
#happyreading
Hari telah berganti namun sosok laki-laki berwajah dingin itu masih tetap setia menunggu seorang wanita yang telah menyelamatkan nya dengan setia.Albert hanya menyempatkan diri untuk mengganti pakaiannya,sejak kejadian kemarin ia belum sempat untuk mengisi perut.Entah kenapa,ia merasa sangat khawatir dengan keadaan wanita yang masih setia menutup mata di atas ranjang rumah sakit.
“Permisi tuan..apakah tuan ingin memakan sesuatu?”tanya Clifton yang baru saja tiba,ia sedikit khawatir dengan keadaan tuannya saat ini mengingat sedari kemarin Albert sama sekali tidak menyentuh makanan sedikit pun.
“Setelah dia sadar nanti,aku akan makan”jawab Albert tegas.
“Baiklah tuan..saya permisi”pamit Clifton.
Clifton tidak berani membantah ucapan dari tuannya itu.Ia memilih untuk meninggalkan ruangan itu agar tuannya bisa beristirahat.
“Kenapa kau menyelamatkan nyawaku?..bukankah harunya kau merasa senang jika aku tertembak?”gumam Albert lirih
Pertanyaan itu seakan-akan berputar-putar di dalam kepalanya sedari kemarin.Wanita yang selalu ia curigai menyelamatkan nyawanya begitu saja,apakah wanita ini tidak menaruh rasa benci pada diri nya setelah apa yang ia lakukan selama ini?.
Bahkan sebelum kejadian,Albert telah menuduhnya bersekutu dengan musuh sehingga ia berlaku kasar dan menyekap wanita itu di ruang bawah tanah.
“Kenapa aku merasa kejadian sebelumnya terulang kembali”gumam Albert dalam hati.
Dengan gerakan perlahan,tangan Albert terulur untuk menyentuh tangan Emily.Ia mengusap dengan lembut punggung tangan Emily.Seulas senyum menghiasi wajah Albert ketika ia teringat dengan kejadian di kamar mandi beberapa hari yang lalu.
“Eeuunnggg..”lenguhan kecil terdengar dari bibir Emily.
Albert tersadar dari lamunannya ketika jari Emily mulai bergerak.Dengan sigap ia memanggil Dion untuk memeriksa keadaan Emily.
Ceklek...
Pintu ruangan mulai terbuka,Dion masuk ke dalam ruangan dengan berbekal stetoskop di tangannya.
“Bisa kau bergeser sedikit saja agar aku bisa memeriksa keadaannya?”sindir Dion yang tidak diberi celah oleh Albert untuk memeriksa keadaan Emily.
Albert mengikuti kata-kata Dion,namun dia begitu terlihat posesif karena ia hanya bergeser 30 cm saja dari tempat semula.
“Hhuuffttt”Dion hanya bisa menghela nafas melihat tingkah dari sahabatnya itu.
“Dok..ter..”suara lirih Emily tertahan.
Dion mulai memeriksa keadaan Emily sembari melepas alat bantu pernafasan milik Emily.
“Dia sudah melewati masa kritisnya..untuk sekarang biarkan di istirahat agar beberapa jam lagi keadaan sudah pulih...mungkin dia akan menangis lagi seperti waktu itu”jelas Dion
“Aku mengerti...sekarang keluarlah”usir Albert tanpa rasa kasian sedikit pun.
“Cckkkk...baiklah”Dion mengalah karena ia tahu sahabatnya ini tidak bisa dibantah.
Setelah Dion benar-benar pergi dari ruangan itu,Albert kembali mendekat ke arah Emily dan duduk di sisi ranjang.
“Tu..an..”sapa Emily dengan suara yang masih lemah.
“Sssttt..kau ingat kata Dion tadi,jangan banyak bicara”ucap Albert dengan suara lembutnya.
“Haus..”Emily benar-benar merasa lemah kali ini,untuk mengucapkan kata itu saja ia harus bersusah payah.
Dengan sigap Albert berdiri dan mengambilkan minum untuk Emily,tidak lupa ia membantu Emily minum menggunakan sendok makan yang berada di atas meja.
Albert terlihat sangat telaten membantu Emily.Hingga beberapa menit berlalu Albert masih setiap menemani Emily yang kembali tidur setelah menghilangkan dahaga nya.Rasa lelah pun menghampiri Albert,ia ikut berbaring di atas sofa untuk menghilangkan rasa lelah sekaligus rasa kantuk nya.
Belum sempat ia memejamkan mata untuk terlelap,Albert harus terbangun karena seperti kata Dion,Emily akan menangis ketika obat biusnya sudah tidak bereaksi lagi.
“Hiks..hiks..sakit”isak kecil mulai terdengar dari bibir Emily.
“Hhuufftt...jangan menangis oke..jika kau menangis maka rasa sakitnya akan bertambah.”pinta Albert sembari menghela nafas panjang.
“Seharusnya aku yang berada disini dan merasakan apa yang kau rasakan sekarang..harusnya kau tidak perlu menolongku waktu itu”ucap Albert lirih.
Mendengar hal itu Emily menghentikkan isakannya.Ia menggelengkan kepala nya tanda tidak setuju dengan kata-kata yang keluar dari bibir tuannya.
“Mulai saat ini aku berjanji..ini adalah rasa sakit yang terakhir bagi mu”ucap Albert tegas sembari menatap lekat ke arah Emily.
Bersambung....