The Rose

The Rose
hari pembalasan dendam



Sementara zakira di bawa ke dalam rumah oleh pelayan ibu nya Zidan untuk membersihkan badan dan bajunya yang terkena jus.


Zidan datang untuk melihat keadaan zakira, tapi yang terjadi Zidan malah kena Omelan Zahir.


" Sudah ku bilang seharus nya kita tidak datang ! Kenapa kau tidak mengerti ! Hal seperti ini lah yang mau kita hindari, orang orang itu selalu beranggapan bahwa orang macam aku dan kakak ku pantas untuk di hina, pantas untuk di rendahkan dan di permalukan , tapi mereka lupa bahwa saat mereka merendah kan kami mereka lebih rendah kita .!" Ujar Zahir menahan kekesalan dan air matanya.


" Maaf kan aku, aku tidak berpikir hal seperti ini akan terjadi ,!" Ucap Zidan, tanpa mereka sadari zakira menguping dari balik pintu kamar mandi.


Tidak mau mendengar hal yang semakin menyedihkan zakira segera keluar, Zahir langsung menarik tangan.


" Ayo kita pulang ,!" Ajak Zahir, zakira yang terlihat murung menurut saja.


" Aku akan antar kan kalian, !" Ucap Zidan.


" Berhentilah menolong kakak ku ! kau hanya menambah masalah baru pada nya !" Zahir melirik Zidan dengan tatapan sinis.


Zidan langsung tidak berkutik, Zahir dan zakira pun segera pergi dari acara itu.


Dengan perasaan kesal dan sedih Zahir terus menggenggam tangan zakira sampai ke halte bus.


Mereka berdua tidak saling berbicara untuk beberapa saat, tapi saat Zahir melihat kakak nya terlihat sedih seketika kekesalan nya kembali memuncak.


" Aaah sialan ,!" Teriak Zahir sambil menendang salah satu tihang halte membuat zakira tersentak.


" Kenapa kau selalu berhubungan dengan pria yang membuat hidup mu semakin sulit .!!" Bentak Zahir


Zakira hanya tertunduk dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya, tapi beberapa saat kemudian Zahir mencoba menenangkan dirinya dan duduk di samping zakira.


" mau ku peluk?" Ucap Zahir dengan nada pelan, zakira mengangguk pelan, Zahir segera merangkul kakak nya lalu dia menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan nya.


Tak apa jika dunia terasa kejam dan tidak adil asal punya seseorang yang bisa meminjamkan pundak tuk bersandar, telinga untuk mendengar kan dan raga untuk berlindung, semua nya akan baik baik saja.


****


Zidan mengikuti mereka berdua, tapi tidak berani untuk menghampiri nya, karena dia juga merasa bersalah atas apa yang yang di alami zakira di acara tadi.


" Apa yang harus aku lakukan sekarang, ?" Tanya nya pada diri nya sendiri, sambil masih terus memperhatikan zakira dan Zahir yang sudah masuk ke dalam bis.


Malam ini Zidan meminta untuk bertemu kepada zakira, Zidan berniat untuk meminta maaf padanya.


" Harus nya aku tidak memaksamu tadi ! Maaf kan aku.!"


" Sudah lah, aku sudah biasa di perlakukan seperti itu. !" Jawab zakira datar


" Kau marah pada ku. ?"


" Tidak, aku hanya kesal bukan hanya sama kamu tapi pada semua orang. !"


" Aku mengerti .!"


Suasana jadi hening, zakira dan Zidan terpaku dengan lamunan nya masing-masing.


" Sebaik nya kita mulai menjaga jarak. ! " Ujar zakira memecah keheningan, Zidan langsung menoleh ke arah zakira.


" Kita harus mencegah sesuatu yang tidak di inginkan orang orang terjadi .!" Zakira menoleh ke Zidan.


" Hal yang tak di inginkan orang lain ? Berarti kau menginginkan nya ?" Tanya Zidan langsung mengerti maksud zakira.


Zakira langsung memalingkan wajah nya dari Zidan, mata nya mulai berkaca kaca.


" Kita lupakan saja kejadian waktu itu, anggap itu ketidak sengajaan.!" Zakira beranjak dari tempat duduk nya dan hendak berlalu pergi.


" Kenapa kau harus memikirkan tentang pendapat orang lain?" Zidan menahan tangan zakira.


" Bukan begitu, aku hanya tahu diri dan sadar diri saja, kita beda dari segi segalanya ! Aku hanya akan memberi mu noda .!" Ujar zakira melepaskan pegangan Zidan dan bergegas pergi.


Setelah beberapa langkah berjalan menjauhi Zidan, langkah zakira terhenti lalu dia berbalik ke arah Zidan.


" Terimakasih banyak atas segala nya, kau pria yang sangat baik .!" Teriak zakira lalu dia melemparkan senyum manis dari kejauhan.


Zidan tak bereaksi apapun, dia hanya menatap kepergian zakira dengan perasaan yang berat dari sorot matanya bisa terlihat bahwa dia tidak rela dan tidak siap untuk menjauh dari zakira.


tapi dia tidak mau memaksakan apapun, Zidan mau menghormati semua keputusan zakira yang mungkin itu lebih baik untuk nya.


****


Zidan berjalan dengan langkah yang berat untuk pulang, namun saat melewati rumah zakira dia seperti di paksa untuk rela.


Zidan berdiri di depan pagar rumah zakira sambil melihat ke arah kamar zakira yang sudah gelap.


Mata nya tiba tiba mengeluarkan air mata, tak tahan Zidan pun segera pergi dari sana.


Sementara seseorang juga ternyata sedang memperhatikan kamar zakira yang telah gelap, iya itu adalah Zion.


Dari kejauhan dia selalu melihat keadaan zakira bahkan saat Zahir berhenti di depan rumah zakira pun Zion menyaksikan nya.


Zion semakin gelisah karena Kekhawatiran nya telah terjadi, Zion langsung mengacu mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Zion bertekad akan menghabisi ayah nya malam ini, dia merasa sudah cukup menunggu dan membuat ayah nya percaya lagi padanya.


kesabaran nya yang setipis tisu tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Zion tidak akan menyia-nyiakan kesempatan nya untuk balas dendam kepada ayah nya.


Yang sudah dia anggap sebagai musuh dan racun di dalam hidup nya.


" Aku akan membunuh mu dasar orang tua sialan !"


****


Hanya dalam waktu singkat Zion sudah berada di kediaman ayah nya.


" Kenapa kau kesini anak brengsek. !" Ucap ayah Zion menyambut dengan sangat " ramah "


" Aku ingin membicarakan sesuatu .!" Jawab Zion mencoba bersikap seperti biasanya.


" Kau tidak lihat aku sedang sibuk, pergi sana. ! Aku tidak mau melihat wajah sialan itu. !" Ayah Zion pergi dari hadapan Zion .


Zion segera menyusul nya, saat hendak membuka mobil Zion bergegas membukakan pintu mobil untuk ayah nya.


" Dasar anak sialan. !" Ayah Zion malah mengumpati Zion, setelah ayah nya masuk raut wajah nya berubah menjadi dingin dan penuh dendam.


Zion mengambil alih kemudi, berdalih ingin melayani ayah nya dengan baik dan dia akan jadi anak penurut, ayah Zion tidak mencurigai sikap Zion yang tidak biasanya itu.


" Kau masih menemui pelacur itu ,?" Tanya ayah Zion dengan suara yang serak dan berat.


" Tidak, aku sudah melupakan dia .!"


" Bagus ! Jangan pernah berhubungan dengan wanita mereka hanya akan membuat mu lemah dan kesusahan ,!" Ucap ayah Zion, Zion mengiyakan nya.


" Apa kau pernah jatuh cinta ,?" Tanya Zion tiba tiba


" Tentu saja, setiap melihat wanita cantik aku jatuh cinta lalu aku tiduri dia lalu besok nya aku lupakan dia ,!" Jawab ayah Zion datar.


" Begitulah wanita, mereka hanya mainan saja, saat kau boasan kau bisa membuang nya lalu mencari yang lain nya .!" Lanjut nya.


Zion yang sudah merasakan makna jatuh cinta yang sebenarnya merasa sangat kesal, dia menggenggam setir mobil dengan sangat keras.


Dia tidak boleh meledak sekarang, belum saat nya, rencananya Zion akan mendorong ayah nya ke dalam jurang .


Sementara untuk para ajudan yang selalu menjaga ayah nya Zion sudah merencanakan hal lain.


" Begitu juga dengan ibu ku .?"


" Kenapa kau membahas wanita sialan itu .!" Ayah Zion jadi kesal


" Maaf, aku hanya penasaran .! "


" Wanita itu. ! " Ayah Zion tertawa kecil seperti meledeknya.


" Dasar wanita rendahan ! Aku sudah suruh dia untuk menggugurkan kandungan nya dia malah mengirimkan ku anak sialan ini .!" Gerutu ayah Zion, Zion terus berusaha menahan emosinya yang mulai naik.


" Kau tidak terima aku di lahir kan, jadi kau membunuh nya .?" Tanya Zion dengan suara bergetar karena menahan emosi dan air matanya.


" aku tidak membunuh nya,Aku hanya tidak sengaja menembak nya .! " Jawab ayah Zion dengan enteng dan datar tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Semua ucapan yang keluar dari mulut ayah nya membuat Zion miris, dia marah karena dia adalah ayah nya, dia kesal karena kepribadian buruk ayah nya harus menurun kepadanya juga.


" Makanya kau jangan memelihara ****** kalau kau tidak mau berakhir seperti ku ,!" Ujar ayah Zion semakin membuat Zion marah, kali ini Zion tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah memuncak.


Perkataan ayah nya sudah sangat keterlaluan seolah Zion adalah aib terbesar dalam hidup nya, padahal aib terbesar nya adalah dirinya sendiri.


Zion tertawa kecil untuk meledek ayah nya


" Memelihara.? "


" Kau berani meledek ku, !" Bentak ayah Zion


" Hei pak kau perlakukan wanita seperti hewan padahal kau lebih rendah dari hewan ,!" Ujar Zion santai


Ayah Zion berdecik,


" Kau cari mati .!!"


" Iyah, tapi aku akan berikan kematian itu pada mu orang tua sialan .!" Zion menabrakan mobil itu ke pembatas jalan membuat ayah nya mengalami benturan keras.


" Aku mencintai wanita itu, dan dia bukan hewan dia manusia dia layak untuk di hormati .!" Zion memundurkan mobil nya lalu Zion menabrakan nya lagi kepembatas jalan yang membatasi jurang yang cukup terjal dan dalam.


" anak kurang ajar kau mau membunuh ayah mu demi pelacur itu .!" Zion tiba tiba tertawa.


" Ayah ? Kau bukan ayah ku kau seekor hewan hina, dan aku tidak akan mau jadi seperti mu, hahaha .!" Ujar Zion sambil beberapa kali menambrakan mobil itu ke pembatas jalan hingga pembatas itu mulai roboh.


" Mungkin dia pelacur bagi orang lain, tapi dia berharga bagiku, jadi aku akan membunuh siapa saja yang menyakitinya .!" Pungkas Zion lalu dia keluar dari mobil meninggal kan ayah nya yang tengah kesakitan.


" Zion dasar anak sialan ! Harusnya aku membunuh mu dari dulu .!" Teriak ayah Zion.


Sementara Zion beralih ke sebuah mobil truk yang sudah dia siap kan untuk menghabisi ayah nya.


" Aku membalas dendam Ini untuk ibu ku dan untuk kau zakira dan juga untuk hidup ku yang kau buat hina selama ini .!" Zion menyalakan mobil truk itu.


Saat Ayah Zion mau menelepon ajudan nya untuk menolong nya, sorot lamput sebuah mobil menyilaukan nya dia mulai panik dan ketakutan dia mencoba merangkak keluar mobil yang sudah berada di ujung jurang itu.


" Matilah kau dasar ayah sialan..!!!" Zion melaju cepat ke arah mobil milik ayah nya, naas ayah Zion yang baru memijakan kakinya ke tanah langsung di dorong masuk oleh mobil truk Zion ke dalam jurang bersamaan dengan mobil milik nya.


Mobil beserta ayah nya terjun bebas ke dasar jurang dan meledak, Zion dengan nafas terengah-engah dan mata yang berkaca kaca menatap puas apa yang terjadi di hadapan nya itu.


" Pergilah kau keneraka ,!" Ucap Zion lalu dia bergegas meninggal tempat itu sebelum ada orang yang datang


Beberapa saat kemudian dua ajudan yang nampaknya telah di keroyok datang ketempat kejadian, namun kondisi nya sudah kembali seperti semula tak ada bekas kecelakaan disana.


Membuat dua orang itu kebingungan dan akhirnya mereka pergi mengira bahwa bos nya telah pergi melanjutkan perjalan nya.