The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
THE END



✨Happy Reading✨


“Oek...oek...oek..”


Suara alarm untuk Albert dan Emily sudah terdengar begitu nyaring.


Meskipun mereka bertiga tertidur larut malam namun entah kenapa mereka pasti akan bangun mendahului daddy dan mommy mereka.


“Hhmmm...AL..mereka sepertinya haus”gumam Emily dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar sebuah kalimat yang dia anggap sebagai perintah,Albert membuka matanya dan mengerjap perlahan.


“Aku akan membuatkan mereka susu”ucap Albert sembari memberikan morning kiss untuk sang istri.


Albert bergegas bangun dan membuatkan susu untuk ketiga bayi mungilnya.


Albert dan Emily memutuskan untuk merawat anak-anak mereka sendiri tanpa menggunakan jasa baby sister.


Hal itu mereka lakukan untuk menjaga anak-anak mereka dari ancaman penjahat yang bisa saja menyamar menjadi seorang baby sister.


Tiga bayi itu terus menangis ketika sampai detik ini susu mereka belum juga tiba.


Sang kakak yang berada di dalam satu ruangan yang sama pun ikut terbangun karena suara tangisan mereka.


“Kenapa kalian menangis?”tanya Leon yang baru saja bangun dengan tangan mengusap perlahan mata nya.


“Adik-adikmu haus..maka dari itu mereka menangis”jelas Albert yang baru saja tiba dengan 3 botol susu di tangannya.


Ketiga bayi itu memang berada dalam satu kamar bersama Albert dan Emily,namun akhir-akhir ini Leon ikut tidur bersama mereka dengan alasan membantu Emily mengasuh ketiga adiknya.


“Kau mau membantu daddy memegang botol susu untuk adik kecilmu yang paling cantik?”tanya Albert


“Tentu daddy”sahutnya yang begitu antusias.


Albert dan Emily memang sengaja melibatkan Leon untuk mengasuh sang adik.Itu semua mereka lakukan agar Leon menyayangi adik-adiknya dan tidak merasa iri.Selain itu,mereka tidak mau jika Leon merasa dia tidak diperhatikan.Untuk itu Albert dan Emily mengijinkan Leon berada dalam satu kamar bersama mereka.


“Daddy..dedek Keylie sudah tidur”bisik Leon ketika melihat sang adik melepaskan ujung botol susu yang ia berikan.


“Oke..angkat botol susunya perlahan”jawab Albert


Leon mengangkat botol susu itu dengan sangat pelan sesuai perintah sang ayah.


Tanpa mereka berdua sadari,seseorang yang masih di atas ranjang tersenyum hangat melihat pemandangan di pagi hari ini.


Ayah dan anak sulung terlihat begitu kompak membantunya menjaga ketiga bayi lucu itu.


“Terima kasih daddy...terima kasih anak mommy”ucap Emily yang membuat kedua laki-laki itu menoleh.


“Mommy...”teriak Leon tertahan.


“Sstttt...sini peluk mommy”bisik Emily


Leon bergegas menaruh kembali botol susu itu di atas meja lalu menghampiri Emily yang sedang merentangkan tangan.


“Good morning mommy”ucap Leon memberi satu kecupan di pipi sang ibu.


“Good morning Leon”balas Emily sembari melakukan hal sama.


Mereka berdua saling memeluk dengan erat,hingga beberapa menit kemudian sebuah tangan kekar ikut menyelip di antara mereka.


“Apa kalian melupakan daddy..Hhmm”ucap Albert yang ikut memeluk dari belakang.


“Tidak..kami tidak melupakan daddy”ucap Leon


“Sudah..sudah..katakan kalian ingin sarapan apa hari ini”tanya Emily kepada dia lelaki yang ada di hadapannya.


“Aku ingin pancake mommy”seru Leon.


“Aku ingin smoothie honey”Albert tak ingin kalah dari sang putra sulung.


“Baiklah..mommy akan membuatkan menu sarapan spesial untuk kalian sebagai hadiah karena kalian telah membantu mommy pagi hari ini”ucap Emily tersenyum tulus.


******


4 tahun kemudian...


“Kak Kenzo...kembalikan iPad ku”teriak Kenzi


“No..kau harus sedikit bergerak Kenzi..ayo latihan bersama ku”ucap Kenzo yang sedang bertengger di atas lemari baju mereka.


“No..aku tidak mau..”tolaknya.


Mendengar kegaduhan itu membuat si bungsu Keylie merasa terganggu.


“Kak Kenzo bisakah kau mengembalikan iPad kak Kenzi...dan kak Kenzi bisakah tidak bermain iPad sepanjang hari?”tanya Keylie dengan nada bicara yang lembut.


Namun mereka berdua masih tetap bertengkar dan mengabaikan pertanyaan si bungsu hingga di menit berikutnya Keylie tak bisa menahan emosi nya lagi.


“Kak Kenzo cepat turun atau aku akan menurunkan mu secara paksa”ancam Keylie


“Wwoowww...kau mengancam ku?”ucap Kenzo dengan ekspresi terkejut.


“Aku tidak main-main kak Kenzo..”teriak Keylie.


Di balik pintu seorang putra sulung mendengar pertengkaran itu ikut masuk kedalam.


“Hey ada apa ini?”tanya Leon.


“Kak Kenzo mengambil iPad ku kak dan memaksaku untuk ikut latihan”adu Kenzi kepada sang kakak pertama.


“Kau lihat kak..Sepanjang hari Kenzi selalu berada di dalam kamar dengan iPad di tangannya”Kenzo mencoba membela diri.


“Mereka berdua sangat berisik kak Leon..aku tidak bisa fokus belajar”sang bungsu ikut masuk ke dalam pembicaraan.


“Kenapa kau menyalahkan kami..kau bisa belajar di ruang bawah”protes kedua nya.


“Tidak...”sahut mereka bersamaan.


“Aku tidak salah kak”ucap Kenzo


“Aku juga tidak salah”imbuh Kenzi


“Apalagi aku”si bungsu pun tak mau kalah.


Leon hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat bagaimana keras kepalanya ketiga adiknya itu.


“Ada apa ini?”tanya Albert yang mendengar pertengkaran dari anak-anaknya


“Kenzo dad...”


“Kenzi dad..”


“Mereka berdu dad...”


Albert mengernyitkan dahinya karena ketiga anak kembarnya itu saling mengadu.Ia melirik ke arah putra sulungnya untuk mencari jawaban namun Leon menjawab dengan menggidikkan bahunya.


“Kenapa kalian selalu bertengkar?”tanya Albert


“Kak Kenzo yang mulai dad..”


“Bukan..aku hanya mengajarkan Kenzi dad..”


“Mereka berdua berisik dad..”


“Berhenti..bisakah kalian berbicara satu persatu secara bergiliran”


“Tidak..”lagi-lagi mereka menyahut dengan kompak.


“Aaiisss...kenapa kalian menjadi keras kepala seperti ini”gerutu Albert


“Karena kami anak daddy”


Plakkk...


Albert merasa mendapat sebuah tamparan kasat mata dari ketiga anaknya.


“Hey..kenapa kalian menyalahkan daddy”tanya Albert tak terima.


“Kami hanya mengikut daddy”sahut Kenzo


“Daddy tidak pernah keras kepala”kilah Albert


“Oh ya..lalu kenapa daddy tetap memeluk mommy padahal mommy bilang sedang memasak”Kenzo bersuara terlebih dahulu.


“Dan daddy juga tetap memaksa mommy padahal mommy berkata No Albert”Kenzi ikut menyerang.


“Daddy juga suka menggendong mommy padahal mommy bilang turunkan aku”dan si bungsu pun tak ingin kalah.


Mata Albert membulat sempurna mendengar penuturan ketiga anaknya.Namun dia sadar dengan kalimat Kenzi.


“Tunggu..apa maksudmu No Albert”tanya Albert


“Aku sering mendengarnya ketika malam hari..mommy sering berkata ‘No Albert aku sudah tidak tahan’..aku rasa daddy memaksa mommy”Kenzi berkata dengan gamblangnya.


Albert semakin tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ketiga anaknya.


“Ada apa ini?”suara lembut itu membuat mereka berlima menoleh secara bersamaan.


“Mommy...”ucap mereka bersamaan.


“Tidak ada..kami hanya berdiskusi”ucap Albert


“Bohong mommy...kita sedang bertengkar”ucap Leon


Sontak jawaban Leon membuat keempat orang itu melotot ke arahnya.


“Oh begitu rupanya...”Emily mengambil ancang-ancang untuk memberi pelajaran kepada mereka. Melihat hal itu satu persatu dari mereka saling meminta maaf.


“Hhmm Kenzi ini iPad mu”Kenzo turun dari atas lemari sembari memberi iPad itu kepada Kenzi


“Terima kasih kak..sepertinya aku akan ikut latihan bersama mu”ucap Kenzi


“Aahhh...seperti aku akan memakai penutup telinga saja ketika belajar”kilah si bungsu.


“Aku lupa jika harus memberi makan ikan peliharaanku”Leon pun ikut beranjak untuk menghindari amukan sang ibu.


“Kau punya ikan?”tanya Emily


“Aahh itu maksudku anjing mommy”


Keempat anaknya telah keluar dari ruangan itu dan menyisakan Albert seorang diri.


“Aahhh aku ingin...bermain bersama mu”ia meraih pinggang sang istri dan memberi kecupan pada bibir Emily.


“Honey..bisakah kau tidak bertengkar dengan mereka?”tanya Emily yang merasa pusing karena keempat anaknya berdebat layaknya orang dewasa.


“Aku tidak bertengkar..aku hanya berdiskusi”Albert membela dirinya.


“Sama saja “


“Honey..sepertinya kita harus memasang alat peredam di kamar kita”ucap Albert


“Alat peredam?...untuk apa?”tanya Emily bingung


“Sepertinya Kenzi mendengar permainan kita”ucap Albert dengan semburat merah di wajahnya.


“Aa..apa??”pipi Emily pun tak kalah merahnya dengan pipi Albert saat ini.


THE END