The Mafia And My Life

The Mafia And My Life
BAB 22



Di tempat lain kini seseorang sedang mengepalkan tangannya melihat adegan 2 insan yang tengah berpelukan,lebih tepatnya seorang laki-laki dipeluk erat oleh seorang perempuan.


Dada nya terasa sesak melihat adegan itu di depan matanya,bagaimana tidak wanita yang ia cintai berpelukan dengan pria lain di depan mata nya.


“Kenapa hati ku sangat sakit melihat ini”gumamnya dalam hati


“Apakah Albert sudah masuk Dareen?”pertanyaan Damian membuyarkan lamunan Dareen.


Dareen hanya menjawab dengan anggukan kepala,Damian bisa menebak ada sesuatu yang terjadi di ruangan itu karena ia tahu perubahan ekspresi wajah Dareen dan sekilas melihat kilatan marah dari wajah tampan Dareen.


Dannis yang penasaran bangun dari posisi duduknya untuk melihat kejadian di ruang rahasia Albert melalui layar komputer.


“Wwooww ada apa ini,,kenapa mereka berpelukan”ucap Dannis sedikit melirik ke arah Dareen.


Dareen semakin dibuat panas dengan ucapan Dannis,terlihat jelas dari raut wajahnya jika saat ini dia sedang cemburu.


“Aku sangat lelah hari ini,maaf jika aku pergi duluan.”ucap Dareen pada ketiga sahabatnya


“Kenapa terburu-buru Dareen?”tanya Dion


“Aku lelah dan aku ingin segera beristirahat.”ujarnya sambil melangkahkan kaki ke arah pintu


Mereka bertiga menatap kepergian Dareen yang mulai hilang dari balik pintu.


“Lelucon apa yang kau buat Dannis?”tanya Dion kesal


“Aku tidak membuat lelucon,lebih baik dia pergi saat ini karena jika dia melihat adegan selanjutnya,aku tidak yakin dia akan menahan diri”ucap Dannis santai


“Adegan apa yang kau maksud?”bingun Dion dan beranjak dari sofa untuk ikut melihat layar komputer.


Damian yang ikut penasaran mengikuti Dion,bangun dari duduknya dan berjalan ke arah layar komputer.


****


Di sisi lain kini Albert sadar dari keterkejutannya,kilatan marah mulai terlihat di wajahnya mengingat Emily telah lancang masuk ke dalam ruangannya.


“Apa yang kau lakukan disini?”kini tangannya sudah berhasil meraih rambut Emily dan menariknya


“Aakkhhh....”pekik Emily ketika merasakan sakit di bagian kepala nya


“Hahahahaha tidak sengaja seperti apa maksudmu?...apa kau berjalan sendiri saat tidur dan tiba-tiba berada di ruangan ini?”gelak tawa nya mampu membuat Emily bergidik ngeri.


“Kau pikir aku ini pria bodoh hah..?”bisik Albert di telinga Emily


“Maaf tuan saya hanya ingin berkeliling di mansion ini”ujar Emily membela diri


“Siapa yang memberimu ijin?”tanya Albert


“Sa...saya berinisiatif sendiri tuan”Emily mulai gugup


“Kau memang tidak tahu diri rupa nya,aku membiarkan mu masih tetap hidup dan memberimu kebebasan bukan untuk menjelajah di dalam mansion ku sesuka hati mu,harusnya kau gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki diri mu sendiri tapi sepertinya kau memang sedikit liar sehingga aku harus melatihmu dengan cara yang keras”tegas Albert


“Apa maksud perkataan nya?...apakah dia akan membunuhku?...atau menyiksaku?..kenapa aku begitu bodoh mengikuti rasa penasaranku”dia merutuki kebodohannya di dalam hati.


“Apa kau takut dengan gelap?”tanya Albert dengan tersenyum sinis


“Saya sangat takut tuan”Emily mulai gugup


“Baiklah bersiap menerima hukumanmu karena kau sudah lancang masuk ke ruangan ini”titah Albert


Albert menghempaskan tubuh Emily ke lantai hingga terjerembab.


“Aaakkhhh..”teriak Emily ketika tubuhnya terjatuh ke lantai


Tanpa sepatah kata pun Albert pergi dari ruangan itu meninggalkan Emily yang masih duduk di lantai memegangi siku nya yang terasa sakit.


Albert mematikan semua lampu yang ada di ruangan itu hingga ruangan itu kembali gelap gulita.


Emily yang terkejut karena ruangan itu kembali gelap,berusaha bangun untuk ikut keluar,namun usaha nya sia-sia karena Albert kini sudah menutup ruangan itu dan meninggalkannya.


Emily berusaha berlari ke arah pintu yang sudah tertutup,berteriak memanggil nama Albert memohon agar dia membukakan pintu.


“Tuan Albert tolong jangan tinggalkan saya,,saya sangat takut.”teriak Emily


“Tuan saya mohon maafkan saya,,tuan bisa menghukum saya apa saja tapi tolong keluarkan saya dari tempat gelap ini.”teriaknya lagi