The Rose

The Rose
" pagi yang indah "



Sudah hampir 30 menit zakira mondar mandir di depan pintu, seraya terus memikirkan bagaimana cara dia bisa lepas dari belenggu Zion yang terus menerus menarik ulur dirinya.


Hingga saat Zahir datang pun zakira tidak menyadarinya saking fokus dengan lamunan nya.


" Kakak ? Kenapa kakak berdiri di depan pintu ?" Zahir sudah berada di depan zakira saja.


" Kapan kamu pulang ?" Tanya zakira bingung karena dia tidak tahu kapan Zahir masuk ke dalam rumah.


" Barusan, kakak tidak mendengar aku membuka pintu ?" Tanya Zahir heran.


" Oh yah ? Maaf kakak barusan melamun ,"


" Apa yang sedang kakak pikirkan ?"


" Euh ... Nggak kakak hanya sedang gelisah menunggu hasil dari ujian masuk universitas, " dalih zakira.


" Ooh, kakak pasti di terima jangan khawatirkan itu," Zahir lega tidak ada hal yang serius, dia segera menaruh tas nya dan pamit untuk istirahat.


" Hemm, sebaiknya kamu istirahat, kakak juga agak lelah," zakira segera masuk ke kamar nya setelah Zahir juga masuk kamarnya.


Zakira berjalan dengan langkah yang lemas lalu naik ke atas tempat tidur.


" Kepalaku sakit sekali," zakira memegang kepalanya.


" Semoga besok aku tidak bertemu dia," gumamnya tapi zakira malah jadi penasaran dengan wajah Zion yang terlihat memar memar.


" Apa yang aku lakukan ? Kenapa aku mempedulikan nya ?" Zakira langsung menyadarkan dirinya kembali lalu dia menarik selimut menutupi seluruh badan dan wajah nya.


****


Saat pulang Zion langsung menyuruh Dion untuk mencari tahu siapa saja orang orang yang telah berani menyerang nya.


Dalam waktu sekejap Dion sudah bisa mendapatkan identitas tentang mereka, zion berniat untuk membalas mereka karena telah berani memukul wajah nya.


" Mereka akan dapat akibat nya," ujar Zion dengan raut wajah yang sinis.


" Setelah itu, giliran dia "


" Dia siapa lagi bos ?" Tanya Dion


" Wanita itu, berani nya dia mencampak kan ku lalu pergi dengan pria brengsek itu, aku akan patikan dia bertekuk lutut kepada ku lagi," ucap Zion penuh kekesalan.


Pada tengah malam Zion telah mempersiapkan segerombol preman untuk membalas menghajar orang orang tadi siang.


Zion bersama gerombolan datang ke tempat mereka selalu berkumpul dan langsung melakukan aksi pengeroyokan.


Zion hanya menonton aksi itu dengan tenang nya, karena kalah jumlah mereka pun kalah dengan badan dan wajah sudah babak belur.


Lalu Zion menghampiri pemimpin mereka, dengan angkuh nya Zion mengumpati nya dan mengutuk nya dengan kata kata kasar.


Lalu Zion memberikan peringatan terakhir bahwa lain kali dia akan membunuh mereka jika mereka berani melawan nya lagi.


Zion bersama para gerombolan preman nya pun pergi meninggal kan mereka yang terlihat terluka parah.


Saat Zion pergi, si pemimpin malah tertawa walaupun kepalanya sudah bercucuran darah


" Aku akan benar benar membunuh mu !" Ujar nya.


****


Keesokan pagi zakira bangun sangat pagi, dia akan pergi ke suatu tempat dimana Zion tidak akan bisa menemukan nya.


Saat sedang bersiap pergi tiba tiba ada seseorang mengetuk pintu, zakira langsung terperanjat takut yang datang adalah Zion.


Namun saat mendengar suara lembut mamanggil namanya zakira langsung membuka kan pintu.


" Zidan ! Kenapa datang sepagi ini ?" Sambut zakira dengan senyum sumringah, melihat sosok Zidan seakan membuat nya lupa akan semua perkataan ibu Zidan yang telah merendahkan nya kemarin.


" Aku merindukan mu," Zidan langsung nyosor mengecup pipi zakira seraya merangkul nya.


" Jangan begini nanti Zahir melihat kita," zakira mencoba melepaskan rangkulan Zidan.


" Yaudah kita lakukan di kamarmu saja," Zion menarik zakira masuk ke dalam kamarnya.


Zidan malah semakin merasa gemas, dia segera memeluk nya lagi.


" Aku butuh asupan penyemangat," ujar nya


" Kenapa ? Kamu kehilangan semangat hidup mu ?" Zidan meregang kan pelukannya lalu menatap mata zakira yang tengah tersenyum kepadanya.


" Pekerjaan ku sangat melelah kan," keluh Zidan, zakira melingkarkan lengan nya di leher Zidan lalu berjinjit untuk mengecup bibir nya.


" Apa itu bisa membuat mu mendapatkan kekuatan lagi ?" Zidan langsung tersenyum lebar, lalu mereka lanjut saling berciuman mesra.


Saking menikmatinya, tanpa sadar Zidan terus mengecupi hingga ke leher zakira hingga membuat zakira merem melek.


" Aku menginginkan nya !" Ujar Zidan terlihat sudah bernafsu.


" Kamu harus kerja ," Zidan melihat jam di tangan nya.


" Aku masih punya waktu 2 jam, aku akan melakukan nya dengan cepat," Zidan terlihat sudah sangat menginginkannya lagi, dengan wajah memohon dia berusaha membujuk zakira.


" Zidan ada di rumah, gimana kalau nanti dia dengar," Zidan mengambil ponsel nya lalu dia menyalakan musik sekeras keras nya.


Zakira tersenyum nakal lalu dia mengunci pintu dan langsung menyambar bibir Zidan yang sudah basah dan memerah.


Pergulatan panas pun telah berlangsung dengan hikmat, suara ******* mereka tidak terlalu nyaring karena tersamarkan oleh musik yang tadi Zidan nyalakan.


Keduanya nampak sangat menikmati nya hingga mereka lupa waktu. Sudah hampir dua jam mereka bermain namun belum ada niat untuk berhenti.


Zidan masih tenggelam dalam kenikmatan surga dunia yang zakira berikan kepadanya, namun suara panggilan telepon di ponsel zakira menyadarkan mereka berdua.


" Kau harus kerja," ujar zakira pelan berselingan dengan desahannya.


" Baiklah aku akan segera menyelesaikan nya," Zidan mengencangkan laju nya hingga akhirnya mereka tuntas dan sama sama puas.


Kegiatan di pagi hari itu di tutup dengan kecupan mesra di kening zakira oleh Zidan seraya saling melempar kan senyuman kebahagiaan dengan nafas yang terengah engah.


" Kamu berkeringat sangat banyak, kamu harus mandi lagi," suruh zakira seraya menyeka keringat yang mengalir deras di kening Zidan yang masih berada di atas nya.


" Aku mau bolos kerja saja," ujar Zidan seraya memeluk zakira.


" sekarang kamu benar benar sudah jadi pria nakal," zakira mengelus lembut rambut Zidan.


" Kamu yang mengajari ku hal seperti ini, aku jadi ketagihan, " ujar Zidan polos, membuat zakira tertawa.


" Ayo bangun, nanti kamu terlambat masuk kerja !" Suruh zakira, Zidan terpaksa bangun dengan malas nya.


" Nanti malam kita lanjut kan," bisik zakira melihat wajah Zidan cemberut.


Zidan langsung sumringah mendengar bujukan zakira itu, dia langsung bersemangat untuk pergi kerja sekarang, tidak lupa dia membasuh dulu badan nya sebelum Zahir bangun dan menyadari keberadaan Zidan.


" aku pergi dulu ," pamit Zidan seraya terus menatap zakira dengan mata yang berbinar dan senyuman manis di bibir nya.


" jangan keras keras, nanti Zahir bangun, " bisik zakira.


untuk kesekian kalinya Zidan kembali mengecup pipi zakira.


" andai hari ini aku bisa libur, aku tidak akan melepaskan mu " bisik Zidan.


" kau tidak sepolos yang aku kira," ujar zakira, Zidan malah tersenyum malu malu.


" aku juga baru tahu, tapi aku akan menagih janji mu nanti malam, ingat itu," ucap Zidan seraya masuk ke dalam mobil nya, zakira hanya bisa mengiyakan nya supaya Zidan segera pergi.


setelah Zidan pergi zakira jadi senyam senyum sendiri, begitu pun dengan Zidan dia tidak bisa berhenti tersenyum.


stres akibat tuntutan ibu nya kemarin seketika hilang setelah dia bertemu zakira.


" wanita yang sempurna belum tentu bisa membuat ku sebahagia ini ," gumamnya.


pagi yang indah walaupun hubungan mereka banyak yang menentang tapi mereka yang menjalani fine fine saja.


orang lain memang hanya bisa menilai dan memerintah saja, sedang yang menjalani nya belum tentu merasa bahagia terhadap apa yang mereka anggap terbaik.