The Rose

The Rose
ragu



Ke esokan harinya, anak buah ayah Zion masih belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan bos mereka.


Bahkan setelah mereka mencari keseluruh tempat yang sering ayah Zion datangi mereka tidak menemukannya.


Hingga anak buah yang lain menemukan jasad 4 pengawal bos nya telah tewas, membuat rekan yang lain mencurigai Zion.


Anak buah ayah Zion memang terbilang royal kepada bos mereka, jadi mereka akan melakukan apa saja demi bos nya.


Ada sekitar sepuluh orang berbadan tegap dan sangar mendangi rumah Zion di pagi hari. Mereka langsung mengintrogasi Zion mengenai penemuan jasad 4 teman mereka.


Dengan wajah tanpa dosa Zion bilang tidak tahu menahu tentang mereka. Karena tuduhan nya tidak kuat dan tidak ada bukti juga akhirnya rombongan preman itu pergi tanpa hasil lagi.


" Jika terjadi sesuatu kepada bos kita, kita tidak akan segan menghabisi mu !" Ancam ketua gang lalu berlalu pergi, Zion hanya menatap nya dingin lalu tersenyum smirk.


****


Sementara Zidan tengah bimbang apa dia harus melaporkan perbuatan Zion ke polisi ? Tapi yang membuat nya bingung dia takut zakira akan terseret ke dalam masalah zion itu.


" Ini bukan masalah sepele, bagaimana ini ?" Gumam zidan seraya mengendarai mobil nya. Tanpa sadar dia berhenti di depan rumah zakira.


Zidan melihat zakira dari balik jendela tengah menyiapkan sarapan untuk adiknya, membuat nya tersenyum sendirian.


" Melihat nya dari kejauhan saja sudah membuat mood ku membaik !" Gumam nya lalu dia melanjutkan perjalanannya ke tempat kerja.


****


Siang ini Zion berencana mengajak zakira untuk melanjutkan pergi ke tempat tempat yang ingin zakira datangi di dalam daftar keinginannya.


" Entahlah Zion, tapi untuk sekarang aku tidak mau pergi kemana mana ." Ujar zakira


" Kenapa ? Kau masih takut ,?" Tanya Zion


Zakira tidak menjawab nya, karena itu benar zakira merasa gelisah karena saat dia berada di dekat Zion, selalu terjadi hal buruk kepadanya .


Namun zakira tidak bisa mengatakan yang sejujurnya karena takut Zion tersinggung dan marah.


" Aku akan menjaga mu ! Aku janji, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu ," Ujar Zion dengan keyakinan penuh.


Zakira menatap wajah Zion dengan seksama, entah apa yang dia rasakan kepada Zion sebenar nya, mungkin waktu itu dia terlalu cepat memaknai rasa nya terhadap Zion.


Karena sekarang zakira merasakan adanya keraguan di dalam hatinya, dia merasa belum bisa percaya sepenuh nya kepada Zion atau mungkin hati nya telah berpaling ?


" Aku memang munafik !" Benak zakira


" Kenapa kau menatap ku seperti itu ?" Tanya Zion, zakira langsung memalingkan wajah nya.


Tapi Zion menarik pelan dagu zakira, membuat zakira kembali menatap nya lagi.


" Jangan paling kan pandangan mu dari ku, aku menyukai tatapan mata indah mu itu ," ucap Zion lalu mencium bibir zakira.


Sedang asik berciuman tiba tiba suara ponsel zakira menganggu suasana. Zion pun melepaskan kecupannya lalu zakira meraih ponsel nya.


" Siapa itu !" Zion kepo melihat siapa yang menelpon zakira, saat dia melihat nama Zidan tertera di layar ponsel zakira seketika raut wajah nya berubah.


Takut Zion marah, zakira menolak panggilan dari Zidan itu, sekarang Zion menatap sayup ke arah zakira.


" Maaf mungkin dia hanya menanyakan kesehatan ku ," zakira jadi gugup karena takut Zion marah.


" Kau mau pergi ?" Tanya Zion mengalihkan pembicaraan.


Melihat kondisinya Zion yang mungkin jadi bad mood, zakira pun terpaksa mengiyakan ajakan nya supaya Zion tidak kesal.


" Baik ayo pergi sekarang" Zion menarik lengan zakira untuk segera pergi.


" Tunggu, aku belum berganti pakaian !" Ujar zakira


" Gak perlu, nanti kita beli baju baru ," jawab Zion sambil membukakan pintu mobil untuk zakira.


Zakira pun pasrah dengan kemauan zion yang keras kepala itu dan tidak mau menerima kritik dan saran.


****


Setelah satu jam perjalanan, zakira merasa mereka pergi terlalu jauh, zakira jadi merasa gelisah.


" Kita mau pergi kemana ,?" Tanya zakira hati hati.


" Kita akan pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang akan mengganggu kita " jawab Zion santai.


" Tapi ini terlalu jauh ."


" Tapi aku menyukai nya " ucap Zion cepat, seketika zakira langsung terdiam mendengar ucapan Zion yang sedikit di tekan kan.


" Matikan ponsel mu !" Suruh Zion


" Ke-kenapa ?"


" Aku tidak mau ada yang mengganggu seperti tadi, cepat matikan !" Zakira pun menurutinya, kini perasaan nya semakin gelisah.


Zakira takut Zion melakukan hal yang buruk lagi terhadap nya, terlebih sekarang Zion melajukan mobil nya dengan sangat cepat dan wajah nya yang menjadi ketus membuat zakira tidak nyaman.


Setelah beberapa jam perjalan, merekapun sampai di sebuah vila dekat pantai. Zion mengajak zakira untuk keluar.


" Ki-ta dimana ?" Tanya zakira


" Ini vila ku, agak jauh memang tapi aku suka disini " jawab Zion.


" Maaf aku pasti membuat mu takut tadi ." Ujar Zion merasa bersalah, lalu Zion mengelus lembut rambut zakira


" Aku tahu kamu masih meragukan ku," ucap Zion tiba tiba membuat zakira tercengang.


" Apa sejelas itu ?" Tanya zakira pelan.


" Tidak, aku hanya merasakan nya ." Lalu Zion memeluk zakira.


" Maaf kan aku " ucap zakira lirih


" Tidak apa apa, ayo kita lakukan nya bertahap " Zion semakin mengeratkan pelukannya.


****


Zion mengajak zakira untuk bermain di pinggir pantai sambil melihat sunset.


untuk sementara zakira menghilangkan semua keraguan nya, hari ini dia akan mencoba menikmati harinya bersama Zion yang masih berjuang untuk menjadi pria baik untuk nya.


Zion nampak terlihat bebas meski dia telah melakukan hal buruk, untuk kali pertama dia bisa tertawa bebas dan menikmati hidup nya.


" Aaaah !" Teriak Zion dari atas tebing, itu sangat menyenangkan baginya untuk melepaskan semua beban di hatinya.


" Cobalah, ini sangat melegakan !" Ujar Zion, lalu zakira ikut berteriak sekencang-kencangnya.


Dan benar saja perasaan nya menjadi lebih baik.


" Lihat ! Mataharinya akan tenggelam " seru zakira


" Kau menyukainya ?" Tanya Zion seraya menatap hangat zakira yang sedang tersenyum ceria.


Zakira mengangguk, lalu dia menoleh ke arah Zion yang tengah memandanginya, kedua nya saling memberikan senyum manis.


Suasana semakin romantis kala matahari mulai tenggelam bersamaan dengan saling bertemu nya bibir zakira dan Zion menambah kehangatan di sore yang hangat itu.


****


Sementara itu Zahir yang baru pulang sekolah kebingungan mencari kakak nya yang tidak ada di rumah, bahkan handphone nya pun tidak bisa di hubungi.


Melihat ada gelas di atas meja Zahir tahu bahwa ada seseorang yang telah berkunjung ke rumah mereka.


Zahir mencoba menelpon Zidan, berharap kakak nya bersama nya tapi Zidan pun malah ikut terkejut mendengar zakira tidak ada di rumah.


Zidan dan Zahir pun mencari ke seluruh tempat yang mungkin zakira datangi termasuk ke rumah Zion, namun sayang nya mereka tidak menemukannya.


Zidan melihat mobil Zion tidak ada di garasi, mendorong nya untuk berpikir bahwa Zion pergi bersama zakira.


Zidan mencoba menghubungi nya namun ponsel nya tidak aktif membuat mereka berdua frustasi.


" Sekarang gimana ?" Tanya Zahir khawatir


" Kita coba tunggu sampai tengah malam, kalau mereka belum juga pulang kita cari bantuan " ujar Zidan.


Sedang zakira dan Zion sekarang telah kembali ke dalam vila.


" Kita pulang sekarang ,?" Tanya zakira.


" Tidak, kita akan menginap ,"


" a-apa ? Kalau begitu aku harus mengabari adik ku dia mungkin sedang mencari ku sekarang" ujar zakira meminta ijin supaya dia di perbolehkan mengaktifkan ponselnya.


" Aku sudah mengabari Zidan, dia akan memberitahu adik mu ," ujar Zion berbohong padahal dia tidak memberi kabar kepada siapapun.


" Benarkah .?"


" Iyah, kamu tidak perlu khawatir sekarang kita nikmati makan malam romantis kita," Zion menggenggam tangan zakira dan membawa nya ke dalam sebuah restoran.


Setelah makan malam selesai, Zion tiba tiba berlutut dan memberikan zakira sebuah cincin membuat zakira terkejut.


" a-apa maksud nya ini ?" Tanya zakira gelagapan


" Aku mau memanfaat kan momen, aku melamar mu sekarang ," tanpa bertanya mau atau tidak Zion memasangkan cincin itu di jari manis zakira.


" Ini seperti pemaksaan ," ujar zakira.


" Aku harus memaksa, karena cincin ini menjadi bukti kalau aku tidak main main, dan aku harap kamu bisa segera yakin dengan perasaan ku,"


Zakira tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Zion sekarang .


" Jangan melepas nya, aku serius soal itu! " tukas Zion, zakira menghela nafas panjang, dia harus kembali pasrah dengan ego Zion yang selalu mengutamakan keinginan nya.