
Hari dimana Kaisar mengadakan jamuan sebagai perayaan untuk keberhasilan pangeran ke 5 dan pasukannya dalam menjalankan misi yang diperintahkan langsung oleh Kaisar. Jamuan ini akan dihadiri oleh menteri juga dengan kedua perdana menteri, juga akan dihadiri oleh seluruh anggota keluarga istana yang tinggal di luar istana sama seperti Gong Sheng.
Dengan mengenakan pakaian yang begitu indah, Feng Ai pun siap diajak oleh suaminya ini untuk memenuhi undangan dari Kaisar langsung. Gong Sheng mengenakan pakaian pria yang semakin menampilkan ketampanan wajahnya yang memang sangat tampan itu. Dalam hati Feng Ai yakin jika putri mahkota melihat ketampanan suaminya malam ini, pasti putri mahkota akan mencari perhatian dari suaminya.
" Tuan ku, kereta kuda sudah siap." lapor Shihan.
" Kau tidak ikut?" tanya Gong Sheng. Shihan melirik ke arah Feng Ai kemudian dia menjawab pertanyaan dari Gong Sheng dengan gelengan kepala.
" Saya tidak bisa ikut anda karena saya akan kembali ke kampung halaman saya nanti malam tuan. " ujar Shihan.
Kemudian pengawal pribadi dari putri Feng Ai itu pun mempersilahkan tuannya untuk naik ke kereta kuda yang telah disiapkan oleh pengurus kuda kediaman pangeran ke 5. Kereta kuda itu pun melaju menuju ke istana dengan Mingye sebagai pengawalnya. Feng Ai dan Gong Sheng pun mempersiapkan hati mereka akan kejutan yang pastinya sudah disiapkan oleh putra mahkota.
Kereta kuda yang membawa pangeran ke 5 dan juga putri Feng Ai, melaju dengan kecepatan sedang. Dengan jarak antara kediaman pangeran ke 5 dan istana, kereta kuda ini akan sampai tepat sebelum acara jamuan dimulai. Sengaja datang mepet karena keduanya malas mendapatkan perhatian dari semua yang hadir hanya karena ingin menjilat atau justru merendahkan mereka.
Gong Sheng, adalah pangeran ke 5 yang mendapatkan julukan pangeran sial saat masih tinggal di istana. Sial karena telah membuat wanita yang melahirkannya harus merenggang nyawa saat melahirkannya. Sial karena diusir keluar istana oleh kaisar di usia yang masih sangat kecil waktu itu. Beruntung Feng Ying yang saat itu adalah jendral besar Xili menawarkan diri sebagai guru untuk pangeran ke 5, dan kaisar menyetujui hal tersebut.
Gong Sheng juga merupakan pangeran yang dibenci oleh pangeran lainnya. Karena prestasi dan perhatian Kaisar yang begitu besar padanya, membuat pangeran lain iri. Terlebih pangeran ke 4 yang iri karena Gong Sheng memperistri Feng Ai. Karena secara diam-diam pangeran ke 4 telah menaruh hati paa Feng Ai sejak pertama kali bertemu.
Belum lagi pengaruh dari putra mahkota yang terus menabur bensin ke dalam api, putra mahkota terus menyesatkan saudaranya yang lain sehingga membenci pangeran ke 5. Dan itulah alasan kenapa semua pangeran membenci keberadaan Gong Sheng ditengah-tengah mereka. Meski begitu, Gong Sheng tidaklah terlalu memusingkan perilaku saudaranya, karena sejak dia keluar dari istana dia telah membuang gelarnya sebagai pangeran dan menjadi rakyat biasa.
" Tuan, kita telah sampai." ujar Mingye yang membukakan pintu.
" Terima kasih." ujar Gong Sheng lalu membantu istrinya untuk turun dari kereta kuda.
" Kau siap Ai ?" tanya Gong Sheng.
" Siap." ujar Feng Ai mantap. Bukan tanpa maksud Gong Sheng menanyakan kesiapan dari istrinya ini sebelum masuk ke aula jamuan makan malam ini. Bertemu dengan keluarga istana maka harus siap jika ada melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan Feng Ai dan Gong Sheng. Beruntung Feng Ai sudah tahu situasi nanti karena sudah membacanya di dalam novel yan dia sekarang berada di dalamnya.
Keduanya berjalan beriringan diikuti oleh Mingye di belakang mereka. Begitu mereka tiba di aula jamuan, semua mata tertuju pada mereka. Ada yang menatap penuh kebencian dengan seringai di wajah mereka. Juga ada yang menatap penuh kagum pada tokoh utama di jamuan makan malam kali ini.
" Lihat siapa yanng datang? Jendral berkedok pangeran terbuang dan pembawa sial. Beruntung pasukan yang dipimpinnya tidak tertular kesialannya ." celetuk keponakan permaisuri.
" Salah satu kesialan kami adalah bertemu dengan mu." Feng Ai langsung membalas sindiran dari kerabat istana itu.
" Kau....." keponakan permaisuri tidak lagi bisa berucap.
Gong Sheng sedikit terkejut mendengar lontaran kalimat kasar dari sang istri. Sesuatu yang dia tidak temui saat mereka masih belum menikah. Bukannya enggan dengan sifat baru dari sang istri, Gong Sheng justru tersenyum bangga. Istrinya telah menjadi wanita yang kuat saat ini. Karena sebagai istri dari seorang pangeran ke 5, maka dia harus memiliki sikap yang kuat dan tegas serta pemikiran yang matang dalam mengambil tindakan. Dan kini Feng Ai telah memperlihatkan itu semua.
Gong Sheng duduk di kursi yang ada di sebelah Feng Ai. Matanya tertuju pada tempat duduk kaisar meski hanya sepersekian detik. Tidak ingin kepeduliannya membuat sang ayahanda berada di situasi yang sulit. Gong Sheng tahu bahwa kekuasaan permaisuri telah berada di atas kaisar saat ini. Ini semua karena keluarga permaisuri menguasai pangan Xili.
Tanpa adanya pangan yanng cukup untuk semua rakyat Xili, maka bisa dipastikan Xili akan mengalami kemunduran dalam segala bidang. Kaisar tentu tidak ingin hal itu terjadi, maka dari itu kaisar terlihat menuruti saja semua yang dikatakan oleh permaisuri demi kehidupan rakyat Xili yang selama ini di pinggulnya di kedua pundaknya.
" Bagaimana kabar mu pangeran ke 5 ?" tanya permaisuri basa basi. Gong Sheng tahu bahwa permaisuri ingin bahwa dia tidak baik-baik saja.
" Terima kasih atas perhatian dari yang mulia permaisuri, saya dan juga istri saya dalam keadaan yang sehat, dan itu semua berkat doa dari yang mulia permaisuri." jawab Gong Sheng manis sekali.
" Syukurlah kalau begitu.JIka ada yang menganggu kalian jangan sungkan untuk mengatakannya pada ku." ujar permaisuri sok baik sekali.
" Baik yuang mulia permaisuri." Gong Sheng dan Feng Ai berucap secara berbarengan.
" Baiklah baginda yang mulia, saya rasa acara jamuan ini sudah bisa dimulai. Karena putra ku dan juga menantu sudah hadir." ujar permaisuri menatap kaisar yang duduk di sebelahnya, namun terpisah sebuah meja.
" Mulai acaranya !!!" titah kaisar.
Para dayang berdatangan datu per satu membawakan hidangan dan juga minuman dan meletakkannya di meja yang sudah ditempati oleh tamu undangan. Kemudian para penari masuk beserta pengiringnya. Mereka akan menampilkan pertunjukan untuk menghibur semuanya yang hadir di alu jamuan malam ini.
Ada beberapa kelompok penari yang menampilkan tampilan yang berbeda meski semuanya masih berupa tarian. Nampak semua yang hadir menikmati pertunjukkan hiburan yang sudah dipersiapkan oleh putri mahkota yang mendapat perintah langsung dari permaisuri