
Beberapa hari sudah berlalu sejak hari pernikahan pangeran ke 3 dan putri dari menteri pertahanan. Namun Feng Ai sampai detik ini masih belum bisa melupakan ucapan pangeran ke 3 di hari pernikahan itu.
" Tidak usah pura-pura tidak tahu. Aku tahu kau bukan berasal dari dunia ini, begitu pun dengan aku.."
" Dia menyesal, karena itu aku ingin mengubah hidupnya agar pria bodoh ini tidak terluka ketika semuanya ini berakhir. Bukan hanya kau yang bisa menjadi pemeran utama, pria bodoh ini juga bisa. Bukan hanya kau yang ingin mengubah cerita demi melindungi apa yang berharga bagi mu. Begitu juga dengan pria yang tubuhnya telah menjadi tubuh ku ini.."
Feng Ai ingat dengan jelas setiap kata yang diucapkan oleh pangeran ke 3. Terutama dibagian tentang melindungi apa yanng dia anggap berharga. Dari sini Feng ai berpikir, mungkinkah bahwa jiwa yang ada di tubuh pangeran ke 3 juga bernasib sama dengannya. Jika benar begitu, berarti masih ada orang lain yang juga masuk ke dalam novel ini meski Feng Ai tidak tahu apakah benar atau tidak asumsinya.
" Jika benar apa yang aku pikirkan, mungkinkah jika aku mencari mungkin aku akan menemukan lebih baik lagi orang yang jiwanya ditarik ke noel ini sama seperti ku dan pangeran ke 3?" Feng Ai sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan ketika ada beberapa orang memperhatikannya pun dia tidak tahu.
" Bukankah menurut mu sikap nyonya akhir-akhir ini sedikit aneh?" ujar Muzi yang masih menatap Feng Ai dengan kedua matanya yang tajam.
" Maksud mu bagaimana? Aku pikir Yang Mulia putri biasa-biasa saja.." ujar Shihan tidak setuju.
" Aku lihat nyonya sekarang lebih sering melamun. Ini semenjak nyonya dan tuan menghadiri pernikahan pangeran ke 3 dan putri menteri pertahanan. Mungkinkah sesuatu terjadi tapi kita tidak tahu?" ujar Muzi menerka-nerka.
" Bukankah kau yang mengawasi Yang Mulia, kenapa sekarang jadi bertanya seperti itu? Jangan-jangan kau lalai?" Shihan memancing teman baiknya ini agar kelepasan ngomong.
" Mungkin saat aku buang air kecil." ucap Muzi santai.
Shihan geleng-geleng kepala, karena sahabatnya ini memang susah sekali diajak kompromi ketika melihat kamar mandi. Pasti ada saja tingkah Muzi yang berhubungan dengan kamar mandi...
Kedua pria lajang itu kembali memperhatikan Feng Ai yang terlihat sudah mulai menghela nafas gusar beberapa kali.
Gong Sheng sejujurnya tahu apa yang sedang dirasakan sang istri saat ini.Kenyataan sangat jarang bisa sama dengan apa yang kita inginkan. Suka maka disimpan dan tidak suka maka akan dibuang. Demi mengalihkan pikiran sang istri, maka Gong Sheng mengajaknya berkeliling taman. Sangat asri dan indah..
' Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan istri ku? " tanya Gong Sheng keheranan.
" Tidak ada suami ku.. " jawab Feng Ai.
" Kau yakin? Ingat bahwa kita berjanji tidak akan pernah saling merahasiakan apapun satu sama lain?" Gong Sheng masih terus berusaha agar sang istri mau mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Huhh..." Feng Ai menghela nafas sebelum mengatakan apa yang menjadi pikirannya. " Pangeran ke 3 mengatakan pada saya agar mau membantunya menjaga Selir Wan apapun yang akan terjadi nantinya." ujar Feng Ai jujur meski ada beberapa hal yang tidak dia sampaikan.
" Kita tidak bisa menilai mereka salah atau tidak Ai. karena mereka sebenarnya juga tidak ingin berada di situasi seperti apa yang sekarang ini terjadi. Bukan salah mereka berdua, juga bukan salah Kaisar. Ini adalah takdir mereka.." Gong Sheng tahu bagaimana pun tidak ada yang dibenarkan dan disalahkan dalam masalah ini, karena semua merasa dirinya benar.
Feng Ai merenungkan kata-kata suaminya, benar bahwa tidak ada yang bisa mengatakan hubungan antara pangeran ke 3 dengan selir muda kaisar itu salah ataupun benar. Bagaimana pun mereka berdua juga pasti tidak ingin berada di dalam situasi seperti ini. Situasi yang sewaktu-waktu mengantarkan mereka bertemu dengan dewa maut.
Feng Ai dan Gong sheng saing bertukar cerita dan pendapat. Keduanya melakukan pembicaraan dengan sangat baik dan pastinya menyenangkan. Segala macam hal mereka berdua debatkan, agar bisa mendapatkan kesimpulan yang terbaik versi mereka berdua.
Di rumah pengantin baru, yang menikah beberapa hari lalu, masih tampak sepi sama seperti pertama tempat ini ditempati. Baik pangeran ke 3 maupun Cho Hani, tidak ada yang mau memulai untuk saling berbincang. Keduanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Cho Hani tahu apa tugasnya disini setelah Cho Hain menjelaskan duduk perkaranya. Tapi bagi Cho Hani, sungguh tidak terbayang bahwa ternyata sifat pangeran ke 3 sangatlah dingin dan acuh. Hani merasa frustasi karena masih belum bisa melancarkan aksinya.
" Apa anda ingin memakan sesuatu?" tanya Cho Hani basa basi.
" Tidak perlu..." jawab Gong Xie singkat. Tak mau ambil pusing, Cho hani segera pergi dari hadapan suaminya dan mulai memasak apa yang dia inginkan.
" Kenapa kau menyetujuinya?"tanya Gong Xie tiba-tiba.
" Saya tidak mengerti maksud anda..." Feng Ai mengerutkan alisnya.
" Kenapa kau menyetujui untuk menikah dengan ku?" tanya Gong Xie sekali lagi.
" Apakah saya punya kemampuan untuk menolak, setelah kaisar sendiri lah yang datang meminta saya dari kedua orang tua saya." Benar kata Cho Hani, jika kaisar sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa menolak atau membantahnya.
" Seharusnya kau menolak. Dengan begitu kau tidak akan terluka karena mengharapkan pernikahan ini. " ujar Gong Xie langsung meninggalkan istrinya.
" Aish... Andai anda tahu bahwa tujuan saya menerima pernikahan ini bukan seperti yang anda pikirkan.... Saya juga tidak mengharap apapun dari pernikahan ini... " ujar Cho Hani menghibur diri.
Cho Hain sengaja menyetujui lamaran dari Kaisar untuk putrinya dan Pangeran ke 3. Cho Hain sedang ingin mengantisipasi gerakan pasukan rahasia putra mahkota. Kata-kata putra mahkota di dalam pasukan Ri Yue masih belum diketahui, jadi dengan membentuk sebuah hubungan dengan pernikahan maka putra mahkota tidak akan mencurigai Cho Hain.
Disisi lain, pernikahan ini bermaksud untuk mengajak pangeran ke 3 bergabung dengan pasukan rahasia Gong Sheng. Melalui Cho Hani, pihak pangeran ke 5 ingin agar Gong Xie bergabung dan menekan putra mahkota. Semakin banyak orang-orang dari putra mahkota yang berpindah menjadi orang dari putra mahkota, maka semakin banyak pula kemenangan yang akan diperoleh oleh tim Gong Sheng.
Untuk sekarang ini Cho Hani hanya bisa mencari waktu yang tepat untuk mereka berbincang dengan pangeran ke 3. Semoga saja usaha yang dia lakukan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan...