
#happyreading
Mobil yang di kendarai Albert melesat dengan kencang tanpa memperdulikan keadaan jalan ibu kota yang sedikit ramai.Dengan lincah tangan Clifton membanting stir ke kanan dan ke kiri untuk menyalip setiap kendaraan yang berada di depannya.
Raut wajah Albert terlihat khawatir ketika menyadari bagian dada kiri Emily lah tempat bersarangnya peluru.Jessi melirik ke arah belakang,tampak seulas senyum menghiasi wajahnya ketika matanya menangkap raut wajah ke khawatirkan dari sang kakak.
Para tenaga medis sudah bersiap di depan loby dengan emergency bed yang akan membawa Emily ke dalam ruangan oprasi.Beberapa menit yang lalu Dion sudah memerintahkan beberapa dokter untuk bersiap.
Mobil Albert sudah terparkir di depan loby rumah sakit,dengan sigap ia menggendong Emily keluar dan menempatkan nya di emergency bed yang sudah siap sedari tadi.Suara roda dari emergency bed terdengar menggema di lorong rumah sakit.
“Lakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa nya....jika tidak maka kalian akan menerima akibatnya”titah Albert sedikit mengancam.
“Kau tenang saja..kami akan berusaha sebisa mungkin”jawab Dion yang langsung masuk ke dalam ruangan.
Detik demi detik sudah berlalu,Albert masih setia menunggu dengan raut wajah yang semakin khawatir.
“Tidak bisakah kakak duduk dan menunggu dengan tenang?”tanya Jessi yang sedari memijat pelipisnya melihat tingkah sang kakak.
Albert tidak menggubris ucapan sang adik,ia memilih tetap berdiri namun sedikit menyandarkan tubuhnya dinding rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya?”tanya seseorang yang baru saja tiba.
“Kami belum tahu..kak Dion masih memeriksanya di dalam sana”jawab Jessi mewakili sang kakak.
“Kenapa gadis itu ada di gedung tadi?”tanya Albert dengan kepala yang masih menunduk.
“Aku tidak tahu pasti...tapi dugaan ku dia menumpangi mobilku saat aku ingin menyusul kalian ke gedung itu”jelas Dannis yang baru saja tiba bersama Dareen.
Suasana kembali hening setelah Dannis menjawab pertanyaan dari Albert.Tidak ada obrolan dari mereka,saat ini semua orang masih menunggu dengan raut wajah khawatir.
Dddrrrttt.....
Suara handphone Dannis terdengar membuat semua orang melihat ke arahnya.Dannis merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih itu.
“Katakan”ucapnya kepada seseorang yang ada di seberang sana.
“........”
“Apa!!!!...baiklah kalian selidiki apakah ia benar-benar hancur bersama mobil itu”ucap nya dan menutup sambungan telponnya.
Wajah Dannis berubah gusar setelah mendapat telepon dari anak buahnya.
“Ada apa?”tanya Dareen
“Mobil yang membawa Ana mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang”jelas Dannis.
Albert dan juga Dareen sedikit terkejut mendengar penuturan Dannis.
“Pastikan anak buahmu menemukan mayat perempuan itu..aku tidak ingin jika dia masih hidup dan membawa masalah kedepannya untuk kita”perintah Albert.
Dannis mengangguk kepala tanda mengerti dengan apa yang di katakan Albert.
Di tengah perjalanan ia menghentikkan mobilnya dan keluar.Emilia sedikit bingung dengan apa yang di lakukan oleh Damian.Ia mendengar Damian membuka bagasi dan mengambil sesuatu di dalam sana.
Emilia terlonjak kaget ketika Damian membuka pintu dengan tiba-tiba dan seketika menarik tangan Emilia untuk keluar dari mobil itu.Pintu mobil ditutup dengan begitu kasar oleh Damian dan melempar tubuh Emily hingga tersungkur ke tanah.
“Apa kau sudah bersiap untuk masuk ke dalam neraka di dunia nyata sebelum kau benar-benar masuk ke neraka asli?”tanya Lukas dengan seringai di bibir nya.
“A..apa maksudmu Damian?”tanya Emilia dengan raut wajah takut.
“Siapa yang kau panggil Damian?...aku Lukas bukan Damian!”teriak Lukas sembari menarik rambut Emilia.
“Aakhhh”pekik Emilia dengan raut wajah takut dan juga bingung dengan apa yang dikatakan seseorang yang ia cintai selama ini.
Dengan kasar Lukas menarik Emilia ke arah belakang dari mobilnya.Ia mengambil seutas tali yang sudah ia ikat di bagian belakang mobilnya.
“Ap..apa yang ingin kau lakukan Damian?”tanya Emilia bergetar
“Sudah aku katakan aku Lukas bukan Damian!!”teriak Lukas di depan wajah Emilia.
Selesai mengikat tali itu di tangan Emilia,Lukas kembali masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya.
Emilia mulai mengerti apa yang akan dilakukan oleh Damian,tubuhnya menegang dan bergetar membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.Sakit pada bagian telapak tangannya seolah hilang seketika.
“Ap..apa yang kau lakukan Damian?..tolong jangan lakukan ini”pinta nya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
“Hahahaha seorang pendosa harus diberi pelajaran agar dia tahu bagaimana rasa sakit yang sebenarnya”teriak Lukas dari dalam mobil.
Tanpa memperdulikan ucapan Emilia,ia melajukan mobilnya.Hal itu membuat tubuh Emilia sedikit tertarik.Emilia menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh,ia mengikuti laju mobil dengan berlari agar tidak terjatuh dan terseret.
Lukas tidak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun cukup untuk membuat Emilia berlari kencang.
Air mata Emilia menetes dengan deras menahan sakit pada kedua kaki nya dan juga menahan sakit di bagian dada nya.Perasaan benar-benar tidak menentu saat ini,satu sisi ia merasa senang karena bisa bertemu dan bertatap muka dengan seseorang yang selama bertahun-tahun ia cinta namun di satu sisi ia merasa sakit karena seseorang yang sama memberikan rasa sakit lahir dan batin.
Ceklek......
Pintu ruangan oprasi sudah terbuka,Albert menyadari hal itu dan segera berlari ke arah Dion.Di ruang tunggu hanya tersisa dirinya saat ini karena sahabat dan adiknya sudah pamit untuk berganti pakaian.
“Bagaimana keadaannya?”tanya Albert terburu-buru.
“Peluru sudah berhasil aku keluarkan...seperti nya dia adalah orang yang spesial di dunia ini...”ucap Dion menggantung kata-kata nya.
“Apa maksudmu orang spesial?”
“Jika dia orang biasa mungkin saat ini ia sudah tidak tertolong karena peluru menancap di bagian dada sebelah kiri,seperti yang kita tahu jantung manusia terletak di bagian dada kiri.Gadis ini terlahir dengan kelainan yang menarik karena jantungnya berada di sebelah dada kanan sehingga ia berhasil selamat dari maut.”jelas Dion.
Raut wajah Albert sudah tidak terlihat khawatir namun saat ini ia menunjukkan raut wajah lega ketika mendengar semua penjelasan dari Dion.
“Aku akan memindahkan nya ke ruang perawatan dan aku harap jangan ada yang menjenguk kan sampai ia sadar nanti nya”pinta Dion dan mendapat anggukkan kepala dari Albert.
Bersambung..,,