
#happyreading
Cahaya matahari sudah mulai redup hingga menyisakan langit yang terlihat indah dihiasi oleh warna orange bercampur abu disetiap sisi.Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore,namun gadis cantik yang tengah berbaring di atas ranjang masih setia menutup mata nya.Sempat terpikir olehnya apakah wanita yang ada di depannya saat ini benar-benar pingsan atau hanya tertidur melepas penat.
“Eenngghh...”lenguhan kecil mulai terdengar dari bibir Emily.
“Aaakkhh...dimana aku?”gumam Emily
“Apakah tidur mu nyenyak?”tanya Albert
“Astaga AL..sejak kapan anda disini?”emily terlonjak kaget karena kehadiran Albert
“Apakah dahi mu terasa sakit?”tanya Albert mengabaikan pertanyaan Emily dan mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Emily.
“Aahh ini..sudah tidak terlalu sakit..”Jawab Emily,namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu..
“Eehh..luka ku sudah diperban...siapa yang melakukan ini semua?...apakah anda?”emily semakin bingung saat ini.
“Apa benturan tadi membuatmu kehilangan ingatan?”ledek Albert
Emily terlihat mencoba mengingat kejadian tadi hingga ia pingsan ketika meminta bantuan Willy untuk memanggil dokter.
“Aahh iya saya sudah ingat sekarang..”ucap Emily
“Kenapa dahi mu bisa terluka?”albert sengaja berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya,dia ingin mendengar jawaban dari bibir Emily.
“Hhmm itu...saya tadi terjatuh saat ingin mengambil buah di dapur dan dahi saya membentur meja yang ada diruang tengah.”jelas Emily yang terlihat jelas sedang berbohong.
“Apakah benar seperti itu?”albert menatap curiga ke arah Emily.
“I..iya memang seperti itu”Emily sedikit gugup dibuatnya.
“Kenapa kau bisa seceroboh itu?...apa mata mu sudah tidak berfungsi dengan baik saat ini?”Tanya Albert dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Maafkan aku karena harus berbohong..aku tidak ingin hubungan ibu dan anak akan renggang karena aku”gumam Emily dalam hati.
“Tetaplah di tempat tidurmu..sebentar lagi seorang maid akan mengantarkan makan malam untukmu”titah Albert ketika Emily mencoba beranjak dari posisi nya.
Emily hanya menganggukkan kepala tak ingin membantah ucapan dari laki-laki yang ia cintai saat ini,meskipun ia tahu sampai saat ini perasaannya belum terbalaskan.
Di tempat lain 2 orang wanita tengah merasa panik,pasalnya mereka baru saja mendengar kabar jika sang pemilik mansion pulang dengan cepat karena kekasihnya mengalami cedera.Saat itu juga mereka berdua yakin kalau cedera itu didapat karena ulah mereka.
“Bagaimana ini Aunty?...Albert pasti akan marah kepada kita..”raut wajah khawatir mulai terukir jelas di wajah Clara maupun Mora.
“Tenanglah...Albert tidak mungkin berani memarahi ku karena aku adalah ibu kandungnya”Mora mencoba menenangkan diri sendiri saat ini.
Tok...tok...tok...
Mora beranjak dari tempat duduknya menuju pintu untuk membuka pintu.
“Permisi nyonya...tuan Albert sudah menunggu nyonya di meja makan”ucap salah satu maid.
“Aku akan segera turun”Jawab Mora yang di balas anggukkan oleh maid.
“Ayo kita turun Clara..jangan buat Albert menunggu terlalu lama”ajak Mora.
Jika boleh jujur,saat ini Clara sangat ingin berada di kamar karena takut akan amarah dari Albert.Namun ia harus ikut turun bersama Mora agar tidak mendapat masalah yang lebih banyak lagi.
“Maaf membuatmu menunggu Albert”ucap Mora sembari mengambil posisi untuk duduk diikuti oleh Clara.
“Tidak apa..”jawab singkat Albert
“Kemana pergi wanit..”ucapan Mora terpotong karena kedatangan dari seseorang.
“Maaf aku terlambat..aku harus menjemput Leon terlebih dahulu di dalam kamarnya”ucap Emily bersama Leon yang ada di gendongannya.
“Siapa yang mengijinkan mu turun?”tanya Albert namun dengan mata menatap lurus ke depan.
“Aku tidak rela jika kau makan malam berdua dengan wanita ini”gumam Emily dalam hati.
“Selamat malam semua...maaf aku terlambat”sapa Jessi yang baru saja tiba.
“Kenapa dengan dahi mu kakak ipar dan wajahmu terlihat pucat?”tanya Jessi ketika Emily menoleh ke arahnya.
“Ah ini hanya luka kecil..tadi aku terjatuh saat ingin mengambil buah dan tidak sengaja membentur meja yang ada disana”ucap Emily sembari melirik ke arah 2 wanita yang tengah menundukkan kepala.
“Astaga..apa itu terasa sakit?”raut wajah Jessi terlihat khawatir.
“Jessi temani dia makan di kamar nya..”perintah Albert
“Naik dan makan malam bersama Jessi di dalam kamarmu”sekali lagi Albert memerintah Emily namun dengan nada tegas.
“Tapi...”
“Naik atau kau tidak akan pernah merasakan makan malam di meja makan lagi setelah ini”ancam Albert
Emily memilih mengalah dan naik ke atas masih dengan Leon berada di gendongannya dengan raut wajah kesal disusul oleh Jessi dibelakangnya.
“Padahal aku tidak ingin dia makan malam bersama wanita itu”gerutu Emily dalam hati.
Setelah kepergian Emily,Clara tersenyum dan berniat untuk mengambil perhatian Albert.
“Hhmm Albert bisakah kita mulai acara makan malamnya?”tanya Clara dengan lembut
Albert menganggukkan kepala.
“Kau ingin aku ambilkan sesuatu?”Clara mengulurkan tangan hendak mengambil lauk untuk Albert.
“Aku harap kau tahu batasan saat berada di dalam mansion ku”tolak Albert
Clara menghentikkan aktivitasnya dan menganggukkan kepala tanda mengerti.
Didalam kamar Emily terlihat murung.Meskipun sudah ditemani Jessi dan juga Leon,entah kenapa ia merasa tidak selera makan memikirkan Albert sedang makan malam bersama wanita itu.
“Sudahlah kakak ipar..kau habiskan makananmu..kau tidak perlu khawatir,kakak tidak akan mudah tergoda dengan wanita lain”ucap Jessi seolah mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Emily.
“Hhuuffttt...”Emily menghela nafasnya namun tidak berniat untuk memakan hidangan yang ada didepannya.
“Mommy aku sudah kenyang”ucap bocah laki-laki yang ada di depannya.
“Aahhh kau sudah kenyang rupa nya..sekarang cuci tanganmu dan jangan lupa untuk menggosok gigi..setelah itu kau akan dibacakan dongeng oleh Aunty Jessi”ucap Emily melirik ke arah Jessi.
“Baiklah..kemari anak baik..Aunty akan membacakan sebuah dongeng tentang tuan putri yang sedang cemburu”sindir Jessi sembari keluar dari kamar Emily dengan Leon yang ada di gendongannya.
Setelah kepergian Jessi dan Leon,Emily masih tetap setia menatap makanan yang ada didepannya sembari mengaduknya pelan.
“Jika dalam 5 menit makanan itu tidak habis maka bersiaplah untuk menerima hukuman dari ku”suara bariton yang sangat tidak asing ditelinga mengalihkan perhatiannya.
“AL..kenapa kau ada disini?”tanya Emily
“Cepat habiskan makananmu”titahnya
Emily tidak bergeming,ia masih tetap mematung menatap makanan yang ada di depannya.
“Apa kau ingin aku menyuapi mu dengan mulutku?”bisik Albert di telinga Emily.
Deg....
Jantung Emily kembali berdetak kencang,untuk sepersekian detik ia tersadar dan seger memakan makanan yang ada di depannya dengan lahap.Ia sangat yakin jika itu terjadi maka bahaya akan menghampirinya.Albert hanya tersenyum melihat tingkah dari wanita yang telah mengisi hati nya.
Bersambung...