The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
BAB 81



#Happyreading


Ddoorrrr....


Peluru Albert melesat dengan cepat menuju sasaran.


Jleb....


“Aaaakkhhhh...”teriak Emily ketika timah panas berhasil bersarang dengan sempurna di betis mulusnya.


Emily jatuh tersungkur sembari memegangi betisnya yang terluka.Namun ia tak pantang menyerah,dengan sekuat tenaga ia bangun dan menyeret kakinya yang terkena tembakan.


“Sepertinya kau sangat keras kepala honey”ucap Albert sembari berjalan ke arah Emily.


Albert terpaksa melakukan hal gila itu kepada Emily.Dia teringat dengan ucapan Emilia saat itu,sehingga dia berpikir bahwa Emily tidak akan mendengar perintahnya.Jadi dengan sangat terpaksa ia harus menghadiahkan Emily sebuah peluru meskipun itu terlihat sedikit kejam.


Emily masih berusaha menjauh dari Albert meskipun dengan menyeret salah satu kakinya.Beberapa kali ia menoleh ke arah belakang untuk melihat keberadaan Albert yang sudah dekat dengan dirinya.


Albert sedikit mempercepat langkah kakinya agar Emily tidak berjalan lebih jauh lagi.


“Ayolah honey..berhenti disana..apa kau tidak merasa lelah?”tanya Albert yang beberapa langkah lagi sudah bisa meraih Emily.


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu..dan jangan ikuti aku Albert”teriak Emily sembari meringis menahan sakit di kaki nya.


“Berhenti atau aku benar-benar marah”teriak Albert


Emily tetap berjalan bahkan ia berusaha mempercepat langkahnya demi menghindari Albert.Dan hal itu berhasil membuat kesabaran Albert habis.


Dengan langkah yang lebar,Albert dapat menjangkau Emily dengan mudah dan HHAAPP Emily sudah berada di gendongannya saat ini.


“Lepaskan aku...lepaskan aku Albert...lepas...”teriak Emily


Albert menggendong Emily layaknya menggendong sekarung beras.Ia meletakkan tubuh mungil Emily di bahunya.


Emily masih berteriak dan memukul punggung Albert dengan sekuat tenaga.Albert tidak perduli,ia tetap berjalan menuju mobil yang ia kendarai.


Melihat bahwa tuannya sudah mulai dekat,Albert membuka pintu mobil itu lebar-lebar.


“Turunkan aku Albert....turunkan aku”teriak Emily tanpa henti.


“Sebentar lagi honey..bersabarlah”ucap Albert santai.


Setelah sampai di mobil,Albert menurunkan Emily dengan pelan.


“Ambilkan aku tali”perintahnya kepada Clifton


“Ini tuan..saya sudah menyiapkan nya sedari tadi”ucap Clifton sembari menyerahkan sebuah tali.


Albert mulai mengikat tubuh Emily di jok mobil miliknya.Tidak lupa ia memasangkan sabuk pengaman setelah tali itu terpasang dengan sempurna.


“Apa yang kau lakukan..lepaskan aku Albert”Emily masih berteriak tanpa henti.


Brakk...


Albert menutup pintu mobil itu dengan keras hingga membuat Emily terlonjak kaget.


“Kau bawa mobil itu dan kembali ke mansion”perintahnya kepada Clifton dan berlalu masuk ke kursi kemudi.


“Lepaskan aku”ucap Emily yang menatap tajam ke arah Albert


“Diamlah honey..apa kau tidak lelah berteriak sepanjang hari?”ledek Albert


“Lepaskan aku!!!”emily tidak mendengarkan ucapan Albert dan terus berteriak berharap Albert akan terganggu dengan teriakkannya.


Cup..


Albert mencium bibir Emily dan ide nya pun berhasil membungkam bibir Emily.


Sepanjang perjalanan Emily hanya terdiam sembari menatap keluar jendela.Saat ini ia benar-benar kecewa dengan keadaan yang ia alami.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai dan Albert membuka pintu.Kembali ia angkat tubuh Emily ke dalam gendongannya.Kali ini bukan seperti mengangkat sekarung beras melainkan ala bridal style.


Tanpa perlawanan,Emily masih terdiam membiarkan Albert berbuat sesuka hatinya.Hingga mereka sampai di ruangan pemeriksaan tempat Dion melakukan praktek.


“Ada apa ini?”tanya Dion yang bingung ketika melihat keadaan Emily yang masih terikat dengan darah yang menetes dari arah betisnya.


“Siapa yang melakukan ini?”tanya Dion melihat luka tembakan di betis Emily.


“Tanyakan saja kepada pria yang ada di hadapanmu itu”jawab Emily


“Are you crazy brother?”dion benar-benar di habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Albert.


“Diam dan tangani dia secepat mungkin”perintahnya dan berlalu dari ruangan itu.


Dion mengambil peralatannya dan mulai menangani luka Emily.


“Apa yang terjadi?”tanya Albert di sela-sela kegiatannya.


“Tidak ada”jawab Emily singkat.


Dion akhirnya diam dan fokus kepada luka Emily.


Beberapa jam kemudian,Dion telah selesai mengeluarkan peluru itu dan menjahit luka pada betis Emily.Saat itu juga Albert masuk ke ruangan itu.


“Tinggalkan kami berdua”perintahnya kepada Dion.


Tanpa bertanya lagi,Dion berlalu dari ruangan itu meninggalkan sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat saling menatap tajam.


“Dengarkan penjelasanku”ucap Albert dingin.


“Aku tidak butuh penjelasan mu!!!”emily berteriak ke arah Albert dengan emosi yang mulai muncul.


“Dengarkan aku terlebih dahulu”


“Tidak!!!..aku tidak ingin mendengar apapun”Emily masih berteriak.


“Semua itu tidak seperti yang kau pikirkan selama ini”Albert masih berusaha membujuk Emily dengan sabar.


“Apa??...kau ingin mengatakan bahwa kau mabuk saat itu hingga salah memasuki kamar dan menganggapku adalah jalang yang kau pesan waktu itu?”emily berucap dengan nada yang tinggi sembari memasang raut wajah yang emosi.


“BISAKAH KAU DIAM DAN DENGARKAN PENJELASANKU!!!!”bentak Albert sembari memegang kuat kedua bahu Emily.


“Tidak..aku tidak bisa diam!!!!”emily ikut berteriak seakan tak ingin kalah.


Mata mereka saling menatap tajam,Albert maupun Emily tidak ada yang ingin mengalah.


“Benar kata Emilia..dia tidak akan percaya dengan ucapanku lebih baik aku membawa nya ke tempat Damian”gumam Albert dalam hati.


“Baik..mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan tapi aku akan membawa mu kepada seseorang yang mungkin bisa membuatmu percaya”Albert mengalah dan melepas cengkramannya dari bahu Emily.


Albert kembali mengangkat tubuh Emily ala bridal style dan membawa ke dalam mobil.


“Kemana lagi kau akan membawaku?”tanya Emily dengan ekspresi yang masih dingin.


“Ke tempat seseorang yang mungkin bisa membuatmu percaya pada ku”jawab Albert tanpa menoleh ke arah Emily.


Emily melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.Ia sangat tahu jika Albert tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.Emily tidak ingin jika masalahnya harus mengganggu waktu istirahat seseorang jadi ia memutuskan untuk mengalah saat ini.


“Aku ingin beristirahat dan aku memutuskan untuk mendengarkan penjelasanmu esok hari”ucap Emily sembari mengambil posisi tidur dan menutup matanya.


Kini mobil mereka melesat memecah keheningan malam yang sudah tampak sepi menuju sebuah hotel terdekat.Albert memutuskan untuk tidak membawa Emily ke mansion saat ini agar besok pagi ia bisa datang ke mansion Damian sepagi mingkin.


Bersambung...