The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
1.CliftonXJessi 1



*Holla guys…i’m comeback**🥳*


Maaf karena aku sedikit plin-plan..


Pada akhirnya cerita Clifton dan Jessi akan aku up disini saja.Biar lebih simple, aku akan lanjutkan disini.


*Semoga kalian gak bosen nunggu nantinya, karena up nya tidak bisa setiap hari**🤭*


Tenkyu for Reading😘


✨Happy Reading✨


#FALSBACK ON#


Di malam gelap gulita tanpa diterangi cahaya bulan, nampak seorang pemuda dengan penampilan lusuh tengah menikmati sepotong roti yang ia beli pada sebuah minimarket dipinggir jalan tadi. Clifton Feraldo, ialah nama pria tampan ini. Setelah satu hari penuh berkeliling tanpa arah tujuan, berakhirlah ia ditempat ini untuk mengistirahatkan diri.


Namun ketenangannya tak berlangsung lama, tiba-tiba perhatiannya teralihkan dengan suara tembakan yang terdengar tak jauh dari tempat ia duduk sekarang. Awalnya ia ingin mengabaikan hal itu, selain merasa lelah, ia juga tak ingin terlibat masalah apapun disini. Namun entah kenapa, rasa penasarannya membuat Clifton berakhir pada mencari sumber suara itu. Seolah gatal jika ia hanya duduk diam disana dengan suara bising yang semakin mengusik kedamaiannya.


Sebelumnya ia telan tandas terlebih dahulu roti hang tersisa didalam mulutnya, lalu berdiri dan hendak melangkah. Belum genap beberapa langkah ia beranjak dari tempat semula, Seorang lelaki tiba-tiba menabraknya dan dengan keadaan yang sudah terluka parah.


“Tuan, ada apa?” Dapat Clifton lihat dengan jelas jika keadaan si laki-laki mulai melemah.


“Tolong aku, kita harus pergi dari sini”pintanya dengan sisa tenaga yang ada. Tangannya berusaha meriah lengan Clifton demi menyetabilkan tubuhnya.


“Itu dia!!!” seseorang berteriak lantang, menunjuk kearah mereka sembari berlari kencang, sontak keduanya menolak kompak.


Sadar akan hal itu, dengan sigap Clifton membantu pria itu”Apakah anda bisa bertahan barang sebentar saja? Hhmm berlari kecil untuk bersembunyi.”


Segera setelah mendapat persetujuan dari empunya, Clifton meraih tubuh lema itu dan membantunya untuk bersembunyi.


“Albert, namaku Albert” lirih pria itu mengenalkan diri, yang dijawab dengan anggukan kepala singkat oleh Clifton.


Ya, laki-laki itu adalah Albert Wheeler. Sosok mafia yang terkenal di negara ini. Ia baru saja selesai melakukan transaksi disebuah pelabuhan seorang diri. Awalnya semua berjalan lancar, namun siapa sangka musuh menjebaknya.


Ia mencoba untuk melarikan diri dari kejaran musuh, sebab jumlahnya yang begitu banyak mengirim sedangkan ia hanya seorang diri. Ditengah pelariannya, dari arah samping mobilnya terhantam truk yang bisa ia tebak adalah sebagian rencana dari musuh.


Ia terluka dan sempat adu tembak, sampai pada akhirnya Albert kehabisan tenaga dan mencoba mencari pertolongan. Beruntung saat ini dia bertemu dengan seseorang pemberani yang mau menolongnya.


“Siapa mereka tuan dan mengapa mereka mengejar anda?” Mata Clifton tidaklah diam, begitu cekatan melirik musuh lalu kembali beralih pada jalanan yang ia lalui.


“Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang bantu aku terlebih dahulu” pinta Albert yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Clifton.


Hari ini adalah hari sial bagi Albert, ia bahkan tak pernah selemah dan seteledor ini sebelumnya. Kacau memang kala dirinya memutuskan untuk tidak membawa anak buah, barang satu atau dua orang.


“Apakah anda membawa senjata atau semacamnya? kita tidak bisa berlari terus untuk menghindar, aku akan mencoba melawan mereka” setelah mendapat tempat bersembunyi, Clifton mencoba untuk memutar otaknya.


“Pistol itu tidak memiliki banyak peluru dan aku harap kau bisa menggunakannya dengan baik” seru Albert, sangat berharap jika sosok yang ia temui dapat dihandalkan. Karena jika tidak, dapat ia pastikan mereka berdua akan menghilang malam ini juga.


Clifton mengangguk yakin “Tetaplah disini tuan, saya akan mencoba untuk melawan mereka” Clifton meletakkan tubuh Albert dengan perlahan.


“Berhati-hati lah, jumlah mereka lumayan banyak” Albert memberi peringatan sebelum pria ini benar-benar beranjak dari posisinya. Sedangkan Albert memilih bersandar, sembari tetap waspada akan situasi yang mungkin saja berubah genting.


“Hey..aku disini” dapat Albert dengar teriakan Clifton.


“Bersiaplah” Clifton mengangkat tangannya dengan pistol mengarah ke arah mereka, begitupun dengan deretan musuh yang ikut bersiap. Suara tembakan mulai terdengar, diiringi dengan tubuh demi tubuh musuh yang tumbang setelah mendapat hadiah dari Clifton.


Clifton memicingkan matanya lalu kembali membidik sasaran yang jumlahnya kian bertambah. Sebelumnya sudah sempat ia hitung jumlah peluru yang tersisa dan Clifton rasa ini tidak akan cukup untuk melawan jumlah yang lumayan banyak.


Secepat mungkin, ia menyusun rencana dengan fokus yang tentunya terbagi. Matanya tak sengaja menangkap sebuah mobil taksi yang berhenti di pinggir jalan untuk sekedar istirahat. Dan dari sanalah sebuah ide tercipta.


Sembari terus memuntahkan peluru panasnya ke arah musuh, Ia mulai berlari ke arah mobil taksi dengan gerakan secepat mungkin. Peluru tentu tak meleset, namun peluru dari musuh juga tak dapat ia hindari dengan sempurna. Kulitnya mendapat beberapa goresan, beruntung bukan luka yang dalam.


Tanpa basa-basi, Clifton membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalam hingga membuat sang supir terlonjak kaget.


“Sir, bisakah kau melajukan mobilnya ke arah sana”pinta Clifton sembari menunjuk ke arah tempat Albert ia letakkan.


“Ta-tapi..”sang sopir tentu merasa ragu terlebih melihat penampilan Clifton. Ditambah, peluru demi peluru mulai menghujani mobil itu, membuat sang sopir bergetar ketakutan.


“Cepat atau kita akan mati..”teriak Clifton mendesak sang supir. Matanya menoleh ke arah belakang secara cepat lalu tanpa pikir panjang mengambil alih kemudi.


“Biarkan aku yang mengemudi..aku berjanji akan membayar semua kerugiannya” sang sopir mengangguk dan membiarkan Clifton mengambil alih kemudi.


Peluru masih terus menghujani mobil yang dikendarai oleh Clifton “Menunduklah..”perintahnya kepada sang sopir.


Mobil sudah berhenti tepat di depan Albert, Clifton keluar dengan badan menunduk dan sesekali membalas tembakan musuh.


“Tuan, bisakah kau berjalan sampai ke dalam mobil? aku harus membantai sisanya” pintanya kepada Albert, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh empunya. Perlahan Albert melangkah menuju mobil dengan sisa tenaga yang ada, sedangkan Clifton terus menembaki musuh.


“Aakkhh..sial..” peluru Clifton habis dan tentu menimbulkan sebuah kekhawatiran bercampur rasa panik. Sekilas ia lirik ke arah belakang, didapati olehnya jika Albert telah berhasil masuk dengan selamat. Tanpa memikirkan apapun lagi, tentu ia berlari dan menyusul untuk masuk ke dalam sana.


“Kejar mereka”teriak musuh yang masih tersisa kala mendapati target mereka telah memasuki mobil.


Clifton memainkan persneling lincah, menginjak pedal lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh, berharap agar tidak dapat dijangkau oleh musuh.


“Pergi ke jalan x..”perintah Albert


“Sir, apakah kau tahu dimana jalan x? aku tidak tahu jalanan di negara ini karena aku orang baru” clifton lirik sebentar sang supir dan mendapat jawaban dengan isyarat anggukan kepala. Beberapa saat, Clifton melihat kebelakang melalui pantulan spion. Sejenak ia bisa bernafas lega sebab musuh tak lagi mengejar mereka.


Bersambung…