
#happyreading
Kejadian menegangkan telah berlalu,namun semua itu menyisakan sebuah misteri bagi seorang Dannis.Siapa orang yang selalu mau membantu nya?..dan kenapa ia selalu memanggilnya daddy?...semua itu berputar di dikepala nya.Dia teringat dengan kejadian 5 tahun silam namun semua yang ingin dia akses di hari itu benar-benar hilang dari rekaman CCTV,yang tersisa hanya rekaman kejadian yang dialami Albert.
“Aaarrrgghhh....siapa sebenarnya kau??”teriak Dannis di dalam ruangannya.
“Tunggu aku mengingat sesuatu..”gumam nya ketika otaknya cerdasnya berhasil mengingat sesuatu.
“Apakah mungkin wanita itu berkata benar 5 tahun silam?”ia memegangi dagu nya dan terlihat berpikir sangat keras.
Setelah memastikan semua yang ada dalam ingatannya adalah kejadian yang begitu penting,ia kembali duduk di depan layar komputer miliknya dan mencari sesuatu di sana.
Hari ini adalah hari ketiga dia berada di rumah sakit.Luka pasca oprasi yang ada di bagian dada sebelah kirinya masih terasa nyeri ketika di gerakkan.Namun itu tak berarti bagi nya karena seseorang yang mampu membuat jantungnya berdegup 2 kali lebih kencang itu berada di sisi nya.Meskipun sikap Albert masih dingin kepada nya,itu sama sekali tidak membuat Emily bersedih.
“Hhhmmm...tuan..”panggil Emily dengan sedikit takut.
“Apa..?”jawab Albert tanpa menoleh ke arah Emily.
“Mmmm itu...bisakah tuan memanggil kan seorang suster?”tanya dengan sedikit ragu.
“Apa luka mu terasa sakit?”mata tajamnya melirik ke arah Emily
“Tidak..tidak tuan..itu..saya ingin pergi ke kamar mandi..untuk...”ucapan Emily terpotong karena kini Albert tengah berada di sisi ranjang dengan posisi yang siap untuk menggendong Emily
Hal itu sontak membuat Emily terkejut dan merasakan sakit pada bagian dada nya.
“Aakkhh...”pekik Emily sembari memegangi dada nya.
“Hheeyy apa aku menyakiti mu?”tanya Albert dengan raut wajah panik.
“Astaga tuan mengkhawatirkan ku??...jika seperti ini lebih baik aku merasa sakit setiap saat”gumam nya dalam hati.
“Tidak tuan..hanya saja saya sedikit terkejut”jelasnya dengan wajah yang sudah merona.
“Maaf jika aku mengejutkan mu..sekarang kau pegang ini dan aku akan menggendong mu pergi ke kamar mandi”ucap Albert sembari memberikan botol infus kepada Emily.
“Ta..pi..tuan”Emily benar-benar merasa malu karena Albert menggendongnya meskipun ini bukan yang pertama kalinya.
“Diam dan jangan banyak bergerak...jika kau terjatuh makan itu bukan salahku”titah Albert tegas.
Layaknya seorang anak kecil yang mendengar perintah dari orang tua nya,Emily terdiam dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh tuannya.
“Jika kau sudah selesai..kau bisa Memanggilku”ucapnya dan keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit berlalu,Emily tak kunjung memanggil nama Albert sehingga laki-laki itu terlihat mondar mandir didepan pintu kamar mandi.
“Apa terjadi sesuatu didalam sana?..atau aku ketuk saja pintu nya?”gumam Albert dalam hati.Beberapa kali ia ingin mengetuk pintu namun kembali ia menarik tangannya karena ia merasa tidak enak.
Sedangkan di dalam sana,Emily nampak kebingungan setelah selesai buang air,ia ingin keluar namun mulutnya tak mampu berucap untuk memanggil tuannya.Bukan karena apa,dia tidak memiliki keberanian untuk berteriak karena sungguh itu sangat memalukan bagi nya.
“Bagaimana ini?”gumamnya dalam hati.
Namun siapa sangka,mereka melakukan hal itu secara bersamaan.
“Tuan..”teriak Emily
Diikuti dengan ketukan pintu dari Albert.
Pintu kamar mandi di buka oleh Albert dengan sedikit keras karena sedari tadi ia sudah menunggu lama dan terciptalah suasana canggung di antara mereka.
“Eehhemmm..apa kau sudah selesai?”tanya Albert menghilangkan rasa canggung yang ada.
Albert kembali menggendong Emily untuk kembali ke ranjang.Mata mereka kembali bertemu namun dengan cepat Albert memalingkan wajahnya.
“Berpegangan lah”perintah Albert
Emily menganggukkan kepala sembari mengalungkan tangannya di leher Albert.
Dengan pelan Albert menurunkan Emily ke atas ranjang.Setelah merasa aman ia menarik kursi dan ikut duduk di sisi ranjang.Albert menatap lekat ke arah Emily sehingga membuat seseorang yang di tatap merasa gugup.
“Ke..kenapa tuan menatap saya seperti itu?”tanya dengan suara gugup.
“Aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu dan aku harap kau jawab dengan jujur!”pintanya.
“Kenapa kau mengorbankan nyawa mu untuk menyelamatkan kU?...bukankah seharusnya kau merasa senang jika aku tertembak?”tanya Albert serius.
Dddeegg...
Emily sedikit tertegun dengan pertanyaan tuannya kali ini.Dia bingung apakah harus berkata jujur atau tidak,jika dia berkata jujur maka itu sangat memalukan tapi jika tidak berkata jujur itu akan menjadi beban untuknya.Dengan mengumpulkan tekad ia mulai menjawab pertanyaan Albert
“Hhmmmm...saya rasa tuan sudah tahu jawabannya karena kita sudah sama-sama dewasa untuk mengerti itu semua”jawab Emily dengan tegas.
Bukannya menanggapi jawaban dari Emily,Albert malah tersenyum jahil ke arah Emily.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan..jadi katakanlah dengan benar”ucap Albert dengan nada menggoda.
Emily membulatkan mata seakan tidak percaya tuannya bisa berbuat jahil kepada nya.Tidak ingin kalah,ia juga mempunyai sebuah ide di dalam kepala nya.
“Mendekatlah tuan..saya akan bisikkan jawaban saya..saya merasa malu jika harus mengatakan secara langsung.”ucapnya sembari tersenyum manis ke arah Albert.
Albert mengernyitkan dahi mendengar permintaan dari Emily.Namun apa salahnya jika ia mengikuti ucapan dari gadis manis yang berada di depannya.Ia mencondongkan badan kedepan dan mendekatkan telinga nya di wajah Emily.Gadis itu tersenyum karena targetnya sudah masuk,dengan suara selembut mungkin ia membisikkan sesuatu ke telinga Albert.
“Apakah jantung tuan berdetak 2 kali lebih cepat ketika berada sedekat ini dengan saya..karena saya merasakan hal itu ketika berada di dekat tuan.”bisik Emily sembari memberikan sedikit sentuhan di pipi Albert dengan pipi mulusnya.
Bulu roma Albert berdiri serta aura panas menyelimuti tubuhnya.Emily benar-benar berhasil membuat nya kaku seketika.Untuk beberapa menit Albert terdiam mencerna perkataan dari Emily namun setelahnya ia sadar akan perasaan gadis yang ada di depannya.
“Eekkhheemm...jadi..”Albert berdehem dan menggantungkan kata-kata nya.
“Saya mencintai anda tuan”kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Emily karena ia kesal,tuannya belum juga mengerti akan maksdunya,namun dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannnya.
“Apa kau tahu konsekuensi apa yang akan kau terima jika berani mencintai ku?”ucap Albert sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Emily yang sudah merona.
“Selama kau tidak akan bisa lepas dariku dan hidupmu akan berubah setelah masuk ke dalam dunia kU”bisik Albert di kuping Emily yang masih mematung.
“Kau bisa menarik kata-katamu jika merasa ragu dengan apa yang kau ucapkan.”ucap Albert menarik kembali wajahnya.
“Apa..apa itu artinya dia menerima ku..apa dia begitu bodoh bertanya hal seperti itu bahkan aku rela mati demi nya”gumam Emily dalam hati.
“Saya sudah yakin dengan apa yang saya katakan tuan”ucap Emily meyakinkan diri nya dan juga Albert.
“Baiklah jika itu keputusanmu..maka bersiaplah masuk ke dunia ku karena mulai saat ini kau harus menjadi wanita yang kuat untuk bisa berada di sisi ku.”ucap Albert menatap lekat ke arah Emily.
Emily menganggukkan kepala untuk menjawab kata-kata yang keluar dari bibir Albert.Netra mata nya bertemu dan saling menatap dalam.Albert kembali mendekatkan wajah dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Emily.Wajah mereka semakin dekat dengan mata yang mulai terpejam.
Ceklek...
Seseorang masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu sehingga adegan romantis pun hilang begitu saja.
“Uupsss..maaf aku tidak tahu”Dion kembali menutup pintu dan berlari secepat mungkin.Karena jika tidak,sudah dapat dipastikan kepala akan dilubangi oleh Albert.
Bersambung...