The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 94



Tidak pernah akan Gong Sheng sangka, akan ada hari dimana dirinya akan memangku istrinya yang dalam keadaan tidak berdaya. Tidak pernah Gong Sheng bayangkan bahwa istrinya akan melompat menghadang lemparan pedang dari musuh demi melindunginya. Namun nyatanya, kini sang istri tergeletak dalam pelukannya bersimbahkan darah.


Gong Sheng menggoyangkan tubuh sang istri beberapa kali berharap sang istri akan membuka matanya, namun semuanya terlihat sia-sia belaka. Feng Ai yang terkena pedang di bagian dadanya, sama sekali tidak mau membuka matanya.


Seseorang yang telah berhasil mengenai tubuh Feng Ai tersenyum penuh kemenangan. Benar dalam pertarungan ini dia kalah. Namun Gong Sheng, telah kalah juga karena akan kehilangan sang istri. Pembalasan yang paling menarik dan indah dipandang mata, bisa membuat lawan kehilangan apa yang menurutnya paling berharga.


" Selamat atas kemenangan mu,, adik kelima..." Gong Lie kemudian menutup mata.


Perang berakhir, menyisakan duka yang begitu mendalam. Perang suadara, telah membuat Xili menangis darah kali ini. Sungguh tragis dimana kerajaan Xili hancur karena perang saudara. Namun, kenyataannya memang begitu. Xili kehilangan pewaris sekaligus kehilangan banyak nyawa prajurit yang memang adalah prajurit Xili semuanya.


Xili berduka, pasukan Ri Yue yang tersisa juga berduka, begitu juga dengan Gong Sheng. Mereka berduka karena kehilangan kawan, sanak saudara, suami, dan yang paling menderita adalah kehilangan istri yang dicintai dengan segenap hati.


Gong Sheng menangisi tubuh sang istri yang telah pergi meninggalkannya. menyisakan duka yang mendalam, lebih dari jika harus kehilangan nyawa sendiri. Gong Sheng meratapi nasibnya yang telah kehilangan sang istri dalam perang berdarah ini. Putranya, telah kehilangan seorang ibu sungguh malang.


" Ai.. bangun... bangunlah aku mohon.... AAAAIIIIIIII...." Gong Sheng berteriak sekencang mungkin.


 


" Arrrggghhhhh...." Qiaofeng berteriak terbangun dari tidurnya.


Matanya menelisik setiap sudut ruangan tempatnya berada. Qiaofeng memegangi dadanya yang tadi tertusuk pedang yang dilemparkan oleh putra mahkota. Tapi, Qiaofeng menyadari bahwa tidak ada yang terasa sakit didadanya. Bahkan kini pakaiannya dan segala sesuatu yang dia lihat setelah bangun dari tidurnya adalah kamar lamanya. Bukan,, bukan kamar lamanya namun kamarnya yang sesungguhnya.


" Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa kembali berada di tempat ini? Lalu bagaimana dengan Gong Sheng,,, tidak.. ini tidak mungkin... Aku kembali,, aku telah kembali...?" serentetan pertanyaan terlintas dalam pikiran Qiaofeng. Namun yang bisa menjawabnya adalah dirinya sendiri, karena seharusnya tanpa ditanyapun Qiaofeng tahu apa yang terjadi.


Dengan tubuh yang bergetar, Qiaofeng berjalan menuju ke sudut kamar. Di sudut kamar itu terletak sebuah cermin besar satu badan. Cermin yang dulunya selalu Qiaofeng untuk melihat bagaimana bentuk tubuhnya.Cermin yang selalu membawa Qiaofeng pada kenyataan yang sesungguhnya. Seperti saat ini, dilihatnya di dalam cermin wajah buruk rupa dan tubuh sebesar gentong air.


Qiaofeng menangis dengan posisi terduduk di lantai. Hati dan pikirannya seolah tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi saat ini. Qiaofeng tidak pernah menyangka dirinya akan kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Tidak menyangka bahwa yang dia jalani selama ini adalah sebuah mimpi indah. Qiaofeng kini menyadari bahwa dirinya bukanlah bagian dari cerita itu. Qiaofeng hanyalah pemeran pengganti untuk pemeran utama wanitanya.


" Aku meridukan mu..." batin Qiaofeng.


Dengan langkah gontai Qiaofeng berjalan ke meja belajarnya. Di meja itu terletak novel yang telah membawanya pada mimpi indah yang sekarang dirinya telah terbangun. Feng Ai membaca bagian terakhirnya dan terkejut saat mendapati bahwa akhir cerita novel itu telah berubah.


Di cerita itu tertulis bahwa feng Ai dan Gong Sheng bersama putra mereka, Gong Jue, kini telah hidup bahagia. Gong Sheng sudah menjadi Kaisar di Goryeo sedangkan Xili disatukan dengan Goryeo menjadi sebuah dinasti yang lebih besar lagi bernama dinasti Gong.


Qiaofeng yang tidak menyangka akhir ceritanya telah berubah. Padahal dia baru saja dia terbangun dari mimpi karena tertusuk pedang, langsung membuka beberapa halaman ke belakang.Matanya membulat karena ternyata Feng Ai tidak meninggal. Ada seorang tabib hebat yang menyembuhkan Feng Ai. Setelah Feng Ai sembuh, Gong Sheng lagsung memboyong keluarganya ke Goryeo dan mulai menyatukan Xili dan Goryeo menjadi dinasti baru, Gong.


Qiaofeng kembali menangis meski tangisannya kali ini adalah tangisan lega. Qiaofeng sudah sangat takut jika Gong Sheng hidup sendirian bersama putranya yang masih kecil. Tapi kini Qiaofeng bersyukur, karena kematiannya cerita ini telah berubah menjadi ke arah yang berakhir happy ending. Biarlah dia yang menderita karena tidak bisa melupakan.


 


Terlihat seorang gadis yang cantik dengan rambut panjang berwarna hitam lurus, tubuh yang ramping dengan balutan baju kerja yang terlihat sangat cocok menempel pada tubuh gadis itu. Gadis ini tengah berjalan memasuki sebuah perusahaan yang akan menjadi partner kerja dengan perusahaan tempat dimana gadis ini bekerja.


Di bagian dada jasnya tertulis nama gadis itu, Qiaofeng...Ya,,kini Qiaofeng telah menjelma enjadi gadis muda yang cantik dan penuh kharisma. Setelah kejadian yang membawanya ke dalam sebuah novel, Qiaofeng berusaha untuk merubah penampilannya. Dengan perawatan tubuh dan diet yang ketat, sert belajar untuk menjaga pola makan dan berolahraga, kini Qiaofeng memiliki tubuh ideal seorang wanita. Ramping dengan beberapa tonjolan di tempat yanng tepat.


Qiaofeng kini bekerja di sebuah perusahaan yang berada di bidang penelitian obat-obatan. hari ini, secara kebetulan Qiaofeng yang telah bergelar profesor itu diminta untuk datang ke perusahaan yang akan menjadi pendana untuk penelitian perusahaan tempatnya bekerja. Qiaofeng akan menandatangani kontrak dengan perusahaan ini dimana nantinya hak paten obat yang diteliti dan diciptakan menjadi hak milik perusahaan yang mendanai penelitian ini.


Qiaofeng memnag mengganti pilihan masa depannya setelah selama satu tahun mengambil cuti kuliah. Hal ini direncanakan agar tidak ada orang-orang yang menyadari tentang masa lalunya yang kelam. Karena itu dia berganti fakultas dan memulai hidup baru sebagai calon peneliti.


Secara tidak sengaja Qiaofeng menabrak seseorang sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam lift yang ada di lobby perusahaan rekan kerjanya. Qiaofeng


tertunduk meminta maaf pada orang yang dia tabrak itu.


" Maafkan saya tuab.. Saya kurang berhati-hati dalam melangkah. Mohon maafkan atas kecerobohan saya." Qiaofeng membungkuk.


Beberapa detik Qiaofeng menunggu orang yang dia tabrak tadi menanggapi ucapannya. Namun ternyata orang ini begitu sombong sampai mengacuhkannya begitu saja. Qiaofeng memberanikan diri untuk meluruskan tubuhnya agar bisa menatap waja orang yang sudah dia tabrak barusan.


Qiaofeng mundur beberapa langkah kala matanya telah melihat wajah dari sosok yang dia tabrak. Wajah itu, Qiaofeng mengingatnya dengan sangat jelas. Wajah dari seseorang yang selalu dia rindukan selama lima tahun ini. Wajah dari pria yang telah menguasai hatinya sehingga tidak akan pernah terbuka untuk siapapun pria yang tertarik padanya.


" Hai... Lama tidak bertemu..." ujar pria dengan wajah yang sangat mirip dengan Gong Sheng itu.


" Sheng..... Aku merindukan mu..." Qiaofeng menangis dan langsung memeluk tubuh dari pria yang telah menjadi mimpinya di siang dan malam hari.


...-------------------------------...


...TAMAT...


HAI SEMUA READERS....


TERIMA KASIH TELAH MENDUKUNG NOVEL AKU YANG SATU INI. CERITANYA MEMANG LAIN DARI YANG SELAMA INI AKU BUAT TAPI AKU BERHARAP BAHWA BANYAK YANG SUKA DENGAN KARYA AKU INI.


TERIMA KASIH YA TELAH MENEMANI KARYA INI SAMPAI DI BAB TERAKHIRNYA... MOHON DUKUNGANNYA UNTUK SETIAP KARYA YANG AKU BUAT YA...


SALAM SEHAT UNTUK SEMUA READERS...