The Rose

The Rose
MASIH



Meskipun sangat kesal tapi Zidan tidak bisa membiarkan zakira berada di luar rumah sendirian, dia pun kembali mencari keberadaan zakira.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam tapi Zidan masih belum menemukan keberadaan zakira, dan lagi lagi zakira mematikan ponsel nya.


Zidan telah mendatangi beberapa tempat yang mungkin zakira datangi namun tidak menemui keberadaan, membuat Zidan semakin frustasi.


Dalam situasi seperti itu, Zidan kepikiran perkataan ayah nya bahwa memang benar semua nya tidak akan semudah yang di kira.


terlebih zakira tergolong masih kecil dan sikap nya masih kekanakan, Zidan harus ekstra sabar menghadapi emosi zakira yang terbilang masih labil itu.


" Dimana kamu zakira ? Bisa bisa nya kamu marah sampai kabur dari rumah ," gerutu Zidan sampai matanya menangkap seseorang yang tidak asing.


Dari kejauhan matanya langsung tertuju kepada dua orang yang tengah berdiri di trotoar jalan.


" Apa yang mereka lakukan !!" Seketika amarah nya kembali membara saat melihat kedua orang itu adalah zakira dan Zion.


Zidan pun bergegas berhenti di seberang jalan dan segera menghampiri mereka berdua.


" Zakira !! " Teriak Zidan , Zion dan zakira menoleh bersamaan, zakira langsung menghela nafas berat mendapati Zidan sudah ada di depan nya lagi.


" Apa yang kau lakukan dengan dia !" Zidan menarik zakira ke sisi nya.


" Kau mabuk ?!" Zidan mencium bau alkohol di sekujur badan zakira.


" Ayo pulang !" Zidan menarik lengan zakira tanpa mempedulikan keberadaan Zion.


" Aku tidak mau pulang !" Zakira menahan lengan nya.


" Lalu Kau mau bermalam dengan dia, hah ? " Zidan melepaskan genggaman nya seraya memandang zakira dengan tajam.


" Apa yang terjadi ? Kenapa dia jadi seperti ini?" Tanya Zion memotong.


" Diam kau ! Kenapa kamu masih disini ? Pergi sana yang jauh !" Ujar Zidan.


" Aku merasa Dejavu dengan keadaan ini, tapi posisinya terbalik sekarang ," ujar Zion santai .


" Kau sekarang istri ku, sebaik nya kamu menurut padaku zakira !" Zidan kembali meraih tangan zakira dan menariknya untuk pergi lagi lagi tidak menghiraukan keberadaan Zion.


Tapi zakira masih keukeuh tidak mau ikut pulang dengan Zidan, yang akhirnya Zidan kehabisan kesabaran dan memarahi zakira di hadapan Zion.


Melihat hal itu Zion pun turun tangan tidak terima zakira di bentak dan di caci maki oleh pria yang telah berjanji akan membahagiakan zakira.


" Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau kasar kepadanya !" Zion menarik kerak baju Zidan.


" Apa urusan nya dengan mu ! Dia istriku !!" sudah hilang kendali Zidan meninju rahang Zion .


Alhasil mereka berdua saling adu jotos, sementara zakira yang masih belum sadar sepenuh nya mencoba melerai mereka namun mereka sulit untuk di lerai.


Untung nya ada beberapa orang pria yang melihat keributan itu dan segera memisah kan mereka, mereka bertiga pun di aman kan di kantor polisi.


Zakira turut di mintai keterangan sebagai saksi atas penyebab terjadinya pertengkaran itu.


Namun karena kondisi zakira masih belum pulih sepenuh nya dan mungkin kesaksian nya bisa di ragukan alhasil pemeriksaan di tunda sampai besok pagi saat zakira telah kembali sadar.


Akhirnya merekapun terpaksa di tahan sementara dalam satu ruangan yang sama.


" Duduk di sini !" Zidan menarik zakira untuk duduk di samping nya.


" Ih apaan sih pegang pegang !" Zakira menepis tangan Zidan.


" Ini semua gara gara kamu, ada ada ajah pake mabuk segala ," omel Zidan.


" Aku gak mabuk !" Ucap zakira menyangkal dengan suara lantang.


Lalu dia berjalan ke sudut ruangan persegi berukuran 4x4 itu.


" Kita dimana ?" Tanya zakira polos sambil celingukan ke sekelilingnya, Zion dan Zidan berbarengan menoleh ke arah zakira.


" Kepala ku sakit ," keluh zakira seraya memegangi kepalanya.


" sebaiknya kamu tidur ," Zidan kembali menarik zakira lalu membaring kan nya di pahanya.


Kali ini zakira tidak menolak nya dan perlahan matanya mulai terpejam.


" Kenapa kau melihat nya seperti itu !" Tegur Zidan saat melihat Zion sedang memandangi zakira.


Zion langsung memalingkan wajah nya, dia sebenarnya kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena zakira kini telah menjadi milik Zidan seutuh nya.


" Dingin...," Keluh zakira dalam tidur nya.


Zidan hendak memberikan jaket nya, tapi ternyata dia tidak memakai jaket, hal itu membuat Zion tertawa kecil.


****


Malam semakin larut tapi Zion dan Zidan tidak bisa terlelap di tempat yang dingin dan tidak nyaman itu, sesekali mereka meraba beberapa luka dan lebam di masing masing wajah mereka.


" Apa yang terjadi ? " Tanya Zion serius, dia penasaran setelah melihat kejadian tadi siang dan tadi, Zion mengira bahwa mereka sedang bertengkar.


Mendengar pertanyaan Zion, Zidan menghela nafas panjang seraya mengelus lembut rambut zakira.


" Aku, aku tidak sengaja mengatakan sesuatu yang buruk kepada nya," jawab Zidan pelan, dengan wajah bersalah.


Zion menatap nya datar.


" Apa yang kau katakan kepadanya ?" Tanya Zion lagi, Zidan menoleh ke arah Zion.


" Itu urusan pribadi, kau tidak perlu tahu ," tukas Zidan, Zion masih menatap nya datar.


" Anak itu ? Apa dia anak kandung mu ?" Tanya Zion tiba tiba, Zidan langsung tertegun.


Zidan tidak mau Zion tahu bahwa Gyandra bukanlah anak kandung nya dan juga karena persoalan itu juga dia bertengkar hebat dengan zakira sekarang.


Melihat Zidan terdiam, Zion langsung berspekulasi bahwa anak yang di lahir kan zakira adalah bukan anak nya, itu berarti dia anak nya.


" Dia bukan anak mun?" Tanya Zion lagi dengan wajah serius.


" Apa maksud mu ! Dia anak ku !" Jawab Zidan lantang sampai membuat zakira tersentak.


Zidan langsung mengelus kembali rambut zakira sampai zakira kembali terlelap.


" Pergilah ! Jangan muncul di hadapan kita lagi !" Ujar Zidan dengan suara pelan.


" Aku akan pergi setelah tahu kebenaran nya, jawab aku dengan jujur, apa dia anak biologis mu ?" Tanya Zion mendesak jawaban yang sejujur nya dari Zidan.


Zidan yang tahu kebenaran nya tidak dengan yakin menjawab pertanyaan Zion itu.


" Sudah aku bilang dia anak ku!" Tegas Zidan.


" Benarkah, tapi kenapa mata mu bergetar seperti itu ? Kau menyembunyikan sesuatu ?" Desak Zion.


" Diam kau ! Jangan sampai aku menghajar mu lagi !"


" Baiklah, Aku akan mencari tahu sendiri ! kalau dia ternyata anak ku, aku akan berubah pikiran ," tukas Zion lalu dia berbaring sambil membelakangi Zidan.


Zidan kembali merasakan amarah nya tapi dia tidak boleh melakukan nya lagi karena bisa memperburuk keadaan.


****


Pagi sudah tiba, mereka bertiga di bangunkan oleh seorang polisi untuk segera menyelesaikan masalah yang terjadi.


Dengan nyawa yang baru separuh nya terkumpul Zidan dan zakira langsung di hadap kan dengan seorang pria yang menatap dingin ke arah mereka.


" Papah ? Kenapa bisa datang kesini ?" Tanya Zidan dengan wajah terkejut nya.


" Diam kau anak brengsek ! " Singkat nya lalu dia duduk di kursi berhadapan dengan seorang petugas polisi.


Sementara zakira tertunduk malu atas perbuatan nya semalam, sementara ingatan nya belum pulih dan dia belum mengingat dengan kejadian semalam terlebih saat dia memaki Zion.


Tapi zakira baru sadar jaket yang di pakainya bukan lah jaket milik Zidan dan saat dia mencium aroma parfum di jaket itu, zakira langsung mengenali bau nya.


Belum beres dengan kebingungan nya zakira melihat Zion yang baru datang dan langsung duduk di sebelah ayah Zidan.


Mata zakira langsung terbelalak dan tidak bisa berkata apapun sekarang.


Setelah memintai penjelasan dari semuanya masalah bisa selesai dengan cepat, Zion dan Zidan sudah mau berdamai.


Mereka saling bersalaman walaupun wajah mereka terlihat masih saling dendam.


Zakira masih tertegun dan diam seribu bahasa sambil sesekali melirik ke arah Zion, begitupun dengan Zion.


dia terus melihat ke arah zakira, meski Zidan beberapa kali memberinya kode peringatan tapi Zion tidak mempedulikan nya.


" Kalian benar benar menyusah kan !" Omel ayah Zidan seraya berlalu pergi.


" Ayo pulang !" Zidan menuntun tangan zakira menjauhi Zion yang pandangan nya masih tertuju pada zakira.


Zidan lupa bahwa zakira masih memakai jaket Zion, Zidan menyuruh zakira untuk membukanya lalu tanpa berkata apapun Zidan melempar jaket itu dan jatuh tepat di hadapan Zion.


Walaupun kesal Zion mencoba bersabar kali ini, Zion pun memungut jaket itu dengan kasar seraya membuang nafas kasar.