
3 bulan kemudian…
Setelah kejadian malam itu, Albert memutuskan untuk mengangkat Clifton sebagai orang kepercayaannya. Semua itu ia lakukan untuk membalas budi kepada pria yang mengaku sebagai anak yatim piatu itu.
Namun tetap saja, seseorang seperti Albert tidak akan menerima orang lain dengan mudah. Alasan lainnya adalah, Albert dapat melihat potensi yang luar biasa dari diri seorang Clifton.
Lelaki itu pandai bertarung dan memakai senjata api serta senjata tajam lainnya. Selain itu, Clifton juga memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang IT. Meretas dan membuat sistem keamanan yang sulit ditembus adalah keahliannya. Sehingga hal itu sangat memudahkan Albert dalam mengelola bisnisnya, terutama bisnisnya di dunia gelap.
Tidak hanya menjadi orang kepercayaan bagi Albert, lelaki dengan postur tubuh kekar itu berhasil mencuri perhatian anak perempuan satu-satunya di keluarga Wheeler.
Bahkan kedekatan mereka terjalin dengan begitu cepat. Clifton dan Jessi terjerat cinta pada pandangan pertama.
Awalnya, Clifton hendak menyangkal perasaannya. Namun semakin ia ingin menjauh, perasaan cinta itu terasa semakin kuat.
Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Jessi. Clifton tak berekspektasi terlalu tinggi waktu itu, tujuannya hanya ingin menyatakan perasaannya. Karena hal itu cukup menganggu kesehariannya selama bekerja.
Tapi siapa sangka, gadis itu menerimanya dan berkata jika ia memiliki perasaan yang sama. Sejak saat itu, mereka resmi menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Hanya saja, Clifton meminta untuk merahasiakan hubungan itu dengan alasan, ia hanya seorang sekretaris.
Clifton khawatir jika Albert mengetahui hubungan mereka, jika mengingat kembali status sosial diantara keduanya.
#FLASHBACK OFF
•
•
Disinilah mereka saat ini, berjalan di tengah keramaian sembari mendorong kereta bayi.
Ini ide dari seorang Jessi, pergi berbelanja ke Mall bersama keponakannya adalah alibi yang sangat bagus, agar dirinya bisa menghabiskan waktu dengan kekasih tercinta.
“Aunty, aku ingin turun” rengek Leon dengan wajah kesal. Mengapa ia diperlakukan seperti bayi, pikir Leon kecil.
“Tidak! Kau tidak boleh turun. Tempat ini begitu ramai, bagaimana jika kau hilang atau diculik” tolak Jessi.
“Kenapa harus khawatir, bukankah ada uncle Clifton. Dia bisa menemukanku dengan mudah. Benar kan uncle?” Kini Leon mencoba untuk mencari dukungan dengan menatap sekretaris sang ayah. Dinaikkan kedua alisnya, memberi isyarat agar pria itu mau mengangguk setuju.
Clifton tersenyum manis “sebaiknya anda mendengarkan Aunty Jessi tuan muda” tolaknya dengan nada lembut.
“Hey.. kau memanggilku apa?” Pekik Jessy sembari menepuk pelan lengan Clifton.
Alih-alih takut dengan tatapan galak Jessy, Clifton justru menunjukkan senyum jahilnya “Aunty”
“Cckk! jangan memanggilku dengan sebutan itu. Hanya Leon dan si kembar yang boleh memanggilku dengan sebutan itu” sungut Jessy, matanya memicing seolah memberi peringatan kepada sang kekasih.
“Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Nona muda? Nona Jessi?” Cerca Clifton, sedikit gemas dengan eskpresi kekasihnya ini. Siapapun yang mengenal Clifton sebagai sosok dingin dan berwajah datar, akan sangat terkejut kala melihat tingkah lakunya saat ini. Bibirnya tak henti melengkung sempurna jika sedang bersama Jessy.
“Honey..” celetuk Leon yang membuat Clifton dan Jessi kompak melirik satu sama lain.
“Kenapa uncle tidak memanggil Aunty dengan sebutan itu? Aku sering mendengar daddy, memanggil mommy dengan sebutan itu” celoteh anak itu dengan entengnya.
Jessy sudahi acara tatap menatap dengan kekasihnya itu, kembali ia menatap sang keponakan “Mm Leon, panggilan itu biasanya untuk dua orang yang saling mencintai. Atau sederhananya, orang dewasa yang hidup menjadi pasangan” jelas Jessi yang sedikit kesulitan untuk mencari kata-kata.
“Seperti daddy dan mommy?” Leon bertanya dengan serius.
“Hhmm, seperti mereka” balas Jessyu
Leon nampak belum puas, terlihat dari raut wajahnya yang tengah berpikir “Tapi bukankah Aunty dan Uncle juga seperti mereka?”
Lagi dan lagi, keduanya dibuat terkejut dengan pertanyaan Leon.
“Tunggu, apa maksudmu?” Sontak Jessy bertanya dengan panik.
“Mommy bilang, uncle dan aunty adalah pasangan..uuppss” Leon menutup mulutnya cepat-cepat, sadar jika rahasia antara dirinya dan sang ibu hampir terbongkar.
“Aku tidak sengaja mom, maaf”. Batin Leon
Clifton tersedak air liurnya sendiri saking terkejutnya. Bahkan ia tengah melotot penasaran ke arah Leon.
“A-apa maksudmu Leon?” Jessy semakin panik pun penasaran.
“Maaf aunty, tapi aku sudah berjanji pada mommy untuk tidak memberitahu siapa pun” ucap Leon tanpa rasa bersalah sedikit pun, setelah berhasil membuat kedua orang dewasa ini penasaran.
“Tapi kau sudah memberitahu kami” tekan Jessy, ditatap galak kini sang keponakan. Berharap agar Leon mau berkata jujur.
“Aku tidak sengaja” balas Leon sembari memainkan jari-jari tangannya, guna mengalihkan perhatian.
“Tetap saja, kau sudah memberitahu kami” Jessy mulai kesal dibuatnya, sungguh tidak suka jika diberitahu hanya setengah-setengah begini.
“Tetap saja aku tidak sengaja” Leon tetap pada pendiriannya untuk tidak memberitahu apapun.
Clifton menepuk pelan pundak Jessy, kala wanita itu ingin berbicara lagi. Ia mengedipkan sebelah matanya, seolah berkata ‘biarkan aku yang mencoba’
Jessy mengangguk setuju, ia membiarkan Clifton mendekati sang keponakan.
“Eee tuan muda Leon..” panggil Clifton
“Ya uncle..” Leon menjawab, namun enggan menatap ke arah Clifton.
“Apakah kau mau makan ice cream bersama uncle?” Ajak Clifton, ini adalah senjata pertamanya. Ia sangat tahu, jika tuan mudanya ini sangat gemar memakan ice cream.
“Ice cream? Tentu saja” lihat, mata anak kecil ini berbinar. Kegirangan saat mendengar nama makanan favoritenya disebut.
Leon menatap Clifton dengan curiga. Saat itu juga, keinginannya untuk menyantap ice cream, sirna“No uncle, aku tidak akan memberitahu uncle” tolak Leon. Biarlah nanti ia meminta kepada sang ibu saja, pikirnya.
Jessy yang senantiasa berdiri disana,hampir tergelak kala sang kekasih mendapat penolakan.
“Bagaimana dengan Ninetendo wii supreme?” Clifton kembali menyerang dengan rencana keduanya.
“No.. aku bisa meminta kepada daddy nanti” Leon menggeleng ribut. Tawaran ini sungguh tidak menarik minatnya.
Oh God, Clifton lupa jika ayah dari bocah itu adalah bosnya. Albert bahkan bisa membeli pabriknya sekaligus jika ia mau.
“Eeee.. Ahh.. kau suka gundam bukan?” Clifton nampak seperti orang bodoh sekarang. Membujuk seorang anak kecil demi sebuah rahasia pergosipan.
Bocah itu mengangguk pelan “Gundam fix platinum, bagaimana?” Tawar Clifton.
“Benda itu terlihat berkilau tuan muda” imbuh Clifton, memberikan sebuah bayangan akan mainan yang digemari Leon
Leon nampak berpikir, namun ia kembali menggelengkan kepalanya. “Daddy sudah membelikannya uncle, bahkan aku sudah punya 10”
Baiklah, Clifton menyerah. Ia tak akan bisa membeli anak ini. Terlampau sulit membujuk anak orang kaya, pikirnya.
“Tapi aku ingin sesuatu uncle” seru Leon yang membuat Clifton dan Jessi langsung bersemangat.
“Katakan tuan muda” pinta Clifton antusias.
“Aku ingin membuat istana pasir di salah satu pantai”
Istana pasir? Hey kenapa begitu mudah. Batin Clifton
Clifton tersenyum penuh kemenangan “ hanya itu tuan muda?”
“Hhmm, apakah uncle bisa mengajakku kesana dan membuat istana pasir bersamaku?”
“Tentu tuan muda, katakan dimana letak pantai itu” ajak Clifton dengan antusias.
“Ayo kita kesana uncle” ajak Leon yang tak kalah antusias.
Tanpa berpikir panjang, mereka bertiga akhirnya pergi dari mall itu menuju pantai yang diinginkan oleh Leon.
•
•
“Itu uncle, itu pantainya” tunjuk Leon dengan antusias.
“Yang mana tuan muda?” Clifton tidak menemukan pantai disana.
“Itu..” Leon terus menunjuk ke arah bangunan megah di depan sana.
Clifton dan Jessi terlihat kebingungan, tak ada pantai di depan matanya. Yang ada hanya Resort bintang lima yang berdiri dengan megah di pesisir pantai.
“Tidak ada tuan muda” jawab Clifton lagi.
“Cckk! di dalam bangunan itu uncle” Leon berdecak kesal
“Mak-maksud anda, anda ingin membuat istana pasir di pesisir pantai Resort itu?” Clifton mencoba untuk memperjelas maksud dari tuan mudanya.
“Hey mana bisa kita tidak bisa bermain disana karena pantai itu milik Resort itu” sambar Jessy
“Bisa!” Ujar Leon dengan cepat
“Siapa yang mengatakan itu?” Tanya Jessi
“Daddy!” Jawabnya dengan cepat
“aku pernah masuk kesana bersama daddy. Aku ingin bermain di pantainya namun daddy bilang tidak bisa karena pantai itu milik tamu yang menginap disana. Lalu daddy bilang lagi, jika aku ingin bermain disana, aku harus membeli Resort itu agar aku bisa memiliki pantainya juga. Tapi karena aku masih kecil, daddy bilang nanti saja ketika aku sudah besar dan memiliki banyak uang” jelas bocah itu panjang lebar.
“Benar, daddy mu benar” jawab Jessi
“Tadi uncle akan mengajakku kesana bukan? Jadi ayo uncle.. beli Resort itu dan kita bermain disana” rengek Leon
Oh tidak, Clifton masuk ke dalam jebakan nya sendiri. Kenapa ia begitu bodoh, melupakan jika bocah yang ia bujuk adalah anak orang kaya.
“Aku tidak ingin menunggu sampai aku besar uncle, itu sangat lama” imbuhnya
Glekkk!!
Clifton menelan ludahnya kasar, apakah ia harus merelakan tabungannya selama ini hanya untuk mengetahui hal yang dikatakan oleh Emily kepada Leon.
Jessi melirik sang kekasih, apakah Clifton tidak akan bangkrut nantinya? Oh Ayolah, ia sangat tahu jika uang kekasihnya itu sangat banyak.
“Bagaimana uncle?” Leon menatap Clifton yang masih kebingungan
Jessi menganggukkan kepala cepat ke arah Clifton.
“Kau tidak akan bangkrut baby, kakakku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tenang saja” bisik Jessi mencoba menenangkan sang kekasih.
Clifton mengangguk lesu, memang ia tak akan bangkrut tapi membeli bangunan itu cukup membuat dompetnya menciut
Bersambung..