
Zidan benar benar tidak main main dengan perkataannya, sekarang dia sedang menuju ke rumah kedua orang tuanya untuk menemui mereka secara khusus guna meminta ijin dan restu dari mereka.
Namun saat baru saja masuk ke dalam rumah, Zidan langsung di sambut dengan tamparan keras dari sang ibu, biasanya sang ibu selalu menyambut hangat kepulangan nya namun berbeda dengan sekarang.
Bahkan senyum pun nampak tak ada, hanya raut wajah marah sambil menatap tajam ke arah nya.
" Zee sudah memberitahu mamah ? " Ucap Zidan bereaksi datar.
" Kau mau membuat malu keluarga ini, hah ? Suruh dia aborsi ! Jangan buat semua nya makin runyam," ucap ibu Zidan dengan nada tinggi.
" Tidak mah, aku akan bertanggung jawab, aku dan zakira akan membesarkan bayi nga ," Zidan mencoba memberi pengertian kepada sang ibu.
" Apa ? bertanggung jawab ? Tidak tidak mamah tidak akan pernah mau punya menantu rendahan seperti dia, apa jadi nya nanti cucu mamah !"
" Dia anak ku juga mamah, lagi pula zakira bukan wanita rendahan seperti yang mamah pikirkan ,"
" Diam kamu ! Mamah sudah tahu semuanya, mamah juga tidak habis pikir sama kamu bisa bisa nya kamu tidur dengan wanita seperti itu,apa dia menggoda mu atau seleramu memang serendah itu, hah ?
" Berhenti menghina nya, mah ! Jangan sampai aku jadi anak pembangkang karena sikap angkuh mamah ini !" Zidan mulai menaikan nada bicaranya.
Dari atas tangga terdengar suara langkah kaki, Zidan pun menoleh ke arah tangga ternyata itu adalah ayah nya Zidan yang sudah bersiap untuk memberi peringatan juga kepada Zidan.
" Ikut papah!" Suruh nya dingin, zidan pun langsung menurutinya.
" Beritahu dia kalau kelakuan nya itu tidak bisa di terima di keluarga kita, pah !" Ujar ibu Zidan dengan suara lantang.
" Diam kamu, kau sangat berisik !" Jawab ayah Zidan ketus, ibu Zidan pun langsung mingkem.
Zidan mengikuti langkah ayah nya berjalan menuju ke ruang kerja sang ayah, lalu ayah nya duduk sambil menyilangkan kaki nya, sedang Zidan masih berdiri.
" Duduk lah !" Titah sang ayah tegas dengan wajah yang datar.
Ayah Zidan memang memiliki kepribadian yang dingin dan penuh ketegasan kepada siapapun termasuk anak nya Zidan, dia tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun, sehingga sekarang Zidan sebenar nya sedang merasa gelisah dan takut kalau ayah nya akan menghajarnya.
Zidan duduk dengan perlahan seraya menahan kaki dan tangan nya supaya tidak bergetar.
" Apa semua yang aku dengar itu benar ?" Tanya sang ayah seraya menatap Zidan serius, Zidan hanya mengangguk sambil menunduk.
" Angkat kepalamu dan bicara yang benar !" Bentak ayah Zidan membuat Zidan tersentak dan segera mengangkat kepalanya.
" Iyah pah, semuanya benar aku telah melakukan nya dan sekarang dia sedang hamil satu bulan," ucap Zidan dengan suara lantang dan tegas juga mencoba untuk bersikap tenang.
Sang ayah kembali diam seraya menghela nafas panjang.
" Aku datang ingin meminta restu ayah, aku akan menikahi dia ," Zidan memberanikan diri menatap wajah ayah nya dengan serius dan penuh keyakinan.
Ayah Zion masih diam dan tak bereaksi apapun, dia menyenderkan punggungnya ke kursi.
" Siapa nama wanita itu ?"
" Zakira ," jawab Zidan cepat.
" Ceritakan tentang latar belakang nya dan bagaimana kau bisa bertemu dengan dia ," titah sang ayah
" Dia gadis biasa yang hidup sebatang kara hanya bersama adik laki lakinya, ibu dan ayah nya masih hidup tapi mereka meninggal kan mereka begitu saja, dia sekolah hanya sampai SMA terus dia bekerja serabutan untuk membiayai adiknya sekolah,"
Zidan terdiam sejenak sambil melihat reaksi sang ayah, ayah nya menyuruh Zidan untuk melanjutkan ceritanya.
" Aku bertemu dia tidak sengaja waktu itu, aku berniat menolong nya tapi setelah itu kita selalu bertemu dan selalu tanpa sengaja juga, lalu tiba tiba Zidan merasa menyukai nya pah, semua nya terjadi begitu saja hingga tidak sadar aku telah melakukan nya, dan aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya segera ," jelas Zidan.
" Berapa usianya ?"
" Dia baru berumur ... 21 tahun ," jawab Zidan ragu.
Ayah nya kembali terdiam dan kembali menghela nafas panjang.
" Dasar bejad !! Kau menghamili gadis semuda itu, kalau kau mau melakukannya setidak nya cari yang lebih dewasa !" Bentak ayah Zidan.
" Maaf kan aku, aku benar benar tidak bisa mengendalikan nafsu ku waktu itu ," Zidan bersimpu di hadapan sang ayah mengakui bahwa perbuatan nya memang tercela.
Ayah Zidan kembali menenang kan dirinya, supaya tidak tersulut emosi.
" Kau sudah dewasa harus nya kau bisa mengendalikan nafsu mu, tapi sekarang semuanya telah terlanjur, bawa dia menghadap papah besok !" Ucap sang ayah dengan nada rendah namun tegas.
" Baik, papah ,"
Ayah Zidan menyuruh Zidan untuk pergi dari ruangan nya segera, Zidan merasa lega karena sepertinya sang ayah akan memberinya ijin untuk menikahi zakira.
tapi Zidan masih memiliki kegelisahan takut kalau ayah nya tahu pekerjaan zakira dulu, mungkin ayah nya akan benar benar mengamuk nanti dan tidak jadi memberi kan restunya.
****
Zidan telah sampai kembali ke rumah nya, Zidan melihat zakira tengah menyiapkan makan malam untuk nya.
" Sebaik nya kamu istirahat dulu," titah Zidan seraya membantu zakira menyiapkan makanan.
" Aku sudah merasa baik sekarang,"
" Ya udah kita makan sama sama yah ," Zidan menarik satu kursi dan mempersilahkan zakira untuk duduk, zakira membalasnya dengan senyuman manis di bibir nya membuat Zidan ikut tersenyum.
Zidan ikut duduk di samping zakira dan segera menikmati makanan hasil masakan zakira, tapi baru beberapa suap zakira kembali merasa mual, alhasil dia kehilangan nafsu makan nya lagi.
" Kamu sabar yah, ini hanya sementara kok, mungkin kalau usia kehamilan nya sudah tiga bulan mual mual nya sudah hilang ," ucap Zidan seraya memandang zakira dengan tatapan nanar, zakira mengangkuk seraya mengambil segelas air di hadapan nya.
" Maaf kan aku, aku pasti membuat mu tidak nyaman ,"
" Sudah cukup, nanti malah keluar lagi ," zakira pun hanya melihat Zidan makan dengan lahap nya, nampak sudah seperti pasangan suami istri.
Makan malam sudah beres zakira dan Zidan kompak membereskan dan membersihkan bekas makanan mereka.
" Biar aku saja, kamu sekarang istirahatlah gih !" Suruh Zidan seraya merebut pelan piring yang hendak zakira cuci.
" Baiklah, aku tunggu kamu di depan, aku mau mendengar cerita pertemuan kamu dengan ayah mu tadi," zakira melirik Zidan dengan mata yang berbinar.
" Iyah ... Sayang ," jawab Zidan mesra sambil tersenyum, zakira langsung tersenyum salting mendengar ucapan sayang yang terdengar begitu lembut itu.
****
Zidan telah selesai mencuci piring dan segera berjalan menuju zakira, yang terlihat sedang menjawab telepon dengan wajah bingung.
" Siapa ?" Tanya Zidan pelan.
" Zahir ," jawab zakira pelan juga, lalu Zidan meminta zakira untuk memberikan ponsel nya.
Zakira pun memberikan nya, lalu Zidan memberitahu Zahir bahwa kakak nya sekarang sedang berada di rumah nya dan menyuruh Zahir untuk datang.
" Apa yang kamu lakukan," protes zakira.
" Dia harus segera tahu kalau kamu sedang hamil, lagian dia berhak tahu dia akan jadi wali nikah mu nanti ," jawab Zidan.
" Tapi gimana kalau dia marah atau syok ?"
" Itu pasti, dia pasti akan memukul ku ," ujar Zidan pasrah.
" Jangan sampai dia memukul mu, nanti kalau dia datang kamu kabur ajah yah," ucap zakira polos dan terlihat khawatir, Zidan malah tertawa melihat reaksi zakira itu.
" Kok malah ketawa !" Tegur zakira
" Wajah kamu terlihat lucu ," Zidan mencubit pelan pipi zakira.
" Apaan sih, orang serius juga,"
" Iyah Iyah, cantik nya aku ," Zidan memeluk zakira yang sedang cemberut, tapi pujian Zidan itu kembali berhasil membuat zakira salting.
" Oh Iyah, apa kata ayah dan ibu kamu ? Pasti mereka mencelaku ya kan ?" Tanya zakira masih di dalam pelukan zidan.
Zidan merenggangkan pelukan nya lalu menatap wajah zakira.
" Tidak, mereka hanya menasihati ku dengan suara yang lantang," jawab Zidan.
" Itu namanya kamu di marahi," Zidan tertawa kecil.
" Ayo kita duduk dulu ," Zidan menuntun zakira lalu mereka duduk saling berhadapan.
Lalu zakira meminta Zidan untuk bicara yang serius.
" Iyah aku serius sekarang, mamah aku ... Kamu sudah tahu dia tetap keras kepala tapi ayah ku dia ingin bertemu dengan kamu besok ,"
" Hah ? Ketemu ayah kamu ? Aku belum siap, aku takut ayah kamu memarahi ku juga ," ujar zakira sudah bernegatif thinking.
Lalu Zidan menghela nafas panjang
" Aku tidak bisa mengatakan kalau ayah ku baik, karena dia memang cukup menakut kan, tapi aku mau kamu percaya diri di hadapan nya tapi tetap sopan, dia tidak sekasar ibu ku kok ,"
" Tapi bagaimana dengan ibu mu, dia pasti akan menjambak rambutku,"
" Aku tidak akan membiarkan nya," ucap Zidan tapi tiba tiba zakira jadi termenung.
" Kenapa ?" Tanya Zidan seraya mengelus pipi zakira.
" Zidan, sebenar nya aku takut,"
" Takut kenapa ?"
" Aku takut ayah dan ibu mu melarang kita bersama, mereka pasti akan menyuruh ku pergi dari kehidupan kamu, itu pasti ," mata zakira mulai berkaca kaca lagi.
" Hei, ayolah zakira aku sudah berjuang sejauh ini bahkan kalau Iyah ayah dan ibu ku melarang nya aku akan tetap memaksa mereka, aku tidak akan membiarkan mu mengurus anak ku sendirian ,"
" Tapi -"
" Zakira aku mau kita berjuang bersama sama untuk mendapatkan restu kedua orang tua ku, kamu jangan menyerah kalau mereka berkata kasar sama kamu, jangan biarkan mereka terus merendah kan mu ," ujar Zidan memotong
" Bagaimana cara nya Zidan, aku tidak punya apapun bahkan orang tua pun aku tidak punya,"
" Dengan hati kamu zakira, tunjukan kepada mereka kalau kamu punya hati yang tulus dan baik ," zakira langsung tertegun.
" Aku tahu kamu punya hati yang sangat tulus dan baik, itu lebih dari segalanya zakira, itu yang membuat mu berharga dari apapun di dunia ini," zakira mulai meneteskan air mata, lagi dan lagi perkataan Zidan selalu menyentuh hati nya.
" Ayo kita temui kedua orang tua ku besok zakira, kamu mau kan ?" Zakira pun mengangguk.
" Ayo kita hadapi bersama sama," Zidan kembali memeluk zakira dengan sangat erat.
" Aku mencintai mu Zidan, aku sangat mencintai mu, aku sangat bersyukur bertemu dengan pria seperti kamu ," ucap zakira dengan suara lirih.
Zidan tersenyum mendengar zakira mengucapkan kata kata indah itu, lalu Zidan mengecup kening zakira, dia merasakan hal yang sama.
Bahwa zakira adalah bentuk kasih sayang dari Tuhan untuk nya, Zidan mensyukuri apapun kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri zakira setulusnya.