The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 12



Setibanya Deng Ai di kediaman milik pangeran ke 5, dia segera masuk ke dalam kamar miliknya dan suaminya. Deng Ai membersihkan diri terlebih dahulu baru setelahnya dia berbaring di kasur yang sangat berbeda sekali dengan kasurnya di dunia nyata. Meski begitu, untuk pertama kalinya dia merasa tidur nyenyak di atas kasur yang jauh dari kata nyaman.


Ingatan Feng Ai kembali lagi pada kejadian di istana milik ibu suri agung tadi. Saat pertemuannya dengan putra dan putri Mahkota membuatnya emosi dan hampir saja mempermalukan nama pangeran ke 5 kalau saja dia tak mengingat senyum memuakkan putra mahkota saat melihat Gong Sheng dihukum penggal di alun-alun ibukota.


Flashback


" Putri dari kediaman pangeran ke 5,merupakan sebuah syukur yang tiada tara anda dapat mengajarkan kepada istriku untuk bisa mengerti tentang sastra klasik. Mungkin putri Mahkota sibuk dengan urusan istana sehingga waktu belajarnya berkurang. " ujar Gong Lie berusaha menarik perhatian Feng Ai. Ming Yue yang namanya disebut segera membuang muka. Perkataan putra mahkota melukai hati kecilnya.


" Benarkah begitu? Aku pikir putri Mahkota sibuk mengurusi sesuatu yang bukan wewenangnya sehingga membuatnya sibuk. Pasti putri Mahkota tidak tega jika dia bisa membantu tapi pura-pira tidak tahu. " ucapan Feng Ai menohok Ming Yue.


Bagi yang tidak tahu mungkin perkataan dari Deng Ai bisa diartikan putri Mahkota adalah seorang putri yang suka menolong dan juga bertanggungjawab pada setiap pekerjaan di istana. Feng Ai sengaja mengatakan hal itu karena dia tahu bahwa Ming Yue memata-matai kediaman pangeran ke 5.Cintanua pada Gong Sheng membuatnya tidak lagi memperdulikan orang lain.


" Terima kasih atas pujiannya putri Feng Ai. " putra Mahkota mengajak Feng Ai bersulang.


" Iya sama-sama yang mulia. " Feng Ai menyambut ajakan putra mahkota.


Ming Yue semakin kesal hingga wajahnya sama sekali tidak menampilkan ekspresi bodohnya yang selalu tersenyum meski hatinya terluka. Feng Ai tahu betul pernikahan putra dan putri Mahkota adalah pernikahan yang hanya baik di depan orang lain, di belakang hanya dihiasi dengan pertengkaran dan kekerasan.


Gong Lie yang murka pasti akan melampiaskan kemarahan pada Ming Yue. Tapi Gong Lie sedikit pintar, saat dia melakukan kekerasan pada istrinya dia akan melakukannya di bagian tertutup dari tubuh istrinya.


" Baik... Mari kita mulai permainannya. " batin Feng Ai menyeringai.


" Yang mulia, saya hendak menanyakan sesuatu pada anda. Apa anda bisa menemani saya tanya jawab seperti apa yang yang mulai putri Mahkota lakukan sebelum anda datang. " Feng Ai meminta izin dengan pengucapan setiap kata yang dilakukannya dengan sangat halus.


" Tentu saja, jika itu bisa membuat acara nenek menjadi meriah. " ujar Gong Lie senang.


" Menurut yang mulia, apakah manusia yang menginginkan yang bukan haknya adaah orang jahat?" tanya Feng Ai.


" Kenapa anda bertanya seperti itu putri Feng Ai?" bukannya menjawab, putra mahkota justru balik bertanya.


" Saya dekat dengan seseorang yang sudah memiliki pasangan hidup tapi masih saja berusaha merebut pasangan orang lain. Menurut anda bagaimana tentang hal semacam ini?"


" Jika menurutku, seharusnya orang ini dikategorikan orang jahat karena dia adalah orang serakah. Jujur saya sangat membenci orang dengan sifat serakah dalam dirinya." jawaban Gong Lie membuat wajah Ming Yue pias.


" Semoga saja, diantara kita tidak ada orang yang seperti itu, benarkan yang mulia putri mahkota." sindiran Feng Ai tepat mengenai sasaran. Ming Yue semakin tak nyaman duduk di sana.


" Anda terlihat sangat mengenal saya putri. Bagi saya saudara adalah kekuatan. Mereka akan mendukung saya hingga berada dititik paling tinggi. Saudara adalah segalanya bagi saya." jawaban Gong Lie terlihat sekali hanya bualan saja.


" Bila ada saudara yang pada akhirnya terlihat seperti sedang menyaingi anda, apa yang anda lakukan?" pancing Feng Ai.


" Saya tentunya akan membina saudara saya itu agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah antar saudara." jawab putra mahkota yang mendapatkan pujian dari semua orang yang datang ke jamuan ibu suri agung ini.


" Begitukah jawabanmu, apa yang ku lihat dalam mimpiku. Kau menumpahkan darah milik suamiku. Sekarang kau mengatakan kebalikan dari sifatmu." geram Feng Ai. Kedua tangannya meremas kuat ujung roknya.


" Saya sangat menantikan pembuktian ucapan anda putra mahkota." lirih Feng Ai berucap.


" Apa anda mengucapkan sesuatu putri?" tanya Gong Lie yang samar-samar mendengar suara Feng Ai. Feng Ai menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyum menawannya.


Flashback off


Deng Ai menatap langit-langit ranjangnya. Dia merasa pasti akan lebih nyaman jika suaminya ada di sampingnya. Feng Ai tersenyum miris, ketika dia bisa memiliki kehidupan yang indah tidak seperti ketika dia menjadi Qiaofeng tapi takdir seolah mempermainkan nya, kehidupan yang diimpikannya ini benar hanyalah mimpi belaka.


" Aku pasti akan mengubah takdir kita Sheng, tidak akan aku biarkan orang-orang jahat itu menjatuhkanmu. Tak akan aku biarkan mimpi buruk ku itu menjadi kenyataan. " hiks... hiks... Feng Ai menangis seorang diri di dalam kamarnya. Dia mengingat kata terakhir yang diucapkan Gong Sheng sebelum penjaga itu memenggal kepalanya.


" Berbahagialah Ai ku... Maaf aku tak bisa membehagiakanmu.... Aku mencintai mu. " Kata-kata terakhir Gong Sheng yang diucapkan ditengah derai air matanya yang menetes tanpa permisi.


Tangisan Gong Sheng bukan karena mati dengan cara tidak terhormat seperti itu, tapi karena harus meninggalkan Feng Ai yang harus menjadi selir pangeran ke 4, Gong Xin. Gong Sheng merasa tidak berhasil menyelamatkan sangat istri. Akan jauh lebih baik rasanya jika keduanya mati disaat yang sama.


" Aku tidak.... hiks.... akan... hiks.... membiarkan petaka.. hiks itu datang padamu. Itu janjiku. " gumam Feng Ai terisak.


Dia mulai mengingat-ingat bagaimana cerita dari novel yang dibacanya. Dia punya kartu AS ditangannya. Dia tahu cerita ini dari awal hingga akhirnya, sebuah keuntungan besar jika dia ingin mengubah takdir mereka semua. Demi keluarganya, demi pria yang dia cintai, dan demi anak yang nantinya dia kandung.


Feng Ai mulai menyusun rencana dari A hingga X. Dia memikirkan cara yang tepat mematahkan rencana putra mahkota dan ketiga pangeran lainnya. Deng Ai terus memikirkan berbagai penyelesaian meski dia kebingungan, tapi sedikit pun tak mematahkan semangat nya.


Untuk rencana tentang hidupnya, dia akan mulai serius latihan lagi dengan Shihan. Sebisa mungkin ketika ending cerita ini datang, dia sudah mencapai tingkatan di atas tingkat spiritualis lima. Karena di atas tingkatan itu adalah tingkatan yang sudah memiliki kemampuan istimewa.


" Kalian lihat dan tunggu, tak akan aku biarkan kalian merusak kebahagiaan ku disini. Selama masih bernafas, aku tidak akan pernah melepaskan kalian. "