.
" Aku serius, nama nya zakira aku sudah berpacaran dengan dia hampir 2 bulan, dan waktu itu aku kehilangan kendali ku, semuanya masuk akal kan aku seorang pria normal, " ujar Zidan.
Si dokter kandungan masih kaget tapi dia bisa memakluminya.
" Aku mengerti, dia cantik dan punya badan yang seksi pasti sulit menahan nya, " ucap si dokter.
" Jadi, beritahu aku bagaimana kondisinya," Zidan terus mendesak dokter itu untuk memberitahu rekam medis milik zakira.
" Baiklah calon ayah, tapi sepertinya dia tidak menginginkan bayi mu ini ," si dokter mencari sebuah dokumen di beberapa tumpukan kertas di hadapan nya.
" apa ? maksudmu dia mau melakukan aborsi ?" Zidan terlihat sangat kaget mendengar hal itu.
" kehamilan pacar mu baru 2 Minggu tapi dia memaksa ingin segera menggugurkan nya,"
" Lalu apa yang kamu bilang padanya,"
" Aku bilang, keadaan janin dan ibunya sehat aku menyarankan dia untuk memikirkan nya lagi,"
" Lalu apa jawaban dia ?"
" Dia tetap ingin menggugurkan kandungan nya "
" Kau bertanya alasan nya kenapa ?"
" Tentu saja, dia bilang hidupnya sudah sangat berat dia tidak akan bisa merawat bayi nya, dia bilang dia akan merasa sangat kasian jika bayi itu harus lahir ke dunia yang kejam ini, begitu katanya,"
" ya ampun zakira ," Zion mengusap rambut nya kasar.
" Lalu kau akan melakukan operasi itu ?" si dokter mengangguk.
" Dia akan segera menandatangi surat kesepakatan nya bersama walinya, kau tidak tahu ? apa kau benar pacarnya ?"
Zidan langsung tertegun, dia pikir zakira akan meminta Zion sebagai wali nya karena tidak mungkin Zahir di beritahu tentang kehamilan nya itu.
Zidan segera bergegas pergi untuk mencari keberadaan Zahir guna menanyakan tempat tinggal kakak nya sekarang.
Namun Zahir ternyata sedang marah kepada Zidan karena Zidan sama dengan pria lain nya yang telah membuat kakak nya menangis.
Zidan mencoba meminta maaf dan menjelaskan keadaan nya waktu itu, tapi Zahir menolak mentah mentah permintaan maaf Zidan, lalu memutus telepon begitu saja.
Zidan di buat frustasi karena itu, akhirnya Zidan mangalah dia kembali ke rumah nya dengan kekecewaan di hatinya.
" Harus nya aku bisa menjaganya lebih baik," Zidan jadi menyalah kan dirinya sendiri.
" Seharusnya aku bisa membelanya di hadapan ibu ku waktu itu, seharus nya aku bisa membuat ibu ku tidak merendahkan nya " lanjut nya mulai terisak.
" seharusnya aku bisa mencegah dia pergi waktu itu, dasar bodoh !" Zidan mencela dirinya sendiri.
****
" Kau membuat ku bingung, sekarang kau memperlakukan ku seakan aku adalah seorang putri lalu setelah itu kau akan membuat ku sangat membencimu, sebenar nya apa mau mu," tanya zakira dengan suara yang masih serak.
Zion menatap serius wajah zakira.
" Aku ingin terus memperlakukan mu layaknya seorang putri tapi keadaan selalu memaksaku untuk berbuat hal buruk, aku minta maaf untuk segalanya, sekarang aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjamin bisa terus membuat mu bahagia tapi aku akan selalu berusaha menjadi pria baik, jadi tolong aku minta kamu memaklumi keadaan ku ," ujar nya.
" Aku tidak bisa memaklumi mu kalau kau membuat ku harus bertaruh nyawa lagi," Zion terdiam cukup lama mendengar ucapan zakira itu.
" Zakira ? Pernahkan kamu bertanya tentang kenapa kita lahir di dunia yang menyedihkan ini ?"
" Aku selalu mempertanyakan setiap hari, terkadang aku menyesal telah lahir dan hidup lama di dunia ini, tapi pada kenyataan aku selalu takut mati dan pada akhirnya aku harus kembali menjalani semua realita pahit dalam hidup ku ini , "
" Kau benar, tapi akan selalu ada alasan yang membuat kita bertahan di dunia ini, " Zion kembali menatap zakira dengan mata sayup.
" Kenapa kamu melihat ku seperti itu ?"
" Kau menjadi satu satunya bukti kalau Tuhan masih menyayangi ku," ucap Zion membuat zakira tertegun.
Zion pun mengecup lembut bibir zakira.
" Kamu adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki, zakira,"
" Kau harus mengganti perban mu " tidak mau terbuai zakira mengalihkan pembicaraan.
Sekarang semakin jelas bahwa sebenarnya zakira masih memiliki rasa kepada Zion di balik semua kebencian nya dulu, namun Zidan juga masih bertahta kuat di hatinya.