
Zee datang berkunjung ke rumah orang tua Zidan, ini sangat aneh sampai membuat ibu Zidan heran tiba tiba Zee datang mengunjungi nya.
" Apa kabar Tante ?" Sapa Zee ramah
" Baik Zee, ada apa ini tidak biasanya kamu main kesini " ujar ibu Zidan menyambut Zee dengan ramah juga.
" Nggak Tante aku hanya mau melihat kabar Tante saja, katanya Zidan sudah lama tidak mengunjungi Tante " Zee mencoba basa basi
" Iyah, anak itu memang susah kalau di suruh pulang, dia males kali denger ibunya nanyai soal pacar nya "
" Soal itu Tante, sebenarnya Zidan lagi dekat sama perempuan " Zee mulai mengarahkan pembicaraan supaya dia dapat jalan untuk memberitahu ibu Zidan soal zakira.
" Apa ? Benarkah ?" Ibu Zidan langsung excited dan meminta Zee untuk menceritakan nya lebih rinci.
Awal nya Zee mengarang cerita tentang bagaimana pertemuan awal Zidan dan zakira, ibu Zidan nampak senang mendengar kan nya hingga di akhir cerita Zee mulai menjelekan zakira kepada ibu Zidan .
Zee tidak langsung mengatakan bahwa zakira seorang pelacur, tetapi Zee membahas soal pendidikan dan latar belakang zakira yang mungkin tidak akan di sukai oleh ibunda Zidan.
" Kenapa Zidan bisa tertarik dengan wanita seperti itu " ibu Zidan merasa heran.
" Aku tidak yakin, tapi biasanya perempuan seperti itu hanya ingin memanfaatkan status dan harta milik pasangan nya, aku memberitahu Tante ini supaya kita bisa mencegah hal hal yang tidak di inginkan sebelum dia mendapat yang dia mau." Zee terus memberi pengaruh yang tidak tidak kepada ibu Zidan.
Ibu Zidan terlihat percaya dengan apa yang dia katakan membuat Zee senang, karena rencana pertama nya telah berhasil, sekarang dia tinggal menunggu tindakan yang akan di lakukan ibu nya Zidan kepada Zidan dan juga zakira.
****
Benar saja dugaan Zee, ibu Zidan tidak akan diam saja, dia langsung menyuruh Zidan pulang, agar Zidan menurut ibunya bilang ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan nya.
Zidan pun menuruti nya kali ini, Zidan pun memberitahu zakira bahwa dia akan pulang agak telat.
Saat tiba sang ibu menyambutnya dengan pelukan hangat.
" Ada apa ini mamah ? Zidan tidak bisa berlama lama " ujar Zidan seraya duduk di kursi tamu.
" Kamu ini, buru buru sekali mau kemana ?"
" Anu Zidan hanya masih banyak kerjaan mah, " dalih Zidan tidak mau ibu nya tahu kalau dia ada seseorang yang menunggunya.
" Udah jarang pulang, sekalinya pulang mau buru buru pulang, " gerutu ibu Zidan, Zidan hanya menggaruk kepalanya karena dia merasa seperti itu
" Katanya kamu lagi dekat sama seorang perempuan, mamah mau tahu.?" Zidan langsung terkejut mendengar ibunya bertanya tentang zakira.
" Tahu dari siapa .?"
" Ya ada ajah, mamah punya mata mata dimana mana "
Zidan jadi bingung bagaimana menjelaskan nya kepada ibunya.
" Euh ... Anu mah nanti Zidan kenalin sama mamah, dia mungkin belum siap karena kita baru sekali menjalin hubungan," ucap Zidan agak gugup.
Ibu Zidan menatap nya serius.
" Mamah senang akhirnya kamu punya pacar tapi mamah mau pacar kamu orang yang bobot bebet dan bibit nya bagus, mamah tidak mau kamu menikah dengan perempuan sembarangan," Zidan langsung tertunduk lesu karena zakira sudah pasti tidak masuk kriteria menantu idaman ibunya.
" Kamu denger mamah.?" Zidan mengangguk pelan.
" Jangan asal cantik, karena cantik saja tidak cukup, calon istrimu harus pinter dan terhormat, ya !" Ucap ibu Zidan tegas, Zidan hanya bisa mengiyakan nya.
" Yaudah mamah percaya sama kamu, sekarang kamu boleh pergi !" Suruh ibu Zidan, Zidan pun segera pulang dengan langkah yang lunglai.
Zidan bingung bagaimana cara dia meyakinkan kedua orang tua nya untuk bisa menerima zakira apa adanya.
Tidak terasa mobil nya telah sampai di depan rumah zakira, Zidan segera memasang wajah yang ceria dia tidak mau membuat zakira bertanya tanya kalau wajah nya terlihat murung.
Saat Zidan masuk, nampak zakira tidak ada di dalam rumah. Zidan jadi cemas dia segera menelpon nya ternyata zakira sedang berada di taman, Zidan pun menyusulnya kesana.
Dari kejauhan terlihat zakira tengah melamun,
" Apa yang kamu pikirkan," suara Zidan membuyarkan zakira dari lamunan nya.
" Kau datang," jawab zakira sambil tersenyum.
" Kenapa ?" Tanya Zidan, dia tahu kalau zakira tengah ada masalah meski zakira mencoba menyembunyikannya.
" Enggak ... Aku hanya merasa bosan saja," dalih zakira,
" Ooh yaudah," Zidan tidak mau memaksanya untuk bercerita.
Mereka berdua saling menyembunyikan kesedihan mereka, alhasil suasana menjadi sepi karena mereka larut dalam lamunan masing masing padahal masalah yang sedang mereka pikirkan mengenai hal yang sama.
" Beasiswa itu ... Apa aku masih bisa mendapat kannya ?" ujar zakira memecahkan keheningan, Zidan langsung menoleh ke arah zakira mendengar zakira tiba tiba membahas hal itu.
" Kamu mau kuliah ?"
" Aku mau mencoba merubah masa depan ku, jika itu bisa," jawab zakira
"Tentu saja bisa, aku akan membantu mu semua nya belum terlambat," Zidan terlihat excited membuat zakira ikut bersemangat.
" Kalau begitu, bantu aku belajar !"
" Ok, ayo kita belajar sekarang !" Zidan meraih tangan zakira dan menuntunnya pulang.
Dia akan kembali sekolah berharap nantinya dia bisa mendapat kan pekerjaan yang terhormat.
****
zakira mulai mengurusi semua dokumen dan persyaratan yang di butuhkan untuk masuk kuliah, dan juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk universitas.
Sejauh ini semuanya telah lancar jaya, tinggal menunggu tahapan selanjutnya
" Kalau saja begini sejak awal, aku tidak harus menjual diri, " keluh nya seraya menatap ke luar jendela sebuah kafe.
" Semua nya akan membaik mulai sekarang zakira," ucap nya lagi seraya memeriksa ponsel nya.
Namun entah kebetulan atau apa, dia malah bertemu dengan seseorang yang tidak ingin dia temui.
" Wah, kebetulan sekali kita bertemu disini " terdengar suara yang zakira kenal menyapanya.
Saat allura menoleh nya benar saja, dia Zee orang yang sangat menyebalkan bagi zakira, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah orang yang bersamanya.
" Kamu orang yang ikut Zidan waktu itu kan ? Yang mau di kasih beasiswa itu ?" Tanya seorang wanita paruh baya, zakira menyapanya dengan ramah walaupun sekarang dia kikuk karena Zee menatap nya mencurigakan, seperti akan melakukan sesuatu yang tidak akan menyenangkan bagi zakira.
Yap, Zee datang bersama ibu nya Zidan entah di sengaja atau gimana yang jelas Zee sudah menguasai kepercayaan ibu nya Zidan.
" Kebetulan sekali, Tante mau bicara sama kamu " ujar ibu Zidan seraya duduk di kursi di depan zakira, zakira merasa perasaan nya sudah tidak enak, karena ibu Zidan berbicara dan menatap nya dengan dingin.
Sementara Zee entah apa maksudnya dia terus tersenyum kepada zakira.
" Tante mau langsung to the points saja, apa benar kamu wanita yang sedang dekat dengan Zidan ?" Tanya nya tegas.
Zakira langsung menatap Zee, tentu saja pasti Zee yang memberi tahu dia, Zee hanya tersenyum smirk kepada zakira.
Zakira bingung harus menjawab apa, karena dia sudah tahu apa yang akan di lakukan ibunya Zidan kepada.
" Kenapa tidak menjawab ? Apa itu artinya Iyah ?" Tanya nya lagi, zakira pun mengangguk dengan gugup.
" Kau tidak tahu malu atau tidak tahu diri " ucap ibu Zidan seketika langsung menusuk hati zakira.
" Kami telah memberi mu beasiswa, kenapa kau menginginkan lebih ? Kau mau memanfaat kan anak saya karena kamu cantik, hah ?"
" Bu - bukan begi-"
" Jauhi dia, jangan harap kamu bisa menjadi pacar apalagi istri anak ku, kami punya standar tinggi saya harap kamu mengerti akan hal itu !" Ucap nya lagi memotong ucapan zakira.
Zakira langsung tertunduk di hadapan ibu Zidan dan juga Zee, Zee nampak puas melihat zakira tidak bisa berbuat apa apa sekarang.
" Perempuan sekarang memang banyak yang tidak ounya malu !" Sarkas ibu Zidan lalu dia beranjak dari tempat duduk nya lalu pergi dari kafe itu di susul oleh Zee.
Zakira menatap kepergian mereka dengan mata yang berkaca kaca dan hati yang sakit, sementara Zee melemparkan senyuman yang meledek zakira dari kejauhan.
Dia nampak sangat puas karena zakira di tolak mentah-mentah oleh ibunya Zidan bahkan sebelum dia tahu tentang hubungan zakira dan Zidan yang sudah terjalin sekarang.
Tiba tiba lagi ada seorang pria berdiri di samping zakira membuat zakira kembali terkejut.
" Kau akan terus bersama nya dan harus terus menerima hinaan seperti itu ?" Tanya nya
" Sejak kapan kau di sini ? Kau mendengar semua pembicaraan kita tadi ?"
" Sejak pertama kau datang, tidak terlalu jelas tapi aku mengerti inti dari ucapan ibu ibu tadi " jawab nya santai.
Zakira langsung beranjak dari tempat duduk nya.
" Jangan ikut campur urusan ku, " ucap zakira ketus seraya berlalu pergi.
Pria itu mengikuti nya, lalu menarik tangan zakira suapaya zakira menghentikan langkah nya.
" Jangan sentuh aku !" Bentak zakira seraya menarik tangan nya.
" Kau masih belum memaaf kan ku ?"
" Hal yang kamu lakukan waktu itu tidak pantas di maaf kan, jadi berhentilah meminta maaf Zion, aku muak mendengar nya " zakira kembali melanjut kan langkah nya.
" Aku melakukan semua nya untuk mu, kalau bukan karena kamu aku tidak akan melakukan nya !" Teriak Zion langsung menghentikan langkah zakira lagi.
Zakira berbalik dan berjalan kembali ke arah Zion.
" Aku tidak pernah meminta kamu membunuh orang orang bajingan itu, sekarang apa bedanya kamu dan mereka bahkan sekarang kau lebih buruk dari mereka !" Ucap zakira berapi api, Zion terdiam seraya menatap dalam mata zakira.
" Zakira, hanya itu cara untuk melawan ayah ku, dia tidak akan mempan di hukum dengan cara kemanusiaan," ucap Zion pelan.
" Lalu kenapa kau bisa lepas dari hukuman ? Apa kau juga sama seperti ayah mu tidak bisa di hukum dengan cara yang berprikemanusiaan.?" Zion langsung diam tidak bisa menjawab lagi pertanyaan dari zakira.
" Lihat lah kamu sama saja dengan ayah mu, kamu sudah terlahir untuk menjadi orang yang bengis !" Ucap zakira cukup kasar membuat Zion merasa tersinggung.
Zakira pun pergi dari hadapan Zion, sedang Zion masih berdiri tertegun sambil menatap tajam ke arah zakira yang perlahan menjauh.
" Bisa bisa nya aku di hina oleh seorang perempuan !" Gumamnya
" Lihat saja siapa nanti yang akan memohon minta pengampunan ,"