The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 67



Di ibukota Xili, hari ini merupakan hari yang menggembirakan. Karena pada hari ini, pangeran ke 3 dan putri dari menteri pertahanan akan melangsungkan pernikahan mereka. Pernikahan yang akan memberikan pengaruh yang besar dalam hidup pangeran ke 3.


Sebuah pernikahan dari seorang pangeran, merupakan sebuah sara untuk mencari pendukung dalam posisinya sebagai seorang pangeran. Sama seperti putra mahkota yang didukung perdana menteri kiri, pangeran ke 5 didukung oleh perdana menteri kanan, maka posisi berikutnya yang akan aman adlah posisi pangeran ke 3 yang didukung menteri pertahanan.


Pangeran ke 3, setelah ini tidak perlu merasa rendah di hadapan pangeran ke 2 dan ke 4 karena kedudukannya lebih tinggi dibanding mereka berdua. Alasannya adalah kedua pangeran itu hanya menikah dengan anak seorang bangsawan yang tidak memiliki posisi di pemerintahan. Berbeda dengan putra mahkota, pangeran ke 5 dan yang akan menyusul hari ini adalah pangeran ke 3.


" Putra ayah akhirnya mau menikah juga..." sapa Kaisar yang masuk ke kamar yang nantinya akan dijadikan kamar pengantin.


" Ayahanda dan.... Selir Wan, terima kasih atas kehadirannya.." suara pangeran ke 3 hampir tercekat saat melihat siapa yang datang dengan ayahandanya.


" Se...selamat atas pernikahan anda....pangeran ke 3." ujar Selir Wan... Jika saja semua orang fokus meihat ke mata selir muda ini, semuanya pasti tahu bahwa selir muda kaisar ini sedang bersedih. Sedih karen mengantarkan pria yang begitu dia cintai untuk menikah dengan wanita lain.


" Sekarang aku tahu... Bagaimana dulu perasaan anda ketika melihat saya menikah dengan ayah anda... Maafkan saya pangeran ke 3..." batin Wan Inha menangis.


" Terima kasih.." pangeran ke 3 memberi hormat pada Kaisar dan selir mudanya itu.


Pangeran ke 3 buru-buru berpamitan dari hadapan kaisar dan selirnya karena sudah sudah tidak lagi mampu melihat kesedihan dimata sang pujaan hatinya. Jika dia bertahan lebih lama di dalam ruangan itu sebentar saja, sudah pasti dia akan melawan Kaisar dan membawa wanita yang mengandung keturunannya itu pergi dari istana. Sejujurnya keinginan ini sudah sejak lama terpikirkan oleh pangeran ke 3 untuk dilakukan. Hanya saja, pangeran ke 3 tidak ingin membuat wanitanya itu menderita dengan menjadi buronan, sehingga dia mengubur dalam-dalam-dalam keinginan itu.


Sedangkan wanita yang telah memporak porandakan hati pria yang hari ini akan melepaskan masa lajang itu, berusaha sekuat tenaganya untuk mempertahankan air matanya agar tidak tumpah di depan kaisar. Berat hatinya untuk melepas pria itu dari genggaman tangannya, dan berat untuknya berbagi prianya dengan wanita lain. Wanita yang statusnya lebih kuat jika dibandingkan dengan dirinya saat ini. Ketakutan akan pangeran ke 3 melupakannya karena kehadiran wanita yang akan menjadi istrinya, sungguh membuat Wan Inha ingin bunuh diri bersama anak yang dikandungnya.


" Putra ku.... Kenapa kau diluar? Bukankah anda ayahanda dan selir Wan di dalam.." selir Xi menghadang kepergian putra pertamanya itu


" Maafkan A Xie ibu... Tapi aku ingin merasakan udara segar untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melanda ku.." Gong Xie beralasan.


" Hihihihi... Putra kesayangan ibu ini manis sekali... Kamu gugup karena sebentar lagi akan merasakan bagaimana indahnya memiliki istri di samping mu?" selir Xi terus menggoda sang putra yang sebenarnya kurang nyaman dengan situasi ini.


" Ibu paling bisa membaca pikiran ku.." ucap Gong Xie menutupi segala kebenaran.


Gong Xie merupakan putra yang mendapatkan kasih sayang lebih dari sang ibu jika dibandingkan dengan pangeran ke 4, Gong Xin. Kakek, nenek dari pihak selir Xi pun juga lebih menyayangi pangeran ke 4 dibandingkan dengan adik laki-lakinya. Selain karena pangeran ke 3 tidak pernah memiliki kasus yang memalukan keluarga, dan karena kehadiran pangeran ke 3 ini dalam pernikahan Selir Xi dan kaisar lah yang membuat keluarga selir Xi disayang oleh kaisar begitu pula dengan selir Xi.


Beruntung pangeran ke 4 sama sekali tidak pernah peduli dengan itu semua. Baginya, hidup sebagai pangeran dan bisa mendapatkan semua yang dia inginkan saja itu sudah lebih berharga dari pada kasih sayang keluarga. Gong Xin memang terkenal sangat arogan dan seenaknya sendiri.


Di kediaman menteri pertahanan sudah diramaikan oleh tamu undangan yang akan ikut menjadi pengiring mempelai berangkat ke istana nanti. Karena sesuai aturan dari istana, pernikahan barang siapa saja yang masih merupakan anggota istana baik itu putri maupun pangeran, harus diadakan di istana. Tujuannya agar leluhur keluarga istana dapat melihat dan memberikan restu pada anak cucunya.


Salah satu tamu undangan penting di kediaman menteri pertahanan adalah pasangan dari kediaman Man Yue, pangeran ke 5 dan juga sang istri. Tak tanggung-tanggung, sebagai hadiah pernikahan putri dari menteri pertahanan ini, pangeran ke 5 rela memberikan hadiah yang sangat luar biasa spesial. Tanah dangan rumah di daerah pinggiran ibukota menjadi hadiah yang pangeran ke 5 berikan pada pasangan yang akan menikah itu.


" Kenapa anda begitu repot mempersiapkan hadiah sebesar itu, Yang mulia.... Kami tidak mampu menerimanya..' Cho Hain menolak hadiah yang pangeran ke 5 berikan.


" Terima saja tuan. Ini tidak lebih dari sekedar hadiah..' ujar Gong Sheng dengan senyuman penuh maksudnya itu.


" Apa tidak apa-apa Yang Mulia? Saya tidak ingin anda mendapatkan masalah karena memberikan hal itu pada putri saya" tanya Cho Hain dengan perasaan yang tidak enak.


" kakak ketiga ku juga mendapatkan hadiah itu, jadi jangan terlalu and pikirkan.." ujar Gong Sheng menenangkan.. Bagaimana juga pangeran ke 3 memberinya hadiah serupa dengannya, jadi Gong Sheng pikir itu bukan masalah yang besar.


Pangeran ke 3 memberikan sebuah tanah dan kebun saat Gong Sheng menikah dengan Feng Ai. Sebagai balas budi, Gong Sheng melakukan hal serupa. Anggap saja sebagai barter, tidak ada niatan lebih dari itu.


Mempelai wanita segera masuk ke tandu begitu mendengar iring-iringan dari mempelai pria telah tiba. Gong Xie datang dengan menunggangi seekor kuda jantan berwarna hitam. Terlihat begitu tampan dan gagah.


Iring-iringan pengantin ini pun langsung berangkat menuju ke istana. Terlihat rakyat di ibukota memenuhi jalanan ibukota untuk menyambut pasangan yang menikah ini. Rakyat terlihat begitu antusias melihat pernikahan pangeran ke 3 yang sejatinya amat dinantikan oleh rakyat. Apalagi semua pangeran sudah menikah lebih dulu> Bahkan adik kandung pangeran ke 3 saja sudah tiga kali menikah.


" Selamat pangeran ke 3.... Selamat putri Cho...." rakyat meneriakkan kata-kata mengucapkan selamat dan syukur atas pernikahan ini. Doa rakyat semoga pernikahan ini akan langgeng dan membawakan kebahagiaan untuk kedua mempelai.