The Rose

The Rose
rencana apa yang sedang kau buat untukku, tuhan ?



Ayah Zidan menyuruh semua orang untuk masuk ke dalam rumah dan segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Tanpa di minta ibu Zidan segera menjelaskan semuanya, zakira dan Zidan hanya bisa pasrah mendengar ibu mereka sedang mengadu.


" Dasar kurang ajar, kalian mau membohongi ku !!" teriak ayah Zidan terlihat sangat marah, sampai membuat zakira dan Zidan tersentak.


" Apa masalah nya kalau dia bukan anak kandung ku, aku akan tetap mengurus dia !" Ujar Zidan mencoba membela zakira.


" Dasar bodoh, aku sekolah kan kamu tinggi tinggi bukan buat menikahi wanita seperti dia, dimana harga dirimu Zidan ! Sadar kamu jangan karena dia cantik kau mau melakukan apapun buat dia !"


" Ini pilihan ku pah, bukan karena apa apa ! Aku akan menerima apapun resiko nya, kalau pun aku harus menjadi anak pembangkang,"


" Berani kamu melawan ku !" Ayah Zidan mencengkram baju Zidan dan siap untuk memukul nya membuat ibu Zidan jadi syok namun dengan sigap zakira menahan nya.


" maaf kan aku, aku tidak bermaksud untuk membohongi mu, aku akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan ku, jadi jangan memukul nya kita bicarakan semua nya baik baik ," ujar zakira dengan wajah memohon dan bersimpuh di kaki ayah Zidan.


Ayah Zidan pun melepaskan cengkraman nya dan setuju untuk membicarakan semua nya dengan kepala dingin.


Zakira menyeka air matanya yang terus saja keluar, lagi dan lagi zakira harus menghadapi masalah yang rumit di dalam hidup nya.


Nasib dia dan anak nya sedang di pertaruhkan sekarang, karena kehadiran nya dan anak nya tidak pernah di inginkan di dalam keluarga Zidan.


Zakira tidak bisa memaksakan apapun sekarang dan akan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Bercerailah ," ujar ayah Zidan tegas.


Tentu saja perkataan ayah nya itu membuat Zidan dan juga zakira tercengang, terutama zidan yang tidak bisa menerima nya.


" Apa ? Bercerai ? Aku tidak akan pernah melakukan nya !" Tukas Zidan dengan sorot mata menatap tajam ke ayah nya.


" Aku masih bisa menerima dia dengan masa lalu nya karena kau bilang dia mengandung anak mu, tapi apa sekarang ! Anak itu bukan anak mu kau ingin membuat dirimu serendah apa lagi Zidan ? Sudah cukup kau menikahi perempuan murahan dan sekarang kau ingin mengurus anak yang entah siapa ayah nya, hah ?" Ayah Zidan kini tengah menunjukan siapa sebenarnya dia di hadapan zakira dan Zidan.


Dia adalah orang yang tak pernah memberi maaf atas kesalahan orang lain, Semua orang nampak terdiam hanya terdengar suara isakan zakira yang tertahan.


Sakit yang sangat terasa di hati nya sekarang sampai membuat nafas nya tersengal, dada nya terasa sangat sesak menerima penghinaan yang begitu kejam dari orang orang angkuh di hadapan nya itu.


Tidak mau menyalahkan siapapun atas yang dia alami sekarang, zakira pun memilih mundur.


Dia merasa tidak sanggup lagi menghadapi hinaan dan juga cacian yang terus di utarakan oleh kedua mertuanya.


Dengan mata yang sudah sembab zakira menatap setiap orang di hadapan nya yang juga menatap dirinya dengan pandangan merendahkan dan nampak merasa jijik.


Tak mau banyak bicara zakira menegakkan kepalanya nampak dari pandangan nya kini dia tidak mau terintimidasi lagi.


" Baiklah jika itu yang kalian mau, saya akan melakukan nya dengan senang hati ," ujar zakira dengan percaya diri kali ini.


Walaupun tangan nya terkepal untuk mendapatkan kekuatan dan keberanian di dirinya.


" Apa maksud mu zakira ?" Ucap Zidan, Tentu saja Zidan tidak akan mudah menerima keputusan itu.


" Maaf Zidan, bukan nya aku tidak mencintaimu lagi, tapi aku sudah muak dengan semua sikap angkuh mereka !" Ujar Zakira menatap Zidan dengan sorot mata yang tegas.


" Aku mohon zakira, pikirkan sekali lagi, kamu sedang emosi sekarang ,"


" Biarkan dia pergi zidan ! Pergilah bawa anak haram mu juga !" Usir ayah Zidan.


Tanpa banyak protes, zakira mengambil anak nya dan bergegas pergi tanpa menoleh lagi kebelakang.


Zidan yang tidak rela melepaskan zakira begitu saja, segera pergi menyusul nya.


" Zakira, jangan begini ! Kamu mau kemana ?" Zahir menahan lengan zakira untuk mencegah nya pergi.


Zakira tak berkata apapun, dia hanya menatap Zidan dengan sorot mata yang penuh keputusasaan.


" Jangan pergi , aku mohon !" Ucap zahir lirih.


" Jangan menahan ku, aku mohon ,"


" Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pergi kemanapun, aku akan membujuk ayah ku supaya dia-"


" semuanya sudah cukup bagiku, tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi, semuanya percuma karena pada akhirnya tetap aku yang terluka dan aku yang paling menderita jadi hentikan Zidan, berhenti membuat hidup ku semakin berat !" Ujar zakira seraya berderai air mata lalu dia melepaskan pegangan tangan Zidan.


Kemudian zakira pergi meninggal kan Zidan yang tengah tertegun dengan wajah yang sangat frustasi.


" Aaah, sialan !" Teriak Zidan, sekarang dia telah terpojok oleh masalah yang ada.


****


Zakira berjalan dengan langkah yang letih ke pemberhentian bus, sesekali dia mengusap rambut nya kasar.


" Aku kira kau tengah berbuat baik padaku, ternyata kau hanya mempermainkan ku, kau puas sekarang ? Hidup ku semakin hancur kau puas ? Apalagi nanti kau ingin aku mati untuk menemui mu segera ?" Zakira memandang ke atas langit seraya menggerutu, merasa Tuhan terlalu kejam kepadanya.


Saat ini zakira merasa sudah sangat putus asa dengan ujian yang di berikan kepadanya itu.


Apapun yang dia syukuri pada akhirnya malah membuat dia merasa kecewa.


Merasa sudah tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya, akhirnya tangisnya pun meledak.


Zakira menangis di pinggir jalan sambil berjongkok dan dengan anak nya yang tengah di gendong, membuat orang orang yang melihat nya merasa iba.


Beberapa orang membantu zakira berdiri dan membawanya ke tempat teduh, lalu seorang ibu ibu memberinya sebotol air mineral.


" Sabar yah, ibu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi walaupun berat tapi kamu harus tetap kuat ," ujar si ibu sambil memberi dua lembar tissue kepada zakira.


Melihat ibu itu membuat zakira teringat kepada ibu nya dan hal itu membuat nya semakin sedih karena dalam keadaan nya yang seperti ini dorongan dan dukungan dari seorang ibu sangat di butuhkan nya.


****


Setelah beberapa saat zakira sudah mendapatkan kekuatan dan ketegaran nya lagi.


Selain itu anak nya sudah merasa tidak nyaman berada terus di gendongan nya, zakira pun memutuskan untuk pulang.


Walaupun sedang berseteru tapi sekarang zakira tidak punya tempat untuk pulang, dia pun terpaksa membawa lagi Gyandra ke rumah Zidan.


" Sial !" Umpat zakira saat melihat kondisi rumah yang berantakan.


Walaupun sedang bersedih tapi dia tetap membereskan seluruh ruangan sampai rapih.


Setelah semuanya selesai, zakira menjatuh kan badan nya yang terasa sangat lelah ke atas sofa.


" Aku benar benar stres sekarang masih untung kewarasan ku masih ada ," keluh nya.


" Harus kah aku mabuk lagi ? Andai saja aku tidak punya anak, mungkin sekarang aku bisa langsung pergi," lanjut nya seraya memejamkan matanya.


Dan lama kelamaan dia mulai tertidur tapi saat mau terlelap suara tangisan Gyandra membuat nya terbangun lagi.


Zakira pun pergi ke dalam kamar lalu menidurkan lagi Gyandra sampai dia pun ikut tertidur pulas sambil memeluk bayi kecil nya itu.


Pada sore hari Zidan pun pulang, saat baru masuk Zidan langsung menuju ke kamar dan mendapati zakira dan Gyandra masih tertidur lelap.


Lalu Zidan dengan pelahan menghampirinya dan menatap sayup keduanya.


ada rasa bersalah di wajah nya, niat nya ingin membuat zakira bahagia tapi kenyataan nya malah membuat zakira semakin sengsara.


Dulu zakira sempat ingin melanjutkan studinya tapi karena harus mengurus bayi dan juga rumah tangga zakira tidak punya waktu untuk kembali belajar.


" Harusnya kamu sekolah bukan menikah dan punya anak sekarang ," benak Zidan mulai berkaca-kaca lagi.


Menyadari ada seseorang di dekatnya zakira pun terbangun.


Dia melihat Zidan sedang memandanginya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Zakira tak mampu memandang wajah Zidan sekarang, dia pun memilih untuk keluar dari kamar tapi belum jauh melangkah, Zidan langsung menariknya ke dalam pelukan nya


Alhasil kedua nya tidak mampu lagi membendung air mata yang sudah mereka tahan.


Ada rasa takut kehilangan di diri mereka masing masing, tapi mereka juga tidak bisa memaksakan keadaan yang terus memberi racun pada pernikahan mereka.