
#happyreading
Setelah memastikan Leon sudah benar-benar tertidur,Emily bangkit dari posisinya dengan gerakan se pelan mungkin agar Leon tidak terganggu.Hari ini ia memutuskan untuk membaca buku di dalam kamarnya,namun sebelum itu ia pergi menuruni anak tangga untuk mengambil beberapa buah.
“Wah seperti kau sedang mendalami peranmu saat ini”suara seseorang dari arah belakang.
Emily menghentikkan langkahnya dan membalikkan badan.
“Mommy...”sapa Emily
Mora menatap malas ke arah Emily saat ini,ia memutar bola mata nya malas karena wanita di depannya tengah tersenyum manis ke arahnya.
“Hhmm peran apa maksud mommy?”tanya Emily dengan raut wajah bingung.
“Kau tidak perlu bersandiwara di depanku..aku sangat tahu bagaimana sikapmu dulu terhadap Leon..bukannya kau sangat membenci bocah laki-laki itu?...tapi lihat sekarang kau bertindak seolah-olah kau begitu menyayanginya..apa Albert mengancam akan mengusirmu sampai kau harus bersandiwara seperti ini?”Mora benar-benar menatap remeh ke arah Emily.
“Sepertinya kakak benar-benar buruk di mata mommy”gumam Emily dalam hati.
“Maaf mommy..aku tidak bersandiwara sedikit pun..rasa sayangku kepada Leon tulus”sanggah Emily
“Cihh...telingaku sangat sakit mendengar kata-kata manismu itu...mungkin Albert dan Leon akan luluh dengan kata-kata menjijikkan mu tapi aku tidak akan pernah percaya dengan semua yang kau katakan”ucap Mora dengan nada tinggi.
Bbyyuurr...
Tiba-tiba seseorang menumpahkan minuman ke baju Emily dari arah belakang.
“Uuppsss sorry..aku tidak sengaja”ujar Clara sembari menutup mulutnya.
Emily sangat yakin Clara sengaja melakukan hal itu,namun ia masih mencoba untuk tetap tenang.
“Tidak apa..aku akan membersihkannya ke atas..aku permisi mommy”Emily hendak meninggalkan tempat itu namun tiba-tiba Clara menghentikkan langkahnya.
“Tak usah kau bersihkan..kau lebih pantas menggunakan baju seperti itu karena terlihat lebih cocok dengan hati mu yang tak kalah kotornya dengan baju yang kau gunakan saat ini”ledek Clara.
Emily menghentikkan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Clara.
“Maaf nona Clara...apa maksud dari perkataan anda?”Emosi Emily mulai terpancing saat ini namun ia berusaha tetap tenang.
“Bukankah apa yang aku katakan benar adanya..kau datang ke mansion ini dengan alasan Albert telah menodai mu..padahal aku sangat yakin kaulah yang datang untuk menggoda nya karena kau tahu dia adalah seorang yang kaya raya...”
Plakk....
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi mulus Clara.Emily sudah cukup sabar sedari tadi,namun ketika harga diri nya direndahkan oleh seseorang yang baru saja ia kenal,emosi sudah tidak bisa terbendung lagi.Mora sedikit terkejut melihat aksi Emily yang berani menampar Clara.
“Ada apa dengannya...tidak biasanya dia melawan jika ada seseorang yang menghinanya”gumam Mora dalam hati.
“Beraninya kau...”geram Clara
Clara mengangkat salah satu tangannya yang memegang gelas hendak memukul Emily dengan gelas itu,namun gerakan tangan Clara sudah dibaca oleh Emily terlebih dahulu.Dengan gerakan cepat ia menahan tangan Clara dan mencengkramnya dengan kuat agar gelas itu terjatuh dari tangan Clara.
“Aakkhh..lepaskan tanganku wanita sialan”umpat Clara sedikit menahan sakit di tangannya.
Emily tidak bergeming sedikit pun,ia malah mempererat cengkramannya di tangan Clara.
“Lepaskan calon menantu ku wanita iblis”teriak Mora sembari berjalan ke arah Emily.
Dengan sekuat tenaga dan gerakan yang tak terduga Mora mendorong tubuh Emily hingga jatuh tersungkur.Dahi Emily membentur ujung meja yang ada di tempat itu.Darah segar mulai mengalir dari dahi Emily,ia sedikit mengerjapkan mata nya karena merasakan pusing saat ini.
“Ini sakit Aunty”rintih Clara sembari memegangi tangannya yang mulai memerah.
“Ayo kita pergi dari sini dan kompres tanganmu”Mora dan Clara pergi dari tempat itu begitu saja meninggalkan Emily yang masih terduduk disana.
Setelah merasa lebih baik,Emily mencoba berdiri dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Di tempat lain seseorang tengah memantau semua kejadian yang baru saja di alami Emily dari sebuah layar komputer yang terhubung dengan kamera yang ada di mansion itu.Ketika melihat adegan Emily yang dengan berani menampar dan mengcengkram tangan Clara,sebuah senyuman terukir jelas di wajahnya.Ia sangat suka dengan aksi wanita nya yang berani membela diri nya sendiri.Namun di detik berikutnya,senyuman itu pudar ketika melihat sang ibu mendorong Emily hingga jatuh tersungkur.
Ia hendak pergi ke mansion saat itu juga dan memberi hukuman kepada sang ibu,namun niat itu ia urungkan mengingat jika ia harus melatih Emily menjadi wanita yang kuat.Kejadian tadi ia anggap sebagai ujian pertama untuk Emily.
Namun tanpa sepengetahuan Albert,kejadian itu telah membuat dahi Emily robek dan mengeluarkan darah.
Di dalam kamar,Emily mulai membersihkan luka pada dahinya.Ia merasa saat ini dahinya benar-benar perih dan sakit bercampur dengan rasa kesemutan.Ketika air menghapus darah yang keluar nampak jelas luka robek di bagian dahinya.Emily sedikit meringis ketika luka robek itu kembali mengeluarkan darah.
Kini Emily memilih duduk karena rasa pusing semakin menguasai kepalanya .Merasa ia tidak sanggup menghentikkan darah yang keluar,segera ia mengambil ponsel dan menghubungi kepala pelayan yang ada di mansion.
“Selamat siang tuan Willy..bisakah tuan memanggil kan seorang dokter untuk mengobati luka ku”ucap Emily melalui sambungan telepon.
Sambungan telepon tiba-tiba terputus dan beberapa detik kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Tok..tok..tok..
Emily bangkit dari posisi duduknya dan membukakan pintu untuk seseorang yang ia yakini itu adalah sang kepala pelayan.
“Permisi nona..apa anda merasa kurang sehat saat ini?”tanya Willy dengan kepala yang masih tertunduk.
“Tadi aku terjatuh di bawah saat ingin mengambil buah di dapur dan dahi ku terluka karena terbentur meja yang ada di ruangan tengah”jelas Emily dengan tangan yang setia mengusap setiap darah yang keluar menggunakan sebuah kain.
Willy mengangkat kepala nya dan menelisik ke arah dahi Emily.Dan benar saja sebuah luka robek yang cukup lebar terlihat di dahi Emily.
“Astaga nona...saya akan memanggil dokter Dion untuk...”belum sempat ia melanjutkan kalimatnya,Emily sudah jatuh pingsan.
Dengan gerakan cepat Willy mengangkat tubuh Emily ke ranjang yang ada di kamar itu.Tidak lupa ia memanggil dokter Dion dan juga menghubungi Albert.
Beberapa menit kemudian dokter Dion telah tiba di mansion,disusul oleh Albert.
“Apa yang terjadi?”tanya Dion sembari tetap melangkahkan kaki masuk ke dalam mansion.
“Aku tidak tahu”jawab Albert singkat dan berjalan cepat mendahului Dion.
Terlihat jelas Albert tengah khawatir saat ini.
Beberapa jam kemudian Dion telah selesai menjahit luka di dahi Emily dan mulai merapikan peralatannya.Disudut ruangan Albert terlihat mengepalkan tangannya karena ia tidak menyadari bahwa Emily terluka karena perbuatan ibu nya.
“Sebentar lagi dia akan sadar...dia jatuh pingsan karena kehilangan darah yang bisa dibilang lumayan”jelas Dion
“Aku mengerti..sekarang pergilah dan untuk biaya nya akan di urus oleh Clifton”ucap Albert
“Baiklah aku permisi”pamit Dion
“Tidak bisakah dia berbasa basi sedikit denganku”gumam Dion dalam hati sembari melangkahkan kaki pergi dari kamar Emily.
“Aku akan mengampuni mu untuk kali ini saja...tapi jika kau berani berbuat yang lebih jauh lagi maka aku akan benar-benar memberi mu hukuman”gumam Albert
Bersambung...