The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
BAB 107



✨Happy Reading✨


Pegal,itulah yang dirasakan Emily setiap harinya ketika semakin hari perutnya semakin membesar.Trio junior yang berada di dalam perutnya benar-benar membuatnya lelah.


Jika di usia kandungan 5 bulan ia masih bisa bergerak sesuka hati,namun lain hal sekarang ketika kandungannya sudah menginjak umur 9 bulan.Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk berbaring dan menonton semua film yang direkomendasikan oleh sang adik ipar.


Mora yang sedang menjalani masa hukuman diberikan ijin untuk tinggal di mansion Albert agar berjaga-jaga jika Emily merasakan sakit.


Emily sangat bersyukur karena saat ini ibu mertuanya sangat menyayangi dirinya layaknya anak sendiri.Bahkan bisa dibilang Mora terlihat lebih posesif.


“Apakah kamu ingin sesuatu sayang?”Tanya Mora yang ikut duduk di samping sang menantu.


“Tidak ada mom..hanya saja mereka semakin aktif”keluhnya ketika ketiga junior bergerak-gerak sejak tadi.


“Bagus.,itu artinya mereka dalam keadaan sehat”Mora berusaha memberikan dukungan kepada Emily.


“Hhmmm...apa kau sudah merasakan sakit atau nyeri?”tanya Mora


“Kemarin malam aku merasakan itu mom..tapi pagi harinya hilang lagi”jelas Emily mengelus pelan perutnya yang semakin membesar.


“Mommy..aku ingin ke toilet sebentar”pamit Emily sembari berdiri.


“Apa mau mommy temani?”ini adalah salah satu sikap posesif Mora terhadap menantunya.


“Tidak usah mom..aku bisa sendiri”jawabnya sembari tersenyum ke arah ibu mertua.


Emily berjalan dengan sangat pelan karena kakinya juga sedikit membengkak.


Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu untuk kembali duduk bersama Mora.


Namun di tengah perjalanan,rasa sakit yang ia rasakan kemarin malam mulai terasa lagi bahkan cenderung lebih sakit.


“Aaakkhhh...perutku”pekiknya sembari memegang perutnya.


Ia berusaha meraih dinding untuk berpegangan.Satu tangannya memegang perut dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk berpegangan di dinding.


Ia mencoba mengatur nafasnya dengan keringat yang mulai membasahi dahinya.


Semakin kesini,sakit yang ia rasakan semakin menjadi hingga ia memutuskan untuk memanggil sang ibu mertua.


“Mommy...”teriaknya lemah.


Mendengar suara sang menantu yang memanggil namanya,Mora bergegas menghampiri dan mencari sumber suara.


“Ada apa sayang?”tanya Mora yang baru sampai


“Mom..perutku..sakit”rintihnya


“Oh My god..sepertinya kau akan melahirkan”ucapnya dengan raut wajah yang panik.


“Willy...Willy..”teriak Mora sembari membantu Emily berjalan menuju kursi yang tak jauh dari sana.


“Ada apa nyonya?”tanya Willy dengan sedikit tersengal-sengal karena berlari.


“Cepat kau siapkan mobil...menantuku akan melahirkan”perintahnya.


“Jessi...jesssi...”teriaknya lagi.


“Aakkhh...mommy ini semakin sakit”rintih Emily dengan air mata yang mulai mengalir


“Tenang sayang..rileks...tarik nafas dan keluarkan dengan perlahan...sebentar lagi kita akan ke rumah sakit”ia berusaha tenang agar Emily juga ikut tenang meskipun saat ini ia begitu panik.


“Ada apa mom?”Tanya Jessi menghampiri sang ibu.


“Cepat hubungi kakakmu...katakan jika istrinya akan seger melahirkan”perintah Mora


Jessi melihat ke arah Emily dan seketika raut wajahnya menjadi panik


“Astaga kakak ipar...bersabarlah”Ia mulai menekan tombol yang ada di dalam ponselnya.


“Nyonya...mobil telah siap”lapor Willy


“Cepat angkat menantuku...kita harus segera ke rumah sakit”perintah Mora


“Tapi nyonya saya tidak berani”jawab Willy karena ia tahu bagaimana posesif sang majikan kepada istrinya


“Tidak ada waktu lagi...ini perintah dan jika Albert marah maka aku yang akan bertanggung jawab”Mora tidak bisa melihat sang menantu yang terus merintih.


Willy pun mengikuti perintah Mora dan mulai mengangkat tubuh Emily kemudian membawanya menuju rumah sakit.


Di tempat lain,Albert tengah melakukan meeting dengan beberapa client hingga ponsel nya pun berdering.


“Ada apa?”tanya Clifton ketika ia menempelkan benda kotak itu di telinganya.


“.......”


“Apa?...baiklah aku segera menyusul”


Semua orang nampak bingung dengan perubahan raut wajah Albert.


“Maaf...aku harus pergi saat ini juga...istriku akan melahirkan”


Tanpa menunggu jawaban dari semua nya,Albert bergegas keluar dari ruangan itu dan berlari menuju loby perusahaan,tidak lupa sang sekretaris selalu setia berada di belakangnya.


“Kita ke rumah sakit sekarang”perintahnya


Mobil yang dikendarai Clifton melesat dengan kecepatan tinggi sesuai dengan perintah sang tuan.Disepanjang perjalanan Albert terlihat begitu cemas dan terus memerintahkan Clifton untuk mempercepat laju mobilnya.


Tak lama kemudian ia pun sampai bersamaan dengan mobil yang membawa Emily.


“Dimana istriku?”tanya Albert panik


“Dia ada di dalam”sahut Mora


“Honey..Are you ok?”tanya Albert sembari membawa sang istri kedalam gendongannya


“Sakit.,,”rintih Emily untuk kesekian kalinya.


“Bersabarlah..sebentar lagi junior akan keluar”ucapnya menenangkan sang istri


Kini Emily sudah dipindahkan ke sebuah ranjang dan langsung di rujuk ke ruang bersalin.


“Apa kau yakin ingin melahirkan normal?..kau tak ingin melakukan oprasi?”tanya Albert kesekian kalinya


“Aku ingin normal”jawab Emily kekeh


“Baiklah jika itu maumu”Albert tak ingin berdebat saat ini jadi ia memutuskan untuk mengikuti keinginan sang istri.


“Nona Emily apakah anda sudah siap?”tanya sang dokter


Emily menganggukkan kepalanya lemah sembari mencengkram erat tangan Albert.


Proses persalinan dimulai,Emily masih berusaha sekuat tenaga mengikuti instruksi dari sang dokter.


Albert yang berada di sisi sang istri terus membisikkan kata-kata penyemangat untuk Emily.


“Ooeekkk...ooeekkk”


Bayi pertama akhirnya keluar


“Selamat tuan dan nona..bayi pertama berjenis kelamin laki-laki”ucap sang dokter.


Mereka berdua memang tidak tahu jenis kelamin dari ketiga bayinya karena mereka ingin itu menjadi sebuah kejutan.


Kini perjuangan Emily masih berlanjut untuk melahirkan bayi kedua,dan tak perlu menunggu lama suara tangisan bayi kedua sudah terdengar.


“Oooeekkk...ooeeekkk”


“Selamat tuan..bayi kedua juga berjenis kelamin laki-laki”


Mereka berdua tersenyum bahagia.


“Ayo honey..ini yang terakhir”ucap Albert


Kini tinggal selangkah lagi maka bayi ketiga akan lahir.Sama seperti sebelumnya,suara bayi ketiga sudah terdengar


“Oooeekkk...ooeekkk”


“Selamat tuan dan nona...bayi yang ketiga berjenis kelamin perempuan”


Suster yang ikut membantu mulai membersihkan ketiga bayi lucu itu.


“Terima kasih honey”ucap Albert dengan air mata yang berlinang


Tidak lupa ia mengecup pelan pucuk kepala sang istri yang terlihat lemah.


Emily tersenyum sebelum akhirnya ia memejamkan matanya sejenak karena merasa begitu lelah.


“Biarkan nona istirahat sejenak tuan..dia pasti sangat kelelahan”jelas sang dokter ketika melihat raut wajah Albert yang khawatir.


Bersambung