The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
BAB 78



#Happyreading


Entah kenapa saat ini jantung Albert berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.Tangannya tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.Ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan ketika menemukan fakta bahwa gadis yang ia tiduri 5 tahun silam adalah Emily.


Deg..deg..deg...


Sedikit demi sedikit ia menyingkap kerah baju Emily mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa penasarannya.Dengan perlahan sebuah titik hitam mulai terlihat dan tentu saja hal itu membuat Albert menahan nafasnya sejenak.


Deg..


Sebuah titik hitam bulat menempel sempurna di bahu mulus Emily.Albert membulatkan matanya dengan sempurna ketika apa yang ia pikirkan memang benar adanya.


“Ka..kau..memiliki sebuah tanda lahir?”tanya Albert gugup.


“Ia..aku memiliki tanda lahir ini...ada apa?..apakah ini terlihat buruk?”Tanya Emily sembari menutup kembali tanda itu dengan cepat.


“Tidak..sama sekali tidak terlihat buruk..bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”albert menatap lekat netra mata milik Emily.


Emily menganggukkan kepala pelan untuk menjawab pertanyaan dari Albert.


“Apa kau pernah menginap di hotel Stars?”tanya Albert tO the point karena jujur dia sudah benar-benar penasaran.


Deg..


Emily sedikit terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Albert.


“Kenapa dia menanyakan hal ini padaku..apakah benar laki-laki itu adalah Albert..tidak..tidak mungkin Albert”gumam Emily dalam hati.


“I..ia aku pernah menginap disana”jawab Emily dengan tatapan yang yak bisa ditebak.


“Kapan kau menginap di hotel itu?”


“5 tahun lalu”kini mata Emily mulai berkaca-kaca menahan cairan bening yang sudah memaksa untuk keluar.


“Pertanyaan terakhirku..apakah kamar yang kau tempati adalah kamar 200?”


Tesss..


Akhirnya cairan bening itu benar-benar lolos dari mata indah Emily.Hatinya benar-benar hancur saat ini,Tuhan seperti mempermainkannya dengan memberikan 2 pilihan sekaligus.Disatu sisi hatinya sangat mencintai laki-laki yang ada Dihadapannya saat ini,satu sisi lagi pikirannya kembali mengingatkan nya pada rasa benci yang sudah lama tumbuh.


“Hey..jawab aku..apakah kamarmu bertuliskan angka 200”Albert memegang kedua bahu Emily.


“Benar..aku menginap di dalam kamar nomer 200”


Jleb...


Jawaban Emily membuat Albert mematung.Dia benar-benar menyesal karena baru mengetahui fakta ini sekarang.Selama 5 tahun lamanya ia harus menjalani hubungan dengan seseorang yang tidak ia cintai karena sebuah rasa bertanggung jawab atas perbuatannya.Namun faktanya,ia tidak melakukan hal itu kepada wanita yang tidak tepat.Ia terlalu bodoh selama ini karena percaya begitu saja.Kejadian ini benar-benar membuatnya merasa menjadi manusi terbodoh di dunia ini padahal ia dijuluki sebagai seorang yang jenius di dalam dunia bisnis.


Tanpa aba-aba ia memeluk erat wanita yang ada di hadapannya.


“Maaf..”hanya satu kata yang bisa lolos dari bibirnya saat ini.


“Kenapa harus kau..kenapa harus kau yang memberikan rasa cinta dan juga rasa benci padaku”gumam Emily dalam hati.


Air mata Emily semakin keluar dengan deras,namun ia mencoba untuk mematahkan fakta bahwa Albert bukanlah laki-laki yang memaksanya 5 tahun silam.


“Maaf untuk apa AL?”tanya Emily dengan suara sedikit lirih.


“Kau mengira aku adalah seorang jal*ng?”


Skak mat..ucapan Emily berhasil membungkam Albert.


Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Albert dan menjauh.


“Apakah saat itu kau buta hingga tidak bisa membedakan seorang jal*ng atau bukan?...aku sudah memohon kepadamu tapi kau seolah tuli..apakah seorang jal*ng akan memberontak dan berteriak ketika disentuh oleh laki-laki..hahhh”teriak Emily emosi dengan wajah yang sudah basah karena air mata.


“Tenanglah..dengarkan penjelasanku..”pinta Emily


“Apa yang ingin kau jelaskan..hah..apa..kau ingin menjelaskan bahwa kau bebas melakukan apa saja sesuai keinginanmu?”emily kembali berteriak


Albert mencoba mendekat kearab-araban Emily dan hendak memeluk wanita itu agar lebih tenang.


“Jangan mendekat..aku benci padamu laki-laki bajing*an”emily berjalan mundur untuk menghindari Albert.


Namun Albert masih kekeh dan mencoba meraih tubuh Emily.Dengan bersusah payah ia memeluk erat tubuh mungil yang tengah bergetar hebat itu.


“Lepaskan aku Albert ...aku benci padamu..pergi....pergi Albert...aaaaaaa”Emily memberontak dan berteriak dengan kencang hingga seseorang datang dan membuka pintu dengan paksa karena mendengar suara teriakan Emily.


“Tuan..apa yang terjadi?”tanya Clifton yang bingung dengan keadaan Emily saat ini.


“Ambilkan botol obat yang aku simpan di atas meja itu”perintahnya sambil melirik ke arah meja yang di maksud.


Dengan cekatan Clifton mengambil botol obat itu dan mengeluarkan 1 butir pil yang ada di dalamnya.


“Ini tuan..”


“Masukkan ke dalam mulutku”titah Albert


Bukan tanpa alasan ia melakukan itu,saat ini Emily masih memberontak sembari berteriak dan kedua tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh Emily .Tubuh Albert pun tidak luput dari pukulan-pukulan kecil yang di layangkan Emily.


Clifton sudah memasukkan pil itu kedalam mulut tuannya.Salah satu tangan Albert mencoba memegang wajah Emily dan salah satu tangannya masih menahan tubuh Emily agar tidak memberontak.Emily menggelengkan kepala nya ketika tangan kekar Albert memegang wajahnya.


Dengan gerakan cepat Albert menempelkan bibirnya ke bibir Emily.Ia mencoba membuka bibir Emily dengan menggigit bibir bagian bawah Emily.Cara itu berhasil,Emily membuka mulutnya dan saat itu juga pil itu ia masukkan ke dalam mulut Emily.Untuk memastikan pil itu ditelan Albert menahan bibirnya untuk beberapa saat.


Namun semua itu tidak semudah yang ia bayangkan,ketika ia memaksa membuka bibir Emily,punggungnya telah dicengkeram kuat oleh tangan mungil Emily yang dihiasi dengan kuku panjang.Ia dapat merasakan kuku panjang Emily menembus kemeja yang ia kenakan dan setelah itu menancap sempurna di punggungnya.


Clifton yang menyaksikan itu semua memilih untuk keluar dari kamar tersebut,ia tidak mau mati sia-sia karena telah lancang menonton adegan panas itu.


Akhirnya setelah beberapa menit berlalu,Emily menyerah dan menelan pil itu.Albert melepaskan bibirnya dan memandangi Emily yang masih mencoba memberontak.


“Tenanglah..”ucap Albert lembut.


“Lepaskan aku Albert..lepaskan aku..”ucap Emily dengan suara yang mulai melemah.


“Aku tidak akan pernah melepaskan mu karena kau sendiri yang meminta masuk ke dalam duniaku..dan kau sendiri sudah sepakat untuk menerima semua konsekuensinya”Albert menegaskan kembali kata-kata yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu.


Jujur Albert telah jatuh cinta dengan gadis yang ada di pelukannya saat ini,meskipun ia belum menyatakan perasaannya secara langsung.


20 menit kemudian obat itu mulai bereaksi,Emily melemah dan akhirnya ia tertidur di pelukan Albert.Albert tersenyum lega dan segera mengangkat tubuh Emily untuk dibaringkan di atas ranjang miliknya.


Bersambung...


✨Bonus untuk kalian yang sudah memberiku semangat lagi😘