
Feng Ai menantikan dengan sabar, suaminya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Secara garis besar Feng Ai tahu bahwa Kim Yozu, yang merupakan paman dari suaminya ini mengenal sang ibu.
" Ibu ku, dan ibu mu adalah wanita yang berasal dari Goryeo." ujar gong Sheng membuka ceritanya, Feng Ai terdiam, tidak menyangka bahwa hal itu yang keluar dari mulut suaminya.
" karena di Goryeo saat itu mengalami masalah internal, perebutan tahta antara paman ku dan juga sepupunya. Paman ku yang masih muda dianggap tidak layak menjadi raja, namun di dalam dirinya terdapat darah Kaisar terdahulu. Demi menyelamatkan dua gadis yang begitu disayanginya, paman terpaksa membuat ibu kita tinggal di Xili." Gong Sheng menjeda ceritanya. Melihat bagaimana ekspresi yang ditampilkan oleh sang istri.
" Di tahun ketika paman ku berhasil memperkuat posisinya dan juga telah menjadi Kaisar Goryeo. Beliau menyamar dan mendatangi Xili, namun kabar berita tentang ibu kita menghancurkannya. Ibu ku meninggal setelah melahirkan ku, sedangkan ibu mu telah mengandung diri mu saat itu. Anak dari jendral besar Xili."
Gong Sheng kembali mengingat saat pertama kali dirinya bertemu sang paman. dengan mata kepalanya sendiri, Gong sheng melihat kehancuran yang jelas terlihat dimatanya. Saat itu Kim Yozu baru mengetahui bahwa adiknya telah meninggal saat melahirkan keponakannya. Kim Yozu memeluk tubuh Gong Sheng dengan sangat erat, berusaha untuk memberikan kekuatan pada keponakannya itu, meskipun pada kenyataannya, Kim Yozu sendirilah yang belum mampu menerima kenyataan.
" Ibu ku meninggal memang karena pendarahan saat melahirkan. Namun yang sebenarnya terjadi saat itu adalah keanehan pada tubuh ibu ku yang tidak mampu membekukan darah sehingga pendarahan itu tidak bisa berhenti."
" Setelah kami selidiki, ternyata sejak ibu ku masuk istana. Di dalam ramuan obat yang dia konsumsi semasa hamil, terdapat sebuah racun yang membuat orang yang meminumnya memiliki kelainan tidak bisa membekukan darahnya sendiri. Paman tahu itu semua hingga akhirnya murka dan di mulailah perang Xili dan Goryeo lima tahun yang lalu." terang Gong Sheng.
" Jadi itu alasan dari penyerangan Goryeo secara tiba-tiba? Pasti paman anda sangat terpukul sekali mendengar itu semua." Feng Ai mengomentari.
" Bukan hanya terpukul, paman bahkan melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung saat itu seorang menteri menemukannya sebelum paman menghembuskan nyawanya." Feng Ai sangat terkejut mendengar hal itu. Sama halnya dengan Gong Sheng yang mendapatkan kabar itu lima tahun yang lalu.
" Satu hal lagi yang menjadi penyesalan terdalam paman ku selain kematian ibu ku. Yaitu menyerahkan ibu mertua pada ayah mertua." Gong Sheng menambahkan.
" Maksud anda bagaimana, suami ku?" Feng Ai kebingungan saat ini.
Gong Sheng menceritakan awal bagaimana Feng Jiao, saudara tiri Feng Ai bisa hadir ke dunia ini. Saat itu Feng Ying yang menjadi jendral besar mendapatkan titah dari kaisar untuk mengani masalah bencana kelaparan di desa yang berada di perbatasan. Di sanalah Feng Ying bertemu dengan Li Wei, ibu dari Feng Jiao.
Li Wei yang merupakan putri bupati setempat mencintai Feng Ying sejak pertama kali bertemu. Namun dengan tegas Feng Ying menolak keinginan bupati dan Li Wei saat itu. Hingga terjadilah malam kelam yang menghancurkan hati dari Jia Li. Feng Ying dikabarkan terpergok sedang menggagahi Li Wei hingga akhirnya dinikahkan di sana secara paksa.
Feng Ai menangis kala mendengar kisah tentang derita sang ibu. Kini Feng ai mengerti alasan sang ibu yang lebih sering menceritakan tentang Kim Yozu dibandingkan dengan ayahnya sendiri, tak lain karena bagi sang ibu, sosok Kim Yozu yang setia lebih pantas dijadikan panutan bagi Feng Ai jika dibandingkan sang ayah yang sudah dengan jelas memelihara wanita lain dalam rumah tangga mereka.
" Hiks... Hiks'..." Gong Sheng memeluk tubuh Feng Ai untuk menenangkan dan memberikan kekuatan pada sang istri yang sedang rapuh ini.
Inilah kenapa gong sheng tidak ingin menceritakan semuanya pada Feng ai. Karena takut sang istri akan tidak baik-baik saja jika mendengar kenyataan yang terjadi berpuluh tahun yang lalu.
" Ibunda pasti begitu mencintai paman anda, sehingga di masa-masa terakhirnya,ibunda lebih senang bercerita tentang paman Kim. Beliau mengatakan bahwa paman Kim sangatlah pandai membuat lampion dan lampion buatan paman akan diterbangkan oleh ibu di setiap pesta lampion. Ibunda berkata bahwa lampion yang terbang itu melambangkan cintanya dan cinta paman Kim yang tinggi seperti langit dan tak terbatas.." ujar Feng Ai. Jika saja Kim Yozu mendengar apa yang baru saja Feng Ai katakan, mungkin dia akan bahagia.
" Jangan membenci ayah mertua setelah kamu mendengar ini semua. Beliau dijebak saat itu oleh keluarga ibu tiri mu. Dan karena tidak ada yang mendukungnya saat itu, akhirnya membuat dirinya pasrah ketika dipaksa menikahi Li Wei." Gong Sheng berusaha menjelaskan permasalahan ini dari sudut pandang Feng Ying.
" Saya tahu. Tapi saya juga tidak bisa dengan begitu mudahnya memaafkan ayahanda, karena tidak mampu menjaga ibunda dengan baik."
Pasti berat berada di posisi Feng Ai saat ini karena bagaimana pun Feng Ying adalah ayah kandungnya. Yang paling tida bisa diterima oleh Feng Ai adalah kenyataan bahwa sang ayahlah yang telah membuat ibundanya mengidap penyakit menahun. Dan satu yang disesalkan oleh Feng Ai adalah keinginan ibundanya untuk bisa melihat Kim Yozu sebelum meninggal dunia.
___________________________________________________
Di tempat lain, tepatnya di makan Jia Li. Terlihat Feng Ying duduk di samping makam wanita yang begitu sangat dia cintai. Kenangannya membawanya pada hari dimana dia berhasil mendapatkan hati Jia Li meski hanya setengahnya. Feng Ying mengatakan akan menjaga Jia Li, dan akan melepaskannya saat nantinya tunangannya menjemputnya.
Hingga ketika tunangannya menjemput Jia Li saat itu, justru pria itu melihat Feng Ai. Hatinya ingin membawa Jia Li pergi, namun karena Feng Ai saat itu masih kecil dan sangat membutuhkan ibundanya, membuat Kim Yozu melepaskan dengan ikhlas Jia Li hidup dengan suaminya saat itu. Tidak akan ada janji lagi tentang Jia Li yang harus kembali padanya. Hanya ada janji bahwa setelah hari itu Jia Li harus bahagia.
" Maafkan aku kak Yozu.... Tapi aku tidak bisa meninggalkan Ai..." saat itu Jia Li juga dalam dilema yang mendalam.
" Baiklah... Aku akan melepaskan mu A Li. Mulai sekarang kau bukan tunangan ku. Hanya satu pinta ku, berbahagialah untuk sekarang dan selamanya bersama keluarga baru mu.' setelah lama terdiam, Kim Yozu pun melepaskan ikatan yang selama ini berusaha dia pertahankan.