
" maaf kan aku zakira, aku sungguh tidak berniat membuat mu jadi seperti ini tapi aku juga tidak berdaya sekarang ," ujar Zidan lirih.
Zakira tidak mampu berkata kata lagi sekarang, hanya air mata nya lah yang bisa menjelaskan semuanya betapa sakit nya luka yang telah menyayat hati nya.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, zakira melepaskan pelukan Zidan lebih dulu tanpa menatap dan tanpa menoleh kepada Zidan, lalu zakira pergi dari hadapan Zidan.
Zidan tidak lagi menghalangi jalan nya, dia hanya tertunduk seraya masih menangis tersedu-sedu.
****
Hampa terasa suasana di dalam rumah saat ini, tak ada canda tawa lagi di sana, yang terdengar hanya suara isakan yang sesekali terdengar.
Saling mencintai saja tidak cukup untuk membuat sebuah pernikahan tetap utuh, bahkan harta dan jabatan pun tidak bisa menjamin nya.
Walaupun berat tapi mereka harus ikhlas untuk di pisahkan takdir karena mungkin mereka memang tidak berjodoh.
Sekarang Zidan tidak akan menahan keinginan zakira, karena terakhir kali dia melakukan nya justru malah membuat masalah baru di hidup zakira.
Sekarang Zidan benar benar akan menerima apapun keputusan yang akan zakira lakukan.
****
Waktu cepat sekali berlalu kini waktu sudah hampir tengah hari, zakira telah menerima sebuah surat dari pengadilan yang di buat oleh ayah mertuanya.
Dengan tangan yang bergetar zakira mencoba membaca dengan seksama isi dari surat itu, tak ada lagi harapan baginya untuk tetap bersama Zidan sekarang.
Dengan yakin zakira langsung menandatangani kertas tentang perceraian itu dan tanpa berpikir lagi zakira menyetujui semua tuntutan yang ada pada surat itu.
Yang intinya zakira tidak mendapatkan harta gono-gini dari Zidan karena zakira tidak melahirkan anak Zidan sebagai hak waris dan hanya mendapatkan uang tunjangan saja.
Tidak mau membuang waktu zakira segera mengirimkan nya kembali dan segera membereskan pakaian serta semua barang miliknya untuk segera pergi dari rumah karena zakira pun tidak di beri hak atas rumah itu.
Zidan belum mengetahui tentang semua hal itu karena ayah nya lah yang menginginkan mereka segera berpisah dan tidak memberi zakira sepeser pun harta milik Zidan.
****
Saat pulang ke rumah, Zidan tidak mendapati zakira di sana dan pakaian serta barang-barang miliknya pun sudah tidak ada di dalam rumah itu.
Tentu saja hal itu membuat Zidan syok, bagaimana semuanya bisa jadi seperti ini dengan tiba tiba.
Zidan mencoba menghubungi zakira, untuk kali ini zakira tidak mematikan ponsel nya karena zakira tahu Zidan pasti akan syok dengan kepergian nya yang mendadak itu.
Sambil menangis Zidan mencoba berbicara dengan benar.
📞 "Kamu dimana ? Kenapa kau pergi secepat ini zakira, bahkan tanpa berpamitan," ujar Zidan lirih.
📞 " Maaf Zidan, aku sudah tidak mampu lagi bertahan, semua ini terlalu berat untuk aku ," jawab zakira mencoba dengan sekuat tenaga supaya tidak menangis.
📞 " Dimana kamu sekarang ? Aku mohon sama kamu ijinkan aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya zakira "
📞 " Maaf Zidan aku tidak bisa, aku takut ... Aku takut tidak mampu pergi kalau aku melihat mata kamu, maaf kan aku ," zakira memutus panggilan lalu mematikan ponsel nya.
Tangis zakira pun pecah seraya memeluk erat sang anak nya yang tidak tahu apa apa itu.
begitupun dengan zidan sesaat setelah panggilan nya di tutup, Zidan berteriak sekencang kencangnya saking kesal nya bahkan dia sampai menendang beberapa barang yang ada di hadapan nya.
****
" Biarlah hanya kita berdua saja, " ucap zakira lirih kepada anak nya yang belum mengerti tentang apa yang di alami ibu nya, dia hanya menatap zakira lalu dia tersenyum manis.
Senyuman itu berhasil mejadi suport sistem bagi zakira sekarang dan memberikan nya kekuatan lebih dari sebuah kata.
" Maaf sayang kamu harus mengalami semua ini," zakira mengecup kedua pipi Gyandra.
Zakira kini kembali pergi jauh dari kota, berharap bisa menemukan ketenangan di tempat lain meski kini dia tak punya apa apa lagi.
Zakira kembali ke rumah nya yang dulu, untung saja belum sempat di jual sekarang lumayan bisa buat dia tinggal bersama anak nya di sana.
Meski agak berdebu dan banyak laba laba di seluruh penjuru rumah.
" Akhirnya semua beres gya, sekarang tempat ini bisa jadi tempat yang nyaman buat kita ," ujar zakira seraya menoleh kesekitar nya, nampak semua nya sudah bersih dan rapih.
****
Di malam hari suasana sangat hening di sana, hanya terdengar suara belalang malam yang sesekali bersuara.
Setelah anak nya tertidur zakira duduk memandangi suasana di sekitar nya, nampak hanya ada beberapa orang yang melintas di depan rumah nya.
Lalu zakira menatap ke atas langit nampak bintang dan bulan yang terang saling berdampingan.
Lalu zakira memhela nafas berat.
" Kenapa hidup ku berakhir seperti ini lagi ? Apa rencana mu sebenarnya ? Aku muak dengan semua penderitaan ini ," Ucap zakira pelan.
Hari demi hari zakira lewati hanya berdua saja dengan anak nya, tak ada yang mengusik mereka sekarang.
Meski terkadang zakira merindukan Zidan dan Zahir, tapi dia mencoba mengalihkan pikirannya nya, zakira tidak mau kembali melihat ke belakangnya.
Tapi hidup seperti itu ternyata membuat zakira merasa hampa, meski mencoba menikmatinya tapi kehampaan dan rasa kehilangan terasa jelas di dalam lubuk hati terdalam nya.
terlebih saat zakira sadar bahwa dia membutuhkan seseorang untuk di ajak bicara, rasa kesepian semakin kental terasa.
Sementara keadaan Zidan cukup memprihatinkan, sejak zakira pergi dia telah kehilangan semangat hidup nya.
Senyuman yang dulu selalu menghiasi bibirnya kini seakan sirna entah kemana, Zidan juga merasakan kehampaan dan kehilangan yang begitu dalam di hatinya.
Bahkan selama satu Minggu ini Zidan tidak masuk kerja dan juga jarang sekali makan, dia masih terpukul atas perceraian yang tidak di inginkan nya itu.
Setiap kali dia memandangi ke seluruh ruangan di rumah nya selalu saja muncul bayangan zakira bahkan beberapa mainan Gyandra yang tertinggal semakin membuat Zidan sedih dan merindukan mereka berdua.
Yang paling dia sesali adalah tentang sikap nya sendiri, kalau saja waktu itu dia bisa dengan lapang dada menjadi ayah Gyandra seutuh nya semua kekacauan itu tidak akan pernah terjadi.
****
Sementara itu, Zion kembali berkelana jauh untuk memenuhi janjinya waktu itu.
Namun sekuat apapun dia mencoba melupakan zakira tapi pada akhirnya dia selalu ingin kembali dan menemuinya lagi.
Terlebih saat terakhir dia bertemu dengan zakira kondisi nya membuat Zion khawatir.
Entah kenapa dia berfirasat bahwa keadaan zakira sekarang sedang tidak baik baik saja, meski dia tahu kalau kehadiran nya juga merupakan hal buruk tapi kali ini Zion merasa firasat nya sangat kuat.
Tak ingin terus tersiksa dengan pemikiran nya sendiri, Zion memutuskan untuk kembali menemui zakira walaupun dia tahu kehadiran nya akan di tolak oleh zakira tapi setidak nya dia sudah memastikan bahwa keadaan zakira baik baik saja.