The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
2.CliftonXJessi 2



Para pengawal yang berjaga di depan pintu masuk mansion besar milik Wheeler Family terlihat bersiap kala petugas yang berjaga di pintu gerbang utama memberi informasi penting kepada mereka.


Cciitt!!


Sebuah mobil berwarna biru muda berhenti tepat di loby mansion, seorang laki-laki keluar dengan raut wajah khawatir.


Para pengawal sontak mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya ke arah Clifton, membuat laki-laki itu menghentikan gerakannya sejenak.


“Letakkan senjata kalian dan bantu aku segera. Karena jika tidak, nyawa tuan kalian akan menjadi taruhannya” ujar Clifton


Clifton membuka pintu belakang mobil dengan cepat, memperlihatkan Albert yang tengah tergeletak lemah dengan tubuh bersimbah darah.


Melihat hal itu, para pengawal menurunkan senjata mereka dan mendekat ke arah Clifton.


“Bantu aku..” perintahnya kepada para pengawal yang berdiri disana.


Mereka menuruti perintah Clifton tanpa ragu karena seseorang yang terluka di dalam sana merupakan bos besar mereka.


“Bayar supir taksi itu..” pintanya lagi sebelum benar-benar membawa Albert masuk ke dalam mansion.


Seorang laki-laki terlihat berlari menghampiri mereka, ia adalah kepala pelayan di mansion itu, namanya Willy.


“Apa yang terjadi?” Tanya Willy sembari mengikuti langkah mereka yang terburu-buru.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan semua, sekarang panggilkan dokter atau tenaga kesehatan dengan cepat. Waktu kita tidak banyak” ujar Clifton


Willy mengangguk setuju, tangannya bergerak cepat merogoh ponsel dan menelpon seorang dokter yang tak lain adalah sahabat dari tuannya.


Perlahan tubuh Albert di baringkan di atas sofa yang terletak di ruang tengah. Mata Clifton mulai bergerak cepat mencari luka yang di dapat oleh Albert.


Ia mendapatkan titik luka di tubuh Albert dan luka itu ada pada bagian perut.


Tangan Clifton bergerak cepat mengambil beberapa bantal dan meletakkannya di pinggang Albert Albert. Ia harus memastikan luka yang terdapat di tubuh Albert posisinya harus lebih tinggi dari jantungnya.


“Ambilkan aku kain bersih atau handuk bersih” pintanya


Willy bergerak cepat memenuhi permintaan Clifton, ia mengambil beberapa lembar handuk bersih dan menyerahkannya kepada Clifton.


“Aku hanya mempunyai ini..” ujar Willy


Clifton mengangguk, ia melipat handuk itu berbentuk persegi, meletakkannya tepat diatas luka Albert.


“Hhmm..” Albert memejamkan matanya erat kala Clifton mulai menekan luka pada perutnya.


“Apakah kalian mempunyai alat bantu pernapasan atau sejenisnya?” Tanyanya lagi.


Willy mengangguk, ia memerintahkan seseorang untuk mengambil benda yang dibutuhkan oleh Clifton melalui ponselnya.


“Berapa lama lagi dokter itu akan tiba?” Tanya Clifton dengan kedua tangan yang masih menempel di perut Albert


“10 menit lagi ia akan sampai” jawab Willy


Clifton mengangguk, pandangannya kembali fokus ke arah Albert. Ia harus memastikan laki-laki itu tetap bernafas meskipun terlihat lemah.


“Maaf tuan, bagaimana kalau kita membawa tuan ke ruang medis dimansion ini” seru Willy


“Maafkan saya..”ujar Willy


Lelaki itu terlalu panik sehingga melupakan hal penting yang seharusnya ia lakukan sejak tadi.


“Bantu aku.. angkat dengan perlahan, aku akan memastikan lukanya tetap tertutup” ujar Clifton


Mereka mengikuti setiap arahan Clifton, hingga sampai diruang medis khusus mansion Wheeler Family.


Tepat saat itu, Dion yang tak lain adalah dokter sekaligus sahabat Albert, datang dan mengambil tindakan.


Sedangkan Clifton melangkah mundur dan berdiri di dekat pintu masuk ruangan.


Bbrraakk!!!


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar. Seorang wanita masuk ke dalam dengan raut wajah panik.


“Kak Albert..” pekiknya sembari berlari menuju sisi ranjang.


Dion yang tengah sibuk dengan menangani luka Albert seketika menoleh kala suara yang begitu familiar terdengar di telinganya.


Jessi membelalakkan matanya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan kala melihat kondisi sang kakak yang bersimbah darah.


Seketika tubuhnya terasa lemas, kedua kakinya bergetar, seakan tak mampu menopang tubuhnya. Cairan bening mulai mengalir di pipinya, ia begitu syok melihat kakaknya yang berbaring penuh luka di atas ranjang.


“Jessi keluarlah lebih dulu, Hey kau bawa dia keluar” perintah Dion


Clifton mengangguk dan bergegas menghampiri Jessi, ia menarik tangan gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


“Ssttt.. tenanglah. Kakakmu akan baik-baik saja” ujar Clifton, sembari mengusap lembut punggung Jessi.


Perlahan ia menuntun Jessi untuk keluar dari ruangan itu, begitupun dengan Jessi yang mengikuti langkah Clifton.


Clifton membantu gadis itu untuk duduk di atas kursi tunggu yang terletak di luar ruangan. Tangannya tak pernah lepas dari kedua bahu Jessi, seakan memberi kekuatan untuk gadis itu.


Cukup lama mereka berada di tempat itu, butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk Dion menyelesaikan tugasnya.


Setelah itu, Dion meminta kepada Willy untuk memindahkan Albert ke dalam kamarnya sesuai dengan permintaan sahabatnya yang keras kepala.


Ya, Albert sudah siuman sejak beberapa menit yang lalu, dan itu bukan sesuatu yang aneh menurut Dion, mengingat jika Albert bukan orang sembarangan. Kini mereka semua berkumpul di kamar luas dan megah milik Albert.


“Kenapa kau bertindak bodoh Hah? Apa kau merasa hebat dengan menyerahkan nyawamu kepada mereka” omel Dion sembari menyiapkan beberapa resep obat untuk sahabatnya.


Albert tersenyum lemah, tenaganya masih belum begitu cukup untuk membalas ocehan sahabatnya itu.


Sedangkan di ujung ruangan, Jessi masih berdiri dengan bantuan seorang laki-laki yang masih setia menopangnya.


Ia menunggu untuk diijinkan menghampiri sang Kakak, sekaligus berbicara dengannya.


“Biarkan dia beristirahat malam ini, kau bisa menyapanya besok pagi setelah keadaannya benar-benar pulih” ujar Clifton yang seakan tahu isi hati seorang Jessi.


Wanita itu menatap sejenak ke arah Clifton, lalu mengangguk pelan. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu benar, ia tak mungkin menyapa sang kakak saat ini jika melihat keadaannya yang masih begitu lemah.


Bersambung…