
#happyreading
Hari telah berganti dengan cepat,begitupun dengan luka ditubuh Emily yang perlahan mulai mengering.
Seperti jadwal yang telah di buat oleh Dion,hari ini merupakan jadwal Emily untuk melepas perban yang ada di tubuhnya.
“Apakah kau sudah siap..mungkin ini akan sedikit sakit”ujar Dion
Dengan penuh keyakinan Emily menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju dengan apa yang dikatakan Dion.
“Kita mulai dari lengan kiri..jika kau merasa sakit kau bisa meremas sprei ranjang ini.”perintah Dion.
Emily kembali menjawab dengan sebuah anggukkan,jika boleh jujur dia sedikit takut kali ini karena rasa sakit yang ia rasakan kemarin meninggalkan trauma pada dirinya.
Srreekk....
Dan benar saja bagian perban yang menutupi luka Emily menempel begitu kuat bagaikan kertas yang dilem.
“Mmmm..”Emily menggigit bibir bagian bawahnya menahan sakit pada lengan kiri.
Tanpa di duga Albert yang sedari tadi hanya berdiri di belakang Dion tiba-tiba menghampiri Emily dan memegang tangan kanan Emily.
“Bersabarlah aku akan berusaha agar tidak terlalu sakit.”ucap Dion
Dion kembali mencoba menarik perban itu dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan rasa sakit.
Dengan penuh ketelitian Dion menarik perban itu hingga akhirnya berhasil terlepas.
“Akhirnya terlepas juga”Dion merasa lega akan hal itu.
Hendak mengambil kapas yang berada di atas meja,mata Dion menangkap sesuatu yang menarik,Albert dan Emily sedang berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih yang saling menguatkan.
Dion tersenyum penuh makna,sebuah ide gila melintas di kepalanya.
“Sekarang saatnya untuk membersihkan luka mu..mungkin ini akan terasa sedikit perih”jelas Dion
Perlahan Dion mulai mengoleskan kapas yang sudah ia lumuri dengan alkohol ke luka Emily yang masih sedikit basah.
“Aw..”pekik Emily ketika merasakan perih di bagian lukanya.
Tanpa Emily sadari dia mencengkram tangan Albert kuat hingga kuku panjang Emily menusuk kulit tangan Albert.
“Maaf ini memang sedikit perih”ucap Dion
“Hahahaha maaf kan aku Albert,aku hanya ingin kau tahu bahwa luka yang di dapat Emily memang amat sakit”gumam Dion dalam hati.
“Dokter Dion...kenapa luka ku masih terasa sangat sakit?”tanya Emily dengan wajah yang hampir menangis.
“Ini tidak akan lama..setelah semua perban mu dilepas maka kau akan diperbolehkan pulang”jelas Dion dengan senyum ramah.
“Tapi ini baru satu dok..dan rasa nya juga perih”gerutu Emily
“Lebih baik kau merasakan sakit sekali meskipun terasa begitu menyiksa dari pada kau merasa sakit terus menerus namun sakit yang kau dapat begitu menyiksa...apa kau mengerti maksud dari perkataanku?”
Emily mengangguk mengerti akan apa yang dikatakan Dion
“Bersiaplah karena aku melepas perban di bagian kaki mu”
Dion mulai melepas lilitan perban yang ada di kaki Emily,sampai di bagian perban yang menempel kuat,Dion menarik perban itu dan tentu saja hal itu membuat Emily berteriak.
“Aakkhhh...sakit..ssssttt”Emily meringis
Kembali Albert harus merasakan sakit di tangannya akibat Cengkraman dari Emily,kuku-kuku itu sudah menancap semakin dalam.
Dion tersenyum setelah mendengar teriakan Emily,dia membayangkan ekspresi Albert ketika menahan sakit di bagian tangan.
Sadar bahwa kini ia sedang dijahili sahabatnya,Albert mengangkat kaki nya kedepan menuju kaki seorang dokter.Dia mendaratkan kaki nya tepat di atas kaki sang dokter yang saat itu hanya menggunakan sepasang sepatu yang terbuat dari kain.
Nasib buruk menghampiri Dion,karma yang ia terima begitu instan karena saat ini Albert sedang menginjak kaki nya dengan sepatu pantofel.
“Sssstttt....”Dion meringis ketika kaki nya terasa di remas.
“Baiklah semua sudah selesai”kata Dion
“Besok kau sudah diperbolehkan untuk pulang.”ujar Dion dengan senyum ramah menahan sakit di bawah sana
“Terima kasih dokter Dion”Emily membalas dengan senyum ramah.
“Oke aku pamit”
Dion sedikit menarik kaki nya yang masih di injak kuat oleh Albert.Ia keluar dengan kaki yang sedikit pincang.
“Kenapa dengan kaki mu dokter?”tanya Emily khawatir.
“Ahh..ini hanya kram saja karena aku terlalu lama berdiri”jelas Dion sembari terus berjalan menuju pintu.
Emily hanya menganggukkan kepala.
“Bukankah jika sedang melakukan pemeriksaan atau melakukan tindakan operasi seorang dokter akan berdiri begitu lama,dia hanya berdiri beberapa menit saja sudah kram?”gumam Emily dalam hati
Albert tersenyum puas ketika berhasil membalaskan dendamnya kepada Dion.
“Ah iya...kau juga harus berhati-hati..tanganmu akan kram juga jika terus berpegangan seperti itu”ledek Dion sembari menutup pintu ruangan Emily.
Kedua nya refleks melepas genggaman masing-masing.
“Maaf..tuan”ucap Emily menundukkan wajahnya karena menahan malu.
“Ekkhhmm..”Albert berusaha agar tidak terlihat gugup
Jari tangan kanannya terangkat untuk mengelus luka yang baru saja di bersihkan,namun dia sedikit terkejut karena kuku-kukunya terdapat bekas darah yang mulai mengering.
“Apa jari ku terluka?”gumam Emily dalam hati.
Dia memeriksa satu persatu jari tangannya namun tidak satu pun dari mereka terluka,beberapa detik kemudian ia sadar akan menyebab kuku nya berdarah.
Pandangan segera beralih ke tangan milik Albert,dan benar saja tangan Albert masih mengeluarkan darah akibat Cengkraman kuku Emily.
“Astaga..tuan”pekik Emily
“Ada apa?”tanya Albert penasaran
“Tangan tuan terluka”ucap Emily yang mulai panik
“Tidak masalah hanya luka kecil”jawab Albert santai.
Tanpa pikir panjang Emily turun dari atas ranjang,dia lupa akan kondisi nya yang masih sedikit lemah hingga Emily mulai kehilangan keseimbangannya.
HAP...
Albert berhasil menangkap tubuh Emily.
Deg..deg..deg..
Detak jantung Emily terdengar tidak beraturan saat ini.
“Kenapa dengan jantungku?”gumam Emily dalam hati.
“Kenapa kau begitu ceroboh”bentak Albert
Tersadar dari lamunannya,Emily sedikit meringis karena rasa perih kembali menjalar di bagian tubuhnya yang terluka.
Kembali ia duduk di atas ranjang di bantu oleh Albert.
Hendak berjalan mundur tangan kekar Albert di tahan oleh Emily.
“Tuan biarkan aku mengobati luka di tangan tuan”pinta Emily
“Tidak perlu ini hanya luka kecil..kau Istirahatlah karena besok kita akan pulang ke mansion”perintah Albert
Emily hanya menganggukkan kepala,ia tidak berani membantah perintah Albert karena takut akan mendapat hukuman lagi.