The Rose

The Rose
perpisahan yang tak terduga



Malam semakin larut, namun zion masih belum ingin pergi dari tempat itu, zakira terus memperhatikan zion yang terlihat sangat gelisah, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat baginya.


" Zakira ? Boleh minta nomor telepon zidan ?" Ujar zion pelan, zakira bingung kenapa zion tiba tiba membutuhkan nomor telepon zidan.


" Kenapa tiba tiba ?" Tanya zakira penasaran.


" Aku hanya perlu bicara hal yang penting dengan dia," jawab zion.


" Kita bisa menemuinya sekarang, kita harus segera pergi dari sini, " saran zakira masuk akal, tapi zion malah terlihat bingung.


Seperti ingin menjelaskan sesuatu tapi sulit untuk mengucap kan nya, zakira pun memberikan nomor zidan kepada zion tanpa banyak bertanya lagi.


Zakira masih terus memperhatikan zion yang sedang bicara dengan zidan lewat telepon di luar mobil.


Percakapan nya terlihat singkat, tapi membuat zakira jadi penasaran dengan apa yang mereka bincang kan.


****


Zion kembali masuk ke dalam mobil dan mulai terlihat santai sekarang.


Zion masih belum menghidupkan mesin mobil nya membuat Zakira heran dengan apa yang akan di lakukan nya.


Zion malah mengajak zakira berbincang santai tentang kesukaan dan hobinya, sampai membuat zakira mengantuk, menyadari hal itu zion pun menyuruh zakira untuk tidur di jok belakang.


" Kenapa kita tidak pulang saja ?" Tanya zakira, zion hanya tersenyum tapi zakira menatap nya curiga hingga mendesak Zion untuk mengatakan yang sebenarnya ingin dia lakukan.


" aku ... aku masih ada urusan, jadi tunggu sebentar lagi, yah," ucap Zion meyakinkan zakira bahwa dia tidak akan melakukan hal yang buruk lagi.


" Aku akan menyalakan musik, kamu tidur lah nanti aku kasih tahu yang sebenar nya, " ucap zion seraya menyelimuti zakira dengan jas yang di pakainya.


Karena sangat mengantuk zakira langsung tidur lelap walaupun agak tidak nyaman tidur di dalam mobil.


Wangi parfum yang khas di jas zion seakan merelaksasi suasana hati Zakira yang sejak tadi siang terasa tak karuan.


****


Zion nampak sedang menunggu seseorang datang sambil berdiri bersandar ke body mobil,


Setelah hampir 2 jam zidan datang ke lokasi mereka berada.


Ternyata orang yang sejak tadi zion tunggu adalah zidan, setelah melihat mobil zidan datang zion segera bergegas menghampirinya.


" Kenapa kalian berakhir disini ?" tanya Zidan penasaran.


" Shut !" zion mengisyaratkan kepada zidan supaya jangan berbicara keras karas, saat zidan melihat zakira tengah tertidur lelap dia langsung menutup mulutnya.


" Kita bicara di sana ," zion mengajak zidan berbicara agak jauh dari zakira, supaya zakira tidak mendengar pembicaraan mereka yang terlihat sangat penting.


" Kenapa kau tidak mengantarkan zakira pulang? Apa yang sebenar nya terjadi ?" Tanya zidan, zion menceritakan apa yang terjadi sebenar nya hingga dia dan zakira berakhir di sana.


Mendengar zakira kembali terseret ke dalam masalah zion, tentu saja membuat Zidan marah.


" Itu sebab nya sekarang aku tidak berani mengantar dia pulang, aku takut mereka masih memburuku dan kembali membawa zakira ke dalam bahaya ,"


" yaudah aku akan mengantarnya pulang sekarang ," Zidan pergi dari hadapan Zion, namun Zion menahan nya.


" tunggu dulu, aku masih mau mengatakan hal penting lain,"


" hal penting apa lagi yang mau kau bicarakan sekarang, " ucap zidan seraya bertolak pinggang.


Zion terdiam sejenak seraya menghela nafas panjang.


" Aku ... akan mengalah sekarang !" Ucap zion ragu ragu, zidan menatap nya bingung.


" Aku akan melepaskan zakira mulai sekarang, aku merasa aku memang tidak akan bisa menjaganya, meski aku berusaha keras ," zion mencoba melanjut kan ucapan nya walau pun dadanya mulai terasa sesak.


" Aku memang akan membawa nya tanpa kau suruh," ucap zidan.


" Aku tahu, tapi aku hanya ingin memastikan bahwa aku sudah siap untuk melepasnya, tapi ternyata ini sangat sulit walaupun aku berusaha keras untuk mengikhlaskannya , tapi ternyata rela tak semudah kelihatan nya," ujar Zion mencoba tegar.


" Jangan khawatir aku akan menjaga nya dan aku akan memastikan dia menjadi wanita paling bahagia di dunia ini,"


Zion nampak mulai menangis, zidan menatap nya dengan tatapan nanar.


" Aku tidak akan melepaskan nya kalau untuk laki laki lain, tapi dia mencintaimu aku tidak bisa berbuat apa apa lagi dalam situasi ku yang seperti ini ," zion mencoba menguatkan dirinya.


" Aku akan lepaskan dia untuk mu, aku tidak akan menganggu kalian lagi, hidup lah bahagia kau dan dia "


" Aku akan kembali kedunia ku yang kejam dan akan aku pastikan tidak akan bertemu lagi dengan zakira, dimana pun dia berada ,"


Zidan terdiam mendengar zion berkata dengan sungguh sungguh.


" Satu hal lagi, jika anak yang zakira lahir kan nanti anak ku aku mohon tetap sayangi dan jaga dia tapi kalau dia anak mu aku turut bahagia ,"


Setelah obrolan yang panjang, Zion meminta ijin kepada zidan untuk berpamitan untuk yang terakhir kalinya kepada zakira.


" Zakira ?" Zion membangunkan zakira yang masih tidur lelap.


" Maaf kan aku, aku membangunkan mu ," zion membantu zakira bangun.


" Ada apa ? Kita sudah sampai ?" Tanya zakira seraya mengumpulkan nyawa nya.


" Tidak kita belum pergi, tapi aku mau bilang sesuatu," ucap zion seraya menatap sayup wajah zakira, lalu dia meraih tangan zakira.


" Kenapa ?" Tanya zakira pelan.


" Aku minta maaf selama ini aku hanya memberi luka dan kenangan buruk untuk mu ," ucap zion, Zakira mengerutkan kening nya.


" Begini, sekarang kamu bisa pergi bersama zidan aku tidak akan mengganggu kalian lagi, aku akan keluar dari kehidupan mu,"


" Maksud kamu apa ?"


" Aku harus pergi zakira, maaf ternyata aku tidak bisa membawa mu pergi ke tempat yang hanya ada kita saja," mata zakira mulai berkaca kaca.


" Zidan laki laki yang baik, dia pasti bisa merubah hidup mu menjadi baik juga, kamu pun mencintainya, kan ? Mulai sekarang kamu bisa berbahagia bersama nya ,"zion mengelus lembut rambut zakira.


" Gimana dengan kamu ?" Tanya zakira dengan suara lirih.


" Aku akan ikut bahagia untuk mu,"


" Kamu mau pergi kemana, apa kita bisa bertemu lagi ?"


" Mungkin ketempat yang sangat jauh, nanti kita ketemu lagi kalau waktu mengijinkan nya ,"


Zakira jadi sedih karena saat ini adalah malam perpisahan nya dengan Zion, dan entah mereka akan bertemu lagi atau tidak.


" Aku pamit yah, jadilah bunga mawar yang indah dan tumbuh di taman yang indah juga, terima kasih kamu sudah hadir di hidupku yang kelam ini, aku tidak akan pernah melupakan mu ," zion memeluk zakira dengan erat.


Air mata zakira akhirnya jatuh lagi membasahi pundak zion.


" Anak mu pasti bangga punya ibu sepertimu, karena ibu nya adalah wanita yang kuat, hebat dan juga sangat cantik ," zion mengelus lembut perut zakira sambil tersenyum walaupun sebenarnya dia sangat ingin menangis.


Zion pun berdiri dan menyuruh zidan segera membawa zakira pulang.


" Kamu tidak apa apa ?" Tanya zidan seraya membantu zakira berdiri, zakira mengangguk pelan sambil masih terisak.


" Kita pergi sekarang," ujar zidan kepada zion sambil menggenggam tangan zakira.


" Pergilah, aku merestui kalian berdua ," ucap zion mencoba tegar.


" Terima kasih ," zidan pun membawa zakira pergi, zakira menoleh kembali ke belakang, zion melambaikan tangan seraya tersenyum lebar melepas kepergian zakira dari hidup nya.


Zion tak menyangka bahwa malam ini menjadi malam perpisahan yang tidak dinginkan nya, namun demi kebaikan orang yang di kasihnya dia rela melepaskan nya untuk pergi bersama orang lain.


Mobil zidan perlahan pergi menjauh hingga hanya terlihat lampu sein nya saja dan akhirnya menghilang di kegelapan malam.


Saat itu juga zion langsung melepaskan tangis yang sejak tadi dia tahan, dadanya terasa sangat sakit hingga hampir membuat nya kehilangan pijakan nya.


" Apa dia akan baik baik saja ?" Tanya zakira merasa kehilangan.


" Tentu saja, jangan mengkhawatirkan nya dia sudah terbiasa sendirian," ujar zidan.


Sementara zion masih berusaha tegar, kini dia duduk di atas aspal seraya bersandar ke body mobil nya.


Terlihat matahari mulai terbit, menyilaukan matanya yang sembab, seolah memberitahu zion bahwa kehidupan masih berjalan meskipun tanpa ada zakira di hidupnya sekarang.


Zion segera berdiri dan mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gas dan mulai melesat di jalanan yang mulai kembali ramai.


Zion yang dingin dan berhati keras benar benar kembali, dia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi jatuh cinta kepada siapapun.


Cukup sekali saja dia merasakan berat nya melepas orang yang di cintai nya.


" Cinta ? Aku akan menghapus nya dari kamus hidup ku !" Gumam nya seraya terus mengacu mobil nya dengan sangat cepat.