The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
BAB 106



✨Happy Reading✨


Hari ini begitu banyak pekerjaan yang menuntutnya untuk pulang terlambat.Untung saja trimester pertama sang istri telah berakhir karena saat ini usia kandungan sang istri sudah memasuki trimester kedua dan itu artinya ia tidak akan mengalami morning sickness lagi.


Namun cerita kali ini sedikit berbeda,jika di trimester pertama Emily terlihat santai dan kalem,di trimester kedua ini ia terlihat begitu aneh.Sifatnya sangat berbeda dari sebelumnya dan setiap harinya selalu berubah-ubah.


Seperti saat ini,ia sudah menunggu kedatangan sang suami di depan pintu mansion.Ia ingin menyambut kedatangan sang suami layaknya para istri di luar sana.Tapi tak seperti wanita pada umumnya yang akan menunggu dengan sebuah makanan maupun minuman,Emily menunggu dengan 2 buah samurai di tangannya.


Para pengawal dan maid pun dibuat ngeri membayangkan jika nanti sang nona mencelakai tuannya.


Ccciittt...


Mobil yang membawa Albert telah terparkir di depan mansion dan tentu saja hal itu membuat Emily tersenyum senang.


“Se..selamat malam tuan”sapa pengawal yang membukakan pintu mobilnya.


“Ada apa?..kenapa kau gugup seperti itu?”tanya Albert yang kebingungan.


Albert tak ingin pusing memikirkan itu semua,dengan santai ia melangkahkan kaki menuju mansion.


Setibanya di depan pintu,ia melihat wanita yang dicintai berdiri sembari tersenyum ke arahnya.Ia tak menyangka lelahnya hari ini akan dibayar dengan senyum indah sang istri yang menyambut kedatangannya.


Albert ingin mempercepat langkahnya namun tiba-tiba matanya menangkap sebuah kejanggalan dari tangan sang istri.Dua samurai kesayangannya berada di tangan sang istri,untuk apa?


“Honey..dimana kau mendapatkan benda itu?”tanya Albert yang masih berdiri di pintu masuk.


“Tentu saja dari gudang senjatamu”jawab Emily santai


“Gu..gudang senjata?...siapa yang mengantarmu kesan?”Albert melirik semua pengawal beserta maid yang berjejer rapi.


“Willy yang mengantarku”


Willy yang berdiri di samping Emily hanya mampu menundukkan kepalanya karena ia yakin saat ini tuannya sedang menatapnya tajam.


“Hhmm..untuk apa kau mengambil benda itu?”


“Aku ingin bermain sebentar bersama mu..aku tadi menonton film yang memperlihatkan seorang samurai bermain dengan benda ini dan sepertinya menyenangkan”jelasnya sembari tersenyum membayangkan keseruan yang akan terjadi(Bagi Emily seru tapi bagi yang lain tidak)


“Honey..dengarkan aku..kembalikan benda itu padaku..pedang yang ada di film itu merupakan pedang mainan sedangkan pedang itu bisa memutus leher seseorang”jelas Albert sembari mendekati sang istri dengan perlahan.


“Tidak honey...yang di film itu sungguhan..aku melihatnya sendiri pedang itu mampu membelah tubuh musuhnya..kalau kau tak percaya tanya saja Willy..benar kan Willy?”emily melirik ke arah Willy yang mulai ketakutan


“Be..benar nona”jawab Willy gugup


“Tapi honey...”


Sraanngggg


Belum sempat Albert melanjutkan kalimatnya,samurai itu sudah terbang menuju ke arahnya dan dengan sigap ia menangkap pedang itu.


“Serang aku...”ucap Emily sembari memasang kuda-kuda bak seorang samurai Jepang.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut karena nona nya benar-benar menggila.


Di pagi hari emily berperan menjadi seekor mermaid dan membuat sebuah kerajaan di dalam kolam berenang yang berada di mansion,lalu disiang hari dia sudah bercosplay menjadi seorang pemburu di lapangan tembak yang berada di belakang mansion dan sekarang dia bercosplay menjadi seorang samurai.


“Honey jangan berma..”


Trang....


Lagi-lagi Emily tak membiarkan Albert melanjutkan kalimatnya karena ia mulai menyabetkan pedangnya.


Melihat hal itu,tentu saja membuat Clifton khawatir dan segera mencari cara.Hingga sebuah ide mulai terlintas di pikirannya.


Ia merogoh ponsel yang berada di saku celananya dan menghubungi seorang koki dan meminta untuk menyiapkan sesuatu.


Suara pedang terus terdengar ketika dengan lincahnya Emily mengayunkan samurai yang lumayan berat itu ke arah Albert.Sedangkan Albert hanya berusaha menghindar dan tak menyerang sang istri.


Semua orang terlihat cemas,takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi.


“Nona Emily”panggil salah satu koki dengan hidangan yang ia bawa dari dapur.


Bau harum dari hidangan yang dibawa pun menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman Emily dan seketika ia menghentikan aksinya tersebut.


“Hhhmmm..mie instan..ini bau mie instan”ucap Emily


“Honey..aku sudah selesai..aku ingin memakan mie instan terlebih dahulu”Emily berjalan menuju meja makan untuk menghampiri makanan kesukaannya.


“Huft...”semua orang menghela nafasnya.


“Hah..untung saja...Willy singkirkan benda sialan ini dan kunci rapat gudang senjataku”perintah Albert


“Mie instan penyelamat”gumam Clifton yang bersyukur karena ide nya benar-benar brilian


Entah mengapa ia teringat jika semasa tuannya mengidam ia sering memakan mie instan dan ia pikir Emily pun pasti menyukainya,lalu siapa sangka ternyata tebakkannya benar sehingga tuannya terbebas dari bahaya.


Albert merapikan kembali dasi yang ia gunakan dan menghampiri sang istri.


“Jangan memakan mie terlalu banyak..aku mengijinkanmu untuk memakannya tali tidak banyak..mengerti”perintahnya kepada sang istri yang tengah asik mengunyah.


“Mmmmm...”jawab Emily dengan mulut yang sudah penuh dengan mie.


Albert ikut duduk di samping Emily memperhatikan wajah cantik istrinya yang tengah makan dengan lahap.


“Honey...”panggil Emily di sela-sela makannya


“Ada apa?”tanya Albert


“Bolehkah aku meminta sesuatu?”Ucapnya tersenyum manis ke arah sang suami.


“Katakanlah”


“Hhmmm...aku ingin belajar meretas dengan kak Dannis”pintanya sambil memasang wajah puppy eyes nya.


Albert mengernyitkan dahinya ketika mendengar permintaan aneh sang istri


“Belajar meretas?...untuk apa?”tanya Albert yang masih kebingungan


“Aku hanya ingin belajar saja...ini permintaan dari triple junior”mengkambinghitamkan ketiga calon anaknya.


“Tapi saat ini Dannis sedang berada di luar negeri...bagaimana jika kau belajar dengan...”


Albert mengedarkan pandangannya mencari sasaran empuk untuk dijadikan umpan.


Ting...


Seseorang itu berada di pojok ruangan dengan kepala yang menggeleng dan ekspresi tak ingin dijadikan tumbal.


“Clifton...ya bagaimana jika kau belajar dengan Clifton...ia tak kalah hebatnya dengan Dannis”


“Tidak masalah honey...yang terpenting aku ingin belajar meretas”Emily sangat antusias dengan ide yang baru saja ia terima dari ketiga juniornya.


“Tapi apakah Clifton mau mengajarkan kU honey?”tanya Emily melirik ke arah Clifton


“Tentu saja..benar kan Clifton?”sekarang giliran Albert yang menatap tajam ke arah Clifton seakan memberi kode untuk berkata iya.


“Te..tentu nona”bibir Clifton tak bisa mengikuti kata hati nya yang berkata tidak karena jika itu terjadi sudah dipastikan ia akan mati muda.


“Kenapa di setiap cerita selalu saja sang tangan kanan yang menjadi tumbal untuk menyalurkan keinginan istri yang sedang mengidam”gumam Clifton dalam hati yang merasa telah terzolimi selama ini.